Cara agar Lemari Tidak Berjamur, Tetap Bersih, dan Tidak Bau Apek

Ketahui cara agar lemari tidak berjamur dengan langkah sederhana, mulai dari menjaga kelembapan, mengatur sirkulasi udara, hingga merawat pakaian.

Diterbitkan 06 November 2026, 12:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lemari yang berjamur bisa membuat pakaian berbau apek, meninggalkan noda, bahkan merusak permukaan kayu jika dibiarkan terlalu lama. Oleh karena itu, mengetahui cara agar lemari tidak berjamur penting dilakukan untuk menjaga tempat penyimpanan pakaian tetap bersih, kering, dan nyaman digunakan.

Masalah tersebut biasanya terjadi ketika bagian dalam lemari terlalu lembap dan memiliki sirkulasi udara yang kurang baik. Misalnya jarang dibuka, atau digunakan untuk menyimpan pakaian yang belum benar-benar kering.

Jamur tumbuh dengan mudah pada permukaan yang memiliki kelembapan tinggi, terutama jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama. Namun jangan khawatir, terdapat beberapa cara penting untuk mencegah pertumbuhannya.

1. Bersihkan Lemari Secara Rutin

Salah satu cara agar lemari tidak berjamur adalah membersihkan bagian dalamnya secara berkala. Debu, kotoran, dan sisa kelembapan yang menempel pada permukaan lemari dapat membuat tempat penyimpanan menjadi kurang terawat.

Keluarkan seluruh pakaian dan barang yang tersimpan di dalamnya, kemudian bersihkan setiap bagian menggunakan kain bersih. Perhatikan terutama bagian sudut, sambungan kayu, rak bawah, dan area belakang lemari yang biasanya lebih jarang dijangkau.

Jika menemukan noda jamur pada permukaan yang keras, bersihkan menggunakan air dan deterjen, kemudian keringkan sampai benar-benar tidak ada sisa kelembapan. Menurut US Environmental Protection Agency (EPA), permukaan keras yang berjamur dapat dibersihkan menggunakan air dan deterjen, lalu dikeringkan sepenuhnya.

Setelah dibersihkan, jangan langsung memasukkan kembali pakaian ke dalam lemari. Biarkan pintu lemari terbuka sampai seluruh bagian dalamnya benar-benar kering agar kelembapan tidak terperangkap.

2. Atur Jarak Lemari dari Dinding

Posisi lemari ternyata dapat memengaruhi kondisi kelembapan di dalamnya. Lemari yang ditempatkan terlalu rapat dengan dinding, terutama dinding yang lembap atau berbatasan dengan area kamar mandi, lebih berisiko mengalami masalah jamur.

Berikan sedikit jarak antara bagian belakang lemari dan dinding agar udara dapat bergerak. Jarak ini juga memudahkan kamu memeriksa kondisi dinding dan bagian belakang lemari ketika membersihkan kamar.

Jika dinding terasa dingin, terdapat noda air, atau muncul bercak kehitaman, periksa kemungkinan adanya rembesan maupun kebocoran. Jangan hanya memindahkan lemari atau membersihkan noda jamur tanpa memperbaiki sumber kelembapannya.

EPA dalam panduan A Brief Guide to Mold, Moisture and Your Home menekankan prinsip pengendalian kelembapan merupakan kunci untuk mengendalikan pertumbuhan jamur. Karena itu, memastikan dinding tetap kering sama pentingnya dengan merawat bagian dalam lemari.

3. Pastikan Pakaian Benar-Benar Kering Sebelum Disimpan

Kebiasaan memasukkan pakaian yang masih sedikit lembap ke dalam lemari dapat meningkatkan risiko munculnya jamur. Sisa air pada kain akan membuat kondisi di dalam lemari semakin lembap, terutama ketika pakaian ditumpuk dalam jumlah banyak.

Pastikan pakaian sudah benar-benar kering setelah dicuci sebelum dilipat dan disimpan. Jika pakaian dijemur di dalam ruangan, perhatikan bagian yang tebal seperti kerah, lipatan celana, dan area ketiak karena bagian tersebut biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk kering.

Selain itu, hindari langsung menyimpan pakaian yang baru digunakan seharian, terutama jika terkena keringat atau hujan. Pisahkan terlebih dahulu pakaian tersebut dan cuci atau angin-anginkan sampai kering sebelum dimasukkan ke lemari.

Kebiasaan sederhana ini membantu mengurangi sumber kelembapan dari dalam lemari. Pakaian pun lebih terjaga kebersihannya dan tidak mudah mengeluarkan bau apek ketika akan digunakan kembali.

4. Buka Pintu Lemari Secara Berkala

Lemari yang selalu tertutup dapat membuat udara di dalamnya kurang bergerak. Ini dapat memunculkan risiko tumbuhnya jamur pada pakaian maupun permukaan lemari.

Cobalah membuka pintu lemari secara berkala, terutama ketika cuaca cerah dan kondisi udara di dalam ruangan tidak terlalu lembap. Biarkan udara berganti selama beberapa waktu agar bagian dalam lemari tidak terus-menerus berada dalam kondisi tertutup.

Kamu juga bisa membuka jendela kamar untuk membantu memperbaiki sirkulasi udara. Namun, hindari melakukannya ketika udara di luar sedang sangat lembap atau ketika hujan karena justru dapat menambah kelembapan ruangan.

US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melalui panduan pencegahan jamur di rumah juga menyarankan agar aliran udara tetap terjaga dan sumber kelembapan segera ditangani. Prinsip ini dapat diterapkan pada area penyimpanan pakaian agar udara tidak terus terperangkap di dalam lemari.

5. Hindari Menumpuk Pakaian Terlalu Penuh

Lemari yang terlalu penuh membuat udara sulit bergerak di antara tumpukan pakaian. Kondisi ini juga menyebabkan bagian tertentu menjadi lebih sulit diperiksa dan dibersihkan, terutama di sudut rak yang jarang dijangkau.

Salah satu cara agar lemari tidak berjamur adalah dengan menyisakan sedikit ruang di antara tumpukan pakaian agar tidak terlalu padat. Jika memiliki banyak pakaian, pertimbangkan untuk memisahkan penyimpanan berdasarkan jenis atau frekuensi pemakaian.

Gunakan gantungan yang sesuai untuk pakaian yang mudah kusut dan jangan menggantung terlalu banyak baju dalam satu area. Cara ini membantu menjaga susunan pakaian tetap rapi sekaligus memberikan ruang bagi udara untuk bergerak.

Selain itu, periksa isi lemari secara berkala dan keluarkan barang yang sudah tidak digunakan. Lemari yang tidak terlalu penuh akan lebih mudah dibersihkan dan dirawat sehingga risiko munculnya jamur dapat dikurangi.

6. Segera Perbaiki Kebocoran dan Sumber Kelembapan

Jamur tidak selalu muncul karena kondisi bagian dalam lemari yang kurang bersih. Terkadang, penyebabnya berasal dari kebocoran atap, rembesan dinding, pipa yang bocor, atau air yang masuk dari bagian luar bangunan.

Jika lemari berada di dekat dinding yang memiliki noda air atau cat menggelembung, periksa kondisi dinding tersebut. Pastikan tidak ada kebocoran yang membuat permukaannya terus-menerus basah.

Jangan hanya mengecat ulang bagian yang terkena noda tanpa memperbaiki sumber airnya. EPA menjelaskan bahwa area yang basah atau lembap sebaiknya dikeringkan dalam waktu 24–48 jam setelah kebocoran atau tumpahan terjadi karena langkah cepat tersebut dapat membantu mencegah pertumbuhan jamur dalam banyak kasus.

Jika rembesan cukup parah atau jamur terus muncul meskipun sudah dibersihkan, pertimbangkan untuk meminta bantuan tenaga profesional. Penanganan sumber kelembapan secara menyeluruh lebih efektif daripada hanya membersihkan noda yang terlihat pada permukaan lemari.

7. Periksa Kondisi Lemari dan Pakaian Secara Berkala

Perawatan lemari tidak cukup dilakukan hanya ketika jamur sudah terlihat. Pemeriksaan rutin membantu mengetahui tanda-tanda awal kelembapan sehingga masalah bisa segera ditangani sebelum menyebar ke bagian lainnya.

Perhatikan beberapa tanda berikut ketika memeriksa kondisi lemari:

  • Muncul bercak putih, hijau, atau kehitaman pada permukaan kayu.
  • Tercium bau apek meskipun pakaian sudah dicuci.
  • Permukaan bagian dalam lemari terasa lembap ketika disentuh.
  • Terdapat noda air atau perubahan warna pada dinding belakang lemari.
  • Muncul bintik-bintik pada pakaian yang disimpan dalam waktu lama.

Jika menemukan tanda tersebut, segera keluarkan pakaian dan periksa bagian lemari yang terdampak. Bersihkan jamur pada permukaan yang dapat ditangani, keringkan area tersebut, dan cari tahu penyebab kelembapannya.

Menurut EPA, jamur dapat tumbuh pada berbagai material, termasuk kayu, kertas, karpet, dan bahan makanan selama tersedia kelembapan yang cukup. Artinya, pemeriksaan tidak hanya perlu dilakukan pada pakaian, tetapi juga pada rak, lapisan pelapis, dan bagian belakang lemari yang terbuat dari material berpori.

8. Gunakan Penyerap Kelembapan di Dalam Lemari

Menggunakan penyerap kelembapan bisa menjadi salah satu cara agar lemari tidak berjamur, terutama jika kamar memiliki kondisi udara yang cenderung lembap. Produk ini membantu mengurangi kadar air di udara sehingga kondisi di dalam lemari lebih terjaga.

Ada beberapa jenis penyerap kelembapan yang bisa digunakan sesuai kebutuhan, seperti:

  • Silica gel: Butiran penyerap kelembapan yang praktis ditempatkan di sudut lemari atau dekat pakaian.
  • Moisture absorber: Produk penyerap kelembapan yang umumnya menggunakan bahan penyerap seperti kalsium klorida dan dilengkapi wadah penampung air.
  • Dehumidifier: Alat elektronik yang berfungsi mengurangi kelembapan udara di dalam ruangan.

Letakkan produk penyerap kelembapan sesuai petunjuk penggunaan dan periksa kondisinya secara berkala. Jika wadah sudah penuh atau produk sudah mencapai batas pemakaian, segera ganti agar fungsinya tetap optimal.

Menurut EPA, kelembapan relatif di dalam ruangan sebaiknya dijaga di bawah 60 persen, dengan kisaran ideal 30–50 persen jika memungkinkan. Kamu bisa menggunakan alat pengukur kelembapan atau hygrometer untuk mengetahui kondisi udara di kamar.

Pertanyaan Seputar Lemari Berjamur

1. Apakah lemari yang berjamur bisa membahayakan kesehatan?

Ya, paparan jamur di dalam rumah dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama bagi orang yang sensitif terhadap spora jamur. Beberapa gejala yang mungkin muncul meliputi hidung tersumbat, sakit tenggorokan, batuk, mata terasa perih, hingga ruam pada kulit.

Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), paparan lingkungan yang lembap dan berjamur dapat memicu reaksi alergi maupun gangguan pernapasan. Orang yang memiliki asma, alergi terhadap jamur, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah juga berisiko mengalami reaksi lebih serius.

2. Apakah pakaian yang terkena jamur masih bisa digunakan setelah dicuci?

Pakaian yang terkena jamur masih mungkin digunakan kembali selama noda dan pertumbuhan jamurnya dapat dibersihkan sepenuhnya. Cuci pakaian menggunakan deterjen sesuai petunjuk perawatan pada label, kemudian keringkan sampai benar-benar tuntas sebelum disimpan kembali.

Menurut California Department of Public Health (CDPH), pakaian yang dapat dicuci masih bisa digunakan kembali apabila seluruh jamur dan noda yang ditimbulkannya berhasil dihilangkan. Namun, jika jamur sudah merusak serat kain atau baunya tetap membandel setelah dibersihkan, sebaiknya pertimbangkan untuk tidak menggunakannya lagi.

3. Apa obat untuk lemari berjamur?

Ada beberapa bahan pembersih yang bisa digunakan untuk mengatasi jamur pada lemari, tetapi pemilihannya perlu disesuaikan dengan materialnya. Untuk lemari kayu dengan permukaan keras atau berlapis finishing, kamu bisa menggunakan kain yang sedikit dibasahi larutan air dan deterjen ringan untuk membersihkan jamur yang terlihat.

Menurut North Carolina State University Extension, furnitur dengan permukaan keras seperti kayu, laminasi, dan veneer dapat dibersihkan menggunakan kain lembap yang diberi larutan air dan deterjen ringan. Setelah dibersihkan, keringkan lemari secara menyeluruh di tempat dengan sirkulasi udara yang baik.

Sementara itu, alkohol isopropil bukan bahan pembersih utama yang direkomendasikan untuk semua jenis lemari kayu. Jika jamur sudah meresap ke dalam material atau terus muncul kembali, bagian yang terdampak mungkin memerlukan penanganan khusus atau penggantian. Jangan lupa memperbaiki sumber kelembapan agar jamur tidak kembali tumbuh.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6