Misteri Kematian Hind Rajab Terkuak Usai Pengakuan Israel

Setelah lama menyangkal, militer Israel akhirnya selidiki kematian Hind Rajab, bocah yang tewas di Gaza.

Diterbitkan 20 Agustus 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Lebih dari dua tahun setelah Hind Rajab tewas dan menjadi simbol penderitaan anak-anak di Gaza, militer Israel akhirnya mengumumkan penyelidikan kriminal atas kematian bocah berusia lima tahun tersebut.

Israel sebelumnya telah lama dituding bertanggung jawab atas kematian Hind. Namun, pada awalnya militer Israel menyangkal bahwa tentaranya berada di wilayah tempat Hind tewas.

Setelah sejumlah investigasi jurnalistik, termasuk yang dilakukan Al Jazeera, militer Israel mengakui bahwa pasukannya melakukan serangan terhadap “target teroris” di Gaza City pada hari tersebut.

Pada Januari tahun ini, pejabat Israel mengatakan mereka sedang meninjau kasus tersebut.

Dalam pernyataan pada Rabu, militer Israel mengatakan keputusan untuk membuka penyelidikan kriminal diambil setelah meninjau temuan yang ada. Penyelidikan itu juga dilakukan karena adanya dugaan kegagalan dalam koordinasi pergerakan ambulans Bulan Sabit Merah Palestina.

Pada 29 Januari 2024 sekitar pukul 19.30 waktu setempat, Hind tewas akibat luka-luka yang dideritanya setelah terjebak di dalam sebuah mobil yang dikelilingi jasad anggota keluarganya.

Keluarga Hind sebelumnya dipaksa mengungsi dari Gaza City. Mereka berusaha mengikuti perintah Israel untuk meninggalkan wilayah tersebut. Namun, dalam perjalanan, militer Israel menembakkan lebih dari 300 peluru ke mobil Kia hitam yang dikemudikan paman Hind.

Sepupu Hind yang berusia 15 tahun, Layan, juga berada di dalam mobil. Layan sempat berbicara melalui telepon dengan pekerja Bulan Sabit Merah Palestina sebelum akhirnya tewas.

Para pekerja Bulan Sabit Merah Palestina berusaha menyelamatkan Hind. Namun, mereka disebut terhalang untuk mencapai lokasi tersebut oleh pasukan Israel.

Paramedis Palestina kemudian mengirim ambulans untuk menyelamatkan Hind, yang menjadi satu-satunya anggota keluarga yang masih hidup. Mereka terus berkomunikasi melalui telepon dengan Hind hingga hubungan tersebut akhirnya terputus.

Dalam pernyataannya pada Rabu, militer Israel mengatakan pasukannya “menembaki sebuah kendaraan yang mendekati mereka”. Pernyataan tersebut menjadi kali pertama Israel mengakui bahwa tentaranya menembaki mobil yang ditumpangi Hind dan keluarganya.

Namun, penyelidikan atas dugaan pelanggaran kriminal yang dilakukan tentara Israel terkait pembunuhan warga Palestina jarang berujung pada vonis.

 

 

Tidak Percaya Sistem Peradilan Israel

Presiden Hind Rajab Foundation, Dyab Abou JahJah, mengatakan berbagai kejahatan Israel terhadap warga Palestina selama puluhan tahun tidak menghasilkan bentuk keadilan yang serius. Karena itu, ia tidak yakin kasus Hind akan mengubah keadaan tersebut.

Hind Rajab Foundation juga menyatakan tidak percaya terhadap keputusan Israel membuka penyelidikan kriminal atas kematian Hind.

“Kami tidak mempercayai sistem peradilan Israel, bukan karena posisi ideologis, tetapi karena rekam jejaknya,” kata Abou Jahjah kepada Al Jazeera.

“Dan dalam kasus khusus ini, sistem peradilan Israel secara keseluruhan selalu terlibat dalam kejahatan Israel,” lanjutnya.

Nenek Hind, yang juga bernama Hind Rajab, mengatakan kepada kantor berita The Associated Press melalui telepon bahwa penyelidikan Israel tidak cukup. Ia menyerukan penyelidikan internasional atas kematian cucunya serta ribuan anak lainnya yang tewas di Gaza selama perang.

“Penyelidikan internasional diperlukan untuk mengungkap kebenaran dan meminta pertanggungjawaban semua pihak yang bertanggung jawab,” katanya.

“Kami menyerukan keadilan, bukan hanya untuk Hind, tetapi untuk semua anak Gaza.”

Kata-kata terakhir Hind, termasuk permohonannya untuk mendapatkan pertolongan melalui telepon, tersebar luas di media sosial dan memicu kecaman internasional.

Investigasi Al Jazeera pada 2024 mengenai kematian Hind dan keluarganya mengungkap bahwa sebuah tank Israel kemungkinan berada hanya sekitar 13 hingga 23 meter dari mobil tersebut. Jarak itu disebut membuat tank tersebut dapat melihat dengan jelas warga sipil yang berada di dalam mobil.

Kisah kematian Hind kemudian diangkat menjadi film docu-drama yang mendapat nominasi pada ajang Oscar 2026 untuk kategori film internasional terbaik.

Hani Mahmoud dari Al Jazeera yang melaporkan dari Gaza mengatakan keraguan terhadap penyelidikan Israel juga dirasakan warga Palestina.

“Orang-orang di sini yang mendengar tentang penyelidikan tersebut skeptis bahwa penyelidikan itu akan membawa keadilan bagi Hind dan keluarganya,” ujarnya.

Penyelidikan atas Kematian Tenaga Medis

Militer Israel mengatakan penyelidikan kriminal pertama terhadap perilaku tentaranya di Gaza akan mencakup kasus Hind dan anggota keluarganya pada awal 2024. Kasus lainnya adalah kematian 15 tenaga medis Palestina pada Maret 2025.

Kedua insiden tersebut mendapat perhatian internasional.

Keputusan tersebut diambil setelah militer Israel meninjau 150 insiden terkait tindakan pasukannya selama perang di Gaza. Namun, militer mengatakan tidak akan membuka penyelidikan kriminal terhadap tiga serangan lain yang menewaskan pekerja bantuan dari World Central Kitchen dan Doctors Without Borders.

World Central Kitchen menolak keputusan tersebut.

“Keputusan tersebut tidak sesuai dengan kebenaran sepenuhnya dan sangat menyinggung,” tulis organisasi tersebut di situsnya.

World Central Kitchen mengatakan Israel “tahu bahwa tim kami di Gaza tidak bersenjata”. Organisasi nirlaba yang menyediakan makanan segar bagi masyarakat yang membutuhkan itu juga menilai penyelidikan militer Israel mencampuradukkan waktu dan peristiwa yang berbeda, mengaburkan fakta serta mengalihkan kesalahan atas tindakan ilegal tentara Israel.

Pada Kamis, Australia memanggil duta besar Israel terkait keputusan untuk tidak melanjutkan proses kriminal atas kematian pekerja World Central Kitchen. Warga negara Australia, Zomi Frankcom, termasuk di antara para korban.

Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan keputusan tersebut “jauh dari pertanggungjawaban yang kami harapkan”. Ia menambahkan bahwa Australia “marah” atas keputusan tersebut.

Pada April 2024, tujuh pekerja bantuan internasional dan seorang pengemudi Palestina tewas dalam tiga serangan udara Israel. Mereka saat itu menggunakan kendaraan yang diberi tanda jelas dan telah membagikan koordinat lokasi mereka kepada militer Israel.

Investigasi Al Jazeera menyimpulkan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan secara sengaja, bertentangan langsung dengan pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sebelumnya menyebut penargetan itu sebagai sesuatu yang “tidak disengaja”.