Iran Peringatkan Negara Teluk agar Tidak Bantu Militer AS

Aksi saling tuduh dan ancam mewarnai hari-hari warga Timur Tengah belakangan, sementara penyelesaian perang Iran belum mencapai titik terang.

Diterbitkan 20 Agustus 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Angkatan bersenjata Iran pada Rabu (19/8/2026) memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak membantu militer Amerika Serikat (AS). Peringatan itu disampaikan beberapa jam setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan penghentian seluruh hubungan ekonomi dengan Teheran menyusul serangan terbaru terhadap kapal-kapal di kawasan.

Sejumlah fasilitas militer AS berada di kawasan Teluk, termasuk di UEA. Pada Selasa (18/6), UEA mengatakan Iran telah menembakkan dua rudal balistik ke arah kapal-kapal di lepas pantainya.

Meski ketegangan militer antara AS dan Iran belakangan mereda, Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling rawan dalam konflik. Teheran masih memblokade jalur tersebut, yang harus dilalui kapal-kapal dari sebagian besar pelabuhan UEA. Serangan terhadap kapal-kapal komersial juga masih terjadi.

Rencana kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali jalur perdagangan penting itu gagal terwujud. Meski kedua pihak baru-baru ini mengatakan masih ada pertukaran pesan, Presiden AS Donald Trump pada Selasa menegaskan bahwa tidak ada perundingan.

Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi, menurut kantor berita Mehr pada Rabu memperingatkan, setiap bantuan atau kemudahan yang diberikan kepada militer AS sebagai pihak agresor sama dengan ikut terlibat dalam operasi militer AS.

Konflik pecah pada 28 Februari setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak ke sejumlah wilayah di kawasan.

Sejak konflik dimulai, banyak negara Timur Tengah menyatakan tidak akan mengizinkan AS menggunakan wilayah mereka sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan. Namun, Abdollahi meragukan pernyataan tersebut.

"Sulit dipercaya pesawat militer dalam jumlah sebesar itu, terutama pesawat pengisian bahan bakar, berada di pangkalan-pangkalan di kawasan tanpa sepengetahuan negara tuan rumah," kata Abdollahi.

Ia menambahkan, negara-negara Teluk "harus tahu bahwa kami mengetahui sepenuhnya apa yang terjadi".

Sejumlah media melaporkan Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Bahrain telah menyerang sasaran di Iran sebagai balasan atas serangan Teheran terhadap negara-negara Teluk. Namun, sebagian besar negara tersebut membantah laporan itu.

 

Dihentikan Tanpa Batas Waktu

Pada Selasa, UEA mengumumkan penghentian seluruh kegiatan ekonomi dengan Iran.

"Seiring meningkatnya ketegangan di kawasan ... seluruh perdagangan, kegiatan komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran dihentikan hingga pemberitahuan lebih lanjut," kata Direktur Komunikasi Kementerian Luar Negeri UEA Afra Al Hameli.

Sebelumnya pada hari yang sama, Abu Dhabi menuding Iran menembakkan dua rudal balistik ke arah UEA. Pemerintah kemudian memperjelas bahwa rudal-rudal tersebut sebenarnya diarahkan ke kapal-kapal.

Iran dan UEA, yang saling berhadapan di seberang Teluk, memiliki hubungan budaya dan sejarah yang erat. UEA menjadi tempat tinggal komunitas Iran dalam jumlah besar dan, setidaknya sebelum perang, merupakan salah satu mitra dagang utama Iran yang tengah menghadapi sanksi AS.

UEA menarik pulang duta besarnya dari Teheran pada awal konflik. Negara itu juga telah menutup sejumlah sekolah dan sebuah rumah sakit yang memiliki kaitan dengan Iran.

Kapal-kapal tanker milik perusahaan minyak negara UEA, ADNOC, berulang kali menjadi sasaran serangan dalam beberapa pekan terakhir.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Selasa berbicara melalui telepon dengan penasihat keamanan nasional UEA untuk membahas "koordinasi guna meminta pertanggungjawaban Iran dan kelompok-kelompok proksinya yang disebut teroris atas serangan yang terus berlangsung", serta pentingnya menjamin kebebasan pelayaran melalui Selat Hormuz.

 

Tidak Ada Perundingan

Upaya diplomatik untuk menyelesaikan konflik tersendat. Namun, utusan sekaligus menantu Trump, Jared Kushner, pada Senin (17/8) mengatakan AS dan Iran tengah menjalani "percakapan yang sangat positif dan aktif".

Trump membantah pernyataan itu pada Selasa. Ia kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka, meski blokade Iran telah membuat lalu lintas kapal melalui jalur tersebut tersendat selama berbulan-bulan.

"Tidak ada perundingan atau percakapan yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan dengan Republik Islam Iran. Blokade laut tetap berlaku penuh," tulis Trump di media sosial.

Trump merujuk pada blokade balasan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Pada Selasa, Trump juga mengunggah peta yang menunjukkan Selat Hormuz sebagai "WILAYAH BARU AS", mengulang ancamannya untuk mencaplok jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas tersebut.

AS dalam beberapa waktu terakhir sebagian besar menghentikan operasi militernya. Sejumlah media AS melaporkan perang tersebut telah menguras persediaan amunisi penting negara itu, meski Trump dan Pentagon secara terbuka membantah laporan tersebut.

Setelah operasi militer AS selama berbulan-bulan belum mampu mengakhiri konflik secara menentukan, para pejabat Iran terus menunjukkan sikap tidak gentar.

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala perunding, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengunjungi Irak. Ia mengatakan kunjungan tersebut "bertujuan memperkuat tatanan baru di kawasan" dan meningkatkan kerja sama "tanpa campur tangan asing".

"Kelompok perlawanan di Irak juga menjadi salah satu unsur kekuatan negara ini," kata Ghalibaf, yang diyakini merujuk pada kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran yang beroperasi di Irak.