Harga Minyak Tembus US$ 103 di Tengah Mandeknya Perundingan AS-Iran

Sepanjang September, harga minyak mentah Brent yang menjadi patokan harga minyak dunia menguat lebih dari 14%, sedangkan WTI naik lebih dari 5%.

Diterbitkan 01 Oktober 2026, 06:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia naik pada perdagangan Rabu dan mencatat penguatan bulanan. Kenaikan dipicu mandeknya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta semakin ketatnya pasar bahan bakar AS.

Mengutip CNBC, Kamis (1/10/2026), harga minyak berjangka Brent untuk pengiriman November yang berakhir pada Rabu naik sekitar 1% menjadi US$ 103,53 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1% menjadi US$ 90,42 per barel.

Sepanjang September, harga Brent menguat lebih dari 14%, sedangkan WTI naik lebih dari 5%.

Qatar pada Selasa menyatakan berharap diplomasi antara Teheran dan Washington dapat menghasilkan terobosan. Namun, Presiden AS Donald Trump membantah laporan Axios dan CNN yang mengutip pejabat AS bahwa dirinya bersedia memberikan keringanan sanksi serta mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas langkah konkret Teheran terkait program nuklirnya.

Di sisi lain, Arab Saudi kembali melakukan pengiriman minyak melalui kapal tanker dari pelabuhan Laut Merah, Yanbu, setelah mengaktifkan kembali East-West Pipeline.

 

Pertemuan OPEC

Goldman Sachs memperkirakan ekspor minyak negara-negara Teluk telah pulih menjadi 23,3 juta barel per hari (bph) dalam sepekan terakhir. Angka tersebut sejalan dengan rata-rata 2025 setelah ekspor meningkat dua kali lipat pada September.

JPMorgan memperkirakan rata-rata ekspor minyak dalam 10 hari terakhir berada di level 20,5 juta bph, atau sekitar 89% dari level 2025.

Sementara itu, negara-negara produsen minyak OPEC+ diperkirakan mempertahankan target produksi November saat bertemu pada Minggu.

“Arus minyak mentah yang pulih seharusnya meredam tekanan harga yang dipicu pasokan, meskipun kekurangan produk yang terus berlangsung dan biaya angkutan yang tinggi kemungkinan membuat pasar energi secara keseluruhan tetap ketat,” kata analis bank Jepang MUFG.

Stok bahan bakar AS yang menyusut turut menopang harga minyak. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan bensin AS turun 1,7 juta barel menjadi 204,4 juta barel. Stok distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, turun 2,3 juta barel menjadi 105,2 juta barel.

“Penurunan aktivitas kilang menyebabkan berkurangnya persediaan produk distilat dan bensin,” kata analis Kpler Matt Smith.

Di sisi lain, stok minyak mentah AS justru naik 922.000 barel menjadi 427,3 juta barel.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6