IHSG Sepekan Berpotensi Koreksi, Harga Minyak Membayangi

Analis prediksi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi tertekan pada pekan ini. IHSG akan bergerak di kisaran 5.839-6.212.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih melanjutkan koreksi selama sepekan tepatnya pada perdagangan saham 5-9 Oktober 2026. Sentimen IHSG akan dipengaruhi harga minyak hingga respons pasar terhadap data nonfarm payrolls Amerika Serikat (AS).

“Sepekan ke depan, kami perkirakan, IHSG masih masih melanjutkan koreksi dengan support 5.839 dan resistance 6.212,” ujar Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Senin, (5/10/2026).

Ia menuturkan, sejumlah sentimen yang akan pengaruhi IHSG sepekan. Pertama, ia mengatakan, reaksi pasar akan rilis nonfarm payrolls (NPF) AS pada Jumat lalu, apabila rilis menguat akan meningkatkan kembali kekhawatiran akan hawkish the Federal Reserve (the Fed).

Kedua, Herditya menuturkan, the Fed yang hawkish akan meningkatkan kembali imbal hasil obligasi pemerintah AS dan akan kembali menguat nilai tukar dolar AS secara global. “Ketiga, pasar tetap mencermati harga minyak dunia dengan negosiasi yang masih berjalan antara AS-Iran,” ujar Herditya.

Terkait target IHSG hingga akhir 2026, Ia menuturkan, tekanan global masih mendominasi sehingga secara base case target IHSG di 7.000.

Demikian disebutkan dalam riset PT Ashmore Asset Management Indonesia yakni hal-hal utama yang perlu dicermati adalah laporan ketenagakerjaan AS pada Jumat pekan lalu, tanggapan Iran terhadap usulan AS, serta apakah imbal hasil jangka panjang akan stabil menjelang pertemuan The Fed pada Oktober dan Desember.

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan saham 28 September-2 Oktober 2026 hingga meninggalkan posisi 6.200. Analis menilai, sentimen IHSG didorong sejumlah faktor internal dan eksternal seperti imbal hasil obligasi.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG sepekan turun 3,28% menjadi 6.036,88 dari pekan lalu 6.241,89. Koreksi IHSG juga diikuti kapitalisasi pasar saham BEI. Kapitalisasi pasar saham BEI turun 2,55% menjadi Rp 10.627 triliun dari pekan lalu Rp 10.905 triliun.

 

Sentimen IHSG Pekan Lalu

Herditya Wicaksana menuturkan, IHSG merosot 3,28% dalam sepekan dan masih didominasi oleh tekanan jual yang relatif meningkat. Sejumlah sentimen menekan IHSG. Pertama, Herditya menuturkan, ada kenaikan dari yield atau imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) yang sempat mencapai 5,3% untuk tenor 10 tahun tertinggi sejak 2002.

“Kedua, dengan ada kenaikan ini, menekan negara-negara emerging market di mana nilai tukarnya cenderung tertekan terutama rupiah,” kata Herditya saat dihubungi Liputan6.com.

Ketiga, ia mengatakan, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS diperkirakan menyebabkan aliran dana keluar, dan diperkirakan investor asing mulai mengurangi risiko terhadap aset di Indonesia,” kata Herditya.

Faktor keempat, Herditya menuturkan, penerapan kebijakan batas bawah Rp 1 yang selain meningkatkan likuiditas juga meningkatkan volatilitas.

Selain itu, selama sepekan ini, investor asing melakukan aksi jual saham mencapai Rp 5,03 triliun. Aksi jual ini lebih besar dari pekan lalu Rp 3,15 triliun.

Di sisi lain, rata-rata volume transaksi harian saham meningkat 72,51% menjadi 50,37 miliar saham dari pekan lalu 29,20 miliar saham. Rata-rata nilai transaksi harian saham melompat 5,4% menjadi Rp 12,63 triliun dari pekan lalu Rp 11,98 triliun.

Kemudian rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 7,54% menjadi 1,68 juta kali transaksi dari 1,82 juta kali transaksi.