Mantan PM Israel Tuduh Netanyahu Siapkan Perang untuk Tunda Pemilu

Pemilu pada akhir Oktober mendatang akan menjadi pemilu pertama Israel sejak serangan 7 Oktober 2023.

Diterbitkan 04 Oktober 2026, 11:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak pada Jumat (2/10/2026) menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tengah "menyiapkan landasan" untuk perang yang dapat digunakan untuk menunda pemilu pada 27 Oktober.

"Netanyahu sedang menyiapkan kondisi untuk membawa Israel ke dalam perang dengan cara yang dapat membuat pemilu ditunda," kata Barak kepada Channel 12.

Barak juga melontarkan kritik keras terhadap Netanyahu. Ia menyebut Netanyahu "berbohong semudah bernapas, semudah makan kentang goreng, dan semudah meninggalkan restoran tanpa membayar."

Menurut Barak, "kita harus melakukan segala cara untuk menyingkirkannya dari kekuasaan pada 27 Oktober, sekali dan untuk selamanya."

Pernyataan Barak muncul di tengah semakin sengitnya perdebatan di Israel mengenai penggunaan isu keamanan dalam kampanye pemilu.

Pada awal pekan ini, Netanyahu memperingatkan bahwa Israel bisa menghadapi serangan menjelang pemilu. Ia menggelar konsultasi dengan sejumlah pejabat tinggi keamanan untuk membahas perkembangan di beberapa wilayah konflik.

Netanyahu turut mengancam akan membalas pihak mana pun yang terbukti berada di balik insiden yang melibatkan penerbangan FlyDubai FZ1073 dari Dubai menuju Tel Aviv pada 30 September.

Ia mengatakan penyelidikan masih berlangsung untuk mengetahui apakah pelaku bertindak atas perintah pihak lain. Netanyahu menegaskan bahwa "siapa pun yang mengirimnya akan membayar harga yang sangat mahal."

Insiden FlyDubai itu kemudian ikut menjadi isu dalam kampanye pemilu. Lawan-lawan Netanyahu menuduhnya memanfaatkan persoalan keamanan untuk memperkuat posisinya menjelang pemungutan suara.

Pernyataan Barak juga disampaikan ketika operasi militer Israel masih berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Jalur Gaza, Lebanon, dan Suriah.

Pada Agustus, Barak menuduh Netanyahu berupaya membawa Israel menuju hari pemungutan suara dalam suasana ketegangan keamanan dan ketakutan publik yang meningkat. Ia menilai eskalasi di sejumlah wilayah regional berkaitan dengan kepentingan elektoral.

Partai-partai oposisi telah meningkatkan koordinasi dalam upaya menggantikan pemerintahan Netanyahu melalui pemilu.