Botswana Izinkan Perburuan 23 Gajah untuk Perayaan Hari Kemerdekaan

Keputusan ini menuai kritik dari kelompok konservasi hingga salah satu mantan presiden Botswana.

Diterbitkan 04 Oktober 2026, 09:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaborone - Pemerintah Botswana mengizinkan perburuan 23 ekor gajah untuk rangkaian perayaan hari kemerdekaan negara itu pekan ini. 

Izin berburu diberikan kepada sejumlah distrik di berbagai wilayah Botswana, dengan masing-masing memperoleh bagian dari kuota yang telah ditetapkan. Pemerintah mengatakan pada Jumat (2/10/2026) bahwa daging gajah hasil perburuan akan dibagikan kepada masyarakat kurang mampu di pedesaan.

Gajah sabana Afrika masuk dalam daftar satwa terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Namun, Botswana memiliki populasi gajah yang sangat besar, diperkirakan mencapai sekitar 130.000 ekor, terbanyak di dunia.

Kebijakan kuota tahunan perburuan gajah di Botswana sebelumnya telah menuai kritik. Pemerintah berdalih perburuan yang dikendalikan diperlukan untuk mengatur populasi gajah sekaligus mengurangi konflik antara manusia dan satwa tersebut.

Botswana mencabut larangan berburu gajah pada 2019, terutama karena populasinya terus bertambah.

Dalam beberapa tahun terakhir seperti dilaporkan Associated Press, Botswana menetapkan kuota perburuan antara 200 hingga lebih dari 400 ekor gajah per tahun, tergantung kebijakan yang berlaku pada tahun tersebut.

Pemerintah pekan ini juga mengizinkan perburuan puluhan antelop sebagai bagian dari kegiatan yang sama. Kebijakan itu bertepatan dengan peringatan 60 tahun kemerdekaan Botswana dari Inggris pada Rabu (30/9).

Elephant Protection Society Botswana menilai keputusan membunuh gajah tersebut ceroboh dan dikhawatirkan dapat membuat kawanan gajah semakin agresif terhadap warga yang tinggal di sekitarnya.

"Ketika satu gajah ditembak, gajah-gajah lainnya akan menjadi defensif," kata organisasi tersebut.

Konflik antara manusia dan satwa liar menjadi persoalan serius di banyak negara Afrika. Negara lain, termasuk Afrika Selatan yang berbatasan dengan Botswana, juga menetapkan kuota tahunan untuk perburuan gajah.

Botswana, yang dikenal sebagai salah satu tujuan wisata satwa liar, memiliki kebijakan memberikan kompensasi kepada warga yang terdampak konflik dengan satwa liar. Ratusan kasus seperti itu tercatat setiap tahun.

Besarnya populasi gajah Botswana sempat menjadi perhatian internasional pada 2024. Saat itu, Presiden Mokgweetsi Masisi dan pemerintahannya menanggapi kritik Inggris dan Jerman terhadap perburuan trofi dengan menawarkan pengiriman puluhan ribu gajah ke kedua negara tersebut.

"Sangat mudah duduk di Berlin dan berpendapat soal urusan kami di Botswana," tutur Masisi seperti dikutip surat kabar Jerman Bild.

Ia menambahkan bahwa mengelola populasi gajah bukan perkara main-main.

Perburuan gajah pekan ini juga dibela Dimakatso Ntshebe, wakil direktur Departemen Satwa Liar dan Taman Nasional Botswana.

"Konservasi satwa liar harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa liar dan ikut berperan dalam melindunginya," ungkap Ntshebe pada Jumat.

Namun, Ian Khama, yang menjabat sebagai presiden Botswana pada 2008-2018 dan kini memegang peran dalam pemerintahan tradisional sebagai kepala wilayah, menyatakan tidak setuju dengan keputusan tersebut.

Menurut Khama, langkah itu dapat menimbulkan "ekspektasi" bahwa gajah akan kembali dibunuh untuk perayaan-perayaan nasional Botswana pada masa mendatang.