Way Kambas Kebakaran Lagi, Habitat Gajah Terancam

Karhutla di Way Kambas mengancam vegetasi alang-alang yang menjadi salah satu sumber pakan gajah.

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 21:55 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, kembali memunculkan titik api baru pada Selasa (27/10/2026). Petugas gabungan kini berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan untuk mencegah bara kembali memicu kebakaran di kawasan konservasi gajah tersebut.

Ancaman karhutla bukan hanya membayangi kelestarian hutan, tetapi juga habitat dan sumber pakan satwa liar, termasuk gajah Sumatera. Vegetasi alang-alang yang tumbuh di kawasan terdampak menjadi salah satu sumber pakan dan tempat berkumpul bagi satwa liar.

Humas Balai TNWK, Riri Fitriandi, mengatakan kebakaran terjadi pada Sabtu, 24 Oktober 2026, di Grid 16L, wilayah Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I.

Api pertama kali terdeteksi sekitar pukul 11.00 WIB. Namun, situasi kembali mengkhawatirkan setelah titik api baru muncul pada sore hari di Grid 16K, kawasan yang dikenal sebagai Rawa Harjo.

“Untuk yang di Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder, itu kejadiannya tanggal 24 Oktober kemarin. Itu terjadi sekitar pukul 11.00, kemudian muncul titik api baru di sore hari di Grid 16K,” kata Riri, Selasa (27/10/2026).

Menurut Riri, kebakaran di kedua lokasi tersebut berhasil dipadamkan keesokan harinya dengan bantuan hujan. Meski demikian, petugas tidak bisa langsung meninggalkan lokasi setelah api di permukaan padam. Potensi bara tersembunyi yang dapat memicu kebakaran susulan masih menjadi perhatian.

Riri menjelaskan, dalam pemantauan awal, petugas tidak menemukan titik api di Resort Susukan Baru, Resort Rawa Bunder, maupun Resort Cabang. Namun, asap masih terlihat di Resort Cabang akibat bara yang tersisa di bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut membuat upaya pemadaman harus dilakukan secara menyeluruh. Sebab, api yang tidak lagi terlihat di permukaan belum tentu menandakan kebakaran benar-benar berakhir.

“Kalau untuk memastikan sepertinya memang belum. Namun, dengan patroli, selalu melakukan mopping-up atau pendinginan, dan deteksi dini melalui tiga tim besar dengan tiga posko besar di sana, itu cukup efektif,” ujar Riri.

Petugas terus melakukan patroli dan deteksi dini. Begitu menemukan asap, tim langsung menuju lokasi untuk melakukan penyiraman dan pendinginan guna mencegah bara kembali membesar.

Ancaman kebakaran susulan kembali muncul ketika petugas menerima laporan adanya asap pada pukul 15.01 WIB dalam pemantauan berikutnya. Tim gabungan segera bergerak untuk menangani titik kebakaran tersebut.

Riri mengatakan api berhasil ditangani dalam waktu kurang dari satu setengah jam. Pemadaman melibatkan petugas tangki air, TNI, Polri, masyarakat, serta PT GGPHP.

Meski api utama berhasil dipadamkan, petugas masih harus bertahan di lokasi untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

“Masih standby dan masih melakukan mopping-up atau pendinginan, karena ada beberapa ranting yang terlihat masih menyala, baranya masih terlihat,” kata Riri.

Keberadaan ranting yang masih menyala menjadi alasan petugas melanjutkan proses pendinginan. Upaya ini penting untuk memastikan bara tidak kembali membesar dan memunculkan titik api baru di kawasan hutan.

 

Habitat dan Pakan Gajah Sumatera Ikut Terancam

Di balik upaya memadamkan api, karhutla di TNWK juga menyisakan kekhawatiran terhadap kelangsungan hidup satwa liar. Kawasan yang terbakar memiliki fungsi ekologis sebagai habitat sekaligus tempat mencari makan bagi sejumlah satwa, terutama hewan pemakan rumput.

Riri menjelaskan, vegetasi alang-alang yang tumbuh di lokasi kebakaran menjadi salah satu sumber pakan satwa liar, termasuk gajah Sumatera.

“Prinsipnya memang semua tempat berkumpulnya hewan liar. Di situ juga ada alang-alang yang menjadi habitat dan tempat mencari makan hewan pemakan rumput, termasuk gajah,” ujarnya.

Riri menyebut gajah berada jauh dari lokasi kebakaran saat wawancara dilakukan. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan potensi dampak kebakaran terhadap satwa, terutama jika vegetasi yang menjadi sumber pakan mereka mengalami kerusakan.

Hingga berita ini ditulis, belum tersedia data terbaru mengenai total luas lahan yang terbakar dalam rangkaian kejadian tersebut. Tim gabungan masih melakukan penyisiran, patroli, penyiraman, dan pendinginan untuk memastikan bara benar-benar padam serta mencegah kebakaran kembali meluas.