Hujan yang Ditunggu Warga Palangka Raya Akhirnya Datang

Hujan mengguyur Palangka Raya setelah berhari-hari diselimuti kabut asap akibat karhutla.

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 07:12 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Setelah berhari-hari terkepung udara kering dan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), guyuran hujan akhirnya membasahi Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Hujan berintensitas sedang hingga lebat tersebut terjadi di sebagian wilayah Palangka Raya pada Selasa (27/10/2026) pagi.

Sehari sebelumnya, hujan dengan intensitas serupa juga membasahi kawasan setempat pada Senin pagi. Hal tersebut diklaim berhasil membuat kualitas udara Palangka Raya membaik.

Berdasarkan data dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Selasa pagi, angka kualitas udara Palangka Raya kini menyentuh 512. Hujan diharapkan mampu menurunkan angka indeks tersebut hingga masuk dalam kategori aman dan sehat.

Sementara itu, tim operasi modifikasi cuaca (OMC) TNI Angkatan Udara bersama BMKG terus melakukan pemantauan perkembangan atmosfer di wilayah udara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah selama 24 jam.

“Kami tidak menabur sembarangan, tapi monitoring selama 24 jam sehingga ketika ada potensi terbesar maka segera intervensi dan semai,” kata Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita di Banjarbaru.

Hilman menegaskan, penentuan lokasi penyemaian tidak dilakukan secara acak. Tim mengandalkan analisis ilmiah untuk menentukan titik penyemaian berdasarkan kondisi atmosfer. Setiap penerbangan pun mengikuti arahan tim ilmuwan yang memantau perkembangan atmosfer di wilayah sasaran.

Untuk mendukung operasi tersebut, sembilan pesawat disiagakan guna membantu penanganan karhutla di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Armada yang disiapkan meliputi pesawat Hercules, CASA, serta pesawat dukungan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Selain pengerahan armada, operasi modifikasi cuaca juga membutuhkan pasokan bahan semai dalam jumlah besar. Bahan tersebut digunakan sesuai kebutuhan dan kapasitas pesawat yang menjalankan misi penyemaian.

“Tim rata-rata menebarkan 2,5 hingga 3 ton dry ice setiap hari untuk membantu mengatasi lapisan inversi dan mendinginkan penguapan, kemudian bahan semai berupa garam atau natrium klorida (NaCl) dibawa sesuai kapasitas pesawat,” tambah Danlanud.

 

Hujan Tak Berarti El Nino Berakhir

Di tengah turunnya hujan di sejumlah wilayah Kalimantan, masyarakat diimbau tetap perlu mewaspadai potensi bencana akibat perubahan kondisi cuaca.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Daryono, menjelaskan bahwa fenomena El Nino yang berlangsung pada skala iklim musiman tidak menutup kemungkinan terjadinya hujan lebat di suatu wilayah. Hal ini karena hujan harian juga dipengaruhi dinamika atmosfer regional dan lokal.

"El Nino bekerja pada skala iklim musiman, sedangkan hujan harian dipengaruhi pula oleh dinamika atmosfer regional dan lokal. Oleh karna itu, El Nino kuat dan hujan lebat dapat terjadi pada periode yang sama, bahkan di wilayah yang sama," kata Daryono, Selasa (27/10/2026).

Daryono menegaskan, hujan yang turun di tengah berlangsungnya El Nino tidak serta-merta menandakan fenomena iklim tersebut telah berakhir. Sebaliknya, kondisi El Nino juga tidak menjamin suatu wilayah terbebas dari ancaman banjir dan tanah longsor.

"Artinya, hujan yang mulai turun pada November bukan bukti El Niño telah berakhir. Sebaliknya, El Nino yg masih berlangsung juga bukan jaminan suatu wilayah bebas dari banjir dan tanah longsor." ujarnya.

Karena itu, masyarakat diminta menyesuaikan kewaspadaan dengan kondisi cuaca di wilayah masing-masing. Daerah yang masih kering perlu mengantisipasi ancaman karhutla, sedangkan wilayah yang mulai diguyur hujan harus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem.

"Pesan untuk masyarakat: Kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla tetap diperlukan di wilayah yang masih kering, sementara daerah yang mulai menerima hujan perlu meningkatkan kesiapsiagaan terhadap banjir, longsor, dan cuaca ekstrem." pungkasnya