Iran dan 3 Negara Pakta Makkah Bertemu, Cegah Perang Kembali Berkobar

Pertemuan tersebut berakhir tanpa pengumuman kesepakatan konkret. Namun, menurut media pemerintah Iran, seluruh pihak sepakat untuk melanjutkan pembicaraan.

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 07:19 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menggelar pembicaraan dengan Iran pada Senin (26/10/2026) untuk mencegah perang di Timur Tengah kembali berkobar. Teheran menyebut pertemuan tersebut berlangsung "sangat baik".

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyatakan bahwa para pejabat dari ketiga negara yang tergabung dalam pakta pertahanan Makkah itu datang ke Iran untuk membantu meredakan ketegangan di antara pihak-pihak yang terlibat dalam krisis saat ini.

Pembicaraan yang turut dihadiri Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman tersebut berlangsung setelah Amerika Serikat (AS), Iran, dan Israel memperingatkan kemungkinan pecahnya kembali pertempuran dalam konflik yang telah berlangsung selama delapan bulan.

Ini merupakan kunjungan bersama pertama delegasi Pakistan, Arab Saudi, dan Turki ke Teheran sejak ketiga negara membentuk aliansi pertahanan di Makkah pada Agustus lalu.

Ketiga delegasi bertemu dengan Presiden Iran Massoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. 

Sementara itu, Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei mengatakan bahwa pembicaraan di Teheran berlangsung "sangat baik", sebagaimana dilaporkan televisi pemerintah.

"Saya merasa suasana baru mulai terbentuk di kawasan ini. Saya merasakan suasana yang sangat positif dalam pembicaraan di antara para pejabat," kata Rezaei seperti dilaporkan CNA.

Menurutnya, para pihak sepakat bahwa keamanan kawasan harus diwujudkan oleh negara-negara di kawasan itu sendiri, tanpa campur tangan asing.

Ia mengatakan pembicaraan tersebut juga memberikan perhatian khusus pada pendudukan Israel di Lebanon selatan, Suriah selatan, Gaza, dan Tepi Barat.

Pangeran Khalid, Panglima Angkatan Darat Pakistan Jenderal Asim Munir, serta Kepala Intelijen Turki Ibrahim Kalin turut mengadakan pertemuan dengan Rezaei.

Ketegangan di kawasan meningkat menjelang pemilu Israel pada Selasa (27/10) dan pemilu sela AS pekan depan. Dalam pemilu sela tersebut, Partai Republik berupaya mempertahankan kendali atas kedua kamar Kongres AS.

Ketika pembicaraan di Teheran dimulai, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menegaskan pentingnya mencegah peningkatan ketegangan lebih lanjut di Timur Tengah.

"Risiko terjadinya serangan militer besar-besaran terhadap Iran, yang disertai serangan balasan besar-besaran oleh Iran terhadap negara-negara Teluk, harus dihindari dengan segala cara," ujarnya dalam konferensi pers di Kairo.

Analis keamanan sekaligus peneliti Arab Saudi, Hesham Alghannam, menulis di platform X bahwa pertemuan bersejarah di Teheran tersebut mungkin menjadi kesempatan terakhir untuk mencegah ketegangan semakin tidak terkendali.

 

 

Sinyal Kuat

Sejumlah ledakan kembali mengguncang Riyadh pada malam hari. Ibu kota Arab Saudi itu telah menghadapi serangkaian serangan selama beberapa pekan dari kelompok Houthi yang didukung Iran. Sebelumnya, kelompok tersebut mengklaim melancarkan serangan baru terhadap bandara internasional Riyadh pada Minggu (25/10).

Koalisi pimpinan Arab Saudi yang beroperasi di Yaman kemudian melaporkan telah mencegat tiga drone yang diluncurkan Houthi di wilayah selatan Arab Saudi dan kawasan Riyadh.

Menanggapi serangkaian serangan tersebut, parlemen Mesir menyetujui permintaan Presiden Abdel Fattah al-Sisi untuk memberikan dukungan militer bagi pertahanan Arab Saudi apabila diminta. Namun, belum jelas bentuk dukungan yang akan diberikan.

Sementara itu, Qatar dan Pakistan memimpin upaya mediasi antara AS dan Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan bahwa delegasi Qatar telah mengunjungi Teheran pada Minggu.

Andreas Krieg dari perusahaan konsultan risiko MENA Analytica yang berbasis di London menilai kehadiran Pangeran Khalid di Teheran memiliki arti sangat penting. Ia menyebut Khalid sebagai "arsitek utama strategi Arab Saudi".

Pangeran Khalid merupakan saudara laki-laki Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang secara de facto memimpin Arab Saudi. Khalid telah menjadi salah satu tokoh penting dalam diplomasi kerajaan dan berulang kali dipercaya menjalankan misi diplomatik yang sensitif di kawasan.

"Riyadh mengerahkan modal politik yang besar untuk berdialog dengan Iran, dengan tujuan membendung peningkatan ketegangan dan membuka jalur diplomasi yang kredibel untuk keluar dari krisis," tulis Ali Shihabi, analis Arab Saudi yang memiliki kedekatan dengan pemerintah, di media sosial.

Jangan Uji Kami

Sejumlah pernyataan terbaru meningkatkan spekulasi mengenai kemungkinan pecahnya kembali konflik.

Pada Jumat (23/10), Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington "mungkin akan melakukan satu lagi Epic Fury dalam skala kecil". Pernyataan tersebut merujuk pada operasi militer AS dan Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari.

Pada Minggu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa Iran mungkin berupaya mengganggu pelaksanaan pemilu Israel. Netanyahu sendiri menghadapi persaingan ketat untuk mempertahankan kekuasaannya dalam pemilu pada Selasa.

"Kami memiliki indikasi intelijen bahwa musuh-musuh kami, Iran dan kelompok-kelompok proksinya, mungkin akan melancarkan serangan untuk mengganggu pemilu," kata Netanyahu dalam video yang dirilis kantornya.

Pernyataan tersebut muncul ketika stasiun televisi Israel, Channel 12, mengutip sejumlah sumber yang tidak disebutkan identitasnya mengenai adanya perselisihan antara Netanyahu dan Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir.

Perselisihan itu dilaporkan berkaitan dengan sebuah instruksi baru dalam perang melawan Iran, tetapi rincian instruksi tersebut tidak dijelaskan.

Netanyahu membantah laporan mengenai perselisihan itu.