Harga Minyak Hari Ini Merosot, Investor Berharap Penyelesaian Konflik Timur Tengah

Harga minyak WTI dan Brent kompak tertekan di tengah harapan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Diterbitkan 21 Oktober 2026, 08:27 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026 (Rabu pagi Jakarta). Tekanan harga minyak terjadi seiring harapan pelaku pasar akan ada kemajuan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, meski serangan terhadap kapal tanker serta serangan ke Arab Saudi telah meningkat.

Mengutip CNBC, Rabu (21/10/2026), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun 1,8% dan ditutup di US$ 101,79 per barel, merosot tajam dari level tertinggi di US$ 110,48. Kontrak untuk November berakhir pada Selasa. Di sisi lain, harga minyak WTI untuk Desember turun 26 sen menjadi US$ 98,28 per barel.

Harga minyak Brent untuk pengiriman Desember merosot 0,7% dan menetap di harga US$ 108,79 per barel di bawah level tertinggi US$ 111,99.

Perkembangan di Timur Tengah tetap menjadi sorotan, dengan meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz dalam beberapa minggu terakhir. Menurut layanan pelacakan kapal Kpler, setidaknya 18 kapal telah diserang dalam dua minggu terakhir.

Korps Garda Revolusi Iran menyatakan pada Selasa, dua kapal tanker minyak yang dianggap "tidak patuh" terbakar di selat tersebut setelah menghantam ranjau yang dipasang oleh unit angkatan laut Iran, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan negara Iran.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers mingguan pada Selasa mengatakan Teheran akan merespons setiap serangan Amerika "dengan tindakan yang setara, atau bahkan lebih keras," menurut laporan Tasnim.

 

 

Pasokan Pasar Minyak

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan pada bulan ini pasukan Amerika tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada 3 November.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga mengatakan kepada CNBC melalui surel pada Selasa, penguatan harga WTI untuk kontrak jangka pendek menjelang masa kedaluwarsa merupakan tanda ketatnya pasokan di pasar minyak mentah global.

"Hal ini mencerminkan penurunan volume ekspor dari Timur Tengah seiring dengan meningkatnya serangan terhadap kapal tanker dan serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi," ujarnya.

"Selain itu, keputusan AS untuk mengecualikan armada 'bayangan' (shadow fleet) Rusia dari sanksi kemungkinan akan menurunkan biaya pengangkutan, yang sebelumnya menjadi faktor penghambat bagi peningkatan permintaan minyak mentah yang berasal dari AS,” ia menambahkan.

“Dengan tersingkirnya hambatan ini, setidaknya untuk sementara, jenis minyak mentah AS kembali diperhitungkan sebagai pengganti minyak mentah dari Timur Tengah,” tutur dia.

Ketiga, ia menuturkan, stok minyak komersial AS diperkirakan telah mengalami penurunan pada pekan lalu.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6