Vietnam Sepakati Perdagangan Bebas dengan 4 Negara Eropa

Kesepakatan ini menjadi langkah untuk memperluas pasar di tengah terganggunya perdagangan global akibat kebijakan tarif impor Amerika Serikat (AS).

Diterbitkan 19 Oktober 2026, 16:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Hanoi - Vietnam dan empat negara Eropa di luar Uni Eropa (UE) menandatangani perjanjian perdagangan bebas di Hanoi pada Minggu (18/10/2026). 

Perjanjian tersebut melibatkan Vietnam, negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara, dan Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa (European Free Trade Association/EFTA) yang beranggotakan Islandia, Liechtenstein, Norwegia, dan Swiss.

Melalui perjanjian ini, kedua pihak sepakat menghapus atau menurunkan bea masuk untuk berbagai produk, termasuk barang industri, hasil perikanan, dan produk pertanian.

Penandatanganan berlangsung di Hanoi dengan disaksikan pemimpin tertinggi Vietnam, To Lam, serta perwakilan pemerintah negara-negara anggota EFTA.

Dalam pernyataan resminya seperti dilaporkan CNA, pemerintah Vietnam menyebut kesepakatan tersebut menunjukkan komitmen kedua pihak untuk "memperkuat sistem perdagangan yang berlandaskan aturan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut".

Pemerintah Vietnam juga berharap perjanjian ini dapat membantu negaranya "memperluas pasar ekspor dan impor" serta "meningkatkan peran dalam rantai produksi dan perdagangan global".

Vietnam dan EFTA mencapai kesepakatan setelah melalui perundingan panjang yang dimulai pada 2012. Proses perundingan itu sempat terhenti sejak 2018, kemudian dilanjutkan kembali pada September 2025 hingga akhirnya rampung pada Juli 2026.

Perjanjian tersebut diteken setelah Presiden AS Donald Trump memberlakukan serangkaian tarif impor yang mengganggu perdagangan dunia.

Akibat kebijakan itu, barang-barang ekspor Vietnam ke AS dikenai tarif tinggi. Sementara itu, Hanoi dan Washington masih terus berunding mengenai hubungan perdagangan kedua negara.

Menurut para pakar, kesepakatan antara Vietnam dan EFTA mencerminkan keinginan kedua pihak untuk memperluas hubungan dagang sekaligus mengurangi ketergantungan pada mitra perdagangan utama mereka.

"Ketika AS semakin meningkatkan tekanan perdagangan terhadap negara-negara Eropa, perjanjian ini menjadi upaya bersama untuk memperkuat kemandirian ekonomi melalui kerja sama perdagangan dan membuka hubungan dagang dengan mitra lain, sehingga mereka tidak hanya bergantung pada mitra dagang terbesar," kata pakar sejarah dan politik Do Dinh Lam Khang kepada AFP.

Khang menambahkan, hubungan yang lebih erat dengan negara-negara EFTA juga dapat membantu Vietnam mengembangkan sektor-sektor ekonomi yang menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Menurut kedua pihak, perjanjian tersebut tidak hanya mengatur perdagangan barang dan jasa, tetapi juga mencakup hak kekayaan intelektual, langkah-langkah perlindungan perdagangan, pembangunan berkelanjutan, serta sejumlah bidang lainnya.

Berdasarkan data EFTA, total nilai perdagangan antara keempat negara anggotanya dan Vietnam mencapai 4,8 miliar euro atau sekitar US$ 5,4 miliar pada 2025.

Pada tahun tersebut, ekspor utama negara-negara EFTA ke Vietnam berupa mesin dan peralatan listrik maupun mekanis, hasil perikanan, serta produk farmasi.

Sementara itu, Vietnam, yang dikenal sebagai salah satu pusat industri manufaktur, terutama mengekspor mesin, alas kaki, dan pakaian ke negara-negara EFTA.

EFTA sendiri dibentuk sebagai organisasi perdagangan yang menjadi alternatif bagi Masyarakat Ekonomi Eropa (European Economic Community), cikal bakal Uni Eropa. Meski memiliki hubungan erat dengan Uni Eropa, keempat negara anggota EFTA hingga kini tidak bergabung dalam organisasi tersebut.