Iran Klaim 7 Kapal Tanker Diserang di Selat Hormuz

Klaim yang disampaikan Iran pada Kamis (22/10/2026) itu menambah kekhawatiran akan kembali pecahnya perang besar-besaran.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 09:18 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Teheran - Sebanyak tujuh kapal tanker minyak dilaporkan terbakar atau mengalami kerusakan di Selat Hormuz pada Rabu (21/10/2026) malam hingga Kamis setelah diserang Iran atau menabrak ranjau laut.

Kekhawatiran bahwa Amerika Serikat (AS) dan Israel akan kembali menyerang Iran muncul menjelang dua agenda politik penting. Israel akan menggelar pemilu yang berpotensi mengakhiri kekuasaan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam beberapa hari mendatang. Sementara itu, AS akan menggelar pemilu paruh waktu bulan depan, di tengah kemarahan pemilih akibat kenaikan harga yang dipicu perang.

"Netanyahu ingin menyerang Iran, itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi," kata Danny Citrinowicz, peneliti di Institute for National Security Studies Israel yang pernah bertugas menangani persoalan Iran di lingkungan militer dan intelijen negara tersebut, kepada Associated Press (AP).

Citrinowicz menilai Israel terlalu terburu-buru menghadapi kemungkinan babak baru perang Iran tanpa memperbarui strateginya. Menurut dia, serangan terhadap Iran hampir pasti terjadi jika Netanyahu meraih kemenangan meyakinkan dalam pemilu pada 27 Oktober.

Para kandidat oposisi utama kemungkinan akan lebih dulu memusatkan perhatian pada persoalan dalam negeri jika memenangkan pemilu. Namun, Citrinowicz meyakini kawasan tersebut sedang bergerak menuju "eskalasi konflik bersenjata berikutnya".

Iran Kembali Ancam Serang Pangkalan Militer AS di Kawasan

Televisi pemerintah Iran melaporkan klaim mengenai serangan terbaru terhadap kapal-kapal tanker tersebut. Namun, AP belum dapat memastikan kebenaran laporan itu secara independen.

Mengutip Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), laporan tersebut juga menyebutkan ancaman baru untuk menyerang pangkalan militer AS di kawasan jika Washington terus membantu mengarahkan kapal-kapal dagang melintasi Selat Hormuz.

Laporan itu tidak menyebutkan ada atau tidaknya korban. Iran juga tetap menyatakan bahwa pihaknya menguasai Selat Hormuz, yang menjadi salah satu posisi tawar penting Teheran dalam perundingan dengan AS mengenai perang.

Menurut United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga pemantau keamanan pelayaran milik militer Inggris, jumlah laporan serangan terhadap kapal dagang sepanjang Oktober merupakan yang tertinggi sejak Maret, ketika perang masih memasuki pekan-pekan awal.

UKMTO belum menerima laporan mengenai serangan terbaru tersebut. Namun, lembaga itu mencatat bahwa belakangan ini sejumlah perusahaan pelayaran semakin enggan melaporkan insiden yang mereka alami.

Para pakar menyebut negara-negara produsen minyak telah menemukan cara untuk menjaga pasokan minyak mentah tetap mengalir, meski biaya yang harus dikeluarkan terus membengkak.

 

Kapal Tanker Tetap Melintasi Selat Hormuz Meski Serangan Meningkat

Kapal-kapal tanker masih mengangkut minyak melalui Selat Hormuz dengan pengawalan militer AS meskipun serangan terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Hal itu terungkap dari data perusahaan analisis dan informasi pelayaran Lloyd's List Intelligence.

Sejumlah operator kapal tanker tetap bersedia mengambil risiko untuk mengangkut minyak dari negara-negara produsen di kawasan Teluk melalui Selat Hormuz pada malam hari.

Selama pelayaran, mereka mematikan sistem pelacakan posisi kapal dan telepon seluler, kemudian melewati jalur yang berada dalam perlindungan AS di dekat pantai Oman.

Setelah tiba di Teluk Oman, muatan minyak dipindahkan ke kapal tanker lain yang sudah menunggu untuk kemudian dikirim kepada pembeli di Asia.

Dalam seminar daring pada Kamis, Lloyd's menyatakan bahwa operator kapal yang masih aktif di kawasan Teluk "hampir tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan kegiatan mereka", meskipun tercatat 28 serangan terhadap kapal sepanjang Oktober, jumlah tertinggi sejak perang dimulai.

Pola pengangkutan yang dikenal sebagai dark shuttle, yakni perjalanan kapal dengan sistem pelacakan dimatikan, berada di bawah pengawasan Komando Pusat AS (CENTCOM).

Cara tersebut membantu memulihkan volume pengiriman minyak dari kawasan Teluk hingga mendekati tingkat sebelum perang. Namun, kelancaran pasokan itu harus dibayar mahal, baik dari segi waktu, biaya, maupun nyawa para pelaut.

Tarif sewa kapal tanker untuk pengiriman tertentu di pasar spot melonjak hingga ratusan ribu dolar AS per hari. Sementara itu, pemindahan muatan minyak dari satu kapal ke kapal lainnya di tengah laut dapat memakan waktu beberapa hari.

 

PBB Desak AS dan Iran Kembali Berdiplomasi untuk Akhiri Konflik dan Buka Selat Hormuz

Juru bicara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Stephane Dujarric menegaskan bahwa kapal dagang tidak boleh menjadi sasaran serangan. Ia menyerukan agar AS dan Iran kembali menempuh jalur diplomasi untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

"Demi masyarakat di kawasan tersebut dan dunia secara keseluruhan, jalur perairan itu harus kembali dibuka dan ketegangan harus mereda," kata Dujarric kepada wartawan pada Kamis.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Rabu menyatakan bahwa Teheran tetap membuka pintu diplomasi, tetapi juga siap mempertahankan diri.

Iran sebelumnya memperingatkan bahwa pihaknya telah memetik pelajaran penting di bidang militer dari perang yang dimulai dengan serangan AS dan Israel pada 28 Februari.

Dalam beberapa hari terakhir, Teheran bahkan mengisyaratkan kemungkinan memperluas sasaran serangan ke berbagai infrastruktur, termasuk kabel komunikasi bawah laut dan pusat data.

Di sisi lain, AS terus menambah kekuatan militernya di kawasan tersebut, termasuk mengirim kapal induk ketiga dan ribuan tentara tambahan.

Pengerahan itu akan memperkuat kehadiran militer AS di Timur Tengah, yang saat ini sudah mencakup konsentrasi kapal perang dan pesawat militer Amerika terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Sementara itu, para mediator terus berupaya membawa Washington dan Teheran kembali ke meja perundingan resmi.

Iran masih menawarkan proposal terbaru untuk mengakhiri perang dan membuka sepenuhnya Selat Hormuz dalam waktu satu pekan, asalkan AS memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sejumlah persyaratan tersebut serupa dengan isi kesepakatan sebelumnya yang gagal bertahan hanya beberapa hari setelah ditandatangani kedua pihak pada Juni.

Presiden AS Donald Trump telah menolak proposal terbaru Iran bulan lalu. Meski begitu, Washington dan Teheran sama-sama mengakui bahwa pembicaraan tidak langsung masih berlangsung.

Risiko Kian Besar Jika Perang Terbuka Kembali Pecah

Jika perang besar-besaran kembali terjadi, keselamatan warga sipil di seluruh kawasan akan kembali terancam. Konflik itu juga akan mengganggu pasokan minyak, gas alam, serta produk terkait seperti pupuk ke berbagai negara dan kemungkinan memicu lonjakan harga baru.

Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, pada pekan ini mengakui bahwa negaranya akan menghadapi tekanan akibat blokade AS yang berkepanjangan.

Namun, Rezaei menegaskan bahwa tekanan ekonomi tidak serta-merta berarti Iran akan mengalami kekalahan secara strategis, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Iran, IRNA.

Konflik semakin meluas menyusul meningkatnya pertempuran antara kelompok Houthi di Yaman, yang mendapat dukungan Iran, dan Arab Saudi.

Arab Saudi mendukung koalisi pasukan yang berpihak kepada pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam pertempuran melawan kelompok pemberontak Houthi.

Serangkaian serangan mematikan Houthi terhadap bandara dan berbagai fasilitas lain di wilayah Arab Saudi telah meningkatkan tekanan terhadap kerajaan tersebut, yang merupakan sekutu dekat AS dan telah meminta bantuan militer.

Meningkatnya ketegangan ini turut mengancam keamanan pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, jalur penting perdagangan internasional yang berada di ujung selatan Laut Merah.

Sementara itu, Presiden perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, mengatakan volume minyak yang disalurkan melalui pipa untuk menghindari Selat Hormuz telah meningkat tiga kali lipat di tengah krisis energi global. Sejumlah fasilitas Aramco sendiri telah menjadi sasaran serangan Houthi.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi milik Arab Saudi, Al Arabiya Business, Amin Nasser mengatakan kapasitas jalur pipa East-West telah meningkat dari dua juta menjadi tujuh juta barel per hari.

Nasser menambahkan bahwa Aramco menggunakan pesawat tanpa awak atau drone untuk memeriksa kemungkinan kerusakan pada jaringan pipa tersebut sekaligus membantu upaya pemadaman kebakaran.