Liputan6.com, Jakarta - Media sosial membuat fenomena membandingkan diri dengan orang lain semakin sulit dihindari. Tanpa disadari, kebiasan ini terkadang dapat berdampak buruk pada kesehatan jiwa.
Fakhri dkk dalam studi Pengaruh Perbandingan Sosial Terhadap Presentasi Diri Remaja Pengguna Instagram menemukan bahwa social comparison menyumbang 17,5 persen terhadap perilaku presentasi diri remaja pengguna Instagram.
Di sisi lain, Dinata dan Ninawati dalam riset Hubungan antara Social Comparison dan Life Satisfaction pada Dewasa Awal Pengguna Media Sosial Instagram menemukan hubungan negatif yang signifikan antara social comparison dan life satisfaction pada responden dewasa awal.
Advertisement
Kedua riset ini menunjukkan semakin sering seseorang membandingkan dirinya dengan pengguna lain di Instagram, semakin rendah kepuasan hidup yang dirasakan. Tingkat perbandingan juga lebih tinggi pada perempuan, pengguna yang mengikuti lebih dari 500 akun, serta mereka yang menghabiskan lebih dari empat jam sehari di media sosial.
Dalam perspektif Islam, kecenderungan tersebut dapat dikaitkan dengan konsep ghadd al-bashar, yakni menjaga pandangan. Surah An-Nur ayat 30 memerintahkan orang beriman untuk menahan pandangan. Pesan ini tidak semata berkaitan dengan pandangan terhadap lawan jenis, tetapi juga tentang menjaga apa yang masuk dan memengaruhi hati.
Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menggambarkan pandangan sebagai jalan menuju hati, sedangkan Ibnu Taimiyah menekankan pentingnya menahan pandangan dari sesuatu yang melampaui kebutuhan dan dapat memicu kegelisahan. Di era digital, bentuk pandangan itu dapat berupa feed, story, dan highlight yang terus menyajikan kehidupan orang lain.
Kondisi ini menunjukkan bahwa menjaga pandangan di era digital bukan berarti menjauh sepenuhnya dari media sosial, melainkan belajar mengendalikan apa yang dikonsumsi mata dan pikiran. Berikut ini adalah alasan kenapa berhenti membandingkan diri di medsos bisa menyehatkan jiwa.
Mengapa Berhenti Membandingkan Diri Menyehatkan Jiwa
1. Media Sosial Membuat Perbandingan Menjadi Tidak Seimbang
Menurut teori social comparison Festinger (1954), sebagaimana dikutip jurnal, seseorang cenderung melakukan upward comparison, yakni membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih unggul.
Di media sosial, perbandingan ini semakin bias karena yang ditampilkan umumnya adalah sisi terbaik kehidupan
Fakhri dkk. menjelaskan bahwa unggahan di Instagram telah melalui proses kurasi, sementara Chou dan Edge (2012), sebagaimana dikutip Dinata dan Ninawati, menunjukkan bahwa kondisi tersebut membuat pengguna cenderung menganggap kehidupan orang lain lebih baik daripada kehidupannya sendiri.
2. Perbandingan Sosial Memengaruhi Harga Diri dan Suasana Hati
Dampaknya tidak berhenti pada pikiran. Dinata dan Ninawati, dengan merujuk pada Midgley (2020) serta McComb dkk. (2023), menjelaskan bahwa upward comparison dapat memicu penilaian diri negatif, menurunkan harga diri, dan memperburuk mood.
Kondisi tersebut kemudian dapat berkembang menjadi ketidakpuasan terhadap tubuh (body dissatisfaction) dan berujung pada menurunnya kepuasan hidup.
3. Perbandingan Berlebihan Dapat Menumbuhkan Penyakit Hati
Dalam perspektif Islam, kebiasaan terus melihat kelebihan orang lain juga berisiko menumbuhkan hasad. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin menjelaskan hasad sebagai ketidaksukaan terhadap nikmat yang dimiliki orang lain dan keinginan agar nikmat tersebut hilang.
Rasulullah SAW pun mengingatkan bahaya hasad dalam hadis riwayat Abu Dawud. Di media sosial, gejalanya tidak selalu berupa kebencian terbuka, tetapi dapat muncul sebagai rasa iri, tidak puas dengan diri sendiri, atau dorongan untuk mengejar standar hidup orang lain.
4. Kebahagiaan tidak seharusnya bergantung pada kehidupan orang lain
Life satisfaction merupakan penilaian seseorang terhadap kehidupannya sendiri, bukan hasil perlombaan dengan orang lain. Dinata dan Ninawati menunjukkan adanya hubungan negatif antara social comparison dan kepuasan hidup.
Ketika ukuran kebahagiaan bergeser menjadi jumlah likes, pencapaian orang lain, bentuk tubuh, atau gaya hidup yang terlihat di layar, rasa cukup menjadi bergantung pada sesuatu yang berada di luar kendali.
Cara Menjaga Pandangan Hati Agar Tak Terus Membandingkan Diri di Medsos
1. Ghadd Al-Bashar Bukan Berarti Mengisolasi Diri
Surah An-Nur ayat 30 memerintahkan orang beriman untuk menahan pandangan. Donny Syofyan menjelaskan bahwa kata min dalam frasa yaghdhu min absharihim menunjukkan makna sebagian.
Artinya, Islam tidak memerintahkan manusia menutup mata dari seluruh kehidupan, tetapi mengajarkan pengendalian pandangan. Dalam konteks media sosial, perbedaannya terlihat antara unggahan yang sekadar melintas dan keputusan untuk terus melihat hingga memicu perbandingan.
2. Menjaga Pandangan Merupakan Langkah Pencegahan
Al-Hakam Foundation mengaitkan ghadd al-bashar dengan konsep sadd adh-dhara’i‘, yaitu menutup jalan menuju kerusakan. Pandangan yang terus diarahkan pada sesuatu yang memicu iri, gelisah, atau ketidakpuasan dapat menjadi pintu bagi persoalan hati.
Fakhr ad-Din ar-Razi dalam Mafatih al-Ghayb juga membahas pentingnya pengendalian pandangan sebagai disiplin diri.
3. Ikhlas Menjadi Benteng dari Kebutuhan Validasi
Jika ghadd al-bashar menjaga apa yang masuk melalui pandangan, ikhlas menjaga hati dari dalam. Ali Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat menjelaskan ikhlas sebagai tidak mencari penyaksi atas amal selain Allah.
Imam Al-Qusyairi dalam Tahdzib al-Asrar juga mengutip Junayd mengenai ikhlas sebagai keadaan ketika perhatian seseorang tidak lagi terpaku pada amal dan penilaian manusia.
4. Ukuran Keberhasilan Dikembalikan kepada Allah
Dalam kehidupan digital, ikhlas berarti tidak menjadikan likes, komentar, pujian, atau pencapaian orang lain sebagai ukuran utama nilai diri.
Pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “bagaimana saya terlihat di mata orang lain?”, melainkan “apakah yang saya lakukan bernilai dan diridai Allah?”. Sikap ini membantu seseorang keluar dari perlombaan citra yang tidak pernah selesai.
Cara Mengurangi Kebiasaan Membandingkan Diri
1. Audit akun yang diikuti
Psikolog Anastasia Checcio mengingatkan bahwa media sosial merupakan “potret, bukan cerita utuh”. Karena itu, akun yang secara konsisten memicu kecemasan atau rasa rendah diri dapat dipertimbangkan untuk unfollow atau mute. Fakhri dkk. juga menemukan bahwa semakin banyak akun yang diikuti, semakin besar paparan terhadap standar sosial yang dapat memicu perbandingan.
2. Batasi waktu penggunaan
Dinata dan Ninawati mencatat tingkat perbandingan sosial yang lebih tinggi pada pengguna yang menghabiskan lebih dari empat jam sehari di media sosial. Penggunaan yang disengaja, dengan batas waktu tertentu, dapat membantu mengurangi paparan terhadap pemicu perbandingan dan memberi ruang untuk aktivitas di dunia nyata.
3. Alihkan fokus pada tujuan pribadi
Ketika muncul pikiran “mengapa hidup saya tidak seperti dia?”, ubah pertanyaan menjadi “apa yang sebenarnya ingin saya capai?”. Psikolog Michelle Rozen menyarankan redirection, yakni mengarahkan kembali perhatian pada tujuan yang bermakna bagi diri sendiri. Dalam perspektif ikhlas, usaha tersebut kemudian dikembalikan kepada Allah, bukan kepada penilaian manusia.
4. Latih “pandangan pertama” tanpa “pandangan kedua”
Tidak semua unggahan harus dihindari. Yang penting adalah kemampuan berhenti sebelum perhatian berubah menjadi perbandingan. Ketika sebuah konten mulai memicu rasa kurang, berhenti menggulir, tarik napas, dan alihkan perhatian ke lingkungan sekitar. Kebiasaan sederhana ini menjadi bentuk pengendalian pandangan dalam ruang digital.
Manfaat Berhenti Membandingkan Diri
1. Kepuasan hidup menjadi lebih stabil
Ketika kebahagiaan tidak lagi diukur dari kehidupan orang lain, seseorang memiliki ukuran yang lebih mandiri dalam menilai hidupnya.
2. Harga diri dan citra tubuh lebih sehat
Mengurangi upward comparison membantu memutus kebiasaan mengevaluasi diri berdasarkan standar tubuh dan pencapaian yang ditampilkan orang lain. Temuan McComb dkk. menunjukkan bahwa paparan semacam itu berkaitan dengan penurunan harga diri dan evaluasi citra tubuh.
3. Hati lebih jauh dari hasad
Berkurangnya paparan terhadap kehidupan orang lain memberi ruang bagi rasa syukur. Alih-alih berharap nikmat orang lain hilang, seseorang dapat mengembangkan ghibthah, yakni keinginan memperoleh kebaikan serupa tanpa mengharapkan nikmat tersebut hilang dari pemiliknya.
4. Energi mental dapat dialihkan pada hal yang produktif
Waktu dan perhatian yang sebelumnya habis untuk mengamati kehidupan orang lain dapat digunakan untuk belajar, bekerja, berolahraga, berkarya, atau membangun hubungan yang lebih nyata.
5. Tumbuh ketenangan yang tidak bergantung pada penilaian manusia
Berhenti membandingkan diri bukan berarti menganggap diri lebih baik daripada orang lain. Justru sebaliknya, seseorang belajar menerima hidupnya tanpa terus-menerus mencari ukuran dari luar.
Dalam perspektif tasawuf, proses tersebut membawa seseorang lebih dekat kepada ikhlas: berbuat dan menjalani hidup dengan orientasi kepada Allah, bukan demi memenangkan perlombaan citra di hadapan manusia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382785/original/072637300_1793009878-cek_fakta_-_bantuan_pupuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361587/original/019138200_1790739278-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-30T103330.320.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339870/original/093361500_1788432663-WhatsApp_Image_2026-09-03_at_5.47.40_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4136675/original/031041300_1661494892-adem-ay-Tk9m_HP4rgQ-unsplash_1_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377078/original/012489900_1792404433-pss.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360532/original/007288400_1790652272-15928.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382994/original/073658500_1793055666-508571.jpg)