Liputan6.com, Gaza - Setiap dua hari sekali, tiga bersaudara dari keluarga Abu Asser harus berpindah dari tenda seorang bibi ke tenda bibi lainnya. Mereka menjalani kehidupan seperti ini sejak menjadi yatim piatu, beberapa hari setelah gencatan senjata diberlakukan di Gaza pada 2025.
Mariam (16), Aya (14), dan Jebril (12) kehilangan ayah mereka dalam serangan Israel ke Gaza pada 2014.
Ketika rumah mereka di Kota Gaza hancur akibat genosida Israel yang dimulai pada 2023, ketiganya mengungsi bersama ibu mereka, Islam, ke sebuah tenda darurat di Deir al-Balah, Gaza tengah.
Advertisement
Namun, 19 hari setelah gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, sebuah bom Israel menghantam tenda tersebut. Ibu mereka tewas di depan mata anak-anaknya.
Ketiganya termasuk di antara 54.468 anak di Gaza yang kehilangan salah satu atau kedua orang tua sejak genosida dimulai pada Oktober 2023, berdasarkan data Kementerian Pembangunan Sosial Palestina di Gaza.
Dua bibi yang kini ikut mengasuh mereka juga telah kehilangan suami selama genosida dan harus membesarkan anak-anak mereka sendiri.
"Anak-anak itu tidak punya tempat tinggal tetap. Mereka lebih sering tinggal bersama nenek dari pihak ayah, tetapi juga bergantian menginap di tempat kami [para bibi dari pihak ibu], masing-masing selama dua malam," kata Warda al-Muzeini, salah seorang bibi mereka yang telah kehilangan suami, kepada Middle East Eye (MEE).
"Kami berusaha memberikan dukungan emosional, terutama kepada si bungsu, Jebril. Saat bom menghantam tenda, dia sedang duduk di pangkuan ibunya dan ikut terluka.
"Dia melihat sendiri ibunya meninggal di depan matanya."
Muzeini kehilangan suaminya dalam serangan udara Israel selama genosida. Kini, ia membesarkan keempat anaknya seorang diri.
Tanpa pekerjaan maupun penghasilan tetap, ia bahkan kesulitan menyediakan makanan untuk keluarganya, meski hanya sekali sehari.
"Saya dan saudara perempuan saya yang juga menjanda sudah kesulitan memberi makan anak-anak kami sendiri. Namun, kami juga harus merawat anak-anak saudara kami yang sudah tidak punya orang tua," ujar Muzeini.
"Kami berbagi tanggung jawab. Kami bertiga berusaha membelikan sesuatu untuk anak-anak itu setiap kali mampu. Ada yang membeli piyama, ada yang membelikan sandal, sementara yang lain memberi uang saku untuk beberapa hari."
Â
Â
Masa Kecil yang Hilang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7754424/original/012663700_1780563217-1.jpg)
Di seluruh Gaza, sedikitnya 64.000 perempuan telah kehilangan suami dan 71.000 anak kehilangan orang tua.
Jumlah tersebut mencakup korban genosida yang berlangsung sejak Oktober 2023 maupun mereka yang kehilangan pasangan atau orang tua akibat serangan militer Israel pada tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan sistem pendataan anak yatim piatu milik Kementerian Pembangunan Sosial, sekitar 3.000 anak tidak memiliki wali atau pengasuh yang tercatat secara resmi.
"Angka-angka tersebut belum bisa menggambarkan penderitaan yang mereka hadapi sehari-hari di Gaza," kata juru bicara kementerian, Aziza al-Kahlout, kepada MEE.
"Anak yang kehilangan kedua orang tuanya bukan hanya kehilangan pengasuhan dan rasa aman, tetapi juga kesempatan bersekolah dan menikmati masa kecil. Mereka terpaksa memikul tanggung jawab yang seharusnya belum menjadi beban anak seusia mereka."
Kahlout menambahkan, perempuan yang menjadi satu-satunya pencari nafkah keluarga harus menghadapi beban ganda. Mereka dituntut memenuhi kebutuhan hidup sekaligus membesarkan anak-anak di tengah kehancuran akibat perang.
Ia memperingatkan bahwa anak-anak yang kehilangan orang tua semakin rentan putus sekolah dan menikah di usia dini. Risiko tersebut meningkat seiring memburuknya kondisi ekonomi dan kemanusiaan serta terbatasnya tempat tinggal yang layak.
"Kami melihat tanda-tanda yang sangat mengkhawatirkan terkait meningkatnya risiko anak-anak terpaksa bekerja, putus sekolah, dan menikah di usia dini. Semua ini dipicu oleh kemiskinan, pengungsian, serta hilangnya anggota keluarga yang selama ini menjadi pencari nafkah utama," tuturnya.
Advertisement
Kehilangan Seluruh Keluarga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363689/original/018209900_1790913049-AP26273642196395.jpg)
Bagi anak-anak yang menjadi satu-satunya anggota keluarga yang selamat, kehilangan itu terasa semakin berat. Mereka harus menghadapi duka atas kematian orang tua dan saudara-saudara kandung tanpa ada lagi keluarga terdekat yang bisa diajak berbagi kenangan maupun kesedihan.
Salah satunya Wafaa al-Attar. Hanya dalam waktu lima menit, ia kehilangan kedua orang tua dan seluruh saudara kandungnya. Ia menjadi satu-satunya anggota keluarga yang selamat.
Saat itu, Attar baru berusia 10 tahun. Ia diminta ayahnya pergi ke rumah sang paman yang berada tidak jauh dari tempat tinggal mereka untuk mengisi daya ponsel.
Ketika Attar berada di luar rumah, serangan udara Israel menghancurkan tempat tinggal keluarganya di Deir al-Balah, Gaza tengah. Kedua orang tua dan keempat saudara kandungnya tewas.
"Dalam sekejap, saya kehilangan seluruh keluarga saya," ungkap Attar, yang kini berusia 13 tahun, kepada MEE.
"Ayah sedang menelepon ketika baterai ponselnya habis. Dia meminta saya mengisi daya ponsel di rumah paman karena di sana ada panel surya. Tepat ketika saya hendak masuk, terdengar ledakan yang sangat keras."
"Saya menoleh, dan rumah kami sudah tidak ada lagi."
Serangan pada 22 Februari 2024 itu menghantam sebuah bangunan bertingkat tempat keluarga Attar berada. Ayahnya, Ahmed, ibunya, Khouloud, serta keempat saudara kandungnya tewas. Mereka adalah Rital (8), Muhammed (5), Obada (3), dan Yazan yang baru berusia sembilan bulan.
Attar sendiri mengalami luka ringan akibat serpihan ledakan dan dibawa ke rumah sakit. Saat itu, ia belum mengetahui nasib keluarganya.
Ia terus bertanya tentang keadaan mereka, tetapi tidak seorang pun menjawab hingga pamannya datang.
"Paman berkata kepada saya, 'Semoga Allah merahmati mereka. Semoga Allah mengganti kehilanganmu dengan kebaikan,'" kenangnya.
Mendengar kabar itu, Attar berhenti menangis. Ia hanya terdiam, belum mampu memahami apa yang baru saja terjadi.
Selama dua hingga tiga jam, ia masih terpukul dan sulit menerima kenyataan tersebut. Setelah kembali ke rumah pamannya, barulah berbagai pertanyaan memenuhi pikirannya.
"Saya terus bertanya-tanya, 'Semuanya sekaligus?'"
Selama berbulan-bulan, Attar sulit menerima kenyataan bahwa seluruh keluarganya telah tiada. Ia takut membayangkan bagaimana kehidupannya kelak.
Pada awalnya, Attar tinggal bersama kakek dan neneknya. Di sana, ia terus memikirkan bagaimana harus menjalani hidup tanpa orang tua dan saudara-saudaranya.
"Saya mengalami masa-masa ketika emosi saya benar-benar tidak terkendali. Selama berbulan-bulan, saya berharap saat rumah kami dibom, saya juga berada di sana bersama mereka. Saya berharap ikut meninggal bersama mereka," tuturnya.
Kehilangan saudara-saudara kandung membuat kesedihannya semakin mendalam.
"Saya bahkan tidak punya kesempatan untuk membicarakan kejadian itu dengan saudara-saudara saya."
Belakangan, Attar pindah ke rumah pamannya dan tinggal bersama sang paman, istrinya, serta bayi mereka yang baru lahir.
Perhatian dan dukungan keluarga pamannya perlahan membantu Attar menghadapi kehilangan tersebut, meskipun kesedihannya tidak pernah benar-benar hilang.
Setiap kali Attar kembali diliputi kesedihan, istri pamannya berusaha menenangkan dan mengingatkannya bahwa sang ayah tentu ingin melihatnya tetap tegar.
"Mereka membuat semuanya terasa lebih ringan bagi saya. Saya bisa merasakan bagaimana mereka berusaha mendukung dan menghibur saya," kata Attar.
"Tetapi tentu saja, saya tahu tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan keluarga saya sendiri."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382785/original/072637300_1793009878-cek_fakta_-_bantuan_pupuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361587/original/019138200_1790739278-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-30T103330.320.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339870/original/093361500_1788432663-WhatsApp_Image_2026-09-03_at_5.47.40_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363691/original/027483800_1790913049-AP26274413589673.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377170/original/092182700_1792408461-WhatsApp_Image_2026-10-19_at_18.10.52.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3450053/original/077089200_1620297152-20210506-Demonstrasi-Kolombia-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371660/original/047770700_1791798465-MV5BMzA5YjdhYTYtNmY5ZS00Mzg1LTkyNDItOGQ1YzQ1MDYzNWJlXkEyXkFqcGc_._V1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6318032/original/021287200_1779192096-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1738100/original/023493200_1539576435-P_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370983/original/002811500_1791715045-234823.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363688/original/013434300_1790913049-AP26274413585909.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363689/original/018209900_1790913049-AP26273642196395.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5400818/original/008991300_1762148700-5.jpg)