Liputan6.com, Gaza - Selama hampir tiga tahun, Adham Heriz, 41 tahun, menunggu untuk menemukan dan memakamkan jasad istri serta anak-anaknya.
Pada Kamis, setelah bertahun-tahun mencari di antara reruntuhan lingkungan tempat tinggalnya di Gaza City bagian timur, ayah Palestina itu akhirnya menemukan jasad istrinya, Hiam, 37 tahun. Namun, jasad putranya hingga kini masih belum ditemukan.
Dikutip dari Middle East Eye, Hiam dan putra sulung mereka, Anas, 17 tahun, tewas ketika bombardir berat Israel menghancurkan rumah mereka di kawasan Al-Yarmouk pada 25 Oktober 2023.
Advertisement
Juru bicara pertahanan sipil Palestina di Gaza, Mahmoud Basal, mengatakan serangan tersebut melibatkan serangkaian bombardir berat Israel yang menghantam 18 bangunan dengan sekitar 175 apartemen tempat tinggal.
Sekitar 450 orang berada di dalam bangunan-bangunan tersebut. Mereka termasuk dokter, akademisi, jurnalis, anak-anak, dan bayi, kata Basal kepada Middle East Eye.
"Ada orang-orang yang terlempar sejauh sekitar 200 meter akibat ledakan. Seluruh keluarga musnah. Banyak jasad tewas hancur sepenuhnya, hampir tidak meninggalkan jejak karena bahan peledak dalam bom yang digunakan sangat besar," ujarnya.
Saat itu, tim pertahanan sipil hanya mampu mengevakuasi 120 jasad karena pasukan Israel terus bergerak maju dan menyerang kawasan tersebut. Sebagian besar alat berat dan kendaraan yang dibutuhkan untuk memindahkan reruntuhan juga telah hancur.
Jasad Hiam termasuk di antara 105 korban yang ditemukan dari bawah reruntuhan dalam operasi pertahanan sipil selama 20 hari di kawasan tersebut pada bulan lalu.
"Saya menemukan jasad istri saya serta saudara laki-laki saya dan keluarganya, tetapi saya tidak menemukan jasad anak laki-laki saya," kata Heriz kepada Middle East Eye.Â
Â
Â
Awan Hitam Menyelimuti Segalanya
Heriz dan keluarganya yang berjumlah tujuh orang tinggal di lantai enam sebuah bangunan tujuh lantai.
Pada 25 Oktober, mereka makan siang bersama. Hiam dan dua putri mereka pergi ke dapur untuk mencuci piring.
Beberapa menit kemudian, serangan Israel menghantam kawasan tersebut.
"Rasanya seperti awan hitam menutupi semuanya. Saya merasa seperti terbang dan terlempar ke bawah reruntuhan setiap kali serangan terjadi. Saya tidak bisa mendengar apa pun. Saya tidak bisa bernapas karena bubuk bom dan debu," kenang Heriz
"Saya memikirkan keluarga saya. Saya berhasil menarik diri keluar dari bawah reruntuhan. Saya melihat putra saya Ahmed, delapan tahun, masih hidup tetapi mengalami pendarahan hebat di samping saya, sebelum saya akhirnya pingsan karena sebagian besar tulang saya patahpatah," lanjut dia.Â
Dua putri bungsunya, Siwar, tiga tahun, dan Dima, 10 tahun, juga berhasil keluar dari reruntuhan dalam kondisi luka parah. Ahmed selamat dari serangan tersebut.
Namun, Hiam, Anas, serta dua putri sulung mereka, Shahad, 18 tahun, dan Dareen, 15 tahun, tewas dan masih tertimbun reruntuhan.
Saudara laki-laki Heriz beserta lima anggota keluarganya juga tewas.
"Orang-orang membawa saya ke ambulans ketika saya menangis untuk keluarga saya yang masih berada di bawah reruntuhan. 'Maafkan aku, anak-anakku. Aku tidak bisa mengeluarkan kalian. Aku tidak bisa merasakan tanganku; tangan-tanganku patah,'" tuturnya.
Dengan bantuan tim pencarian dan penyelamatan pertahanan sipil serta warga setempat, jasad kedua putri Heriz, Shahad dan Dareen, akhirnya berhasil ditemukan.
Â
Â
Advertisement
Suara dari Bawah Reruntuhan
Namun, para penyelamat tidak mampu memindahkan begitu banyak reruntuhan untuk mencapai Hiam, Anas, dan korban lain yang diyakini masih terjebak di bawah bangunan yang hancur.
Heriz dan kerabatnya berulang kali mencari di lokasi tersebut. Namun, tanpa peralatan yang dibutuhkan untuk membersihkan puing-puing, mereka tidak mampu menemukan jasad yang masih tersisa.
Ia sempat kehilangan harapan untuk menemukan jasad keluarganya hingga tim pertahanan sipil memulai operasi baru di kawasan tersebut pada bulan lalu.
Operasi itu dikoordinasikan dengan Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Kendaraan disediakan oleh Mesir, sementara bahan bakar diberikan melalui Ocha, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan.
"Selama pencarian selama 20 hari, kami berhasil mengangkat jasad 37 anak yang tewas hanya dari bawah bangunan tempat saya tinggal," kata Heriz.
"Kami menemukan seorang bayi berusia kurang dari satu tahun di dalam ranjangnya di bawah reruntuhan, masih menggenggam dot susunya. Ketika ayahnya melihat dan mengenalinya dari pakaian yang dikenakannya, dia langsung pingsan karena syok," ungkapnya.Â
Saat operasi berlanjut, Heriz akhirnya menemukan jasad istrinya, saudara laki-lakinya, dan keluarga saudaranya. Namun, jasad putranya tetap belum ditemukan.
Penemuan jasad tersebut kembali membuka kenangan bagi para penyintas lain yang pada hari-hari pertama setelah serangan berusaha menarik orang-orang dari bawah reruntuhan dengan peralatan yang hampir tidak memadai.
Beberapa jam sebelum serangan mematikan di kawasan yang sama, Abd Al Rahman Heriz, 21 tahun, duduk bersama kerabat dan tetangganya. Mereka berbicara tentang harapan bahwa perang akan segera berakhir dan gencatan senjata tercapai.
Ia kemudian pulang untuk membantu adik perempuannya yang masih duduk di sekolah dasar mengerjakan pelajaran matematika.
Beberapa menit kemudian, pengeboman dimulai. Rumahnya mengalami kerusakan sebagian karena berada dekat dengan bangunan yang hancur. Ia dan keluarganya kemudian bergegas keluar ke jalan.
"Kami tidak dapat mengenali lingkungan kami. Langit berwarna hitam oleh debu, reruntuhan, dan api. Orang-orang yang terluka dan tewas ada di mana-mana. Rumah-rumah hancur. Tidak ada pohon, tidak ada tanda apa pun," kata Abd Al Rahman.
Di luar gedung tempat tinggalnya, ia melihat jasad seorang tetangga yang terbelah menjadi dua, dengan sebungkus roti tergeletak di sampingnya.
Abd Al Rahman membantu keluarganya pindah ke rumah kerabat di kawasan Al-Daraj, sebelah timur Gaza City.
Setelah itu, ia kembali untuk membantu menyelamatkan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan.
Sebagian besar kerabat dan tetangga yang sebelumnya duduk bersamanya sebelum pengeboman telah tewas dan masih terkubur di bawah puing-puing.
Â
Â
Bertahan dengan Peralatan Sederhana
Karena tim pertahanan sipil sebagian besar tidak dapat mencapai kawasan tersebut, Abd Al Rahman dan para penyintas lainnya menggunakan peralatan sederhana, termasuk palu, sekop, dan pemotong logam untuk menembus reruntuhan.
"Saya bertahan selama tiga hari bersama banyak tetangga yang selamat, melakukan yang terbaik untuk membantu mengeluarkan orang-orang," kenangnya.
"Kami berhasil menarik dua saudara perempuan yang masih muda dari bawah reruntuhan. Ayah mereka terbaring tewas di samping mereka. Mereka menangisinya. Kami memindahkan jasadnya ke ambulans dan berusaha menenangkan anak-anak tersebut."
Dengan bantuan petugas pertahanan sipil, mereka juga berhasil menyelamatkan seorang perempuan yang bertahan hidup selama tiga hari di bawah reruntuhan.
Namun, ketika serangan Israel semakin intensif, mereka terpaksa meninggalkan lokasi, meski masih dapat mendengar orang-orang meminta pertolongan dari bawah reruntuhan.
"Kami bisa mendengar suara orang-orang yang masih hidup tetapi terjebak di bawah reruntuhan, serta jasad ratusan orang lainnya, termasuk anggota keluarga besar saya," tutur dia.Â
Ia mengatakan pengalaman tersebut masih menghantuinya.
"Saya masih mengalami mimpi buruk. Dalam pikiran saya, saya mendengar suara orang-orang meminta pertolongan: 'Tolong kami, keluarkan kami.' Ada seorang anak perempuan yang berkata, 'Saudariku sudah meninggal di sampingku. Keluarkan aku dan dia.'"
Dalam operasi selama 20 hari pada bulan lalu, tim pertahanan sipil menemukan jasad 105 orang, termasuk 36 korban yang hingga kini belum teridentifikasi.
Basal menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi tim penyelamat, terutama ketika jasad korban sudah terlalu lama tidak ditemukan.
"Mereka telah berada dalam tahap pembusukan lanjut dan wajah mereka tidak lagi dapat dikenali. Tidak ada tes DNA atau cara lain untuk mengetahui siapa mereka," katanya.
Perang Israel di Gaza telah menewaskan sekitar 75.000 orang. Diperkirakan sekitar 8.000 orang masih hilang dan berada di bawah reruntuhan di seluruh Jalur Gaza.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367418/original/016331900_1791348185-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-07T114242.118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8267016/original/061315600_1782115624-Wayan_Koster_-_Cek_Fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363689/original/018209900_1790913049-AP26273642196395.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4735404/original/061413200_1707129893-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1793313/original/070578300_1512618433-20171207-Yerusalem_-Kota-Suci-Tiga-Agama-AP-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1738100/original/023493200_1539576435-P_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7754435/original/022027800_1780563225-8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7754424/original/012663700_1780563217-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360401/original/048935800_1790645239-AP22134368969004.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4368180/original/053469100_1679532541-ddef14e_5795848-01-06.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1775410/original/047219400_1511160025-2385af95a58249e022dde237dac39e69.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6503692/original/080823200_1779360658-4.jpg)