Liputan6.com, Tel Aviv - Selama 20 tahun tinggal di Kanada, Yael Natra tak pernah terpikir untuk pulang ke Israel hanya demi mengikuti pemilu. Menurutnya, tidak tepat jika ia ikut menentukan masa depan politik sebuah negara yang sudah lama tidak lagi ditinggalinya.
Namun, sikap perempuan berusia 61 tahun itu berubah setelah melihat kelompok sayap kanan semakin kuat dalam pemerintahan Israel. Kali ini, Natra merasa harus ikut memberikan suara.
Menjelang pemilu Israel pada Selasa (26/10/2026), yang menjadi pemilu pertama sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 2023 dan rangkaian perang yang menyusul di kawasan tersebut, Natra rela mengeluarkan ribuan dolar untuk terbang dari Toronto ke Tel Aviv. Ia menempuh perjalanan hampir 9.600 kilometer agar bisa menggunakan hak pilihnya secara langsung.
Advertisement
Aturan pemilu Israel pada umumnya mewajibkan warga negara memberikan suara di dalam negeri. Pengecualian hanya berlaku bagi diplomat dan sejumlah perwakilan resmi yang bertugas di luar negeri. Natra sendiri berencana memilih partai yang tidak tergabung dalam kubu pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
"Israel tempat saya tumbuh besar perlahan menghilang," kata Natra dalam wawancara dari Toronto seperti dilaporkan Associated Press.
Ia menyoroti kemunduran demokrasi dan perpecahan yang semakin tajam di tengah masyarakat Israel.
"Kalau kali ini tidak ada perubahan, saya tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan."
Menurut AID Coalition, organisasi nirlaba berbasis di Amerika Serikat (AS) yang berfokus pada penguatan demokrasi Israel, puluhan ribu warga Israel yang menetap di luar negeri diperkirakan akan pulang untuk mengikuti pemilu bulan ini.
Pemilu kali ini dipandang sebagai salah satu yang paling menentukan bagi Israel dalam beberapa tahun terakhir. Hasilnya dianggap akan menunjukkan penilaian masyarakat terhadap cara Netanyahu menangani berbagai perang, sekaligus arah politik Israel yang semakin condong ke kanan, baik dalam kebijakan domestik maupun sikapnya di panggung internasional.
Israel memiliki lebih dari 7,3 juta pemilih terdaftar. Namun, hasil jajak pendapat menunjukkan persaingan yang ketat. Dalam sejumlah pemilu sebelumnya, selisih suara yang tipis bahkan menjadi penentu kemenangan.
Seberapa besar pengaruh pemilih yang pulang dari luar negeri terhadap hasil pemilu kali ini masih belum dapat dipastikan. Meski demikian, banyak warga Israel berpandangan liberal yang menentang Netanyahu telah meninggalkan negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini membuka kemungkinan bahwa sebagian besar pemilih yang kembali tidak akan mendukungnya.
"Banyak warga Israel yang telah meninggalkan negaranya selama bertahun-tahun, terutama sejak 7 Oktober, merasakan secara langsung pengucilan dan permusuhan terhadap Israel jauh lebih kuat dibandingkan mereka yang tinggal di dalam negeri. Karena itu, mereka kemungkinan besar ingin mengganti Netanyahu melalui pemilu," tutur Mairav Zonszein, analis senior International Crisis Group, lembaga kajian nirlaba.
Â
Â
Â
AS Jadi Negara dengan Jumlah Pemilih yang Pulang Terbanyak
AID Coalition memperkirakan hingga 67.000 warga Israel akan pulang untuk memilih. Angka tersebut diperoleh dari survei terhadap warga Israel yang tinggal di luar negeri serta data pendaftaran yang dikumpulkan melalui program "Fly&Vote".
Sekitar separuh dari mereka diperkirakan berangkat dari AS, sedangkan lainnya berasal dari Eropa, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.
"Apa pun pandangan politiknya, semua orang menganggap pemilu ini sangat menentukan," ungkap Presiden AID Coalition Jonathan Barsade.
Sejumlah warga Israel yang berencana pulang dari AS, Inggris, dan Kanada mengatakan kepada Associated Press bahwa mereka merasa bertanggung jawab untuk ikut menjaga demokrasi di negaranya.
Hadar Susskind (53) berharap pemerintahan baru Israel dapat mengubah kebijakan di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ia ingin pembangunan permukiman Israel dan kekerasan oleh para pemukim di Tepi Barat dihentikan, sementara upaya pembangunan kembali Gaza diberi ruang untuk berjalan.
Susskind bersama empat anggota keluarganya yang tinggal di AS memutuskan pulang ke Israel. Ia mengatakan perjalanan itu dilakukan untuk "menegaskan kembali demokrasi Israel".
"Pemerintahan ini terus memperburuk keadaan setiap hari," katanya. "Hal pertama yang harus dilakukan pemerintahan baru adalah berhenti memperburuk keadaan."
Analis politik Amerika-Israel, Dahlia Scheindlin, menilai upaya mengajak warga Israel di luar negeri untuk pulang dan memilih kali ini lebih menonjol dibandingkan pemilu-pemilu sebelumnya.
Meski banyak kampanye berpusat pada penolakan terhadap Netanyahu, Scheindlin mengingatkan bahwa pilihan politik seluruh warga yang pulang dari luar negeri belum tentu sama.
"Ada juga warga Israel di luar negeri yang pulang untuk memilih kubu pendukung Netanyahu," ujarnya.
Advertisement
Pernah Mendukung Netanyahu, Kini Berbalik Arah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379241/original/070825800_1792581541-Untitled.jpg)
Pesaing utama Netanyahu dalam pemilu kali ini adalah Gadi Eisenkot, politikus berhaluan tengah yang pernah menjabat sebagai kepala staf militer Israel. Ia berjanji membentuk komisi penyelidikan resmi negara untuk mengusut serangan 7 Oktober serta tindakan Israel selama perang.
Eisenkot juga ingin memperbaiki hubungan dan memulihkan posisi Israel di mata negara-negara sekutunya.
Natra, yang menyebut pandangan politiknya cenderung ke kanan-tengah, mengaku pernah memilih Netanyahu pada 1990-an.
Namun, ia kini berbalik arah. Menurut Natra, pemerintahan Netanyahu tidak mau bertanggung jawab atas kegagalan yang memungkinkan terjadinya serangan 7 Oktober. Dukungan Netanyahu terhadap komunitas Yahudi ultra-Ortodoks juga membuatnya semakin kecewa.
Adik Natra, Tamar Ichilov (57) juga memutuskan pulang untuk memilih. Ia mengaku terdorong oleh "hal-hal mengerikan" yang dilakukan Israel di Jalur Gaza dan wilayah pendudukan Tepi Barat.
Menurut Ichilov, sejak serangan 7 Oktober, Israel semakin dikuasai keinginan untuk membalas dendam dan menghancurkan. Ia juga meyakini tindakan Israel turut memicu meningkatnya sentimen antisemitisme.
"Orang-orang tidak menyukai kami, dan saya tidak bisa menyalahkan mereka," kata Ichilov di Tel Aviv, tak lama setelah tiba di bandara internasional utama Israel.
Semakin Banyak Warga Israel Pindah ke Luar Negeri, Sebagian Ingin Kembali
Data Biro Pusat Statistik Israel menunjukkan jumlah warga yang pindah ke luar negeri mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Tren peningkatan ini dimulai pada 2022 dan mencapai puncaknya di tengah perang serta gejolak yang terjadi setelah serangan 7 Oktober.
Eti Wissotzky Cohen (44) termasuk di antara warga Israel yang memilih pindah. Tahun lalu, ia menetap di Inggris bersama suami dan kedua anaknya setelah semakin khawatir melihat kemunduran demokrasi serta menyempitnya ruang bagi kelompok liberal di Israel.
Namun, perang pertama Israel dengan Iran pada Juni 2025 menjadi titik balik bagi Cohen. Peristiwa itu membuatnya yakin bahwa pemerintah Israel bersedia melakukan apa saja demi mempertahankan kekuasaan.
"Mereka memperlakukan rakyat Israel seperti pion," kata Cohen kepada Associated Press.
Cohen mengaku telah pulang ke Israel untuk memberikan suara kepada Partai Demokrat yang berhaluan kiri-tengah.
Ia sebenarnya masih berharap suatu hari bisa kembali menetap di Israel. Namun, menurutnya, keinginan itu sulit terwujud selama Netanyahu masih berkuasa.
Harapan serupa disampaikan Zorik Nitzan, yang pindah ke Kanada lebih dari satu dekade lalu demi mencari "kehidupan yang lebih baik dan lebih mudah".
Meski sudah lama tinggal di luar negeri, Nitzan mengaku masih percaya pada "cita-cita Israel".
Ia berencana tiba di Israel beberapa hari sebelum pemilu. Baginya, pemungutan suara kali ini terasa seperti "kesempatan terakhir untuk mengalahkan gerakan Netanyahu dan mengembalikan negara ini ke jalan yang benar".
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382785/original/072637300_1793009878-cek_fakta_-_bantuan_pupuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361587/original/019138200_1790739278-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-30T103330.320.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339870/original/093361500_1788432663-WhatsApp_Image_2026-09-03_at_5.47.40_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378258/original/080645800_1792494122-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4802718/original/033733900_1713244523-chathura-anuradha-subasinghe-bnANxRbyfEY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382196/original/034034600_1792980169-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5102003/original/068673400_1737425335-20250121-Tokoh_Penting-AFP_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6276979/original/019659800_1779152027-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2557550/original/081162600_1545966896-China.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5163765/original/058418400_1742049945-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3261434/original/054059000_1602135699-New_Project.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381726/original/028099200_1792863461-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5355962/original/087526300_1758388524-Untitled.jpg)