Ciri Orang yang Sering Menghapus Postingan Instagram Setelah Diunggah

Kenali ciri orang yang sering menghapus postingan Instagram beberapa jam setelah diunggah, alasan psikologisnya, dan tips agar tidak menyesal.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 16:17 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pernahkah Anda mengunggah foto, lalu beberapa jam kemudian menghapusnya karena merasa tidak sreg? Kebiasaan ini ternyata cukup umum dan punya penjelasan psikologis yang menarik. Ciri orang yang sering menghapus postingan Instagram beberapa jam setelah diunggah biasanya terkait dengan kepedulian pada citra diri, kebiasaan overthinking, dan kepekaan terhadap respons orang lain. Tapi ada juga yang melakukannya demi privasi atau sekadar ingin profilnya terlihat rapi.

Jadi, kebiasaan ini tidak otomatis menandakan masalah mental. Langkah pertama memahami ciri orang yang sering menghapus postingan Instagram adalah melihat motif atau alasan utama di balik tindakan tersebut.

Berbagai studi perilaku digital, salah satunya yang sering dibahas dalam jurnal Computers in Human Behavior, menunjukkan bahwa fenomena penyesalan setelah mengunggah konten (posting regret) adalah hal yang sangat wajar. Menariknya, tren ini jauh lebih sering ditemukan pada kelompok usia remaja dan dewasa muda. Generasi muda cenderung memiliki keterikatan emosional yang lebih tinggi terhadap media sosial, sehingga mereka lebih rentan mengevaluasi ulang atau menghapus postingan guna menghindari dampak jangka panjang terhadap reputasi digital mereka.

Pengertian Kebiasaan Menghapus Postingan Instagram

Menghapus postingan Instagram merupakan tindakan menarik kembali konten yang sudah tayang di profil, baik berupa foto, video, Reels, maupun Story. Jika dilakukan beberapa jam setelah mengunggahnya, keputusan ini bisa muncul setelah seseorang melihat kembali kontennya dari sudut pandang orang lain. Dalam psikologi, perilaku tersebut berkaitan dengan konsep self-presentation, yaitu upaya seseorang mengatur bagaimana dirinya dipandang oleh orang lain. Media sosial memudahkan proses ini karena pengguna dapat memilih, mengedit, bahkan menghapus konten kapan saja.

Keputusan menghapus postingan juga dapat dipengaruhi oleh pertimbangan antara risiko dan manfaat. Dilansir dari Frontiers in Psychology, individu cenderung mempertimbangkan kedua hal tersebut sebelum memutuskan untuk menghapus postingan atau komentar. Ketika menyadari bahwa suatu unggahan berpotensi membuat orang lain merasa tidak nyaman, pemilik akun dapat menilai kembali dampaknya dan memilih untuk menghapusnya. Dalam hal ini, tombol hapus menjadi salah satu cara untuk mengoreksi konten yang telanjur dibagikan.

Penyesalan setelah mengunggah sesuatu di media sosial juga bukan hal baru. Sebagaimana dilaporkan Social Media Today, riset Carnegie Mellon mengidentifikasi tiga sumber penyesalan pengguna Facebook, yaitu unggahan dilihat oleh audiens yang tidak dituju, pengguna tidak memperkirakan konsekuensi dari unggahannya, atau pengguna kurang memahami pengaturan privasi. Pola serupa juga dapat terjadi di Instagram karena satu unggahan berpotensi dilihat oleh beragam kalangan, mulai dari teman dekat dan keluarga hingga atasan atau mantan pasangan.

Contoh sederhananya, bayangkan Anda mengunggah foto nongkrong di malam hari dengan caption bercanda. Esok paginya Anda sadar rekan kerja juga mengikuti akunmu, lalu fotonya terasa kurang pas dan langsung Anda hapus. Situasi seperti ini sangat umum dan menunjukkan bahwa kebiasaan menghapus postingan erat kaitannya dengan kesadaran akan siapa audiensmu. Untuk membaca pembahasan serupa, Anda bisa melihat ciri orang yang sering menghapus postingan menurut psikologi.

 

Ciri Orang yang Sering Menghapus Postingan Instagram Beberapa Jam Setelah Diunggah

Tidak semua orang menghapus postingan Instagram dengan alasan yang sama. Ada yang melakukannya karena pertimbangan emosional, seperti rasa malu dan takut dinilai orang lain, sementara sebagian lainnya memiliki alasan praktis, seperti menjaga privasi atau merapikan tampilan profil. Berikut beberapa ciri yang dapat menjelaskan kebiasaan tersebut.

1. Sangat memperhatikan kesan di mata orang lain. Setelah mengunggah konten, ia mungkin melihatnya kembali dan bertanya-tanya apakah unggahan tersebut sudah menggambarkan dirinya dengan tepat. Jika dirasa tidak sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan, ia memilih untuk menghapusnya.

2. Cenderung perfeksionis soal penampilan. Detail kecil, seperti ekspresi wajah, pencahayaan, atau pose, bisa menjadi alasan untuk menghapus foto. Ia sulit merasa puas meskipun hasilnya sebenarnya sudah terlihat bagus.

3. Mudah overthinking setelah mengunggah sesuatu. Ia membaca ulang caption, memikirkan kemungkinan komentar negatif, atau khawatir unggahannya menimbulkan kesan yang keliru. Menghapus konten pun menjadi cara untuk meredakan kekhawatiran tersebut.

4. Sensitif terhadap jumlah likes dan komentar. Unggahan yang minim respons dalam beberapa jam pertama bisa membuatnya merasa kurang dihargai. The Washington Post pernah memberitakan bahwa sebagian pengguna, terutama remaja, menghapus konten yang telah diunggah karena tidak mendapatkan cukup likes.

5. Sering membandingkan diri dengan orang lain. Foto yang awalnya terasa menarik bisa mendadak terlihat kurang bagus setelah ia melihat unggahan teman yang dianggap lebih estetik. Akibatnya, ia merasa kontennya sendiri tidak cukup baik dan memilih untuk menghapusnya.

6. Mengunggah saat emosi sedang tinggi. Ketika sedang senang, kesal, atau sedih, mengunggah sesuatu bisa terasa melegakan. Namun, setelah emosinya mereda, ia mungkin menilai unggahan tersebut terlalu terbuka atau kurang tepat sehingga memutuskan untuk menghapusnya.

7. Merasa cringe saat melihat unggahan sendiri. Konten yang terasa lucu atau menarik ketika diunggah bisa menimbulkan rasa malu beberapa jam kemudian. Perasaan ini juga dapat muncul karena standar pribadi atau cara seseorang memandang dirinya telah berubah.

8. Takut disalahpahami orang tertentu. Kalimat, foto, atau emoji yang dimaksudkan sebagai candaan bisa ditafsirkan berbeda oleh gebetan, mantan pasangan, keluarga, atau atasan. Untuk menghindari kesalahpahaman, ia memilih menghapus unggahan tersebut.

9. Lupa bahwa audiensnya cukup luas. Ia mungkin baru menyadari bahwa unggahan yang dibagikan dapat dilihat banyak orang karena tidak menggunakan fitur Close Friends atau pengaturan privasi yang sesuai. Menghapus konten menjadi salah satu cara untuk kembali menjaga batasan pribadi.

10. Ingin menjaga privasi dan jejak digital. Sebagian orang semakin selektif dalam membagikan informasi di internet, terutama yang berkaitan dengan lokasi, aktivitas sehari-hari, dan lingkaran sosial. Menghapus postingan bisa menjadi bagian dari upaya mereka mengendalikan informasi pribadi yang tersedia secara daring.

11. Ingin tampilan feed tetap rapi. Alasan menghapus postingan tidak selalu berkaitan dengan rasa tidak percaya diri. Ada pula orang yang melakukannya demi estetika, misalnya karena warna foto, komposisi, atau tema unggahan tidak lagi sesuai dengan tampilan profil yang diinginkan.

12. Merasa tujuan unggahan sudah tercapai. Seseorang mungkin mengunggah Story untuk menyampaikan pesan kepada orang tertentu atau membagikan informasi yang hanya relevan dalam waktu singkat. Setelah orang yang dituju melihatnya atau informasi tersebut tidak lagi diperlukan, ia merasa tidak perlu mempertahankan unggahan itu.

Kebiasaan menghapus postingan juga dapat berkaitan dengan keinginan untuk diterima secara sosial dan menampilkan diri sesuai harapan pribadi. Sebuah tinjauan studi oleh peneliti dari University of Sydney yang membahas penyesalan di media sosial menyoroti sejumlah alasan orang menyesali unggahannya, termasuk keinginan memperoleh penerimaan sosial, rasa ingin tahu terhadap respons orang lain, dan niat untuk bercanda. Penyesalan juga dapat muncul ketika seseorang merasa unggahannya tidak mencerminkan dirinya yang sebenarnya.

Perlu diingat, kebiasaan menghapus postingan tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang memiliki masalah kepercayaan diri atau terlalu memikirkan pendapat orang lain. Alasan di baliknya bisa berbeda-beda, bergantung pada situasi, tujuan mengunggah konten, dan batasan privasi yang ingin dijaga.

Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Menghapus Postingan

Para psikolog melihat kebiasaan menghapus postingan Instagram dari berbagai sudut pandang, mulai dari kebutuhan untuk mengendalikan citra diri hingga perubahan identitas. Dikutip dari Deccan Chronicle, psikolog klinis Dr. Savita Date Menon menyebut kontrol dan otonomi sebagai faktor penting yang mendorong seseorang menghapus unggahan. Hal ini berkaitan dengan pengalaman menggunakan media sosial yang dapat menimbulkan perasaan seolah-olah diri terus diawasi dan dinilai orang lain.

Dalam artikel yang sama, Dr. Diana Monterio, pendiri sekaligus direktur The Hyderabad Academy of Psychology, memberikan pandangan berbeda. Menurutnya, menghapus foto dari media sosial dapat menjadi cara untuk menarik perhatian. Ia juga menjelaskan bahwa tindakan tersebut terkadang menandakan perubahan besar dalam kehidupan seseorang sekaligus menjadi bentuk pengakuan pribadi atas perubahan yang sedang dialami.

Sementara itu, psikolog Dr. Vasuprada mengaitkan aktivitas mengunggah dan menghapus foto dengan konsumerisme di media sosial. Menurutnya, pengikut cenderung membutuhkan keterlibatan yang berkelanjutan. Pandangan ini menunjukkan bahwa aktivitas mengelola unggahan tidak selalu berkaitan dengan kondisi emosional individu, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh dinamika interaksi di media sosial.

Dari sisi jejak digital, John Brandon, penulis di Inc., sebagaimana dikutip MEL Magazine, mengingatkan bahwa media sosial menyimpan rekam jejak unggahan yang dapat ditelusuri kembali bertahun-tahun kemudian. Namun, jejak tersebut tidak selalu bermanfaat atau bijak untuk dipertahankan. Kesadaran ini dapat mendorong seseorang untuk lebih selektif dalam menentukan konten yang ingin tetap tersedia di profilnya.

Temuan penelitian juga memberikan gambaran tentang penyesalan setelah mengunggah konten. Penelitian terhadap ribuan pelajar di Ontario, Kanada, yang dipublikasikan melalui PMC (National Library of Medicine), menemukan bahwa 23 persen siswa mengaku pernah menyesali unggahannya. Penyesalan tersebut berkaitan dengan harga diri yang lebih rendah pada siswa SMA, tetapi hubungan serupa tidak ditemukan pada siswa SMP.

Temuan ini tidak berarti kebiasaan menghapus postingan secara langsung menyebabkan penurunan harga diri. Namun, jika kebiasaan tersebut disertai kecemasan berulang, ketakutan berlebihan terhadap penilaian orang lain, atau tekanan untuk selalu menampilkan citra tertentu, ada baiknya Anda mulai memperhatikan kondisi emosional dan alasan di balik keputusan tersebut.

Bedanya Menghapus dan Mengarsipkan Postingan di Instagram

 

Banyak orang langsung menekan tombol "Hapus" ketika ingin menyembunyikan unggahan, padahal Instagram menyediakan opsi lain yang lebih aman, yaitu "Arsipkan". Fitur ini memungkinkan Anda menyembunyikan postingan dari profil tanpa kehilangan konten secara permanen. Dengan begitu, Anda tetap bisa melihat atau menampilkannya kembali ketika berubah pikiran.

Sebagaimana dijelaskan melalui Help Center resmi Instagram, konten di folder Recently Deleted atau "Baru Dihapus" akan terhapus secara otomatis setelah 30 hari. Khusus Story yang tidak tersimpan di arsip, konten tersebut hanya tersedia selama 24 jam di folder tersebut. Selama periode ini, Anda masih bisa memulihkan konten atau menghapusnya secara permanen.

Berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan saat ingin menyembunyikan atau menghapus postingan Instagram.

1. Arsipkan postingan terlebih dahulu. Buka postingan yang ingin disembunyikan, ketuk ikon titik tiga di pojok kanan atas, lalu pilih "Arsipkan". Postingan tersebut akan hilang dari profil, tetapi tetap tersimpan di arsip dan hanya bisa dilihat oleh Anda.

2. Tampilkan kembali postingan yang diarsipkan. Buka menu Arsip, pilih arsip postingan, lalu buka konten yang ingin ditampilkan kembali. Ketuk ikon titik tiga dan pilih "Tampilkan di profil" agar postingan kembali muncul di profil Instagram.

3. Periksa folder Baru Dihapus jika telanjur menghapus konten. Buka menu "Pengaturan dan aktivitas", gulir ke bagian aktivitas, lalu pilih "Baru Dihapus". Jika masih dalam periode penyimpanan, Anda bisa memulihkan postingan sebelum terhapus secara otomatis.

4. Hapus konten secara permanen jika sudah yakin. Jika memang tidak ingin menyimpan unggahan tersebut lagi, Anda bisa menghapusnya secara permanen melalui folder "Baru Dihapus" tanpa menunggu masa penyimpanan berakhir.

5. Simpan salinan konten di luar Instagram. Sebelum menghapus unggahan, pastikan foto atau video asli sudah tersimpan di galeri atau layanan penyimpanan cloud. Anda juga bisa menyimpan draf caption agar lebih mudah mengunggah ulang konten tersebut jika diperlukan.

Jika ingin merapikan profil tanpa kehilangan konten yang mungkin masih dibutuhkan, fitur arsip bisa menjadi pilihan yang lebih bijak. Sementara itu, jika Anda ingin membersihkan banyak unggahan sekaligus, simak panduan cara menghapus postingan IG dalam jumlah banyak sekaligus untuk mengetahui langkah-langkahnya.

Tips Agar Tidak Sering Menyesal Setelah Mengunggah

Menghapus postingan sesekali itu wajar. Namun kalau Anda merasa terjebak dalam siklus unggah, ragu, lalu hapus, beberapa kebiasaan sederhana ini bisa membantu.

  1. Beri jeda sebelum posting. Simpan unggahan sebagai draf selama 10-30 menit, terutama saat emosi sedang tinggi. Kalau masih yakin setelah jeda, baru unggah.
  2. Tanyakan tujuan unggahanmu. Apakah untuk berbagi momen, menyimpan kenangan, atau mencari validasi? Jawaban jujur membantumu memutuskan perlu tidaknya posting.
  3. Atur audiens sejak awal. Gunakan fitur Close Friends untuk konten yang lebih personal, supaya tidak panik saat sadar siapa saja yang melihat.
  4. Sembunyikan jumlah likes. Instagram menyediakan opsi menyembunyikan jumlah suka pada postinganmu, sehingga Anda tidak terlalu terpaku pada angka.
  5. Kurangi membandingkan diri. Ingat bahwa feed orang lain adalah hasil kurasi, bukan gambaran utuh kehidupannya.
  6. Pakai arsip sebagai pengganti hapus. Cara ini memberi ruang berpikir tanpa kehilangan konten.
  7. Perhatikan perasaanmu. Kalau kebiasaan menghapus selalu diikuti cemas atau malu berlebihan, cobalah rehat dari media sosial atau bicarakan dengan orang terpercaya maupun profesional.

Tips singkatnya, anggap tombol hapus sebagai alat kontrol, bukan hukuman untuk dirimu sendiri. Mengelola jejak digital secara sadar justru menunjukkan Anda peduli pada apa yang Anda bagikan ke publik.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Menghapus Postingan Instagram

Apakah sering menghapus postingan Instagram tanda gangguan mental?

Tidak selalu. Kebiasaan ini bisa muncul karena alasan praktis seperti privasi, estetika feed, atau perubahan identitas. Perlu diwaspadai hanya jika selalu disertai rasa cemas, malu berlebihan, atau ketergantungan pada jumlah likes.

Apakah orang lain tahu kalau postingan Instagram dihapus?

Instagram tidak mengirim notifikasi ke pengikut saat Anda menghapus postingan. Namun, orang yang sempat melihat atau menyimpan tangkapan layar tetap bisa mengetahuinya.

Apakah postingan Instagram yang sudah dihapus bisa dikembalikan?

Bisa, selama masih berada di folder Baru Dihapus. Postingan feed dan Reels tersimpan hingga 30 hari, sedangkan Story yang tidak diarsipkan hanya sekitar 24 jam.