Liputan6.com, Jakarta Tidak semua orang meluapkan amarah dengan berteriak atau membanting pintu. Sebagian justru meneteskan air mata, dan inilah salah satu ciri orang yang menangis saat marah yang sering disalahpahami sebagai cengeng.
Ciri orang yang menangis saat marah biasanya terlihat dari suara bergetar, tenggorokan tercekat, dan wajah memanas, lalu air mata keluar padahal yang dirasakan adalah kesal. Reaksi ini wajar karena sistem saraf sedang kewalahan, sehingga memicu kelenjar air mata sebagai upaya tubuh untuk menenangkan diri .
Sabrina Romanoff, psikolog klinis yang berbasis di New York, dikutip dari Vice, menyatakan, "Sangat umum untuk menangis saat marah." Jadi, kamu tidak sendirian jika sering mengalaminya.
Advertisement
Apa Itu Menangis saat Marah?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4765889/original/009377700_1709867662-pexels-cottonbro-studio-6284266.jpg)
Untuk memahami fenomena ini, kamu perlu mengenal istilah angry tears atau rage tears. Dilansir dari Charlie Health, angry tears merupakan air mata emosional yang muncul akibat amarah, frustrasi, atau perasaan kewalahan, bukan semata-mata karena kesedihan atau duka. Artinya, seseorang bisa menangis ketika sedang marah meskipun tidak merasa sedih.
Reaksi ini berkaitan dengan jenis air mata yang diproduksi tubuh. Secara umum, ada tiga jenis air mata, yaitu air mata refleks, air mata basal, dan air mata emosional. Air mata refleks muncul ketika mata terkena rangsangan dari luar, seperti asap, angin, atau irisan bawang. Sementara itu, air mata basal diproduksi secara terus-menerus untuk menjaga kelembapan dan melindungi permukaan mata.
Berbeda dari keduanya, air mata emosional muncul sebagai respons terhadap perasaan yang kuat, termasuk sedih, bahagia, frustrasi, dan marah. Tangisan saat marah termasuk dalam kategori ini. Ketika seseorang mengalami gejolak emosi yang intens, sistem saraf dan bagian otak yang terlibat dalam pemrosesan emosi serta respons stres ikut bekerja. Respons tersebut dapat memicu keluarnya air mata, bahkan ketika seseorang sebenarnya ingin tetap tenang.
Misalnya, kamu sedang menjelaskan sesuatu yang menurutmu tidak adil dalam sebuah perdebatan. Kamu ingin menyampaikan pendapat dengan tegas, tetapi suara mendadak bergetar, tenggorokan terasa tercekat, dan mata mulai berair. Dalam situasi seperti ini, air mata tidak selalu menandakan kesedihan. Bisa jadi, kamu sedang berusaha mengendalikan amarah yang terasa begitu kuat hingga sulit diungkapkan melalui kata-kata.
Salah satu ciri orang yang menangis saat marah adalah munculnya respons fisik sebelum mereka mampu mengendalikan atau mengungkapkan emosinya. Kondisi ini bukan berarti seseorang tidak mampu mengelola perasaan atau memiliki karakter yang lemah. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespons tekanan emosional, sehingga tangisan dapat menjadi salah satu reaksi yang muncul ketika amarah memuncak.
Menangis juga dapat menjadi bagian dari proses pelepasan emosi. Dikutip dari Cleveland Clinic, Dr. Michael Roizen menjelaskan bahwa menangis karena alasan emosional dapat membantu seseorang merasa lebih baik, melepaskan ketegangan, dan memberikan semacam penyegaran psikologis. Air mata emosional sendiri bisa muncul sebagai respons terhadap berbagai perasaan kuat, mulai dari kesedihan dan duka hingga kebahagiaan dan amarah.
Dengan demikian, menangis saat marah merupakan respons emosional yang wajar dan tidak selalu perlu disembunyikan. Memahami penyebabnya dapat membantu seseorang mengenali perasaannya sendiri, menenangkan diri, serta menyampaikan kemarahan dengan lebih jelas tanpa harus merasa malu karena air mata yang keluar.
Advertisement
Ciri Orang yang Menangis saat Marah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3385391/original/032013600_1614137901-tom-pumford-T5lmpSYxnSU-unsplash.jpg)
Ciri orang yang menangis saat marah dapat dikenali melalui perubahan fisik, emosi, dan perilaku ketika menghadapi konflik. Reaksi ini tidak selalu muncul bersamaan. Ada orang yang lebih dahulu merasakan jantung berdebar, sementara yang lain baru menyadari emosinya memuncak ketika suara mulai bergetar dan air mata mengalir.
Mengacu pada penjelasan terapis Anastasia Locklin di Wondermind, tanda fisik yang dapat menyertai tangisan emosional meliputi peningkatan detak jantung, keringat berlebih, mulut kering, wajah terasa panas atau memerah, serta mata yang mulai berair. Psikolog klinis Danielle McGraw, PhD, dalam situs yang sama, menjelaskan bahwa tangisan emosional juga berperan dalam membangun koneksi antarmanusia. Berikut beberapa ciri yang dapat membantu mengenali reaksi tersebut.
- Suara bergetar dan tenggorokan terasa tercekat. Ketika berusaha membela diri atau menyampaikan keberatan, seseorang mungkin kesulitan merangkai kalimat. Suara terdengar bergetar, tenggorokan terasa menyempit, dan mata mulai berair meskipun ia berusaha keras menahan tangis.
- Air mata keluar meski tidak merasa sedih. Ini merupakan salah satu ciri yang paling mudah dikenali. Seseorang bisa merasa kesal, frustrasi, atau marah tanpa merasakan kesedihan, tetapi tetap menangis. Air mata tersebut dapat muncul sebagai respons terhadap intensitas emosi yang sedang dialami.
- Jantung berdebar dan tangan berkeringat. Amarah dapat mengaktifkan respons stres tubuh. Akibatnya, detak jantung meningkat, telapak tangan berkeringat, dan tubuh terasa tegang. Dalam kondisi emosi yang sangat intens, sebagian orang juga kesulitan berkonsentrasi atau mengingat hal-hal yang ingin disampaikan.
- Sulit berpikir jernih saat berdebat. Ketika emosi memuncak, seseorang bisa kehilangan kata-kata meskipun sebelumnya sudah menyiapkan argumen. Kondisi ini dapat berkaitan dengan emotional flooding, yaitu keadaan ketika emosi terasa begitu kuat sehingga seseorang kesulitan memproses informasi dan merespons situasi dengan tenang.
- Merasa tidak berdaya saat menghadapi konflik. Tangisan tidak selalu berhubungan dengan kesedihan. Ad Vingerhoets, profesor psikologi klinis di Tilburg University sekaligus penulis buku Why Only Humans Weep, membahas hubungan antara tangisan dan perasaan tidak berdaya. Dalam konflik, seseorang mungkin menangis ketika merasa tidak didengarkan, tidak mampu mengubah keadaan, atau kesulitan membuat orang lain memahami sudut pandangnya.
- Makin kesal setelah air mata keluar. Sebagian orang merasa frustrasi ketika menyadari dirinya menangis saat sedang berusaha bersikap tegas. Mereka mungkin khawatir dianggap lemah atau tidak mampu mengendalikan emosi. Akibatnya, tangisan justru memicu kemarahan tambahan. Amarah membuat mata berair, lalu rasa kesal karena menangis membuat emosi semakin sulit dikendalikan.
- Cenderung menghindar atau menjauh dari konfrontasi. Ketika merasa akan menangis, seseorang mungkin memilih diam, menghentikan percakapan, atau meninggalkan ruangan untuk sementara. Tindakan ini tidak selalu berarti ia ingin menghindari masalah. Bisa jadi, ia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan.
- Sensitif terhadap perlakuan tidak adil atau perasaan diabaikan. Tangisan saat marah dapat muncul ketika seseorang merasa dikhianati, tidak dihargai, atau tidak dipahami oleh orang terdekat. Situasi tersebut terasa semakin menyakitkan ketika ia sudah berusaha menjelaskan perasaannya, tetapi lawan bicara tidak memberikan respons yang diharapkan.
- Sulit bersikap asertif. Orang yang terbiasa menganggap kemarahan sebagai emosi yang tidak pantas diungkapkan mungkin merasa bersalah ketika marah. Mereka menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni amarah terhadap situasi yang terjadi dan ketidaknyamanan karena merasa tidak seharusnya marah. Akibatnya, air mata bisa keluar ketika mereka berusaha menyampaikan keberatan atau menetapkan batasan.
- Merasa lelah sekaligus lega setelah menangis. Setelah menghadapi konflik yang menguras emosi, seseorang mungkin merasa tubuhnya lemas atau pikirannya lelah. Namun, ia juga bisa merasakan kelegaan setelah ketegangan mereda. Pengalaman ini berbeda pada setiap orang, sehingga menangis tidak selalu membuat seseorang langsung merasa lebih baik.
Perlu diingat, ciri-ciri tersebut tidak selalu muncul pada setiap orang yang menangis saat marah. Respons emosional juga dipengaruhi oleh situasi, pengalaman sebelumnya, dan kemampuan seseorang dalam mengelola perasaan. Karena itu, air mata sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda kelemahan atau ketidakmampuan mengendalikan diri. Sebaliknya, mengenali tanda-tandanya dapat membantu seseorang memahami emosinya dan menemukan cara yang lebih nyaman untuk menyampaikan perasaan.
Penyebab Seseorang Menangis saat Marah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3972361/original/018076600_1648017397-pexels-yan-krukov-6210218.jpg)
Menangis saat marah bukanlah reaksi yang muncul tanpa alasan. Respons ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari cara otak memproses emosi, perasaan yang tersembunyi di balik amarah, hingga pengalaman masa kecil dan lingkungan sosial. Memahami penyebabnya dapat membantu seseorang mengenali apa yang sebenarnya dirasakan ketika air mata mulai mengalir di tengah konflik.
1. Otak Kewalahan Mengelola Emosi
Salah satu penyebab seseorang menangis saat marah adalah intensitas emosi yang terlalu kuat untuk dikelola dalam satu waktu. Sebagaimana dijelaskan oleh e-Counseling, amigdala berperan dalam memproses emosi, termasuk mendeteksi ancaman dan memicu respons emosional. Sementara itu, korteks prefrontal membantu mengatur respons tersebut, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengendalikan impuls.
Ketika seseorang menghadapi situasi yang memicu kemarahan, berbagai bagian otak dan sistem saraf bekerja untuk meresponsnya. Jika emosi terasa sangat intens, kemampuan untuk berpikir jernih dan mengendalikan reaksi dapat terganggu untuk sementara. Dalam kondisi tersebut, seseorang mungkin mengalami jantung berdebar, suara bergetar, atau kesulitan menyampaikan pendapat, kemudian menangis sebagai bagian dari respons emosional tubuh.
2. Marah Merupakan Emosi Sekunder
Merujuk Choosing Therapy, kemarahan terkadang menjadi emosi sekunder yang muncul sebagai respons terhadap perasaan lain, seperti sakit hati, kecewa, frustrasi, atau tidak berdaya. Seseorang mungkin lebih mudah menyadari kemarahannya daripada mengenali perasaan terluka yang mendasarinya.
Misalnya, kamu merasa marah karena pendapatmu diabaikan oleh orang terdekat. Di balik kemarahan tersebut, mungkin ada perasaan tidak dihargai atau takut kehilangan hubungan yang penting. Ketika berbagai perasaan itu muncul bersamaan, air mata bisa mengalir meskipun kamu sebenarnya ingin menunjukkan ketegasan. Mengenali emosi yang mendasari amarah dapat membantu kamu memahami kebutuhan yang belum terpenuhi dan menyampaikannya dengan lebih jelas.
3. Pemicu Marah dan Sedih Sering Kali Sama
Amarah dan kesedihan tidak selalu muncul secara terpisah. Dikutip dari Healthline, perasaan terluka, malu, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil dapat memicu tangisan saat marah. Pengalaman seperti penolakan, penghinaan, dan ketidakadilan juga bisa menimbulkan kemarahan sekaligus kesedihan.
Contohnya, seseorang yang merasa dikhianati oleh sahabatnya mungkin ingin meluapkan kemarahan karena kepercayaannya rusak. Pada saat yang sama, ia juga merasakan kehilangan dan kekecewaan. Perpaduan emosi tersebut dapat membuat tangisan sulit ditahan. Karena itu, menangis ketika marah bukan berarti seseorang tidak benar-benar marah, melainkan bisa menjadi tanda bahwa ada beberapa perasaan yang muncul bersamaan.
4. Pola Emosi yang Terbentuk sejak Kecil
Pengalaman masa kecil turut memengaruhi cara seseorang mengekspresikan emosi ketika dewasa. Sanam Naran, psikolog konseling sekaligus pendiri Conscious Psychology, dikutip dari IOL, menjelaskan bahwa menangis dapat menjadi pilihan yang terasa lebih aman untuk melindungi diri sekaligus mengekspresikan intensitas emosi.
Seseorang yang tumbuh di lingkungan yang menganggap kemarahan sebagai sesuatu yang menakutkan atau tidak pantas mungkin terbiasa menekan amarahnya. Ketika dewasa, ia bisa merasa kesulitan menyampaikan ketidaksetujuan secara langsung karena khawatir memicu konflik atau mendapat penolakan. Akibatnya, tangisan muncul ketika ia mencoba mengungkapkan perasaan yang selama ini terbiasa dipendam.
Pola ini bukan berarti pengalaman masa kecil selalu menentukan respons emosional seseorang. Namun, memahami kebiasaan yang terbentuk sejak dini dapat membantu seseorang belajar mengekspresikan amarah dengan cara yang lebih sehat.
5. Pengalaman Trauma
Pada sebagian orang, kebiasaan menangis saat marah dapat berkaitan dengan pengalaman traumatis. Pengalaman yang menimbulkan rasa takut atau tidak aman dapat memengaruhi cara seseorang mengenali dan mengatur emosi. Ketika menghadapi situasi yang mengingatkan pada pengalaman tersebut, respons emosionalnya mungkin terasa lebih kuat daripada yang diperkirakan.
Misalnya, seseorang yang pernah mengalami konflik penuh ancaman mungkin merasa sangat tertekan ketika menghadapi perdebatan, meskipun situasi saat ini sebenarnya berbeda. Ia bisa kesulitan mengendalikan reaksi tubuh, merasa kewalahan, lalu menangis ketika berusaha mempertahankan diri.
Meski demikian, tidak semua orang yang menangis saat marah memiliki riwayat trauma. Tangisan merupakan respons yang dapat muncul karena berbagai faktor, sehingga tidak tepat menyimpulkan pengalaman traumatis seseorang hanya berdasarkan cara mereka mengekspresikan kemarahan.
6. Norma Budaya dan Gender
Lingkungan sosial dan norma budaya juga dapat memengaruhi cara seseorang mengekspresikan amarah. Dalam sebagian masyarakat, kemarahan kerap dianggap sebagai bentuk ketegasan, sedangkan tangisan dipandang sebagai tanda kelemahan. Anggapan semacam ini dapat membuat seseorang merasa malu ketika air mata keluar saat sedang marah.
Perbedaan ekspektasi berdasarkan gender juga berpengaruh. Perempuan di sejumlah lingkungan mungkin lebih terbiasa diarahkan untuk mengekspresikan ketidaknyamanan melalui kesedihan daripada kemarahan secara langsung. Sebaliknya, laki-laki bisa mendapat tekanan untuk menahan tangisan dan menunjukkan ketegasan ketika menghadapi konflik.
Akibatnya, cara seseorang mengekspresikan amarah tidak hanya dipengaruhi oleh perasaan pribadi, tetapi juga oleh respons yang dipelajari dari lingkungan sekitarnya. Namun, menangis saat marah bukanlah reaksi yang terbatas pada gender tertentu. Siapa pun dapat mengalaminya, dan tangisan tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang lemah atau tidak mampu mengendalikan diri.
Advertisement
Apakah Menangis saat Marah Tanda Orang Lemah?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5182071/original/093847000_1744023013-woman-panic-gesturing-betrayed-anger-raging-fury-having-mental-breakdown-lost-someone-important.jpg)
Banyak orang merasa minder ketika air mata keluar justru saat mereka ingin terlihat tegas. Padahal, menangis saat marah tidak serta-merta menandakan kelemahan atau ketidakmampuan mengendalikan diri. Tangisan dapat menjadi respons tubuh ketika seseorang mengalami emosi yang intens dan kesulitan memprosesnya dalam situasi yang menekan. Jadi, jika kamu memiliki ciri orang yang menangis saat marah, bukan berarti kamu kalah dalam menghadapi konflik.
Dr. Nicole LePera, psikolog sekaligus penulis, dikutip dari HuffPost UK, menjelaskan bahwa tangisan dapat muncul ketika seseorang merasa marah karena tubuh membutuhkan cara untuk merespons dan melepaskan ketegangan emosional. Tangisan juga berkaitan dengan berbagai proses biologis yang melibatkan hormon dan zat kimia di otak, termasuk oksitosin dan endorfin, yang berperan dalam respons terhadap stres dan rasa sakit.
Menangis juga dapat membantu sebagian orang merasa lebih tenang setelah mengalami tekanan emosional. Proses ini berkaitan dengan perubahan respons fisiologis yang menyertai tangisan, meskipun efeknya tidak selalu sama pada setiap orang. Karena itu, menangis bantu redakan stres bukan sekadar anggapan tanpa dasar, tetapi manfaat yang perlu dipahami sesuai konteks dan kondisi masing-masing individu.
Meski demikian, menangis tidak selalu membuat seseorang langsung merasa lega. Respons setelah menangis dapat dipengaruhi oleh situasi yang dihadapi dan reaksi orang-orang di sekitarnya. Seseorang yang mendapat dukungan dan pengertian mungkin merasa lebih nyaman setelah meluapkan emosinya. Sebaliknya, jika tangisannya disambut dengan ejekan, penghinaan, atau penolakan, ia justru bisa merasa semakin malu, marah, dan tertekan.
Oleh karena itu, lingkungan yang suportif berperan penting dalam membantu seseorang menghadapi emosi yang kuat. Jika teman atau pasangan menangis saat marah, hindari menganggapnya berlebihan atau menjadikannya bahan lelucon. Berikan waktu untuk menenangkan diri, dengarkan apa yang ingin disampaikan, dan lanjutkan pembicaraan ketika kedua pihak sudah lebih siap berkomunikasi.
Pada akhirnya, kekuatan seseorang tidak ditentukan oleh apakah ia menangis atau tidak ketika marah. Kemampuan mengenali emosi, menyampaikan keberatan dengan jelas, dan mencari penyelesaian tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain jauh lebih penting daripada memaksakan diri untuk selalu terlihat tegar.
Cara Mengendalikan Tangis saat Marah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4508365/original/004814400_1689841888-military-man-suffering-from-ptsd.jpg)
Menangis saat marah merupakan respons emosional yang wajar. Namun, dalam situasi tertentu, seperti rapat kantor, diskusi penting, atau percakapan yang menegangkan, kamu mungkin ingin menjaga agar emosi tidak menghambat penyampaian pendapat. Ada beberapa teknik sederhana yang bisa dilatih untuk membantu menenangkan diri ketika amarah mulai memuncak.
Jika kamu sering mengalami angry tears, cobalah mengenali pemicu emosi, melatih pernapasan, dan membiasakan diri menyampaikan perasaan secara asertif. Tujuannya bukan memaksa air mata berhenti sepenuhnya, melainkan membantu kamu tetap mampu berpikir jernih dan mengomunikasikan apa yang dirasakan.
- Kenali tanda awal munculnya emosi. Perhatikan perubahan fisik ketika mulai marah, seperti dada terasa sesak, napas menjadi pendek, wajah memanas, atau tenggorokan tercekat. Mengenali tanda-tanda ini sejak awal memberimu kesempatan untuk mengambil jeda sebelum emosi semakin sulit dikendalikan.
- Perlambat pernapasan. Cobalah menarik napas perlahan selama empat hitungan, kemudian mengembuskannya selama enam hitungan. Ulangi beberapa kali tanpa memaksakan napas terlalu dalam. Pernapasan yang teratur dapat membantu mengurangi ketegangan dan membuat tubuh lebih tenang.
- Gunakan teknik grounding 5-4-3-2-1. Arahkan perhatian pada lingkungan sekitar dengan menyebutkan lima hal yang kamu lihat, empat hal yang bisa disentuh, tiga suara yang terdengar, dua aroma yang tercium, dan satu sensasi yang kamu rasakan. Teknik ini membantu mengalihkan perhatian dari pikiran yang memicu emosi ke pengalaman saat ini.
- Ambil jeda ketika emosi memuncak. Jika mulai kesulitan berbicara dengan tenang, sampaikan bahwa kamu membutuhkan waktu sebentar. Kamu bisa mengatakan, "Aku butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum kita melanjutkan pembicaraan." Setelah merasa lebih stabil, kembali ke percakapan agar masalah tetap bisa diselesaikan.
- Gerakkan tubuh atau minum air. Berjalan sebentar ke tempat yang lebih tenang, minum air, atau mengepalkan tangan lalu melemaskannya secara perlahan dapat membantu mengalihkan perhatian dari ketegangan. Pilih aktivitas sederhana yang membuatmu merasa lebih nyaman tanpa membahayakan diri sendiri atau orang lain.
- Tulis jurnal setelah situasi mereda. Catat kejadian yang memicu kemarahan, pikiran yang muncul, reaksi tubuh, dan tindakan yang kamu ambil. Dengan melakukan refleksi, kamu bisa mengenali pola emosi yang berulang dan menemukan cara menghadapi situasi serupa dengan lebih baik.
- Latih kemampuan berkomunikasi secara asertif. Biasakan menyampaikan perasaan dan kebutuhan secara langsung tanpa menyerang lawan bicara. Misalnya, gunakan kalimat, "Aku merasa kesal ketika pendapatku dipotong karena aku ingin menyelesaikan penjelasanku." Cara ini membantu kamu mengungkapkan amarah dengan jelas tanpa harus menyalahkan atau merendahkan orang lain.
- Lakukan latihan relaksasi secara rutin. Meditasi, latihan pernapasan, dan relaksasi otot dapat membantu meningkatkan kesadaran terhadap perubahan emosi. Penelitian mengenai meditasi dan pengelolaan emosi juga menunjukkan bahwa latihan singkat dapat membantu sebagian orang mengurangi kemarahan. Namun, hasilnya dapat berbeda pada setiap individu.
Tips singkat: Jika kamu akan menghadapi percakapan yang berpotensi memicu emosi, siapkan beberapa poin penting yang ingin disampaikan. Catatan ini bisa menjadi panduan ketika pikiran terasa buntu atau suara mulai bergetar. Ingat, keberhasilan komunikasi tidak ditentukan oleh kemampuan menahan air mata, tetapi oleh seberapa jelas kamu menyampaikan maksud dan kebutuhanmu.
Kapan Perlu Bantuan Profesional?
Menangis saat marah umumnya merupakan respons emosional yang tidak perlu dikhawatirkan. Namun, kamu sebaiknya mempertimbangkan bantuan profesional jika tangisan dan kemarahan terasa sulit dikendalikan, terjadi sangat sering, atau mulai mengganggu pekerjaan, hubungan dengan orang lain, dan aktivitas sehari-hari.
Perubahan emosi yang menetap, perasaan cemas berlebihan, suasana hati yang terus-menerus rendah, atau kesulitan menjalani rutinitas juga patut diperhatikan. Tangisan yang sering terjadi dapat berkaitan dengan berbagai kondisi psikologis, termasuk kecemasan atau depresi, tetapi tidak cukup untuk menjadi dasar diagnosis. Psikolog atau tenaga kesehatan mental dapat membantu menilai kondisi yang kamu alami dan menentukan dukungan yang sesuai.
Merujuk pada penjelasan Regain, seseorang yang mengalami ledakan amarah hingga berdampak buruk bagi dirinya sendiri atau orang di sekitarnya dapat memperoleh manfaat dari konsultasi dengan terapis atau mengikuti program pengelolaan amarah. Mencari bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah untuk memahami emosi dan membangun cara merespons konflik yang lebih sehat.
Melalui konsultasi, psikolog dapat membantu mengidentifikasi pemicu kemarahan, memahami pola respons emosional, dan melatih keterampilan regulasi emosi. Pendekatan seperti terapi perilaku kognitif dapat digunakan sesuai kebutuhan untuk membantu seseorang mengenali hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilakunya. Jika respons emosional berkaitan dengan pengalaman masa lalu yang menyakitkan, hal tersebut juga dapat dieksplorasi secara bertahap bersama tenaga profesional.
Informasi mengenai respons kemarahan yang sangat umum dapat membantu kamu memahami bahwa menangis ketika marah bukanlah pengalaman yang aneh. Meski begitu, apabila reaksi tersebut membuatmu terus-menerus tertekan atau kesulitan menjalani keseharian, jangan ragu mencari bantuan yang tepat.
Pada akhirnya, mengenali ciri orang yang menangis saat marah dapat membantu kamu memahami respons diri sendiri maupun orang lain dengan lebih bijaksana. Air mata bukan tanda kekalahan, melainkan salah satu bentuk respons tubuh terhadap emosi. Dengan mengenali pemicu, melatih keterampilan mengelola emosi, dan mencari dukungan ketika diperlukan, kamu dapat belajar menyampaikan kemarahan secara lebih sehat, baik dengan maupun tanpa air mata.
Advertisement
Tanya Jawab Seputar Menangis Saat Marah
1. Mengapa seseorang bisa menangis saat marah?
Seseorang bisa menangis saat marah karena emosi yang dirasakan terlalu kuat untuk diungkapkan dengan kata-kata. Respons ini dapat dipengaruhi oleh stres, frustrasi, rasa tidak berdaya, atau kesulitan mengendalikan emosi. Menangis saat marah merupakan reaksi emosional yang wajar dan tidak selalu berarti seseorang sedang merasa sedih.
2. Apakah menangis saat marah menandakan seseorang lemah?
Tidak. Menangis saat marah bukan tanda kelemahan atau ketidakmampuan mengendalikan diri. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespons emosi, termasuk melalui air mata. Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang mengelola kemarahan dan menyampaikan perasaannya tanpa menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
3. Bagaimana cara berhenti menangis saat sedang marah?
Untuk membantu meredakan tangis saat marah, cobalah memperlambat napas, mengambil jeda dari situasi yang memicu emosi, atau memusatkan perhatian pada hal-hal di sekitar. Jika memungkinkan, tunda pembicaraan sampai perasaan lebih tenang. Namun, tidak perlu memaksakan diri menghentikan air mata. Apabila tangisan dan kemarahan sering sulit dikendalikan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441352/original/085354000_1765504848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-12T084357.150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5528523/original/006924900_1773286985-cek_fakta_-_ikan_budidaya_link_pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380756/original/071937100_1792737316-Screenshot_2026-10-23_124005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380731/original/013852100_1792736272-cek_fakta_-_ikan_budidaya_lele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3972234/original/047481400_1648013188-unhappy-young-dark-haired-lady-with-casual-hairstyle-keeping-palm-her-face-while-standing-pink-wall-with-closed-eyes-being-upset-going-cry.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380471/original/034560200_1792710040-AP26295700909724.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4694342/original/001121600_1703152633-cuaca_panas-HERMAN_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379074/original/001319400_1792573864-pexels-dario-fernandez-ruz-9130511.jpg)