Menghadapi Lingkungan Kerja yang Toxic, Seni Memaafkan untuk Ketenangan Diri Tanpa Harus Kembali Percaya

Lingkungan kerja yang toxic sering kali tidak berhenti pada beban pekerjaan

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 10:03 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lingkungan kerja yang toxic sering kali tidak berhenti pada beban pekerjaan, melainkan hadir melalui ucapan yang merendahkan, ghibah, adu domba, dan manipulasi yang membuat siapa pun kehilangan ketenangan.

Idris Parakkasi dalam buku Fikih Bekerja dalam Islam menjelaskan, Bekerja dalam Islam bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan tanggung jawab spiritual yang bernilai ibadah bila dilakukan dengan niat ikhlas dan cara halal. Karena itu, menghadapi lingkungan kerja toxic bukan berarti membalas dengan keburukan serupa, melainkan mengelola konflik dengan akhlak; menahan amarah, menegakkan batas yang adil, dan yang paling berat memaafkan tanpa harus mengembalikan posisi orang yang telah menyakiti ke dalam lingkaran kepercayaan.

Memaafkan di sini bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kekuatan iman dan kedewasaan jiwa, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari).

Al-Qur'an menegaskan bahwa “Allah tidak menyukai ucapan buruk yang diucapkan dengan terus terang” (QS. An-Nisa: 148), dan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menegaskan bahwa Allah hanya menyukai kata-kata yang sopan, tidak menyinggung perasaan, serta tidak merusak akhlak.

Kajian tematik hadis tentang toxic friendship karya Romdhonah, R., dan Millah, M juga menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan selektivitas dalam bergaul, yaitu menghindari mereka yang gemar bermusuhan, tidak beriman, dan merusak persaudaraan, sebab seseorang cenderung mengikuti karakter orang terdekatnya. Berikut ini ulasannya.

Cara Memaafkan untuk Ketenangan Diri Tanpa Harus Kembali Percaya

1. Pisahkan antara Memaafkan dan Memulihkan Kepercayaan

Memaafkan dan mempercayai seseorang merupakan dua hal yang berbeda. Memaafkan berarti melepaskan keinginan untuk membalas kesalahan orang lain, sedangkan kepercayaan perlu dibangun kembali melalui perilaku yang konsisten.

Dalam QS Asy-Syura ayat 40, Allah SWT berfirman bahwa orang yang memaafkan dan berbuat baik akan mendapatkan pahala di sisi-Nya. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan makna al-'afw sebagai sikap memaafkan kesalahan orang lain tanpa berniat melakukan balas dendam.

Karena itu, seseorang dapat memaafkan demi ketenangan hati tanpa harus langsung memberikan kepercayaan yang sama seperti sebelumnya.

2. Memahami Bahwa Memaafkan Tidak Boleh Menjadi Tekanan Batin

Memaafkan sebaiknya lahir dari kesadaran dan kesiapan diri, bukan karena tekanan lingkungan atau ketakutan dianggap tidak religius.

Imam al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin membahas keutamaan memaafkan sebagai bentuk kebaikan sukarela (tabarru').

Pemahaman ini membantu seseorang menjalani proses memaafkan tanpa memaksakan perasaan yang belum siap. Jika rasa sakit masih terasa, seseorang dapat memberikan waktu bagi dirinya untuk memulihkan keadaan emosional.

Memaafkan dengan kesadaran lebih bermakna daripada sekadar mengatakan sudah memaafkan, tetapi masih menyimpan tekanan dan kemarahan di dalam hati.

3. Menjaga Jarak sebagai Bentuk Kehati-hatian, Bukan Permusuhan

Memaafkan tidak berarti harus kembali menjalin kedekatan seperti sebelumnya, terutama jika orang tersebut pernah melakukan tindakan yang merugikan atau merusak kepercayaan.

Dalam hubungan profesional, misalnya, komunikasi tetap dapat dilakukan seperlunya dengan menjaga sikap sopan dan batas yang jelas.

Seseorang juga dapat membatasi akses terhadap informasi pribadi atau tanggung jawab penting sampai ada bukti perubahan perilaku yang konsisten.

Sikap ini bukan bentuk dendam, melainkan langkah untuk melindungi diri sekaligus menjaga hubungan tetap proporsional. Memaafkan tidak mengharuskan seseorang membenarkan kesalahan atau mengabaikan kebutuhan akan keadilan.

4. Merawat Ketenangan Hati Melalui Zikir, Sabar dan Tawakal

Proses memaafkan membutuhkan waktu, terutama ketika luka yang dialami cukup dalam. Dalam Islam, zikir, doa, kesabaran, dan tawakal dapat menjadi ikhtiar untuk menjaga ketenangan batin ketika kenangan buruk kembali muncul.

Mengingat bahwa Allah SWT Maha Adil juga membantu seseorang menyerahkan urusan yang tidak dapat dikendalikannya kepada-Nya tanpa harus terus memelihara dendam.

Dalam konteks lingkungan kerja, kajian mengenai karyawan yang mengalami perundungan (bullying) menunjukkan adanya peran spiritualitas dalam kemampuan memaafkan.

Dengan demikian, memperkuat spiritualitas dapat menjadi salah satu cara menghadapi luka emosional, sembari tetap mengambil langkah nyata untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan diri.

Hikmah Memahami Cara Menghadapi Lingkungan Kerja Toxic

1. Membebaskan diri dari belenggu dendam tanpa kehilangan kewaspadaan

Dendam adalah beban yang menguras energi mental dan spiritual. Dengan memaafkan, seseorang melepaskan diri dari lingkaran kemarahan yang tidak berujung, tetapi tetap menjaga mata terbuka terhadap perilaku yang merugikan. Ketenangan yang diperoleh bukan ketenangan yang naif, melainkan ketenangan yang lahir dari kejernihan menilai situasi.

2. Meneladani akhlak Nabi SAW secara dewasa dan terukur

Rasulullah SAW adalah teladan dalam memaafkan mereka yang menyakitinya, namun beliau juga mengajarkan kehati-hatian dalam memilih sahabat dan menjaga batas pergaulan. Memahami bahwa memaafkan tidak identik dengan kembali percaya membuat seorang Muslim dapat meneladani akhlak Nabi tanpa jatuh ke dalam sikap permisif yang membahayakan diri.

3. Melindungi kesehatan mental dan mencegah reviktimisasi

Memaafkan tanpa batas yang tepat dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami pengulangan luka yang sama. Dengan memaafkan namun tetap menetapkan batas kepercayaan, seseorang melindungi kesehatan mentalnya sekaligus memberi ruang bagi pelaku untuk berubah—tanpa menjadikan dirinya sandera harapan yang belum terbukti.

4. Menciptakan keadilan tanpa permusuhan yang berkepanjangan

Memaafkan tidak menghapus tuntutan keadilan, tetapi memindahkan cara memperjuangkannya dari ranah permusuhan pribadi ke ranah yang lebih objektif dan profesional. Dalam suasana kerja, sikap ini memungkinkan seseorang tetap memperjuangkan hak dan lingkungan yang sehat tanpa larut dalam konflik emosional yang melelahkan.

5. Menjaga keberkahan dan nilai ibadah dalam bekerja

Bekerja yang diniatkan untuk memenuhi kewajiban dan menjaga kehormatan diri bernilai ibadah. Lingkungan toxic dapat merusak niat dan produktivitas; dengan mengelola konflik secara akhlak—termasuk memaafkan tanpa kehilangan batas—seseorang menjaga pekerjaannya tetap berada dalam bingkai keberkahan, bukan tenggelam dalam energi negatif yang menguras lahir dan batin.