Mengapa Gen Z Tidak Suka Lembur Meskipun Mendapat Uang Tambahan, Ini 7 Alasannya

Mengapa Gen Z tidak suka lembur meskipun mendapat uang tambahan? Simak alasan soal work-life balance, kesehatan mental, dan cara perusahaan menyikapinya.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 11:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mengapa Gen Z tidak suka lembur meskipun mendapat uang tambahan? Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan HRD. Bagi generasi yang lahir 1997–2012 ini, waktu pribadi dan kesehatan mental dinilai lebih berharga daripada upah ekstra.

Fenomena ini bukan sekadar malas. Generasi yang tumbuh di era digital terbiasa dengan fleksibilitas, sehingga jam kerja kaku terasa tidak masuk akal. Mereka menghitung nilai waktu, bukan hanya nominal gaji, termasuk biaya energi dan emosional yang terkuras.

Meski begitu, gambarannya tidak hitam putih. Sejumlah survei menunjukkan sebagian Gen Z tetap lembur karena tekanan biaya hidup. Artikel Liputan6.com ini mengulas alasan di balik sikap mereka beserta cara perusahaan menyikapinya secara bijak dan sehat, Jumat (23/10/2026).

1. Work-Life Balance Jadi Prioritas Utama

Bagi Gen Z, pekerjaan adalah bagian dari hidup, bukan seluruh hidup. Mereka ingin punya waktu untuk hobi, keluarga, teman, dan istirahat. Menurut laporan Fast Company Middle East yang mengutip studi GulfTalent, sekitar 76% Gen Z mengutamakan keseimbangan kerja dan kehidupan pribadi serta menghargai jadwal kerja yang fleksibel.

Angka ini menjelaskan mengapa tawaran uang lembur tidak selalu menarik. Ketika waktu bebas dianggap sebagai aset, bayaran tambahan harus benar-benar sebanding dengan apa yang dikorbankan, dan sering kali hitungannya tidak menguntungkan.

2. Kesehatan Mental Tidak Bisa Ditukar dengan Uang

Generasi ini jauh lebih terbuka membicarakan stres, burnout, dan kecemasan. Fast Company Middle East juga melaporkan bahwa lebih dari 60% responden menyebut faktor pekerjaan, seperti beban kerja berat dan budaya tim yang tidak sehat, sebagai pemicu stres tinggi.

Karena sadar akan risikonya, Gen Z cenderung menarik batas lebih awal. Lembur yang berulang dipandang sebagai jalan cepat menuju kelelahan, dan pemulihannya sering lebih mahal daripada uang lembur yang diterima.

3. Tumbuh di Era Digital yang Serba Fleksibel

Gen Z terbiasa dengan kerja jarak jauh, rapat virtual, dan alat kolaborasi online. Mereka melihat bahwa hasil kerja bisa dicapai tanpa harus duduk berjam-jam di kantor. Karena itu, budaya "yang pulang paling malam adalah yang paling rajin" terasa usang.

Mereka lebih menghargai efisiensi: selesaikan tugas dengan cerdas dalam jam kerja, lalu pulang. Lembur dianggap sebagai tanda manajemen waktu atau beban kerja yang bermasalah, bukan bukti dedikasi.

4. Batas Waktu Kerja dan Waktu Pribadi Dijaga Ketat

Salah satu narasumber dalam laporan Fast Company Middle East mengatakan bahwa Gen Z cenderung tidak lembur atau membalas pesan kerja di luar jam kantor kecuali dalam keadaan darurat. Tugas kecil yang selesai dalam 10–20 menit mungkin masih mau dikerjakan, tetapi kerja tambahan di akhir pekan tanpa bayaran akan ditolak.

Sikap ini bukan pembangkangan, melainkan upaya menjaga batas profesional yang sehat agar pekerjaan tidak menggerus kehidupan pribadi.

5. Lembur Dinilai Tidak Sepadan dengan Penghargaan

Gen Z cenderung kritis terhadap timbal balik. Jika lembur tidak diikuti pengakuan, peluang karier, atau kompensasi yang jelas, mereka menilai pengorbanannya sia-sia. Uang tambahan saja sering dianggap kurang karena tidak mengganti hal yang hilang, seperti waktu istirahat, kualitas tidur, dan hubungan sosial.

Mereka lebih menyukai perusahaan yang menawarkan pengembangan diri, kejelasan karier, dan lingkungan kerja yang suportif daripada sekadar lembur berbayar.

6. Kenyataan Ekonomi: Sebagian Tetap Lembur karena Terpaksa

Faktanya, tidak semua Gen Z menolak lembur. Survei Resource Solutions terhadap 2.000 pekerja di Inggris, sebagaimana dilaporkan Employee Benefits, menemukan bahwa empat dari lima Gen Z lebih memilih lembur daripada mengurangi beban kerja dengan konsekuensi gaji turun.

Rata-rata mereka bekerja sekitar 27 jam lembur per bulan. Pihak Resource Solutions menilai hal ini berkaitan dengan kekhawatiran finansial dan keamanan kerja. Jadi, lembur yang dilakukan Gen Z sering kali bukan pilihan bebas, melainkan keterpaksaan yang diam-diam menggerus kesejahteraan mereka.

7. Cara Perusahaan Menyikapi Gen Z soal Lembur

Perusahaan perlu mengakui bahwa lembur adalah persoalan nyata. Kristen Buckheit dari Resource Solutions, seperti dikutip Employee Benefits, menyarankan agar pemberi kerja menetapkan ekspektasi beban kerja yang realistis supaya tuntutan tetap sejalan dengan jam kerja yang wajar.

Langkah praktis lainnya meliputi jadwal fleksibel, kebijakan hak untuk tidak dihubungi di luar jam kerja, serta apresiasi yang jelas. Pendekatan seimbang terbukti membantu menarik dan mempertahankan talenta muda yang produktif.

Pertanyaan Seputar Alasan Gen Z Enggan Lembur Meski Dibayar

Apakah benar semua Gen Z menolak lembur?

Tidak. Sebagian menolak karena mengutamakan work-life balance, tetapi survei Resource Solutions menunjukkan banyak Gen Z tetap lembur karena khawatir soal keuangan dan keamanan kerja.

Apakah sikap Gen Z yang enggan lembur berarti kurang berdedikasi?

Tidak selalu. Mereka tetap bisa produktif dan berkomitmen, tetapi lebih menekankan efisiensi dan hasil kerja daripada lamanya jam kerja.

Apa dampak lembur berlebihan bagi pekerja muda?

Lembur terus-menerus dapat memicu stres, kelelahan (burnout), gangguan tidur, dan menurunnya kualitas hubungan sosial serta kesehatan mental.

Bagaimana perusahaan bisa membuat Gen Z nyaman bekerja tanpa banyak lembur?

Terapkan beban kerja yang realistis, jadwal fleksibel, batas komunikasi di luar jam kerja, serta apresiasi dan jenjang karier yang jelas.

Apakah Gen Z lebih banyak lembur dibanding generasi lain?

Menurut survei Resource Solutions yang dilaporkan Employee Benefits, Gen Z rata-rata bekerja sekitar 27 jam lembur per bulan, hampir dua kali lipat jumlah hari lembur per tahun yang dikerjakan generasi Baby Boomers. Jadi, meski secara sikap Gen Z cenderung enggan lembur, kondisi ekonomi membuat sebagian dari mereka tetap melakukannya.