Liputan6.com, Jakarta - Banyak pekerja modern sering mengabaikan rasa lapar dan melewatkan jam makan siang hanya untuk mengejar tenggat waktu atau menjaga momentum kerja yang sedang tinggi. Perilaku ini bukan sekadar kebiasaan buruk, melainkan cerminan dari pola pikir dan ciri kepribadian orang yang sering menunda makan demi menyelesaikan pekerjaan yang mendalam dan spesifik. Tanpa disadari, dorongan psikologis tertentu mengontrol keputusan mereka untuk menomorduakan kebutuhan biologis demi pencapaian profesional.
Sering kali, individu yang terjebak dalam pola ini memiliki justifikasi bahwa produktivitas adalah prioritas utama yang tidak boleh diganggu oleh aktivitas "sepele" seperti makan. Fenomena ini erat kaitannya dengan bagaimana otak memproses penghargaan, manajemen waktu, serta respons terhadap stres dan tuntutan eksternal. Memahami akar kepribadian ini penting agar kita tidak terjebak dalam ilusi produktivitas yang justru merusak kesehatan fisik dan mental jangka panjang.
Sayangnya, kebiasaan ini sering dianggap sebagai dedikasi tinggi, padahal secara medis dan psikologis bisa menjadi indikasi adanya ketidakseimbangan antara ambisi dan perawatan diri (self-care). Berikut ciri kepribadian orang yang sering menunda makan demi menyelesaikan pekerjaan dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (20/10/2026).
Advertisement
1. Si "Workaholic" dengan Tipe Kepribadian A
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377374/original/093118500_1792458776-pexels-tima-miroshnichenko-6327564.jpg)
Orang dengan Tipe Kepribadian A dikenal memiliki ambisi yang meledak-ledak, sangat kompetitif, dan selalu merasa dikejar oleh waktu (time urgency). Bagi mereka, waktu yang dihabiskan untuk makan siang dianggap sebagai waktu yang terbuang sia-sia yang seharusnya bisa digunakan untuk menyelesaikan lebih banyak tugas. Rasa lapar fisik sering kali diabaikan atau ditekan karena kalah kuat dibandingkan rasa "lapar" akan pencapaian dan penyelesaian tugas.
Mereka cenderung mengukur harga diri berdasarkan seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan dalam satu hari, sehingga istirahat makan dianggap sebagai tanda kelemahan atau ketidakproduktifan. Pola pikir ini menciptakan standar internal yang tidak realistis, di mana berhenti sejenak untuk makan bisa memicu rasa bersalah atau kecemasan bahwa mereka akan tertinggal dari kompetitor.
Melansir dari Clear Mind Treatment, perilaku ini adalah tanda klasik dari kecanduan kerja (workaholism) di mana identitas seseorang terikat sepenuhnya pada pencapaian profesional. Mereka sering mengalami kesulitan untuk rileks dan merasa wajib untuk terus "aktif" secara mental maupun fisik.
Akibatnya, mereka sering mengalami kelelahan kronis (burnout) tanpa menyadari penyebab utamanya adalah kurangnya bahan bakar untuk tubuh. Padahal, riset menunjukkan bahwa istirahat makan justru dapat mengembalikan fungsi kognitif yang menurun akibat kelelahan.
Advertisement
2. Si Perfeksionis yang Cemas (Neurotic Perfectionism)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377376/original/003386500_1792458777-2.jpg)
Tipe kepribadian ini memiliki standar kerja yang sangat kaku dan pola pikir "semua atau tidak sama sekali" (all-or-nothing). Mereka merasa tidak boleh berhenti bekerja sebelum hasil yang mereka kerjakan benar-benar sempurna atau tuntas sepenuhnya. Makan di tengah pekerjaan yang "belum sempurna" dianggap sebagai gangguan yang bisa merusak aliran fokus dan kualitas hasil akhir.
Kecemasan menjadi bahan bakar utama mereka; ada ketakutan bahwa jika mereka berhenti untuk makan, mereka akan kehilangan momentum atau melupakan detail penting pekerjaan. Hal ini sering dikaitkan dengan sifat neuroticism, yaitu kecenderungan untuk mudah merasa cemas, khawatir, dan tidak stabil secara emosional di bawah tekanan.
Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan di PubMed Central (PMC) menyoroti hubungan antara perfeksionisme (khususnya perfectionistic concerns) dengan pola makan yang tidak teratur. Studi tersebut menemukan bahwa individu yang sangat perfeksionis rentan terhadap perilaku menahan lapar yang kemudian bisa berujung pada makan berlebihan (binge eating) saat tugas selesai, sebagai bentuk kompensasi emosional.
Siklus ini berbahaya karena menempatkan pekerjaan di atas regulasi emosi dan fisik yang sehat. Mereka tidak makan bukan karena tidak lapar, melainkan karena rasa cemas bahwa pekerjaan mereka tidak akan cukup baik jika mereka "lengah" sedikit saja untuk istirahat.
3. Si "Hyperfocus" (Neurodivergensi/ADHD)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377377/original/007949700_1792458777-3.jpg)
Bagi sebagian orang, menunda makan bukan disengaja karena ambisi, melainkan karena kondisi neurologis seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Mereka sering mengalami kondisi hyperfocus, yaitu keadaan konsentrasi yang begitu intens pada satu hal yang menarik minat mereka sehingga dunia di sekitarnya seolah menghilang.
Dalam kondisi ini, sinyal tubuh seperti rasa lapar, haus, atau keinginan ke toilet tidak terdeteksi oleh otak, sebuah fenomena yang disebut masalah interoception. Mereka tidak sadar bahwa mereka lapar sampai mereka benar-benar merasa pusing, gemetar, atau sakit perut setelah berjam-jam berlalu tanpa makanan.
Selain itu, orang dengan ciri ini sering mengalami time blindness atau kebutaan waktu, di mana mereka tidak mampu memperkirakan berapa lama waktu telah berlalu. Mereka mungkin berpikir "nanti makan 5 menit lagi," namun tanpa sadar 4 jam sudah lewat, membuat jadwal makan menjadi sangat kacau.
Melansir dari Lifestack, perilaku ini bukanlah tanda disiplin yang tinggi, melainkan ketidakmampuan sistem saraf untuk memprioritaskan kebutuhan fisik di atas stimulasi mental. Ini menjelaskan mengapa mereka sering terlihat sangat produktif di satu waktu namun tiba-tiba kehabisan energi secara drastis (crash).
Advertisement
4. Pencari Validasi Sosial (Social Approval Seeker)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377378/original/012713100_1792458777-4.jpg)
Tipe kepribadian ini sangat peduli pada persepsi orang lain terhadap etos kerja mereka. Mereka menunda atau melewatkan makan siang agar terlihat sibuk dan berdedikasi di mata atasan atau rekan kerja. Ada ketakutan bahwa jika mereka terlihat sedang santai makan siang, mereka akan dinilai malas atau kurang berkomitmen.
Fenomena ini sering disebut sebagai performative busyness atau kesibukan yang dipamerkan sebagai lencana kehormatan (badge of honor). Mereka merasa valid dan aman ketika terlihat menderita atau berkorban demi pekerjaan, termasuk mengorbankan waktu istirahat dan makan.
Survei dari ezCater (dilansir oleh Fortune) menunjukkan bahwa pekerja sering melewatkan makan siang karena merasa tekanan sosial untuk selalu tersedia (always on). Mereka khawatir akan tertinggal informasi atau dianggap tidak loyal jika meninggalkan meja kerja, meskipun hanya untuk 30 menit.
Kepribadian ini cenderung memiliki low self-esteem yang membutuhkan pengakuan eksternal terus-menerus. Mereka mengorbankan kesehatan pribadi demi mempertahankan citra diri sebagai "karyawan teladan" yang tidak kenal lelah, meskipun hal ini sering kali kontraproduktif bagi kinerja tim jangka panjang.
5. Si Pengabdi Adrenalin (Deadline Junkie)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377380/original/017130400_1792458777-5.jpg)
Tipe terakhir adalah mereka yang bekerja paling efektif saat berada di bawah tekanan ekstrem atau mepet tenggat waktu (deadline). Mereka sering menunda pekerjaan di awal, lalu mengebut di akhir waktu, yang memaksa mereka untuk menunda segala aktivitas lain, termasuk makan.
Adrenalin yang muncul saat deadline semakin dekat memberikan mereka energi semu yang menekan rasa lapar. Mereka menikmati sensasi "bahaya" dan urgensi ini, yang membuat aktivitas rutin seperti makan terasa membosankan dan lambat dibandingkan dengan pacuan adrenalin pekerjaan.
Namun, gaya kerja ini sangat membebani sistem metabolisme dan kesehatan mental. Sebuah studi yang diterbitkan di ScienceX (Journal of Affective Disorders) pada Mei 2026 mengungkapkan bahwa pola makan yang tidak teratur, seperti sering melewatkan makan utama, meningkatkan risiko depresi hingga 1,55 kali lipat.
Orang dengan ciri ini sering kali memiliki manajemen waktu yang buruk dan ketergantungan pada stres sebagai motivator. Mereka perlu belajar bahwa energi yang stabil dari makanan yang teratur justru menghasilkan fokus yang lebih tajam daripada lonjakan energi sesaat dari kepanikan deadline.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Kepribadian Orang yang Sering Menunda Makan Demi Menyelesaikan Pekerjaan
Q: Apakah menunda makan demi pekerjaan bisa disebut gangguan makan?
A: Jika perilaku ini terjadi terus-menerus, disertai rasa bersalah saat makan, dan berdampak pada kesehatan fisik drastis, ini bisa mengarah pada disordered eating atau gangguan makan yang memerlukan bantuan profesional.
Q: Mengapa saya tidak merasa lapar saat sedang fokus bekerja?
A: Saat fokus tinggi atau stres, tubuh memproduksi hormon adrenalin dan kortisol yang mengaktifkan mode fight or flight. Mode ini menekan fungsi pencernaan dan nafsu makan sementara agar energi dialihkan ke otak dan otot.
Q: Apa dampak jangka pendek dari sering melewatkan makan siang?
A: Gula darah akan turun drastis (hipoglikemia) yang menyebabkan sakit kepala, sulit konsentrasi (brain fog), perubahan suasana hati (mudah marah/tersinggung), dan penurunan produktivitas di sore hari.
Q: Bagaimana cara mengatasi kebiasaan lupa makan karena hyperfocus?
A: Pasang alarm berulang di ponsel sebagai pengingat makan ("alarm makan"), sediakan camilan sehat di meja kerja, dan praktikkan teknik pomodoro untuk memaksa jeda istirahat secara rutin.
Q: Apakah orang yang menunda makan selalu lebih produktif?
A: Tidak. Riset menunjukkan bahwa bekerja tanpa asupan energi yang cukup justru menurunkan kognisi, memperlambat pengambilan keputusan, dan meningkatkan risiko kesalahan kerja (human error).
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322269/original/035290200_1786523414-cek_fakta_-_ombudsman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782149/original/002861400_1782877955-Cek_fakta_-_SIM_seumur_hidup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441706/original/046861700_1765516083-jasa_marga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377375/original/098663100_1792458776-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377367/original/079593200_1792458319-Gemini_Generated_Image_e9m19te9m19te9m1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377363/original/038717200_1792457081-Gemini_Generated_Image_3vxkj63vxkj63vxk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376791/original/082535500_1792393050-Gemini_Generated_Image_yf3vzkyf3vzkyf3v.jpg)