8 Ciri Orang yang Selalu Cek Detak Jantung di Smartwatch dan Artinya

Kenali ciri orang yang selalu cek detak jantung di smartwatch, penyebabnya, manfaat, akurasi data, dan tips agar pemantauan tidak memicu cemas.

Diterbitkan 21 Oktober 2026, 17:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Sekarang smartwatch nggak cuma buat lihat jam, tapi juga jadi alat pantau kesehatan di pergelangan tangan. Wajar kalau banyak orang penasaran dengan ciri orang yang selalu cek detak jantung di smartwatch, karena kebiasaan ini makin sering terlihat.

Singkatnya, ciri orang yang selalu cek detak jantung di smartwatch antara lain sering melirik angka denyut padahal tidak ada keluhan, langsung membuka data begitu bangun tidur, dan cepat gelisah kalau angkanya naik sedikit. Di sisi lain, sebagian dari mereka memang tipe yang peduli kesehatan dan akrab dengan teknologi.

Dilansir dari The Conversation, perangkat wearable bisa membantu orang memahami dan memantau kondisinya lewat data detak jantung, irama jantung, serta peringatan untuk mendeteksi episode fibrilasi atrium . Namun, manfaat itu perlu diimbangi dengan tingginya tingkat kecemasan yang dialami penderita kondisi tersebut, supaya penggunaannya tidak memperparah tekanan psikologis .

Arti Kebiasaan Selalu Cek Detak Jantung di Smartwatch

Langkah pertama untuk memahami kebiasaan ini adalah mengenal istilah dasarnya. Detak jantung adalah jumlah denyut jantung dalam satu menit, dengan satuan bpm (beats per minute). Smartwatch membaca angka ini memakai sensor optik di bagian bawah jam, lalu menampilkannya di layar atau aplikasi ponsel. Kalau kamu sesekali mengecek angkanya saat olahraga atau ketika badan terasa tidak enak, itu pemakaian yang wajar. Lain ceritanya kalau kamu terus mengecek detak jantung di smartwatch berkali-kali dalam sehari tanpa alasan jelas, apalagi sampai muncul rasa waswas setiap kali angkanya berubah.

Supaya kamu punya patokan, penting tahu dulu angka yang dianggap normal. Mengacu pada Mayo Clinic, detak jantung istirahat adalah jumlah detak jantung per menit saat kamu terjaga, tenang, dan tidak bergerak, dan kisaran normalnya untuk orang dewasa adalah 60 sampai 100 kali per menit. Lembaga yang sama juga mencatat bahwa perangkat wearable biasanya menampilkan detak jantung istirahat dan memudahkan pemantauan, tetapi hasilnya tidak selalu akurat.

Dalam praktiknya, kebiasaan cek detak jantung bisa masuk dua kategori. Kategori pertama adalah pemantauan yang sehat, misalnya untuk mengatur intensitas latihan atau memantau kondisi jantung atas saran dokter. Kategori kedua adalah pengecekan kompulsif, yaitu dorongan untuk terus mengecek demi menenangkan diri, padahal setelah mengecek justru makin cemas. Bedanya bukan di seberapa canggih jamnya, tetapi di alasan kamu mengecek dan bagaimana perasaanmu setelah melihat angkanya.

Sebagaimana disampaikan Psychology Today, ketika seseorang terlalu sering mengecek, perilakunya berisiko masuk kategori "care-seeking", yaitu respons maladaptif terhadap kecemasan soal kesehatan fisik. Contoh sederhananya, bayangkan kamu sedang rapat lalu melihat angka 98 bpm di layar. Orang yang memantau dengan sehat akan mengaitkannya dengan kopi atau suasana rapat yang tegang. Sementara itu, orang yang cemas akan terus mengecek setiap beberapa menit sambil membayangkan skenario terburuk. Ia juga baru tenang kalau angkanya turun.

Ciri-Ciri Orang yang Selalu Cek Detak Jantung di Smartwatch

Tidak semua orang yang rajin melihat smartwatch punya masalah. Ada yang sekadar disiplin menjaga kebugaran, ada juga yang tanpa sadar sudah terjebak dalam siklus cemas. Berikut ciri-ciri yang paling sering terlihat.

Berdasarkan laporan AJMC tentang studi pada penderita fibrilasi atrium,45% responden mengaku mengecek detak jantung atau melakukan EKG setiap hari, sementara 19% hanya memakai fitur pemantauan detak dan irama jantung ketika muncul gejala.

1. Langsung Mengecek Data Begitu Bangun Tidur 

Salah satu tanda paling mudah dikenali adalah membuka smartwatch sebelum benar-benar merasakan kondisi tubuh sendiri. Para ahli menyebut

tanda yang umum adalah langsung mengecek smartwatch setelah bangun tidur alih-alih memperhatikan apa yang dirasakan tubuh. Kalau suasana hatimu sepanjang pagi ditentukan oleh angka di layar, ini patut jadi perhatian.

2. Mengecek Berkali-kali Tanpa Ada Keluhan

Kamu sedang duduk santai, tidak pusing, tidak sesak, tapi tetap membuka menu detak jantung setiap beberapa menit. Pola ini biasanya muncul dari dorongan untuk mencari rasa aman, bukan dari kebutuhan medis. Makin sering dicek, makin besar pula peluang kamu menemukan angka yang terlihat "aneh".

3. Gelisah Saat Angka Naik atau Turun Sedikit

Detak jantung itu wajar naik turun karena emosi, aktivitas, atau minuman berkafein. Orang yang terlalu fokus pada angka sering menganggap perubahan kecil sebagai tanda bahaya. Dalam studi yang sama,

15% pasien mengaku selalu merasa cemas, takut, atau khawatir karena peringatan detak jantung tinggi dan rendah.

4. Lebih Percaya Angka di Jam daripada Rasa Tubuh Sendiri

Menurut para pakar kesehatan, masalah sebenarnya dimulai ketika orang lebih memercayai bacaan jam ketimbang apa yang mereka rasakan atau saran dokter. Akibatnya, badan yang terasa segar bisa mendadak dianggap "tidak fit" hanya karena skor di aplikasi rendah.

5. Sering Menghubungi Dokter Setelah Notifikasi

Waspada terhadap gejala tentu baik. Masalahnya, sebagian orang langsung panik setiap kali notifikasi muncul. Sebagaimana dilaporkan Patient Care Online,

20% pengguna wearable merasakan ketakutan dan kecemasan hebat setelah menerima notifikasi irama jantung tidak teratur, lalu selalu menghubungi dokter.

6. Cenderung Perfeksionis dan Ingin Mengontrol Segalanya

Kepribadian juga ikut berperan. Para ahli menyebut

orang yang pada dasarnya mudah khawatir, berusaha sempurna, atau ingin mengontrol segala hal lebih mungkin bergantung berlebihan pada data smartwatch.

7. Proaktif dan Peduli Kesehatan

Tidak semua cirinya negatif. Banyak pengguna smartwatch yang memang proaktif menjaga kesehatan dan memakai fitur pemantau detak jantung, pelacak aktivitas, serta pengingat bergerak untuk menjaga kebugaran. Orang seperti ini biasanya memakai data sebagai bahan evaluasi, bukan sumber panik.

8. Melek Teknologi dan Suka Mencoba Fitur Baru

Pengguna yang rajin memantau data umumnya nyaman dengan perangkat elektronik dan sering jadi yang pertama mencoba teknologi baru. Rasa ingin tahu yang tinggi membuat mereka senang mengulik setiap fitur, termasuk grafik detak jantung harian.

Mengapa Seseorang Jadi Terus-menerus Cek Detak Jantung

Smartwatch menyajikan data hampir tanpa jeda, 24 jam sehari. Notifikasi yang muncul di pergelangan tangan membuat angka detak jantung selalu "mengundang" untuk dilihat. Saat kamu memandang angka itu sebagai cermin kesehatan, setiap perubahan terasa penting. Dari situ muncul siklus yang sulit diputus: cek, merasa cemas, cek lagi untuk menenangkan diri, lalu cemas lagi.

Brendan Kelly, profesor psikiatri di Trinity College, dikutip dari Newstalk menyatakan, "Pelacakan metrik yang terus-menerus ini membuat orang terlalu khawatir terhadap fluktuasi data yang sangat kecil, yang kadang disalahartikan sebagai masalah kesehatan." Ia juga mengatakan, "Kita tidak perlu terus-menerus melacak detak jantung, oksigen darah, EKG, tekanan darah, jumlah langkah, atau suhu tubuh kita."

Faktor berikutnya adalah keberadaan perangkat yang menempel di tubuh sepanjang hari. Miskevics, dikutip dari National Geographic, mengatakan, "Data semacam ini sulit diabaikan ketika kita benar-benar memakai perangkat yang memberi notifikasi dan menjadi pengingat visual sepanjang hari." Kebiasaan mengejar target harian juga ikut memperkuat pola ini. Victoria Sekely, fisioterapis sekaligus pelatih lari dan latihan kekuatan, dikutip dari Fortune menyatakan, "Saya punya banyak klien yang terobsesi untuk menutup ring."

Kelompok dengan riwayat gangguan jantung termasuk yang paling rentan. Tim peneliti yang dipimpin Lindsey Rosman dari University of North Carolina at Chapel Hill, dikutip dari HCPLive, menulis, "Temuan kami menunjukkan bahwa meskipun banyak penderita AF dapat memperoleh manfaat dari perangkat wearable, sebagian besar yang cukup signifikan mungkin mengalami efek merugikan yang tidak diinginkan." Seperti yang diberitakan News-Medical, pemantauan berlebihan dan aliran data kesehatan yang terus-menerus dapat meningkatkan kecemasan dan gejala obsesif.

Manfaat Cek Detak Jantung di Smartwatch Jika Dilakukan dengan Tepat

Kalau dipakai dengan bijak, fitur detak jantung bisa sangat membantu. Manfaat utamanya bagi kamu adalah mendapat gambaran awal tentang kondisi tubuh, lalu memutuskan kapan perlu istirahat, berlatih lebih keras, atau memeriksakan diri.

Merujuk studi dalam Journal of the American Heart Association, hampir dua pertiga pengguna wearable (64%) mengatakan perangkat tersebut membuat mereka merasa aman.

Peringatan detak jantung abnormal. Beberapa smartwatch, seperti seri Garmin, bisa memberi peringatan kalau detak jantungmu naik melewati ambang batas setelah kamu tidak aktif selama 10 menit atau lebih. Ada juga peringatan detak jantung rendah, dengan ambang terendah 40 bpm.

Mengatur intensitas olahraga. Fitur pemantau detak jantung real-time membantu kamu menjaga target zona latihan dan mencegah overtraining. Sebagai patokan umum, olahraga intensitas tinggi berada di kisaran 70-85% dari detak jantung maksimal.

Memantau kondisi jantung tertentu. Penderita fibrilasi atrium episodik bisa memahami dampak penyakitnya lewat data irama dan detak jantung, tentu dengan arahan dokter.

Memberi sinyal untuk segera cek ke dokter. Ada kasus nyata ketika smartwatch berhasil menyelamatkan nyawa penggunanya. Apple Watch milik Scott Killian mendeteksi detak jantungnya mencapai 121 per menit saat tidur, padahal sebelumnya hanya 49 per menit.

Pemeriksaan lanjutan kemudian menemukan empat arteri yang tersumbat.

Memahami tingkat kebugaran. Detak jantung istirahat yang lebih rendah umumnya berarti jantung tidak perlu bekerja terlalu keras memompa darah. Itulah sebabnya atlet terlatih bisa punya angka mendekati 40 bpm

Melihat pola tidur dan stres. Data detak jantung sering digabungkan dengan skor tidur, tingkat stres, dan "body battery". Hasilnya membantu kamu menentukan waktu bekerja dan beristirahat.

 

Seberapa Akurat Data Detak Jantung di Smartwatch

Sebelum terlalu percaya pada angka di layar, kamu perlu tahu cara kerja sensornya. Kebanyakan smartwatch memakai sensor optik (PPG) yang memancarkan cahaya ke kulit untuk membaca perubahan volume darah. Cara ini berbeda dengan EKG medis yang merekam sinyal listrik jantung lewat elektroda. Sensor optik umumnya cukup andal saat kamu diam, tetapi akurasinya bisa turun saat banyak bergerak atau berolahraga intens. Riset juga menemukan bahwa warna kulit, posisi jam yang longgar, dan gerakan tangan bisa memengaruhi hasil bacaa

Perlu diingat juga bahwa detak jantung memang berubah-ubah sepanjang hari. Sebagaimana dikutip dari Cleveland Clinic, faktor yang bisa memengaruhi detak jantung antara lain emosi, berat badan, tingkat kebugaran, dan kualitas tidur, ditambah beberapa obat serta zat seperti alkohol dan kafein. Jadi, angka 95 bpm setelah dua cangkir kopi dan rapat yang menegangkan belum tentu berarti ada masalah.

Dunia medis juga mengingatkan supaya data smartwatch tidak dijadikan satu-satunya patokan. Survei dari sebuah perusahaan konsultan di Amerika Serikat menunjukkan para dokter menyarankan pengguna tidak sepenuhnya memercayai hasil fitur kesehatan smartwatch. Cara terbaik untuk memastikan kondisi tubuh tetaplah konsultasi dengan dokter atau pemeriksaan medis. Bacaan smartwatch dihasilkan dari algoritma dan estimasi, bukan dari pemeriksaan medis yang lengkap.

Gambaran dari penelitian lapangan juga menarik. Dilansir dari National Library of Medicine, dalam studi MIPACT-AFib 26 peserta (34,2%) mengaku sedikit cemas terhadap notifikasi detak jantung tidak teratur dan 6 peserta (7,9%) cemas sedang. Padahal,

secara total hanya 5 kasus (6,6%) fibrilasi atrium yang terdiagnosis. Artinya, notifikasi memang berguna sebagai sinyal awal, tapi tidak semuanya berakhir dengan diagnosis penyakit.

Tips Cek Detak Jantung di Smartwatch agar Tidak Memicu Cemas

Kalau kamu merasa punya beberapa ciri di atas, tidak perlu buru-buru melepas smartwatch. Yang perlu diubah adalah cara kamu memakainya. Sebagaimana diungkapkan Medindia,data wearable sebaiknya dipakai sebagai panduan, bukan diagnosis. Berikut langkah praktis yang bisa kamu coba.

Tentukan tujuan pemantauan. Tanyakan ke diri sendiri apakah kamu mengecek untuk latihan, untuk kebutuhan medis, atau hanya karena gelisah. Kalau jawabannya yang terakhir, itu tanda kamu perlu mengurangi frekuensi cek.

Kenali angka normalmu. Pegang patokan 60-100 bpm saat istirahat untuk orang dewasa, lalu amati kisaran pribadimu selama beberapa minggu. Dengan begitu, perubahan kecil tidak langsung terasa mengancam.

Atur notifikasi seperlunya. Banyak perangkat kini punya notifikasi detak jantung rendah, tinggi, atau tidak teratur. Aktifkan peringatan yang benar-benar kamu butuhkan dan atur ambang batasnya dengan masuk akal, lalu matikan pengingat lain yang hanya bikin kepikiran.

Lihat tren jangka panjang. Fokus pada pola mingguan atau bulanan, bukan angka per menit. Kebiasaan sehat seperti olahraga teratur dan tidur cukup jauh lebih bermakna daripada fluktuasi harian.

Rasakan tubuh dulu, baru cek data. Setelah bangun tidur, coba sadari dulu apakah badanmu terasa segar atau lelah sebelum membuka aplikasi. Latihan sederhana ini membantu kamu tidak bergantung penuh pada skor di layar.

Ukur ulang dalam kondisi tenang. Kalau angkanya terlihat tidak biasa, duduk santai selama beberapa menit, kencangkan tali jam, lalu ukur lagi. Ingat juga apakah kamu baru saja minum kopi, berolahraga, atau sedang stres.

Tahu kapan harus ke dokter. Segera periksakan diri kalau detak jantung istirahatmu rutin di atas 100 bpm, atau sering di bawah 60 bpm padahal kamu bukan atlet terlatih. Datang juga ke dokter kalau muncul gejala seperti nyeri dada, pusing, atau sesak napas.

Tips singkat: kalau kecemasan karena data smartwatch sudah mengganggu tidur, pekerjaan, atau suasana hati, ceritakan juga hal ini kepada dokter atau psikolog. Kecemasan soal kesehatan bisa ditangani, dan kamu tetap bisa memakai smartwatch dengan nyaman.

 Pada akhirnya, smartwatch adalah alat bantu, bukan pengganti dokter atau perasaan tubuhmu sendiri. Rajin mengecek detak jantung bisa jadi tanda kamu peduli pada kesehatan, asalkan kebiasaan itu membuatmu lebih tenang dan lebih bijak mengambil keputusan, bukan sebaliknya. Pakai datanya secukupnya, pahami konteksnya, dan biarkan tenaga medis yang memastikan diagnosis.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Selalu Cek Detak Jantung di Smartwatch 

1. Masalah psikologis apa yang sering dikaitkan dengan kebiasaan ini?

Jawab: Kecenderungan Health Anxiety (kecemasan berlebih akan kesehatan). Mereka membutuhkan validasi data terus-menerus untuk merasa "aman" dan yakin bahwa mereka tidak sedang sakit parah.

2. Apa dampak negatif jika terlalu sering memantau angka kesehatan?

Jawab: Memicu Efek Nocebo. Pengguna justru merasa sakit atau panik hanya karena melihat angka yang sedikit tinggi, padahal kondisi fisik sebenarnya baik-baik saja.

3. Bagaimana siklus kepanikan yang sering terjadi?

Jawab: Terjadinya Feedback Loop. Saat melihat detak jantung naik sedikit, pengguna cemas -> kecemasan memicu adrenalin -> detak jantung makin naik -> pengguna makin panik melihat jam.

4. Tipe kepribadian seperti apa yang memiliki ciri ini?

Jawab: Cenderung memiliki sifat Neurotik atau perfeksionis. Mereka sangat sensitif terhadap perubahan kecil di tubuh dan memiliki kebutuhan kontrol yang tinggi atas fungsi biologis mereka.

5. Kapan kebiasaan ini dianggap tidak sehat?

Jawab: Saat pengguna kehilangan kepercayaan pada insting tubuhnya sendiri. Mereka lebih percaya "vonis" jam tangan ("Jam bilang saya stres") daripada apa yang mereka rasakan sebenarnya.Apakah Anda ingin tahu tips Digital Detox untuk m