Mengapa Makin Dewasa Seseorang Makin Nyaman di Rumah? Ini Penjelasannya

Mengapa makin dewasa seseorang makin nyaman di rumah? Ini penjelasannya, mulai dari perubahan prioritas hingga kebutuhan istirahat dan ketenangan.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 09:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pertanyaan mengapa makin dewasa seseorang makin nyaman di rumah? ini penjelasannya berkaitan dengan perubahan prioritas hidup, kebutuhan beristirahat, hingga cara seseorang memandang hubungan sosial. Seiring bertambahnya usia, sebagian orang mulai lebih menikmati waktu bersama keluarga, melakukan hobi, atau sekadar beristirahat tanpa harus pergi ke luar rumah.

Fenomena tersebut juga dapat dipahami melalui socioemotional selectivity theory, teori psikologi yang dikembangkan Laura L. Carstensen dalam penelitian Motivation for Social Contact Across the Life Span: A Theory of Socioemotional Selectivity (1992). Teori tersebut menjelaskan bahwa perubahan pandangan terhadap waktu dan tujuan hidup dapat membuat seseorang lebih mengutamakan hubungan yang bermakna secara emosional daripada memperluas lingkaran pertemanan.

Rumah juga bisa menjadi tempat untuk memulihkan energi, menjaga kenyamanan pribadi, dan menjalani rutinitas sesuai kebutuhan. Berikut Liputan6.com merangkumnya dari berbagai sumber, Kamis (22/10/2026).

1. Prioritas Hidup Mulai Berubah

Saat masih muda, sebagian orang senang mencoba berbagai pengalaman baru, bertemu banyak teman, dan mengikuti beragam kegiatan di luar rumah. Aktivitas tersebut menjadi kesempatan untuk memperluas pergaulan, mencari pengalaman, serta mengenali diri sendiri.

Seiring bertambahnya usia, prioritas tersebut dapat berubah. Seseorang mungkin mulai lebih menghargai waktu bersama pasangan, anak, keluarga, atau beberapa teman dekat dibandingkan menghadiri banyak acara sosial.

Perubahan ini sejalan dengan teori selektivitas sosioemosional yang dijelaskan Carstensen. Dalam teori tersebut, orang cenderung semakin mengutamakan pengalaman dan hubungan yang memberikan makna emosional ketika tujuan hidup mereka berubah.

Artinya, memilih menghabiskan akhir pekan di rumah bukan berarti seseorang kehilangan semangat menjalani kehidupan. Keputusan itu bisa menjadi cara untuk menggunakan waktu secara lebih selektif dan sesuai dengan hal yang dianggap penting.

2. Kebutuhan untuk Beristirahat Semakin Dirasakan

Kehidupan orang dewasa sering kali diwarnai berbagai tanggung jawab, seperti pekerjaan, urusan rumah tangga, kebutuhan finansial, dan tanggung jawab terhadap keluarga. Semua itu dapat menguras tenaga fisik maupun pikiran, terutama jika seseorang memiliki jadwal yang padat.

Dalam kondisi tersebut, rumah menawarkan kesempatan untuk beristirahat tanpa harus memikirkan agenda tambahan. Seseorang bisa tidur sejenak, membaca buku, memasak, atau menikmati waktu santai setelah menyelesaikan pekerjaan.

Beristirahat di rumah juga memberikan ruang untuk mengurangi rangsangan yang melelahkan, seperti kebisingan, kemacetan, dan tuntutan untuk terus berinteraksi dengan orang lain. Meski kebutuhan setiap individu berbeda, lingkungan yang nyaman dapat mendukung pemulihan setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

Karena itu, keinginan untuk lebih sering berada di rumah dapat muncul sebagai respons terhadap kebutuhan istirahat. Hal tersebut tidak selalu menunjukkan kemalasan atau berkurangnya kemampuan bersosialisasi.

3. Rumah Memberikan Rasa Aman dan Kendali

Rumah merupakan tempat yang memungkinkan seseorang mengatur banyak hal sesuai keinginannya. Mulai dari pencahayaan, suhu ruangan, kebersihan, hingga kegiatan yang dilakukan, sebagian besar dapat disesuaikan dengan kebutuhan pribadi.

Kendali tersebut memberikan kebebasan yang tidak selalu ditemukan di tempat umum. Seseorang tidak harus mengikuti jadwal orang lain, memikirkan penampilan tertentu, atau menyesuaikan diri dengan suasana sosial yang kurang nyaman.

Penelitian Jing Zhao, Yukari Nagai, Wei Gao, Tao Shen, dan Youming Fan berjudul The Effects of Interior Materials on the Restorativeness of Home Environments (2023) mengkaji bagaimana bahan interior memengaruhi persepsi terhadap kemampuan lingkungan rumah untuk memulihkan kondisi psikologis. Penelitian terhadap 85 peserta tersebut menunjukkan bahwa karakteristik interior dapat memengaruhi penilaian terhadap suasana rumah yang menenangkan. Temuan ini perlu dipahami secara terbatas karena sampelnya kecil dan memiliki latar belakang terkait desain interior.

Dengan demikian, kenyamanan di rumah bukan hanya berkaitan dengan keberadaan bangunan. Suasana, kebiasaan, dan rasa memiliki kendali atas lingkungan pribadi turut membentuk pengalaman seseorang saat berada di dalamnya.

4. Lebih Memahami Kebutuhan dan Batasan Diri

Pengalaman hidup membantu seseorang mengenali aktivitas yang membuatnya bahagia maupun kegiatan yang justru menguras energi. Pemahaman ini dapat berkembang melalui pengalaman bekerja, menjalin pertemanan, menghadapi konflik, dan menjalani berbagai perubahan kehidupan.

Seseorang yang dahulu merasa harus menghadiri setiap undangan mungkin mulai menyadari bahwa tidak semua kegiatan perlu diikuti. Ia dapat menolak ajakan dengan sopan ketika membutuhkan istirahat atau memiliki prioritas lain.

Kemampuan menetapkan batasan juga membantu seseorang menjaga keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan tuntutan lingkungan. Waktu di rumah dapat digunakan untuk memulihkan energi tanpa harus merasa bersalah karena tidak selalu tersedia bagi orang lain.

Kondisi tersebut merupakan salah satu bentuk pengenalan diri yang lebih baik. Seseorang bukan berarti tidak menyukai orang lain, melainkan semakin memahami kapan harus bersosialisasi dan kapan membutuhkan waktu sendiri.

5. Hubungan Berkualitas Terasa Lebih Penting daripada Banyaknya Teman

Bertambahnya usia tidak selalu membuat seseorang kehilangan minat terhadap pertemanan. Perubahannya dapat terlihat pada cara memilih hubungan yang ingin dipertahankan.

Dalam penelitian Social and Emotional Patterns in Adulthood: Support for Socioemotional Selectivity Theory (1992), Laura L. Carstensen meneliti pola sosial dan emosional pada masa dewasa. Penelitian tersebut mendukung gagasan bahwa perubahan dalam interaksi sosial dapat terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap kedekatan emosional.

Karena itu, seseorang mungkin lebih memilih makan malam bersama keluarga atau mengobrol dengan satu sahabat daripada menghadiri pertemuan besar. Interaksi yang lebih sedikit tidak otomatis berarti hubungan sosialnya kurang memuaskan.

Rumah dapat menjadi tempat yang nyaman untuk memelihara hubungan tersebut melalui kegiatan sederhana, seperti memasak bersama, menonton film, atau berbincang setelah bekerja. Kedekatan emosional tidak selalu memerlukan acara besar atau perjalanan ke tempat yang jauh.

6. Menghabiskan Waktu di Rumah Bisa Lebih Hemat dan Praktis

Pertimbangan finansial juga dapat memengaruhi kebiasaan seseorang saat dewasa. Ketika kebutuhan hidup semakin beragam, pengeluaran untuk transportasi, makan di luar, tiket hiburan, dan kegiatan sosial mungkin perlu diatur lebih cermat.

Menghabiskan waktu di rumah memungkinkan seseorang memilih aktivitas sesuai anggaran. Memasak makanan sendiri, merawat tanaman, membaca buku, atau menonton film yang sudah tersedia dapat menjadi pilihan hiburan tanpa banyak pengeluaran tambahan.

Selain hemat, kegiatan tersebut juga lebih mudah disesuaikan dengan jadwal. Seseorang tidak perlu menghadapi perjalanan jauh atau menghabiskan waktu di jalan hanya untuk menikmati waktu luang.

Meski demikian, alasan finansial tidak berlaku bagi semua orang. Sebagian orang tetap senang bepergian, sedangkan yang lain lebih menikmati kegiatan rumahan karena praktis, nyaman, dan sesuai dengan kebutuhannya.

7. Hobi dan Kegiatan Pribadi Terasa Semakin Menyenangkan

Rumah menyediakan ruang untuk mengembangkan minat yang mungkin sulit dilakukan ketika jadwal masih dipenuhi berbagai aktivitas. Setelah pekerjaan selesai, seseorang dapat menggunakan waktu luang untuk merawat tanaman, mencoba resep masakan, membaca, berolahraga ringan, atau mengerjakan proyek pribadi.

Kegiatan tersebut memberi kesempatan untuk menikmati proses tanpa harus mengejar pencapaian tertentu. Seseorang bisa belajar keterampilan baru, menyelesaikan pekerjaan kecil, atau sekadar beristirahat tanpa tekanan untuk selalu produktif.

Bagi sebagian orang, kepuasan justru datang dari rutinitas sederhana yang dilakukan secara konsisten. Menyeduh kopi pada pagi hari, menyiram tanaman, dan merapikan kamar dapat memberikan rasa nyaman karena aktivitas tersebut mudah diprediksi dan berada dalam kendali pribadi.

Kesenangan seperti ini membuat rumah bukan hanya tempat untuk tidur atau berlindung dari cuaca. Rumah juga menjadi ruang untuk menjalani minat, menjaga kebiasaan, dan menikmati kehidupan sehari-hari.

8. Tidak Selalu Ingin Mengikuti Tekanan Sosial

Pertemuan sosial terkadang disertai tuntutan tidak tertulis, seperti harus tampil menarik, mengikuti percakapan, menjaga citra, atau menunjukkan bahwa kehidupan berjalan dengan baik. Bagi sebagian orang, tuntutan tersebut dapat melelahkan, terutama setelah seharian bekerja.

Berada di rumah memberikan kesempatan untuk melepaskan tekanan tersebut. Seseorang dapat berpenampilan santai, menjalankan kegiatan sesuai suasana hati, dan tidak perlu terus-menerus menyesuaikan diri dengan harapan orang lain.

Pengalaman di media sosial juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kegiatan di luar rumah. Artikel Kementerian Kesehatan RI, Penggunaan Media Sosial Berlebihan Tidak Baik untuk Kesehatan Jiwa (2022), yang ditulis dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, menjelaskan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat berkaitan dengan kecemasan, kesepian, dan kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain.

Mengurangi kegiatan yang dirasakan membebani dapat menjadi pilihan yang wajar. Namun, penting untuk membedakan keputusan yang diambil demi kenyamanan pribadi dengan kebiasaan menghindari semua situasi sosial karena takut dinilai orang lain.

9. Rumah Menjadi Tempat untuk Menata Pikiran

Setelah menghadapi masalah pekerjaan, konflik, atau berbagai keputusan penting, seseorang terkadang membutuhkan waktu untuk memahami perasaannya sendiri. Suasana rumah yang relatif tenang dapat memberi kesempatan untuk mengevaluasi pengalaman dan menentukan langkah berikutnya.

Waktu sendiri juga dapat digunakan untuk menulis jurnal, menyusun rencana, berdoa, atau memikirkan kembali keputusan yang sudah diambil. Kegiatan ini dapat membantu seseorang mengenali kebutuhan dan menyusun prioritas dengan lebih terarah.

Namun, manfaat tersebut bergantung pada cara seseorang menggunakan waktunya. Berada di rumah tidak otomatis menghilangkan stres, terutama jika sumber masalah masih ada atau lingkungan rumah justru menimbulkan tekanan.

Keseimbangan tetap diperlukan agar waktu pribadi menjadi kesempatan untuk memulihkan diri, bukan cara untuk menghindari persoalan yang sebenarnya perlu diselesaikan.

Apakah Terlalu Nyaman di Rumah Perlu Dikhawatirkan?

Menyukai suasana rumah merupakan pilihan yang wajar selama seseorang tetap dapat menjalankan tanggung jawab, menjaga hubungan yang berarti, dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Tidak ada keharusan untuk terus bepergian atau menghadiri banyak acara demi membuktikan bahwa kehidupan sosial seseorang sehat.

Meski demikian, kebiasaan di rumah perlu diperhatikan apabila disertai perubahan yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Contohnya, seseorang mulai menghindari orang terdekat, merasa takut berlebihan ketika harus keluar, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, atau mengalami kesedihan berkepanjangan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam informasi Social Isolation and Loneliness menegaskan bahwa hubungan sosial yang berkualitas penting bagi kesehatan fisik, kesehatan mental, dan kesejahteraan. Isolasi sosial dan kesepian dapat berdampak serius terhadap kualitas hidup.

Oleh karena itu, menikmati waktu sendiri tetap perlu diimbangi dengan hubungan sosial yang mendukung. Jika keinginan untuk terus berada di rumah muncul karena kecemasan atau kesedihan yang mengganggu aktivitas, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan mental dapat membantu menemukan penyebab dan penanganan yang tepat.

Pada akhirnya, semakin nyaman berada di rumah ketika dewasa tidak memiliki satu penyebab yang berlaku bagi semua orang. Perubahan prioritas, kebutuhan istirahat, kebebasan mengatur kehidupan, dan kepuasan menjalani hobi dapat menjadi beberapa penjelasannya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Alasan Makin Dewasa Seseorang Makin Nyaman di Rumah

1. Mengapa semakin dewasa seseorang semakin senang di rumah?

Karena prioritas, kebutuhan istirahat, dan cara memandang hubungan sosial dapat berubah seiring pengalaman hidup.

2. Apakah lebih suka di rumah berarti seseorang antisosial?

Tidak. Menikmati waktu di rumah tidak otomatis berarti antisosial selama seseorang tetap dapat membangun dan menjaga hubungan yang sehat.

3. Apakah nyaman di rumah baik untuk kesehatan mental?

Bisa, terutama jika rumah memberikan kesempatan untuk beristirahat dan melakukan kegiatan yang disukai. Namun, terlalu mengisolasi diri dapat berdampak buruk.

4. Mengapa orang dewasa lebih memilih teman dekat daripada banyak teman?

Sebagian orang mulai lebih mengutamakan hubungan yang memberikan kedekatan emosional, rasa aman, dan dukungan.

5. Kapan kebiasaan terus berada di rumah perlu diwaspadai?

Ketika disertai kecemasan berlebihan, kesedihan berkepanjangan, penarikan diri dari orang terdekat, atau gangguan terhadap aktivitas sehari-hari.