Liputan6.com, Jakarta - Ketika seseorang disakiti, dikhianati, atau ditinggalkan, naluri pertama biasanya adalah membalas atau menuntut pengakuan. Namun, tradisi spiritual Islam dan temuan psikologi modern sama-sama menunjukkan jalan yang tampak berlawanan: mendoakan kebaikan bagi orang yang menyakiti.
Ada luka yang tidak selalu sembuh oleh waktu, tetapi sering kali justru pulih dengan doa yang diucapkan dalam diam. Doa yang tidak diketahui siapa pun, termasuk oleh orang yang didoakan menjadi latihan batin yang perlahan mengubah cara seseorang memandang luka, diri sendiri dan orang lain. Kemarahan menuju belas kasih, dari ingin membalas menuju kesediaan melepaskan.
Praktik ini bahkan dipuji oleh Rasulullah SAW, “Tidak ada seorang hamba Muslim yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, melainkan malaikat berkata, ‘Dan bagimu juga kebaikan yang sama’” (HR Muslim).
Advertisement
Doa yang dirahasiakan menunjukkan keikhlasan dan lebih dekat kepada pengabulan. Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin Al-Badr dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik menegaskan bahwa doa adalah inti ibadah dan hati manusia berada di antara dua jari Allah Yang Maha Membolak-balikkan hati. Karena itu, melunakkan hati yang terluka dan hati yang menyakiti bukanlah hal mustahil bagi Allah.
Dr. MS. Udin, MA dalam Konsep Dzikir dalam Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Kesehatan menjelaskan bahwa dzikir dan doa bekerja sebagai psikoterapi: keduanya menenangkan jiwa, melepaskan ketegangan, menyeimbangkan sistem hormonal, dan meningkatkan kekebalan tubuh.
Alasan Doa Diam-Diam Menyembuhkan Hati yang Terluka
1. Mengalihkan Fokus dari Diri Sendiri ke Orang Lain
Salah satu akar penderitaan batin adalah hiperfokus pada diri sendiri: pada rasa sakit, pada ketidakadilan, pada keinginan untuk membalas. Psikolog menyebutnya sebagai pergeseran ke tujuan-tujuan adversarial yang membuat perhatian terkunci pada diri.
Doa untuk orang lain memutus siklus itu. Ketika seseorang mendoakan kebahagiaan atau kebaikan bagi orang yang menyakitinya, perhatiannya bergerak dari “apa yang terjadi padaku” menuju “semoga ia baik-baik saja.”
Doa menggeser perhatian dari diri kembali kepada orang lain, sehingga resentmen perlahan memudar. Dr. MS. Udin juga menegaskan bahwa dzikir membebaskan manusia dari pengaruh kesenangan duniawi dan sifat egois, karena fokus diarahkan kepada Allah dan makhluk-Nya.
2. Memicu Pengampunan dan Melepaskan Dendam
Pengampunan bukan berarti menyetujui perbuatan buruk, melainkan melepaskan beban emosional yang meracuni diri sendiri. Satu kali doa untuk kebaikan pasangan sudah cukup untuk meningkatkan kesediaan memaafkan dan mengurangi keinginan membalas.
Berdoa untuk sahabat meningkatkan perilaku kooperatif dan pengampunan saat terjadi perselisihan. Terapi pengampunan telah lama menunjukkan bahwa pelepasan amarah melalui pengampunan menurunkan gejala depresi, kecemasan, dan stres.
Dalam Islam, doa rahasia untuk orang lain adalah latihan ikhlas: seseorang berhenti menuntut balasan dari manusia dan menyerahkan urusannya kepada Allah.
3. Menumbuhkan Kasih Sayang dan Self-Compassion
Mendoakan orang lain, termasuk orang yang menyakiti, adalah bentuk latihan loving-kindness atau metta. Berbagai studi tentang meditasi kasih sayang menunjukkan bahwa latihan ini meningkatkan self-compassion, menurunkan rasa bersalah dan malu, serta membantu memulihkan trauma akibat kekerasan interpersonal.
Ketika seseorang belajar mengharapkan kebaikan bagi orang lain, ia juga belajar tidak menghukum dirinya sendiri atas luka yang dialaminya. Ia menyadari bahwa dirinya dan orang lain sama-sama makhluk yang rapuh, sama-sama membutuhkan rahmat.
Syaikh Al-Badr dalam Doa-Doa Pilihan Terbaik menekankan bahwa doa yang baik melahirkan kecintaan kepada Allah dan kepada sesama, sehingga hati yang keras perlahan menjadi lunak.
4. Meredakan Stres Fisiologis dan Peradangan
Luka batin tidak hanya tinggal di pikiran; ia merambat ke tubuh. Stres kronis meningkatkan hormon kortisol dan memicu peradangan yang berkaitan dengan penyakit jantung, diabetes, dan depresi.
Penelitian Neal Krause dan kolega yang diterbitkan di Biodemography and Social Biology menemukan bahwa orang yang sering mendoakan orang lain memiliki hubungan yang jauh lebih lemah antara trauma masa lalu dan kadar C-reactive protein, penanda peradangan tubuh. Dengan kata lain, doa untuk orang lain bertindak sebagai penyangga biologis terhadap luka lama.
Dr. MS. Udin menjelaskan hal serupa: dzikir dan doa menenangkan sistem saraf, memperbaiki keseimbangan hormonal, dan meningkatkan imunitas, sehingga tubuh tidak terus-menerus berada dalam mode bertahan.
5. Membangun Rasa Keterhubungan dan Makna
Luka hati sering disertai rasa terisolasi: “tidak ada yang memahami,” “aku sendirian.” Doa diam-diam untuk orang lain membangun jembatan batin yang tidak terlihat. Mengharapkan kebaikan bagi orang lain meningkatkan perasaan peduli dan keterhubungan, bahkan ketika orang yang didoakan tidak mengetahuinya.
Dalam kerangka Islam, doa adalah komunikasi transendental yang menyambungkan hamba dengan Allah dan dengan sesama manusia. Dr. MS. Udin menyebut dzikir sebagai sarana komunikasi dengan Allah yang melahirkan ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan hakiki.
Ketika seseorang mendoakan orang lain, ia tidak lagi merasa sendirian dalam lukanya; ia sedang merajut kembali rasa memiliki terhadap kehidupan.
6. Melatih Tawakal dan Melepaskan Kontrol
Salah satu sumber penderitaan adalah ilusi bahwa kita bisa mengendalikan orang lain, mengubah masa lalu, atau memaksa keadilan terjadi sesuai keinginan kita. Doa diam-diam adalah latihan melepaskan kontrol.
Seseorang menyerahkan hasilnya kepada Allah, sementara ia tetap diminta berbuat baik dan menjaga batas-batas yang sehat. Syaikh Al-Badr menegaskan bahwa hati manusia berada di tangan Allah; tugas hamba adalah berdoa, bukan memaksa.
Dalam psikologi, sikap ini mirip dengan penerimaan radikal dan pelepasan kendali yang terbukti mengurangi kecemasan. Dengan berdoa untuk orang lain, seseorang berhenti menggenggam luka terlalu erat dan mulai membiarkan Allah bekerja dengan cara-Nya.
Fadhilah Mendoakan Orang Lain Diam-diam
1. Diamini oleh Malaikat dan Mendapat Doa yang Sama
Fadhilah paling masyhur adalah doa malaikat. Rasulullah SAW bersabda bahwa ketika seorang Muslim mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, malaikat berkata, “Amin, dan bagimu juga kebaikan yang sama” (HR Muslim).
Imam Nawawi menjelaskan bahwa doa rahasia menunjukkan keikhlasan, sehingga lebih dekat kepada pengabulan. Malaikat adalah makhluk yang suci dari dosa, sehingga doanya sangat kuat. Artinya, ketika seseorang mendoakan orang lain dalam diam, ia tidak hanya berbuat baik kepada orang itu, tetapi juga “mendoakan dirinya sendiri” melalui lisan malaikat.
2. Lebih Ikhlas dan Terhindar dari Riya
Doa yang dirahasiakan tidak mengharapkan pujian, balasan, atau pengakuan dari manusia. Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam Risalatul Mu‘awanah menyebut bahwa doa seorang Muslim untuk saudaranya di luar kehadirannya mustajab karena bebas dari riya.
Dalam psikologi, ikhlas semacam ini mengurangi beban sosial dan menjaga kemurnian niat. Seseorang tidak perlu memikirkan bagaimana orang lain menilai kebaikannya; ia hanya berbicara kepada Allah. Ustaz Salehuddin dalam Ebook Koleksi Doa dan Zikir menempatkan ikhlas sebagai adab pertama dan terpenting dalam berdoa.
3. Mustajab dan Cepat Dikabulkan
Doa rahasia untuk orang lain “langsung sampai kepada Allah sehingga mudah dikabulkan”. Selain karena diamini malaikat, doa rahasia juga lahir dari hati yang sedang merendahkan diri, jauh dari kepentingan transaksional.
Dalam doa seperti ini, seseorang tidak sedang “membeli” kebaikan orang lain, tetapi benar-benar memohon kebaikan bagi orang itu. Kedalaman kerendahan hati inilah yang menjadi ruh doa. Syaikh Al-Badr menegaskan bahwa doa yang lahir dari hati yang hadir dan penuh harap lebih dekat kepada ijabah.
4. Menumbuhkan Akhlak Mulia dan Kasih Sayang
Mendoakan orang yang menyakiti adalah latihan akhlak yang berat tetapi sangat transformative. Ia melatih seseorang untuk tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan menempuh jalan ihsan. Syaikh Al-Badr menjelaskan bahwa doa-doa Nabi SAW banyak berisi permohonan agar Allah membersihkan hati, menjauhkan dari akhlak buruk, dan menanamkan kecintaan kepada kebaikan.
Ustaz Salehuddin juga menekankan bahwa doa bukan sekadar meminta, tetapi sarana mendidik jiwa untuk tunduk kepada Allah. Ketika seseorang membiasakan mendoakan orang lain, perlahan hatinya menjadi lebih lapang, pemaaf, dan penuh belas kasih.
5. Menyembuhkan Diri Sendiri dan Menguatkan Jiwa
Fadhilah ini bersifat duniawi-ukhrawi sekaligus. Secara spiritual, doa diam-diam mendatangkan ketenangan dan keridhaan. Secara psikologis, ia menggeser fokus dari luka ke harapan, dari dendam ke pengampunan, dan dari isolasi ke keterhubungan.
Dr. MS. Udin menegaskan bahwa dzikir dan doa adalah obat hati; hati yang keras dapat dilembutkan dengan mengingat Allah, dan jiwa yang gelisah dapat ditenangkan dengan komunikasi transendental.
Dengan demikian, orang yang mendoakan orang lain dalam diam sebenarnya sedang menjalani terapi jiwa yang paling murah, paling sunyi, dan paling dalam: terapi yang tidak memerlukan pengakuan siapa pun, karena Allah Maha Mendengar.
Pertanyaan Seputar Mendoakan Orang Lain
1. Apakah boleh mendoakan orang yang pernah menyakiti kita?
Boleh, bahkan sangat dianjurkan dalam Islam. Mendoakan kebaikan bagi orang yang menyakiti bukan berarti merestui perbuatannya, melainkan melepaskan diri dari dendam dan menyerahkan keadilan kepada Allah. Rasulullah SAW sendiri mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang menyakitinya.
2. Mengapa doa diam-diam lebih mustajab?
Karena doa diam-diam lebih ikhlas, jauh dari riya, dan diamini oleh malaikat. Imam Nawawi menjelaskan bahwa doa yang dirahasiakan menunjukkan kemurnian niat, sehingga lebih dekat kepada pengabulan. Doa ini juga lahir dari hati yang sedang merendahkan diri di hadapan Allah.
3. Berapa lama efek psikologis mendoakan orang lain?
Efeknya bisa langsung maupun bertahap. Satu kali doa sudah dapat mengurangi pikiran balas dendam, tetapi efek yang lebih stabil muncul ketika doa dilakukan secara rutin. Penelitian menunjukkan bahwa praktik harian selama beberapa minggu memberikan perubahan yang lebih konsisten pada suasana hati, empati, dan kesediaan memaafkan.
4. Apakah orang yang didoakan harus mengetahui bahwa kita mendoakannya?
Tidak. Justru doa yang tidak diketahui orang yang didoakan memiliki keutamaan khusus. Dalam hadis disebutkan bahwa doa “di belakang” seseorang—tanpa sepengetahuannya—diamini malaikat. Rahasianya adalah ikhlas: seseorang berdoa bukan untuk mendapat balasan atau pujian, tetapi semata-mata karena Allah.
5. Apakah mendoakan orang lain bisa menggantikan terapi psikologis?
Doa adalah sumber kekuatan dan ketenangan yang sangat berharga, tetapi bukan pengganti bantuan profesional ketika seseorang mengalami trauma berat, kekerasan, atau gangguan mental yang memerlukan intervensi klinis. Doa dan terapi dapat berjalan bersama: doa merawat dimensi spiritual, sementara terapi membantu memproses luka secara psikologis dan aman.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344493/original/042033300_1788947267-HOAX__15_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351957/original/080906700_1789720927-cek_fakta_suahasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381099/original/021116000_1792753524-cek_fakta_suahasil_-_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4206904/original/051627000_1666947484-doa-keselamatan-dunia-akhirat-arab-dan-latin-amalkan-setiap-hari.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379397/original/056084800_1792600053-SaveInta.com_859934251_18635741335017073_706796114380482358_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382133/original/087110200_1792969747-IMG-20261025-WA0103.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382127/original/058515200_1792967326-Tim_jibom_cek_tkp_ledakan_penampungan_besi_tua.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382126/original/003809900_1792966332-1001792983.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382108/original/086367100_1792947787-images__62_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382095/original/061832500_1792941452-IMG_2806.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/908132/original/002510900_1435049231-pencabulan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382020/original/038397700_1792925136-IWN_0705.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382098/original/072331500_1792941646-1001792872.jpg)