Liputan6.com, Jakarta Pernahkah ponselmu tiba-tiba berbunyi dan muncul nama teman lama yang sudah bertahun-tahun tidak memberi kabar? Belum sempat senang, ternyata ujung obrolannya adalah minta tolong atau pinjam uang.
Situasi ini sangat umum, dan mengenali ciri orang yang menghubungi teman lama hanya saat butuh membantu kamu bersikap lebih bijak. Polanya biasanya sama: datang ketika ada perlu, lalu menghilang lagi setelah urusannya beres.
Dilansir dari Psychology Today, jika seseorang hanya menghubungi kamu saat butuh bantuan atau dukungan dan jarang menanyakan kabarmu di luar itu, dinamika hubungan tersebut perlu dicermati lebih dekat, karena lama-lama kamu bisa merasa lebih seperti "pelampung darurat" daripada seorang teman. Karena itu, ciri orang yang menghubungi teman lama hanya saat butuh sebaiknya kamu pahami sejak awal.
Advertisement
Pengertian Orang yang Menghubungi Teman Lama Hanya Saat Butuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309080/original/035930800_1785218365-pexels-shvets-production-7176297.jpg)
Langkah pertama memahami topik ini adalah mengenal istilah pertemanan transaksional. Sederhananya, ini adalah hubungan pertemanan yang berjalan seperti transaksi jual beli, di mana satu pihak hadir karena ada sesuatu yang bisa ia dapatkan, bukan karena ingin menjaga kedekatan. Orang yang menghubungi teman lama hanya saat butuh termasuk dalam pola ini. Ia mungkin tidak berniat jahat, tetapi caranya berhubungan membuat kamu merasa diperlakukan sebagai "jasa", bukan sebagai sahabat.
Contoh sederhananya, bayangkan teman SMA yang tidak pernah membalas ucapan ulang tahunmu, lalu suatu hari mengirim pesan panjang menanyakan apakah kamu masih kerja di perusahaan tertentu karena ia butuh koneksi. Setelah kamu bantu, obrolan berhenti begitu saja.
Entah itu nasihat, bantuan, akses, atau dukungan, kamu mulai merasa dihargai karena kegunaanmu, bukan karena dirimu sendiri, dan itu menyakitkan karena manusia pada dasarnya ingin dikenal, bukan sekadar dibutuhkan.
Pola ini makin sering dibicarakan karena gaya hidup modern ikut membentuknya. Relationships expert Pippa Murphy, dikutip dari Refinery29, menyatakan, "Alih-alih membangun hubungan yang menuntut dukungan dan usaha bersama, banyak orang memilih hubungan yang mudah dan praktis."
Penting juga dicatat bahwa meminta tolong kepada teman bukanlah hal yang salah. Yang membuatnya jadi masalah adalah ketika permintaan menjadi satu-satunya alasan seseorang muncul. Jadi, sebelum memberi cap negatif, kamu perlu melihat polanya secara utuh: apakah ini kejadian sekali, atau memang berulang setiap kali ia menghubungimu? Dari sinilah ciri orang yang menghubungi teman lama hanya saat butuh mulai bisa dikenali dengan lebih jernih.
Advertisement
Ciri Orang yang Menghubungi Teman Lama Hanya Saat Butuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309081/original/039518000_1785218368-pexels-karola-g-7283493.jpg)
Tanda-tandanya sering samar di awal karena orang tersebut bisa tampak ramah dan hangat. Baru setelah beberapa kali interaksi, kamu akan melihat pola yang berulang. Berikut ciri-ciri yang paling sering muncul.
Therapist Nicole Saunders, dikutip dari HuffPost, menyatakan, "Ketika tidak ada timbal balik dan respons tampak terus satu arah atau transaksional, kita bisa merasa kurang mendapat dukungan sosial, bahkan merasa dimanfaatkan."
1. Muncul Tiba-tiba Setelah Lama Menghilang
Ini ciri paling mudah dikenali. Bertahun-tahun tidak ada kabar, lalu tiba-tiba ia menyapa dengan akrab seolah kalian baru bertemu kemarin. Ujung-ujungnya, sapaan itu berubah jadi permintaan bantuan, entah soal uang, pekerjaan, atau urusan lain.
2. Basa-basi Singkat, Lalu Langsung ke Permintaan
Obrolan dibuka dengan "Apa kabar?" tapi jawabanmu tidak benar-benar didengarkan. Dua atau tiga pesan kemudian, ia langsung masuk ke inti urusannya. Basa-basi hanya berfungsi sebagai pintu masuk, bukan bentuk perhatian.
3. Tidak Pernah Bertanya Balik Tentang Hidupmu
Ia bisa bercerita panjang tentang masalahnya, tetapi jarang atau tidak pernah menanyakan keadaanmu. Saat kamu mencoba bercerita, pembicaraan cepat dialihkan kembali ke dirinya. Kamu lebih mirip tempat curhat gratis daripada teman ngobrol.
4. Menghilang Lagi Setelah Urusannya Selesai
Begitu bantuannya kamu berikan, pesan terakhirmu mungkin hanya dibalas "Makasih ya" lalu sepi. Tidak ada tindak lanjut, tidak ada ajakan bertemu, dan kontak baru muncul lagi saat ada keperluan berikutnya.
5. Responsnya Cepat Hanya Saat Ada Maunya
Saat butuh sesuatu, ia membalas pesan dalam hitungan detik. Namun ketika kamu yang menghubungi untuk sekadar menyapa, balasannya lambat, singkat, atau bahkan tidak ada. Perbedaan kecepatan respons ini adalah sinyal yang cukup jelas.
6. Sulit Dihubungi Saat Kamu yang Butuh
Ketika giliran kamu yang sedang kesulitan, ia mendadak sibuk atau punya banyak alasan. Bantuan selalu mengalir satu arah, dari kamu ke dia, tidak pernah sebaliknya. Ciri ini juga dibahas dalam ulasan tentang ciri teman yang sebaiknya dijauhi, yakni sikap tidak konsisten antara saat ia butuh dan saat kamu butuh.
7. Absen di Momen Bahagiamu
Ia tidak hadir di pernikahanmu, tidak memberi selamat saat kamu naik jabatan, dan tidak tahu kamu baru punya anak. Teman yang hanya datang saat butuh biasanya tidak terlalu tertarik dengan kabar baik dalam hidupmu, karena kabar itu tidak berkaitan dengan kepentingannya.
8. Tidak Menghargai Batasan dan Penolakanmu
Saat kamu bilang tidak bisa membantu, ia kecewa berlebihan, memaksa, atau membuatmu merasa bersalah. Teman yang tulus akan menerima penolakan dengan wajar, sementara orang yang datang hanya saat butuh cenderung menganggap bantuanmu sebagai kewajiban.
9. Kamu Merasa Lelah Setelah Berinteraksi
Coba perhatikan perasaanmu setiap kali selesai berbicara dengannya. Jika yang tersisa adalah rasa capek, kesal, atau merasa dimanfaatkan, itu tanda hubungan tersebut tidak seimbang dan perlu dievaluasi.
Tidak Semua Teman Lama yang Datang Saat Butuh Itu Buruk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306604/original/087188300_1784885247-attractive-asian-positive-female-happiness-conversation-smiling-laugh-cheeful-talking-with-friend-cafe-restaurant-with-natural-light-from-window-casual-lifestyle-concept.jpg)
Sebelum buru-buru memblokir nomor teman lama, ada sisi lain yang perlu kamu pertimbangkan. Banyak orang sebenarnya ingin menyapa teman lamanya, tetapi merasa canggung karena sudah terlalu lama putus kontak. Akhirnya, momen "butuh bantuan" justru menjadi alasan yang terasa paling masuk akal untuk memulai kembali percakapan. Dalam kasus seperti ini, permintaan tolong bisa menjadi tanda bahwa ia masih mempercayaimu.
Penelitian menunjukkan bahwa kecanggungan ini sering kali tidak beralasan. Berdasarkan laporan riset yang dipublikasikan American Psychological Association melalui Phys/org, orang secara konsisten meremehkan seberapa besar orang lain di lingkaran sosialnya menghargai telepon, pesan, atau email tak terduga yang sekadar menyapa, dan semakin mengejutkan kontak itu, semakin besar apresiasinya. Artinya, rasa sungkan yang membuat seseorang hanya berani menghubungi saat ada perlu sebenarnya bisa diatasi.Â
Peggy Liu, peneliti utama studi tersebut dari University of Pittsburgh, dikutip dari CNN menyatakan, "Jika ada seseorang yang ragu kamu hubungi, mungkin karena sudah lama hilang kontak, hubungi saja, dan kemungkinan besar ia akan menghargainya jauh lebih dari yang kamu kira."
Dalam praktiknya, kuncinya ada pada pola, bukan pada satu kejadian. Teman lama yang sekali menghubungi untuk minta bantuan, lalu tetap menjaga komunikasi, menanyakan kabarmu, atau membalas kebaikanmu di kemudian hari, berbeda dengan orang yang selalu menghilang setelah keinginannya terpenuhi. Jadi, beri ruang untuk berprasangka baik, tetapi tetap waspada jika polanya terus berulang.
Advertisement
Cara Membedakan Teman Tulus dan Teman yang Datang Saat Butuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243883/original/075279200_1749116563-beautiful-adult-women-laughing-while-having-coffee.jpg)
Membedakan keduanya tidak harus lewat drama atau konfrontasi. Kamu cukup melakukan refleksi sederhana dengan beberapa pertanyaan kunci tentang hubungan kalian.
Sebagaimana dikutip dari Find My Therapist, dalam pertemanan satu arah, timbal balik sering kali tidak ada, sebuah pola yang kadang disebut friendship non-reciprocity, di mana kamu selalu jadi pihak yang memulai rencana, menjadi tempat bersandar, atau harus selalu siap saat temanmu butuh sesuatu, sementara kamu hampir tidak menerima apa pun sebagai balasannya.
- Siapa yang biasanya menghubungi lebih dulu? Jika kontak dari dia hampir selalu berisi permintaan, sementara sapaan santai selalu datang darimu, ada ketimpangan usaha di sana.
- Apakah ia pernah menyapa tanpa alasan? Teman yang tulus sesekali mengirim pesan hanya untuk bertanya kabar, berbagi lelucon, atau mengingat kenangan lama.
- Siapa yang lebih banyak bercerita dan siapa yang mendengarkan? Obrolan yang sehat terasa bergantian, bukan monolog satu pihak.
- Apakah ia membalas bantuanmu? Tidak harus dalam bentuk yang sama, tetapi ada usaha untuk hadir saat kamu kesulitan.
- Bagaimana reaksinya saat kamu menolak? Teman tulus akan memahami, sedangkan teman transaksional cenderung kecewa berlebihan atau menjauh.
- Apakah ia tertarik dengan hidupmu? Perhatikan apakah ia ingat cerita yang kamu bagikan atau menanyakan perkembangannya di kemudian hari.
- Bagaimana perasaanmu setelah berinteraksi? Hubungan yang sehat membuatmu merasa didukung, bukan terkuras.
Tips singkat: jangan jadikan daftar ini sebagai alat menghakimi. Gunakan sebagai cermin untuk menentukan seberapa banyak waktu dan energi yang ingin kamu berikan pada hubungan tersebut.
Cara Menyikapi Teman Lama yang Datang Hanya Saat Butuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4936366/original/066612700_1725438341-pexels-charlotte-may-5966011.jpg)
Setelah mengenali polanya, langkah berikutnya adalah menentukan sikap. Kamu tidak harus memutus hubungan, tetapi kamu juga tidak wajib terus-menerus berkorban. Berikut langkah praktis yang bisa kamu terapkan.Â
Merujuk A Conscious Rethink, untuk mendapat gambaran yang lebih jelas, kamu bisa membuat catatan pribadi sederhana selama beberapa minggu, berisi siapa yang memulai kontak, topik obrolan, dan bagaimana perasaanmu sesudahnya, apakah bersemangat, biasa saja, atau terkuras.
- Pastikan polanya, bukan kesan sesaat. Catat beberapa interaksi terakhir. Jika memang hampir semua kontak darinya berisi permintaan, kamu punya dasar yang kuat untuk bersikap.
- Cek kemampuanmu sebelum menjawab. Tanyakan pada diri sendiri apakah kamu benar-benar sanggup membantu, baik dari sisi waktu, tenaga, maupun keuangan.
- Tolak dengan jujur dan sopan bila perlu. Contohnya, "Maaf ya, aku lagi banyak kerjaan, jadi belum bisa bantu kali ini." Kalimat seperti ini tegas tanpa harus menyakiti.
- Buat aturan pribadi soal pinjam uang. Banyak orang memilih hanya meminjamkan nominal yang rela mereka ikhlaskan jika tidak kembali. Cara ini melindungi keuanganmu sekaligus hubungan kalian.
- Sampaikan harapanmu secara halus. Misalnya, "Senang bisa bantu, tapi aku juga kangen ngobrol santai sama kamu, bukan cuma pas ada urusan." Banyak orang tidak sadar telah menciptakan hubungan yang timpang sampai diberi tahu.
- Atur ulang porsi energimu. Jika polanya tidak berubah, wajar untuk membatasi seberapa sering kamu merespons. Ini bukan bentuk jahat, melainkan cara menjaga kesehatan emosionalmu.
- Fokus pada teman yang timbal balik. Investasikan waktu lebih banyak pada orang yang juga hadir untukmu, baik saat senang maupun susah.
Jika ingin memperdalam, kamu juga bisa membaca ulasan tentang tanda teman hanya memanfaatkan untuk melihat contoh pola lain yang serupa.
Advertisement
Tips Menghubungi Teman Lama Tanpa Dicap Datang Saat Butuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4943301/original/089957100_1726156937-christina-wocintechchat-com-eF7HN40WbAQ-unsplash.jpg)
Ada sisi refleksi yang sering terlupa: jangan-jangan kita sendiri pernah menjadi orang yang hanya menghubungi teman lama saat ada perlu. Hal ini wajar terjadi karena kesibukan, tetapi bisa diperbaiki dengan kebiasaan kecil.
Andrea Bonior, psikolog klinis dan penulis buku The Friendship Fix, dikutip dari Time menyatakan, "Kita umumnya punya bias untuk mementingkan diri sendiri. Kita memberi diri sendiri pembenaran lebih dari yang seharusnya.
- Sapa dulu tanpa agenda. Kirim pesan sekadar menanyakan kabar beberapa waktu sebelum kamu benar-benar butuh sesuatu. Peggy Liu, dikutip dari Medical Xpress menyatakan, "Mengirim pesan untuk bilang, 'Aku baru saja memikirkanmu. Apa kabar?' itu tidak mahal."
- Jujur sejak awal jika memang butuh bantuan. Lebih baik terus terang daripada berpura-pura akrab lalu tiba-tiba meminta tolong. Kejujuran justru terasa lebih menghargai lawan bicara.
- Dengarkan ceritanya juga. Beri ruang bagi temanmu untuk berbagi kabar, dan tunjukkan bahwa kamu tertarik dengan hidupnya, bukan hanya dengan apa yang bisa ia bantu.
- Coba telepon, bukan hanya chat. Panggilan telepon cenderung menyampaikan emosi secara lebih alami dan membuat obrolan terasa tidak kaku.
- Tindak lanjuti setelah dibantu. Kabari hasil dari bantuan yang ia berikan, ucapkan terima kasih dengan tulus, dan tetap jaga komunikasi setelahnya.
- Tawarkan bantuan balik. Tanyakan apakah ada hal yang bisa kamu bantu untuknya. Hubungan yang seimbang selalu dibangun dari dua arah.
- Jadwalkan pertemuan yang jelas. Hindari kata "kapan-kapan". Tentukan hari dan waktu yang spesifik, meskipun pertemuannya singkat.
Manfaat utama memahami pola ini bagi kamu adalah dua hal sekaligus: kamu bisa melindungi diri dari hubungan yang menguras energi, dan kamu juga bisa menjadi teman yang lebih baik bagi orang lain. Pada akhirnya, pertemanan yang sehat bukan soal seberapa sering kalian berkirim pesan, melainkan apakah kalian sama-sama hadir dan saling peduli.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381099/original/021116000_1792753524-cek_fakta_suahasil_-_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2214828/original/012272500_1526406975-pemadan_karhutla_sinar_mas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376579/original/071076900_1792381433-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4944644/original/094588400_1726376541-pexels-cottonbro-3205741.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5149617/original/041348000_1740994603-Main_media_sosial.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294709/original/046526200_1783853467-1200.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368715/original/004545200_1791445560-pexels-marcial-comeron-177639337-11952304.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5179477/original/089123000_1743576769-expressive-pretty-woman-posing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378558/original/029850300_1792551322-5905.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4506775/original/014495500_1689690928-annie-spratt-Pp2XOLkS5Jg-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370255/original/023309700_1791603178-pexels-elevate-1267244.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3146748/original/094343500_1591605583-young-woman-thinking-with-pen-while-working-studying-at-her-6384.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4548190/original/088430200_1692759493-pexels-liza-summer-6383168_1_.jpg)