8 Ciri Orang yang Tidak Suka Menunda Pekerjaan Menurut Psikologi

Ciri orang yang tidak suka menunda pekerjaan menurut psikologi berkaitan dengan kemampuan mengelola emosi.

Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu dapat mencerminkan kedisiplinan, tanggung jawab dan kemampuan mengatur diri. Dalam kehidupan sehari-hari, ciri orang yang tidak suka menunda pekerjaan menurut psikologi menarik untuk dipahami, terutama bagi siapa pun yang ingin membangun rutinitas produktif dan mengelola waktu secara lebih efektif.

Sebagian orang terbiasa langsung bertindak setelah menerima tugas, sedangkan sebagian lainnya cenderung menunggu hingga tenggat semakin dekat. Ciri orang yang tidak suka menunda pekerjaan menurut psikologi bisa terlihat dari caranya menentukan prioritas, menjaga fokus dan menghadapi tugas sulit, tanpa selalu bergantung pada suasana hati.

Orang produktif bukan berarti selalu bersemangat atau tidak pernah merasa lelah. Mereka cenderung mampu memulai pekerjaan meski motivasi sedang menurun, lalu membagi tugas besar menjadi langkah lebih sederhana. Melalui pemahaman tentang ciri orang yang tidak suka menunda pekerjaan menurut psikologi, kebiasaan positif bisa dikembangkan secara bertahap sesuai kebutuhan pribadi.

Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Sabtu (24/10/2026).

1. Mampu Mengatur Diri dengan Baik

Salah satu ciri orang yang tidak suka menunda pekerjaan adalah memiliki kemampuan mengatur diri atau self-regulation yang baik. Kemampuan ini membantu seseorang mengendalikan perilaku, mengelola perhatian, dan menyesuaikan tindakan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Orang dengan pengaturan diri yang baik biasanya mampu membedakan kegiatan yang perlu dilakukan sekarang dan aktivitas yang bisa ditunda. Ketika muncul keinginan untuk bermain media sosial saat bekerja, misalnya, mereka berusaha tetap fokus pada tugas yang menjadi prioritas.

Kemampuan ini juga membantu seseorang menghadapi rasa bosan atau tidak nyaman ketika mengerjakan pekerjaan yang sulit. Alih-alih langsung menghindarinya, mereka berusaha menemukan cara agar tugas tersebut dapat diselesaikan secara bertahap.

2. Memiliki Rasa Tanggung Jawab yang Tinggi

Orang yang jarang menunda pekerjaan umumnya memahami pentingnya memenuhi komitmen. Mereka berusaha menyelesaikan tugas sesuai tenggat karena menyadari bahwa keterlambatan dapat memengaruhi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam psikologi kepribadian, karakteristik ini berkaitan dengan conscientiousness, yaitu kecenderungan untuk bersikap teratur, bertanggung jawab, dan tekun dalam mencapai tujuan.

Contohnya, seseorang yang mendapatkan tugas kelompok tidak hanya menunggu anggota lain mulai bekerja. Ia akan berusaha menyelesaikan bagiannya sesuai kesepakatan agar pekerjaan bersama tidak terhambat.

Meski begitu, memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi bukan berarti harus mengerjakan semuanya sendiri. Meminta bantuan dan menyampaikan kendala secara terbuka juga merupakan bagian dari sikap bertanggung jawab.

3. Terbiasa Menentukan Prioritas

Tidak semua pekerjaan memiliki tingkat kepentingan yang sama. Karena itu, orang yang tidak suka menunda pekerjaan biasanya mampu menentukan tugas mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.

Mereka mempertimbangkan tenggat, tingkat kesulitan, dan dampak setiap pekerjaan sebelum menyusun urutan kegiatan. Dengan begitu, waktu dan energi dapat digunakan untuk hal yang paling membutuhkan perhatian.

Sebagai contoh, seorang karyawan mungkin memilih menyelesaikan laporan yang harus dikumpulkan hari itu sebelum membalas pesan yang tidak mendesak. Sementara itu, seorang mahasiswa dapat membagi waktu antara belajar untuk ujian dan menyelesaikan tugas kuliah berdasarkan jadwal pengumpulan.

Kebiasaan menentukan prioritas membantu mencegah pekerjaan menumpuk dan mengurangi tekanan akibat tenggat yang semakin dekat.

4. Memiliki Keyakinan terhadap Kemampuan Diri

Ciri berikutnya adalah memiliki keyakinan yang realistis terhadap kemampuan diri. Dalam psikologi, konsep ini dikenal sebagai self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang bahwa dirinya mampu melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu.

Orang dengan self-efficacy yang baik cenderung lebih berani memulai tugas meskipun pekerjaan tersebut menantang. Mereka memahami bahwa kesulitan bukan selalu pertanda ketidakmampuan, melainkan bagian dari proses belajar.

Sebaliknya, seseorang yang terus meragukan kemampuannya mungkin menunda pekerjaan karena takut gagal, khawatir hasilnya buruk, atau merasa tidak sanggup menyelesaikannya.

Keyakinan diri bukan berarti menganggap semua pekerjaan mudah. Sikap ini lebih berkaitan dengan kesediaan mencoba, mencari solusi, dan memperbaiki kesalahan selama proses pengerjaan.

5. Tidak Harus Menunggu Motivasi untuk Memulai

Motivasi dapat berubah sesuai suasana hati, kondisi fisik, dan lingkungan. Oleh karena itu, orang yang jarang menunda pekerjaan tidak selalu menunggu sampai merasa bersemangat untuk mulai bertindak.

Mereka memahami bahwa tindakan kecil dapat membantu membangun momentum. Ketika harus menulis laporan, misalnya, mereka bisa mulai dengan membuka dokumen, mengumpulkan bahan, atau membuat kerangka sederhana.

Setelah pekerjaan dimulai, tugas yang semula terasa berat terkadang menjadi lebih mudah dipahami. Kemajuan kecil juga dapat menumbuhkan motivasi untuk melanjutkan pekerjaan.

Kebiasaan ini menunjukkan bahwa produktivitas tidak hanya bergantung pada semangat, tetapi juga pada kemampuan membangun rutinitas dan mengambil langkah konkret.

6. Mampu Menghadapi Pekerjaan yang Sulit atau Membosankan

Pekerjaan yang rumit, monoton, atau kurang menarik sering membuat seseorang ingin menundanya. Namun, orang yang mampu mengelola kebiasaan menunda biasanya berusaha menghadapi ketidaknyamanan tersebut tanpa langsung menghindar.

Mereka dapat membagi tugas menjadi beberapa bagian, mencari informasi yang dibutuhkan, atau meminta bantuan ketika menemui kesulitan. Jika pekerjaan terasa membosankan, mereka mungkin menggunakan jeda istirahat singkat agar tetap mampu mempertahankan fokus.

Kemampuan menghadapi tugas yang tidak menyenangkan membantu seseorang menyelesaikan tanggung jawab meskipun pekerjaannya tidak selalu sesuai dengan minat pribadi.

7. Tidak Terjebak dalam Perfeksionisme

Ingin menghasilkan pekerjaan terbaik merupakan hal yang wajar. Namun, keinginan agar semuanya sempurna justru dapat menjadi penghambat apabila membuat seseorang takut memulai atau terus memperbaiki hal-hal kecil.

Dalam konteks prokrastinasi, seseorang mungkin merasa perlu melakukan riset lebih lama, mematangkan ide, atau menunggu waktu yang dianggap paling tepat sebelum mulai bekerja. Akibatnya, waktu untuk menyelesaikan tugas semakin sedikit.

Orang yang jarang menunda memahami bahwa pekerjaan dapat diperbaiki selama proses pengerjaan. Mereka berani membuat draf awal, menerima masukan, dan melakukan revisi sesuai kebutuhan.

Dengan demikian, mereka tetap menjaga kualitas pekerjaan tanpa membiarkan tuntutan kesempurnaan menghambat penyelesaian tugas.

8. Mampu Mengelola Waktu dan Membuat Rencana yang Realistis

Pengelolaan waktu merupakan salah satu keterampilan penting untuk mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan. Orang yang terbiasa menyelesaikan tugas tepat waktu umumnya memiliki gambaran mengenai pekerjaan yang harus dilakukan dan waktu yang dibutuhkan.

Mereka dapat membuat jadwal harian, menentukan target, serta menyediakan waktu untuk memeriksa hasil pekerjaan. Target yang dibuat juga cenderung mempertimbangkan tingkat kesulitan dan jumlah tugas yang tersedia.

Sebagai contoh, pekerjaan besar dapat dibagi menjadi beberapa tahap, mulai dari mengumpulkan bahan, menyusun kerangka, mengerjakan isi, hingga melakukan pemeriksaan akhir.

 

Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Tidak Suka Menunda Pekerjaan Menurut Psikologi

Apa ciri utama orang yang tidak suka menunda pekerjaan?

Ciri utamanya meliputi disiplin, bertanggung jawab, mampu menentukan prioritas, dan terbiasa memulai tugas tanpa menunggu motivasi muncul.

Apa istilah psikologi untuk kebiasaan menunda pekerjaan?

Istilahnya adalah prokrastinasi, yaitu kecenderungan menunda tugas meskipun seseorang menyadari potensi dampak negatifnya.

Apakah orang disiplin selalu produktif?

Tidak selalu. Orang disiplin tetap membutuhkan istirahat dan dapat mengalami kelelahan. Produktivitas juga dipengaruhi kondisi fisik, lingkungan, dan beban kerja.

Mengapa seseorang bisa terbiasa menyelesaikan tugas lebih awal?

Kebiasaan tersebut dapat berkaitan dengan pengaturan diri, perencanaan waktu, rasa tanggung jawab, dan kemampuan mengelola gangguan.