Liputan6.com, Jakarta - Pengalaman buruk pada masa kanak-kanak, seperti pengabaian emosional, kekerasan verbal, dan pola asuh yang kaku, dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang hingga dewasa. Dalam psikologi, kondisi ini kerap dikaitkan dengan konsep inner child, yakni bagian diri yang masih membawa pengalaman dan emosi dari masa kecil.
Elly Novie Astuti dalam studi Trauma Masa Kecil dan Peran Inner Child dalam Pembentukan Identitas Diri(Maliki Interdisciplinary Journal), menjelaskan bahwa trauma masa kecil yang tidak terselesaikan dapat membentuk pola pikir negatif, menurunkan harga diri, dan menghambat perkembangan identitas diri.
Nusaiba Nisa’ul Karim dalam jurnal Memahami Inner Child dalam Mengatasi Luka Masa Kecil, menyebut luka inner child dapat terbawa hingga seseorang menjadi orang tua dan berpotensi memengaruhi kesehatan mentalnya.
Advertisement
Dalam Islam, kasih sayang menjadi salah satu prinsip penting dalam pengasuhan. Rasulullah SAW bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak-anak di antara kami dan tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami” (HR Tirmidzi). Pesan tersebut menegaskan pentingnya kasih sayang dalam hubungan antarmanusia, termasuk dalam pengasuhan anak.
Upaya berdamai dengan inner child bukan berarti menyalahkan masa lalu atau membenarkan perlakuan buruk yang pernah dialami. Dalam perspektif Islam, proses tersebut dapat dikaitkan dengan ridha atau menerima kenyataan tanpa berhenti berikhtiar, serta tazkiyatun nafs, yakni upaya membersihkan dan memperbaiki jiwa.
Memulihkan luka masa kecil bukan sekadar berdamai dengan kenangan, melainkan juga membangun rasa aman, menghargai diri sendiri, dan memutus pola pengasuhan yang berpotensi melukai generasi berikutnya.
Cara Berdamai dengan Inner Child Lewat Kasih Sayang dan Ridha
1. Mengenali Luka, Bukan Melarikan Diri Darinya
Langkah pertama berdamai dengan inner child adalah mengakui bahwa luka itu ada. Banyak orang dewasa yang mengabaikan perasaan mereka sebagai mekanisme pertahanan, padahal pengabaian justru memperdalam luka.
Dalam Islam, pengenalan diri adalah pintu menuju perbaikan, ‘Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu’, yang artinya siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.
Mengenali luka berarti berani melihat bahwa rasa takut berlebihan, kecenderungan people-pleasing, atau kemarahan yang sulit dikendalikan bukanlah kepribadian yang final, melainkan gema dari pengalaman lama yang belum didengar.
2. Menghadirkan Kasih Sayang yang Dahulu Absen
Inti dari penyembuhan inner child adalah reparenting: menjadi orang tua yang nurturing bagi diri sendiri. Lucia Capacchione, psikolog yang mengembangkan metode ini pada 1970-an, menjelaskan bahwa reparenting memberi individu kesempatan untuk memberikan cinta, perlindungan, dan validasi yang mungkin tidak ia terima di masa kecil.
Dalam praktiknya, ini bisa dilakukan dengan berbicara kepada diri sendiri menggunakan nada yang lembut, menulis surat kepada “anak kecil” di dalam diri, atau memberikan ruang untuk hal-hal yang menyenangkan tanpa rasa bersalah.
Islam memperkuat prinsip ini melalui hadis tentang kasih sayang sebagai dasar pengasuhan. Jika Rasulullah SAW menegaskan bahwa kasih sayang kepada anak kecil adalah bagian dari identitas keagamaan, maka memberikan kasih sayang kepada inner child, bagian dari diri yang pernah menjadi anak kecil, bukanlah tindakan narsistik, melainkan bentuk kejujuran bahwa luka tidak bisa disembuhkan dengan kekerasan terhadap diri sendiri.
Kristin Neff, pakar self-compassion, menunjukkan bahwa bersikap baik kepada diri sendiri justru menurunkan kecemasan, stres, dan depresi. Self-compassion bukanlah memanjakan diri, tetapi kemampuan untuk berkata: “Apa yang terjadi padamu dulu memang berat; sekarang aku ada di sini untuk menemanimu.” Inilah kasih sayang yang menyembuhkan, bukan yang memanjakan.
3. Ridha: Menerima Masa Lalu sebagai Bagian Dari Takdir, Tanpa Berhenti Berikhtiar
Kasih sayang kepada diri akan lebih utuh jika disertai ridha. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mendefinisikan ridha sebagai sikap senang terhadap takdir Allah, baik yang disukai maupun yang dibenci, dan tidak menghadapinya dengan kemarahan atau penolakan.
Definisi ini penting untuk dipahami secara tepat: ridha bukan berarti membenarkan kekerasan atau pengabaian yang menimpa seorang anak. Ridha adalah penerimaan bahwa peristiwa itu telah terjadi dalam pengetahuan Allah, dan bahwa diri tidak harus terus-menerus memberontak terhadap kenyataan yang tidak bisa diubah.
Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa ridha adalah perpaduan antara mahabbah (cinta) dan sabar—menerima dengan lapang dada segala sesuatu yang datang dari Allah, termasuk hal-hal yang tidak menyenangkan.
Dengan kata lain, ridha bukan kepasifan, melainkan kematangan emosional: seseorang berhenti menuntut masa lalu untuk berbeda, lalu mengarahkan energinya pada pemulihan dan pertumbuhan.
Al-Qur’an mengarahkan sikap ini secara jelas. Dalam Surah At-Taubah ayat 59, Allah memuji orang-orang yang berkata, “Cukuplah Allah bagi kami,” dan menerima apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Sementara itu, Surah Al-Qamar ayat 49 menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran dan takdir yang telah ditetapkan.
Bagi seseorang yang membawa luka pengasuhan, ayat-ayat ini bukan ajakan untuk melupakan rasa sakit, tetapi untuk meletakkan rasa sakit itu dalam bingkai yang lebih besar: bahwa tidak ada peristiwa yang luput dari hikmah, dan bahwa penyembuhan adalah bagian dari ikhtiar yang tetap harus dijalankan.
Ridha juga memiliki dimensi psikologis yang kuat. Studi tentang ridha, tawakkal, dan sabar dalam perspektif Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menunjukkan bahwa ridha berfungsi sebagai restrukturisasi kognitif yang menumbuhkan penerimaan positif dan stabilitas emosional. Dengan kata lain, ridha bukan sekadar doktrin teologis, tetapi mekanisme regulasi emosi yang membuat seseorang mampu berkata: “Ini adalah bagian dari takdir yang harus kuhadapi; aku tidak akan membiarkan luka ini menguasai seluruh hidupku.”
4. Memadukan Kasih Sayang dan Ridha dalam Praktik Sehari-hari
Penyembuhan inner child tidak terjadi sekali duduk. Ia adalah proses yang menuntut konsistensi. Beberapa praktik yang memadukan kasih sayang dan ridha antara lain:
• Menulis jurnal dialog dengan diri kecil. Tuliskan apa yang dirasakan anak kecil di dalam diri, lalu jawab dengan kalimat-kalimat kasih sayang yang tidak ia terima dulu. Praktik ini sejalan dengan temuan bahwa terapi menulis pengalaman emosional efektif menurunkan gejala stres pascatrauma.
• Mengganti kritik batin dengan doa dan afirmasi. Ketika muncul suara “aku tidak cukup baik”, gantilah dengan doa yang menenangkan, misalnya: “Ya Allah, aku menerima diriku sebagai makhluk-Mu yang sedang berproses; karuniakanlah kepadaku hati yang ridha dan jiwa yang tenang.”
• Melakukan self-talk yang menyatukan kasih sayang dan ridha. Misalnya: “Aku menyayangi diriku yang dulu; aku menerima bahwa masa itu tidak bisa diubah; dan aku memilih untuk merawat diriku sekarang.” Kalimat ini menggabungkan compassion dan acceptance dalam satu tarikan napas.
• Memberikan pengalaman baru yang aman dan menyenangkan. Inner child perlu bukti bahwa dunia bisa berbeda. Melakukan aktivitas yang menggembirakan, menetapkan batasan yang sehat, dan membangun relasi yang suportif adalah bentuk nyata dari kasih sayang yang selama ini absen.
Dengan cara ini, kasih sayang dan ridha tidak berjalan sendiri-sendiri. Kasih sayang tanpa ridha bisa membuat seseorang terjebak dalam self-pity; ridha tanpa kasih sayang bisa membuat seseorang menjadi dingin terhadap lukanya sendiri. Keduanya harus berjalan bersama: menerima masa lalu dengan lapang, sambil merawat diri dengan penuh kelembutan.
Pertanyaan Seputar Inner Child
1. Apa itu inner child dalam perspektif Islam?
Inner child adalah bagian dari diri yang menyimpan pengalaman, emosi, dan luka masa kecil. Dalam Islam, merawat inner child sejalan dengan prinsip tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan muhasabah (introspeksi), karena keduanya menuntut kejujuran terhadap kondisi batin dan upaya memperbaikinya.
2. Apakah ridha berarti menerima kekerasan atau pengabaian yang pernah dialami?
Tidak. Ridha bukan pembenaran atas kezaliman. Ridha adalah penerimaan bahwa peristiwa itu telah terjadi dalam takdir Allah, sementara secara moral kekerasan dan pengabaian tetap salah. Ridha justru membebaskan seseorang dari energi perlawanan terhadap masa lalu yang tidak bisa diubah, sehingga ia dapat fokus pada pemulihan dan pencegahan luka yang sama pada generasi berikutnya.
3. Bagaimana cara memulai penyembuhan inner child jika saya tidak mampu mengakses terapi profesional?
Mulailah dengan langkah-langkah sederhana: menulis jurnal dialog dengan diri kecil, berbicara kepada diri sendiri dengan nada yang lembut, dan memberi ruang untuk aktivitas yang menyenangkan. Praktik self-compassion dan reparenting dapat dilakukan secara mandiri, meskipun dukungan sosial dan bantuan profesional tetap dianjurkan jika luka terasa sangat berat.
4. Apakah self-compassion bertentangan dengan sikap tawakal dan ridha?
Tidak. Self-compassion adalah bentuk kasih sayang kepada diri yang diciptakan Allah, sedangkan ridha adalah penerimaan terhadap takdir-Nya. Keduanya saling menguatkan: orang yang menyayangi dirinya akan lebih mudah menerima kenyataan dengan lapang, dan orang yang ridha akan lebih mampu merawat dirinya tanpa rasa bersalah.
5. Berapa lama proses penyembuhan inner child?
Tidak ada durasi yang pasti. Penyembuhan inner child adalah proses berkelanjutan yang bergantung pada kedalaman luka, dukungan lingkungan, dan konsistensi praktik. Yang terpenting bukan cepatnya selesai, melainkan arah yang benar: dari pengabaian diri menuju kasih sayang, dan dari pemberontakan terhadap masa lalu menuju ridha yang menguatkan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381099/original/021116000_1792753524-cek_fakta_suahasil_-_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2214828/original/012272500_1526406975-pemadan_karhutla_sinar_mas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376579/original/071076900_1792381433-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441352/original/085354000_1765504848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-12T084357.150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4506775/original/014495500_1689690928-annie-spratt-Pp2XOLkS5Jg-unsplash.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381736/original/080935200_1792881978-berita_pasarkan-vila-pakai-visa-kunjungan-wn-ceko-dideportasi-dari-bali.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381735/original/072591100_1792881294-IMG-20261024-WA0043.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381699/original/003638800_1792850940-IMG-20261024-WA0145.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381623/original/085941700_1792840725-IMG-20261024-WA0079.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381600/original/017946500_1792836217-1307080.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381585/original/014021300_1792834626-Screenshot_20261024_110650_Instagram_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381560/original/085516100_1792830180-506228.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381532/original/028252500_1792827045-506190.jpg)