10 Kesalahan Mendidik Anak yang Sering Dianggap sebagai Bentuk Disiplin, Orang Tua Perlu Tahu

Kenali 10 kesalahan mendidik anak yang sering dianggap sebagai bentuk disiplin, mulai dari membentak hingga memberi hukuman berlebihan, serta cara mendidik anak

Diterbitkan 24 Oktober 2026, 10:41 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mendidik anak agar disiplin merupakan bagian penting dari pengasuhan. Namun, kesalahan mendidik anak yang sering dianggap sebagai bentuk disiplin masih kerap terjadi, mulai dari membentak ketika anak melakukan kesalahan hingga memberikan hukuman berlebihan agar mereka jera. Cara tersebut mungkin membuat anak segera menuruti perintah, tetapi belum tentu membantu mereka memahami alasan di balik aturan yang berlaku.

Disiplin sejatinya bukan sekadar membuat anak patuh kepada orang tua. Proses ini juga bertujuan mengajarkan tanggung jawab, pengendalian diri, serta kemampuan memahami konsekuensi dari setiap tindakan. Anak perlu mengetahui perilaku yang tepat sekaligus mendapatkan kesempatan untuk belajar dari kesalahan tanpa merasa direndahkan.

Karena itu, orang tua perlu membedakan ketegasan dengan tindakan yang justru menghambat perkembangan anak. Pendekatan disiplin yang positif dapat membantu membangun hubungan yang sehat antara orang tua dan anak, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk berperilaku baik meski tidak sedang diawasi. Berikut ulasan Liputan6.com, Sabtu (24/10/2026).

1. Menganggap Hukuman Fisik sebagai Cara Mendidik yang Efektif

Sebagian orang tua masih menganggap memukul, mencubit, atau menjewer anak sebagai cara mendisiplinkan mereka. Tindakan tersebut terkadang dianggap wajar karena orang tua ingin anak segera berhenti melakukan perilaku yang tidak diinginkan.

Padahal, hukuman fisik tidak mengajarkan anak cara menyelesaikan masalah atau mengendalikan emosi dengan baik. Anak mungkin berhenti melakukan sesuatu karena takut disakiti, bukan karena memahami mengapa perilakunya keliru.

Artikel kesehatan dari Children's Hospital of Philadelphia (CHOP) menjelaskan bahwa disiplin fisik dapat merusak hubungan orang tua dan anak, meningkatkan risiko perilaku agresif, serta berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan mental. Anak juga dapat meniru perilaku agresif yang dilihatnya dari orang dewasa.

Sebagai alternatif, orang tua dapat memberikan konsekuensi yang berkaitan langsung dengan perilaku anak. Jika anak melempar mainan hingga membahayakan orang lain, misalnya, mainan tersebut dapat disimpan sementara. Orang tua kemudian menjelaskan alasan tindakan tersebut dan menunjukkan cara bermain yang aman.

2. Membentak Anak agar Segera Menuruti Perintah

Meninggikan suara sering dianggap sebagai tanda ketegasan. Ketika anak tidak segera merapikan mainan atau menolak mandi, orang tua mungkin merasa perlu membentak agar perintahnya dipatuhi.

Namun, bentakan yang berulang dapat membuat anak lebih berfokus pada kemarahan orang tua daripada pesan yang ingin disampaikan. Anak bisa merasa takut, marah, atau memilih diam tanpa benar-benar memahami kesalahannya.

Dalam artikel Parents mengenai kesalahan disiplin, para ahli menekankan pentingnya menyampaikan teguran dengan tenang. Anak akan lebih mudah menerima penjelasan ketika tidak sedang menghadapi luapan emosi dari orang tua.

Jika merasa kesal, orang tua sebaiknya mengambil jeda sejenak sebelum berbicara. Setelah lebih tenang, sampaikan aturan secara tegas dan jelas. Contohnya, daripada berteriak, "Kamu selalu membuat rumah berantakan!", orang tua dapat mengatakan, "Mainan perlu dimasukkan ke kotak sebelum kamu mengambil permainan berikutnya."

Cara ini tetap menunjukkan batasan tanpa menyerang harga diri anak.

3. Mempermalukan Anak di Depan Orang Lain

Menegur anak di depan keluarga besar, teman, atau orang asing terkadang dilakukan agar anak merasa malu dan tidak mengulangi kesalahannya. Sebagian orang tua bahkan membandingkan perilaku anak dengan anak lain untuk menimbulkan rasa bersalah.

Padahal, mempermalukan anak dapat membuat mereka lebih sibuk memikirkan penilaian orang lain daripada memahami perilakunya. Anak juga bisa merasa tidak dihargai, terutama jika teguran disampaikan dengan ejekan atau kata-kata yang merendahkan.

Menurut panduan disiplin dari Parents, teguran sebaiknya dibicarakan secara pribadi jika situasinya memungkinkan. Pengecualian berlaku ketika anak melakukan tindakan berbahaya yang harus segera dihentikan, seperti berlari ke jalan atau memukul temannya.

Orang tua dapat menghentikan perilaku tersebut terlebih dahulu, kemudian membicarakannya di tempat yang lebih tenang. Hindari pula membandingkan anak dengan saudara kandungnya. Fokuskan pembicaraan pada tindakan yang perlu diperbaiki, bukan pada anggapan bahwa anak lebih buruk daripada orang lain.

4. Menuntut Anak Selalu Patuh Tanpa Memberikan Penjelasan

Kepatuhan sering dijadikan ukuran keberhasilan pengasuhan. Anak yang tidak membantah dianggap sopan, sedangkan anak yang bertanya atau menyampaikan keberatan dinilai tidak menghormati orang tua.

Padahal, anak juga perlu belajar berpikir kritis, memahami alasan sebuah aturan, dan menyampaikan pendapat dengan cara yang tepat. Jika setiap perintah harus dipatuhi tanpa penjelasan, anak mungkin terbiasa mengikuti instruksi tanpa memahami tanggung jawab di baliknya.

The New Age Parents dalam artikel tentang kesalahan umum disiplin pengasuhan mengingatkan bahwa penekanan berlebihan pada kepatuhan dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar mengambil keputusan sendiri.

Orang tua tetap perlu menetapkan batasan, terutama yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan. Namun, aturan dapat dijelaskan sesuai usia anak.

Misalnya, anak yang diminta tidur lebih awal dapat diberi penjelasan bahwa tubuh membutuhkan istirahat agar mereka lebih segar saat beraktivitas keesokan hari. Ketika anak mulai lebih besar, orang tua juga bisa mengajaknya mendiskusikan jadwal belajar, waktu bermain, dan penggunaan gawai.

Dengan demikian, anak belajar bahwa aturan bukan sekadar perintah sepihak, melainkan memiliki tujuan yang masuk akal.

5. Memberikan Hukuman Berlebihan karena Terbawa Emosi

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua mungkin langsung memberikan hukuman berat, seperti melarang bermain selama sebulan atau mencabut semua hak istimewanya. Hukuman tersebut sering muncul ketika orang tua sedang marah dan ingin menunjukkan bahwa perilaku anak tidak dapat ditoleransi.

Masalahnya, hukuman yang tidak sebanding dengan kesalahan dapat membuat anak merasa diperlakukan tidak adil. Hukuman yang terlalu berat juga sulit diterapkan secara konsisten sehingga orang tua berisiko mengingkari keputusan sendiri.

Parents menjelaskan bahwa konsekuensi disiplin seharusnya disesuaikan dengan perilaku anak, bukan dengan tingkat frustrasi orang tua.

Jika anak tidak merapikan mainan setelah diminta, misalnya, orang tua dapat meminta mereka menyelesaikannya sebelum mengambil mainan lain. Apabila anak merusak barang milik saudaranya, mereka bisa diajak membantu memperbaiki atau mengganti barang tersebut sesuai kemampuannya.

Konsekuensi yang masuk akal membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya. Sebelum memberikan hukuman, orang tua sebaiknya mempertimbangkan usia anak, tingkat kesalahan, serta kemampuan mereka memahami situasi.

6. Menggunakan Ancaman dan Label Negatif

Ucapan seperti "Kamu nakal sekali", "Kamu malas", atau "Kamu memang tidak bisa diatur" mungkin terlontar ketika orang tua kehilangan kesabaran. Ancaman seperti "Kalau tidak menurut, Ibu tidak sayang lagi" juga terkadang digunakan untuk membuat anak segera patuh.

Padahal, ada perbedaan antara mengoreksi perilaku dan memberikan cap negatif kepada anak. Ketika anak terus-menerus disebut malas atau nakal, mereka dapat merasa bahwa sifat tersebut merupakan bagian tetap dari dirinya.

Artikel Susan Heitler di Psychology Today mengingatkan bahwa label negatif yang disampaikan berulang kali dapat memengaruhi cara anak memandang diri sendiri. Sementara itu, panduan CHOP menyoroti risiko penggunaan bahasa yang merendahkan, mengancam, atau mempermalukan dalam pengasuhan.

Orang tua sebaiknya menjelaskan perilaku yang perlu diperbaiki secara spesifik. Alih-alih berkata, "Kamu anak yang tidak bertanggung jawab," cobalah mengatakan, "Kamu belum menyimpan buku setelah belajar. Sekarang, mari kita letakkan kembali di rak."

Pilihlah kata-kata yang menunjukkan bahwa kesalahan bisa diperbaiki. Anak tetap perlu bertanggung jawab atas tindakannya, tetapi tidak harus merasa dirinya buruk karena melakukan kesalahan.

7. Menuntut Anak Memahami Logika Orang Dewasa

Orang tua terkadang berharap anak dapat langsung memahami alasan di balik larangan atau mampu mengendalikan emosi seperti orang dewasa. Ketika anak menangis karena keinginannya tidak terpenuhi, mereka bisa dianggap manja atau sengaja mencari perhatian.

Padahal, kemampuan mengelola emosi, mempertimbangkan konsekuensi, dan mengendalikan dorongan berkembang secara bertahap. Anak yang masih kecil belum tentu mampu memahami penjelasan panjang atau menenangkan diri tanpa bantuan.

The New Age Parents menekankan pentingnya memahami tahap perkembangan anak ketika menentukan strategi disiplin. Harapan yang tidak sesuai usia dapat membuat orang tua memberikan teguran atau konsekuensi yang kurang tepat.

Karena itu, sesuaikan pendekatan dengan kemampuan anak. Untuk balita yang merebut mainan, orang tua dapat menghentikan tindakan tersebut dan mengatakan, "Kita bergantian bermain. Sekarang giliran kakak, setelah itu giliran kamu."

Untuk anak usia sekolah, penjelasan bisa lebih terperinci dan melibatkan diskusi mengenai aturan serta akibatnya. Anak yang lebih besar juga dapat diajak menyusun kesepakatan bersama.

Memahami tahap perkembangan bukan berarti membiarkan perilaku yang keliru. Orang tua tetap perlu memberikan batasan, tetapi cara menyampaikannya harus sesuai dengan kemampuan anak.

Sebagian orang tua berusaha melindungi anak dari kegagalan karena tidak ingin mereka kecewa. Akibatnya, orang tua mungkin selalu menyelesaikan tugas yang sulit, membereskan kekacauan yang dibuat anak, atau segera turun tangan setiap kali anak menghadapi masalah.

Niatnya memang baik, tetapi kebiasaan tersebut dapat mengurangi kesempatan anak untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab. Anak membutuhkan ruang yang aman untuk mencoba, melakukan kesalahan, kemudian memperbaikinya.

The New Age Parents menyebut kecenderungan melindungi anak secara berlebihan sebagai salah satu kesalahan dalam menerapkan disiplin. Ketika orang tua terus-menerus mengambil alih tugas anak, mereka bisa menyampaikan pesan tidak langsung bahwa anak tidak mampu menyelesaikannya sendiri.

Orang tua dapat mulai memberikan tanggung jawab sederhana sesuai usia, seperti merapikan mainan, memasukkan pakaian kotor ke keranjang, atau menyiapkan perlengkapan sekolah dengan pengawasan yang diperlukan.

Jika anak melakukan kesalahan, bantu mereka memahami apa yang terjadi dan bagaimana memperbaikinya. Misalnya, ketika anak menumpahkan air karena terburu-buru, ajak mereka membersihkannya dengan bantuan orang dewasa bila diperlukan.

Dengan begitu, anak belajar bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus selalu dihindari, melainkan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan.

9. Mengandalkan Hadiah atau Suap agar Anak Berperilaku Baik

Memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi tidak selalu keliru. Namun, orang tua perlu berhati-hati ketika menjadikan hadiah sebagai syarat bagi setiap perilaku yang seharusnya mulai dipelajari anak.

Contohnya, orang tua terus menjanjikan permen setiap kali anak berhenti menangis, merapikan mainan, atau bersikap baik kepada saudaranya. Cara ini mungkin berhasil dalam jangka pendek, tetapi anak bisa terbiasa mengharapkan imbalan sebelum bersedia melakukan sesuatu.

Parents membedakan pendekatan tersebut dari proses mengajarkan perilaku yang baik secara konsisten. Anak perlu memahami bahwa menghormati orang lain, menunggu giliran, dan menjaga barang bukan semata-mata dilakukan demi mendapatkan hadiah.

Sebagai alternatif, orang tua dapat memberikan pujian yang spesifik. Misalnya, "Kamu tadi mau bergantian bermain dengan adik. Itu sikap yang baik."

Apresiasi juga bisa berupa perhatian, pelukan, atau kesempatan melakukan kegiatan bersama. Untuk keterampilan baru, sistem penghargaan sederhana mungkin membantu, tetapi sebaiknya disertai penjelasan dan pembiasaan.

Tujuannya bukan menghilangkan semua hadiah, melainkan membantu anak mengembangkan motivasi dan pemahaman tentang perilaku yang bertanggung jawab.

10. Menerapkan Aturan secara Tidak Konsisten

Aturan yang berubah-ubah dapat membuat anak kebingungan. Hari ini mereka dimarahi karena bermain dengan ponsel saat makan, tetapi keesokan hari diperbolehkan melakukan hal yang sama karena orang tua sedang sibuk.

Inkonsistensi juga terjadi ketika satu orang tua melarang sesuatu, sedangkan orang tua lainnya membolehkan tanpa kesepakatan yang jelas. Anak akhirnya kesulitan memahami batasan yang sebenarnya berlaku.

Dalam artikel Parents, para ahli menjelaskan bahwa penerapan aturan yang tidak konsisten dapat membuat anak menganggap konsekuensi dari pelanggaran tidak selalu berlaku. Akibatnya, anak mungkin terus menguji batasan untuk melihat apakah aturan akan ditegakkan.

Untuk mengatasinya, orang tua dapat menetapkan beberapa aturan utama yang sederhana dan realistis, seperti merapikan mainan setelah bermain, tidak memukul orang lain, serta menyelesaikan tugas sekolah sebelum bermain.

Aturan tersebut perlu disampaikan dengan jelas dan diterapkan secara konsisten. Jika ada perubahan karena kondisi tertentu, jelaskan alasannya kepada anak.

Konsistensi bukan berarti orang tua tidak boleh mempertimbangkan keadaan. Anak yang sedang sakit, kelelahan, atau menghadapi situasi khusus mungkin membutuhkan penyesuaian. Namun, perubahan tersebut sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan yang jelas, bukan semata-mata karena suasana hati orang tua.

Cara Mengajarkan Disiplin Tanpa Menyakiti Anak

Menghindari kesalahan mendidik anak yang sering dianggap sebagai bentuk disiplin bukan berarti orang tua harus membebaskan anak melakukan apa saja. Anak tetap membutuhkan aturan, batasan, dan konsekuensi agar dapat belajar bertanggung jawab.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana aturan tersebut diterapkan. Berikut beberapa pendekatan yang dapat dilakukan.

  • Jadilah contoh dalam mengendalikan emosi. Anak belajar dari perilaku orang dewasa. Tunjukkan cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa membentak atau menyakiti orang lain.
  • Tetapkan aturan sesuai usia. Gunakan kalimat sederhana untuk anak kecil dan libatkan anak yang lebih besar dalam diskusi mengenai tanggung jawab.
  • Berikan konsekuensi yang logis. Hubungkan akibat dengan perilaku yang dilakukan, seperti meminta anak membereskan barang yang berantakan.
  • Dengarkan perasaan anak. Perasaan marah atau kecewa boleh muncul, tetapi anak tetap perlu belajar mengekspresikannya tanpa memukul atau merusak barang.
  • Berikan perhatian pada perilaku positif. Apresiasi usaha anak ketika mereka mencoba mengikuti aturan atau menyelesaikan masalah dengan baik.
  • Kenali kebutuhan dasar anak. Rasa lapar, kelelahan, dan kebosanan dapat memengaruhi perilaku. Pastikan kebutuhan tersebut diperhatikan sebelum memberikan teguran panjang.
  • Beri kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Ajak anak memikirkan solusi, meminta maaf jika diperlukan, atau memperbaiki kerugian yang ditimbulkan.

Pendekatan tersebut sejalan dengan panduan Children's Hospital of Philadelphia yang menekankan pentingnya ketenangan, perhatian, batasan sesuai usia, dan konsekuensi yang tepat dalam disiplin positif.

Orang tua juga tidak harus selalu sempurna. Ketika telanjur membentak atau memberikan hukuman yang tidak tepat, orang tua dapat mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Sikap tersebut justru menjadi contoh bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya.

Pada akhirnya, disiplin bukan tentang memenangkan pertengkaran atau memastikan anak selalu menuruti perintah. Disiplin merupakan proses mendampingi anak agar mampu memahami aturan, mengendalikan diri, menghargai orang lain, dan membuat keputusan yang bertanggung jawab. Ketegasan yang disertai empati membantu anak belajar tanpa harus kehilangan rasa aman dalam hubungan dengan orang tuanya.

Tanya Jawab Seputar Mengajarkan Disiplin pada Anak

1. Apa perbedaan disiplin dan hukuman pada anak?

Disiplin bertujuan mengajarkan perilaku yang tepat, tanggung jawab, dan pengendalian diri. Sementara itu, hukuman berfokus pada konsekuensi atas perilaku yang keliru. Konsekuensi dapat menjadi bagian dari disiplin jika diterapkan secara proporsional dan membantu anak memahami kesalahannya, bukan sekadar membuatnya takut.

2. Apakah memarahi anak bisa membuatnya lebih disiplin?

Teguran yang jelas dan tegas dapat membantu anak memahami batasan. Namun, bentakan dan penghinaan yang berulang tidak sama dengan disiplin yang efektif. Sebaiknya, sampaikan kesalahan secara spesifik, jelaskan aturan yang berlaku, dan berikan konsekuensi yang sesuai.

3. Bagaimana cara mendisiplinkan anak yang tidak mau mendengarkan?

Pastikan anak mendapatkan perhatian sebelum diberikan instruksi. Gunakan kalimat singkat dan jelas, sampaikan apa yang perlu dilakukan, serta berikan pilihan terbatas jika memungkinkan. Apabila anak tetap menolak, terapkan konsekuensi yang sudah disepakati secara konsisten dan sesuai usianya.

4. Apakah anak perlu diberi hukuman ketika melakukan kesalahan?

Anak tidak selalu membutuhkan hukuman. Dalam banyak situasi, penjelasan, pengalihan perilaku, bantuan untuk memperbaiki kesalahan, dan konsekuensi logis lebih bermanfaat. Pilih pendekatan berdasarkan usia, tingkat pemahaman, dan situasi yang sedang dihadapi anak.

5. Kapan orang tua perlu mengubah cara mendisiplinkan anak?

Cara mendisiplinkan anak perlu disesuaikan seiring pertumbuhan dan perkembangan mereka. Anak kecil membutuhkan instruksi sederhana dan pendampingan langsung, sedangkan anak yang lebih besar dapat dilibatkan dalam diskusi, penyusunan aturan, dan penyelesaian masalah. Jika masalah perilaku berlangsung terus-menerus atau mengganggu kehidupan sehari-hari, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog anak atau tenaga profesional yang sesuai.

 

Â