Merasa Sendirian di Tengah Keramaian, Kenali Konsep Merasa Cukup Bersama Tuhan untuk Atasi Rasa Kesepian

Uniknya, rasa kesepian ini menjangkit sejak usia muda

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 07:04 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Fenomena merasa sendirian di tengah keramaian bukan hal baru, namun semakin mendapat perhatian serius dalam diskursus kesehatan era modern. Kesepian bukan semata persoalan ada atau tidaknya orang di sekitar, melainkan persoalan batin tentang sejauh mana seseorang merasa terhubung dan merasa cukup.

Uniknya, rasa kesepian ini menjangkit sejak usia muda. Penelitian Diana Savitri Hidayati dalam jurnal Self Compassion dan Loneliness (2015) terhadap 254 siswi pondok pesantren menemukan bahwa 52,8 persen subjek tergolong memiliki tingkat kesepian yang tinggi, sementara 47,2 persen berada pada kategori rendah. Ini adalah gambaran bahwa lingkungan yang ramai tidak menjamin seseorang terbebas dari rasa sepi.

Penelitian Hidayati justru menemukan tidak ada hubungan signifikan antara self-compassion dan kesepian pada subjeknya. Temuan ini mengisyaratkan bahwa upaya mengatasi kesepian tidak cukup berhenti pada penerimaan diri, tetapi perlu melibatkan dimensi yang lebih transenden: hubungan dengan Tuhan.

Dalam tradisi Islam, kesendirian tidak selalu dipandang sebagai ancaman. Al-Qur’an menegaskan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d: 28). Allah juga berfirman, “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupinya” (QS. At-Talaq: 3).

Ayat-ayat ini meletakkan dasar bagi sebuah konsep yang dapat disebut sebagai “merasa cukup bersama Tuhan”, sebuah kondisi batin di mana seseorang tidak lagi menggantungkan rasa berharganya pada kehadiran atau pengakuan manusia, melainkan pada keyakinan bahwa dirinya senantiasa berada dalam pemeliharaan dan kedekatan Allah.

Memahami Konsep Merasa Cukup Bersama Tuhan, Qanaah

Secara konseptual, “merasa cukup bersama Tuhan” merujuk pada keadaan hati yang merasa terpenuhi, aman, dan tidak kekurangan meskipun secara sosial sedang sendirian. Konsep ini berakar pada keyakinan akan ma‘iyyah, kebersamaan Allah dengan hamba-Nya, yang tidak terikat oleh ruang dan waktu.

Allah berfirman, “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaf: 16).

Kedekatan ini bukanlah kedekatan fisik, melainkan kedekatan dalam pengawasan, perhatian, dan pemahaman terhadap keadaan batin manusia, sebagaimana dijelaskan Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah.

Konsep ini juga sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim: “Sungguh beruntung orang yang memeluk Islam, diberi rezeki yang mencukupi, dan Allah menjadikannya merasa cukup terhadap apa yang telah dianugerahkan kepadanya.”

Hadis ini menegaskan bahwa “cukup” (qana‘ah) bukanlah ukuran harta atau banyaknya teman, melainkan kondisi hati yang dipenuhi rasa syukur dan rela terhadap ketetapan Allah. Dalam konteks kesepian, qana‘ah berarti berhenti menuntut bahwa kebahagiaan harus datang dari luar diri, dan mulai menerima bahwa kehadiran Allah sudah mencukupi.

Menaklukkan Penyakit Hati dengan Munajat dan Muhasabah

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menyatakan bahwa di dalam hati manusia terdapat “penyakit-penyakit” yang tidak dapat disembuhkan kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Menurut Ibnu Qayim, ada rasa kesepian, rasa terasing, dan rasa hancur yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan kedekatan spiritual dengan Allah dalam kesendirian. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kesepian menjadi sinyal bahwa hati sedang jauh dari sumber pemenuhan sejatinya.

Ketika seseorang ‘cukup bersama Tuhan’, ruang kosong tersebut akan terisi oleh kesadaran akan hadirat Ilahi.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan bahwa introspeksi dan perenungan dalam kesendirian (khalwat dan uzlah) adalah jalan untuk mencapai kedekatan dengan Allah dan meningkatkan ketakwaan.

Lebih jauh, Al-Ghazali menegaskan bahwa seseorang yang mampu menyerap makna uzlah dengan sebenar-benarnya akan menemukan bahwa kesendirian bukanlah keterasingan.

Seorang sufi ketika ditanya mengapa ia tinggal sendirian menjawab, “Aku tidak sendirian, tetapi aku duduk di sisi Allah. Apabila aku ingin Allah berbicara kepadaku, maka kubaca Kitab-Nya, dan apabila aku ingin berbicara kepada-Nya, maka aku pun shalat.”

Inilah esensi “merasa cukup bersama Tuhan”: kesendirian yang berubah menjadi percakapan intim dengan Yang Maha Mendengar.

Menerapkan ‘Cukup Bersama Tuhan’ dalam Keseharian

Konsep ini tidak berhenti pada tataran filosofis, tetapi dapat diwujudkan melalui amalan-amalan konkret yang menghubungkan kembali hati dengan Allah.

Pertama, dzikir yang menghadirkan hati. Al-Qur’an menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Dzikir bukan sekadar gerakan lisan, melainkan upaya menghadirkan kesadaran akan kebersamaan Allah dalam setiap tarikan napas.

Dalam Tafsir Al-Mishbah, dijelaskan bahwa ketika seseorang berdzikir, ia “tidak akan pernah merasa sendirian di dunia ini” karena kebersamaan ilahi melampaui segala bentuk kehadiran manusia.

Kedua, shalat sebagai dialog. Shalat bukanlah rutinitas mekanis, melainkan momen ketika hamba “berbicara” kepada Tuhannya. Al-Ghazali menggambarkan bahwa ketika keinginan untuk berbicara kepada Allah muncul, seseorang “pun shalat.”

Menjadikan shalat sebagai ruang mencurahkan isi hati—bukan sekadar kewajiban yang dikejar waktu—dapat mengubah kesendirian menjadi keintiman.

Ketiga, membaca Al-Qur’an sebagai pesan cinta. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Al-Fawa’id menasihatkan, “Carilah kedamaian hatimu di tiga tempat: saat mendengarkan Al-Qur’an, saat menghadiri majelis ilmu, atau saat bersepi sendiri dalam ibadah.” Membaca Al-Qur’an dengan penghayatan memungkinkan seseorang mendengar “pesan-pesan” Allah secara langsung, sehingga kesepian berubah menjadi perjumpaan.

Keempat, khalwat dan uzlah yang terarah. Menyisihkan waktu secara sengaja untuk menyendiri bersama Allah—tanpa distraksi gawai dan keramaian—adalah bentuk uzlah yang dianjurkan. Uzlah justru “menguatkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah,” dan kesepian “tidak perlu ditakuti karena dapat menjadi ruang perenungan yang memperkokoh spiritualitas.”

Dalam tradisi tasawuf, khalwat bahkan dipahami sebagai keadaan hati yang “sibuk bersama Allah” meskipun secara fisik bergaul dengan manusia.

Kelima, tafakur atas ciptaan. Merenungkan alam semesta dan tanda-tanda kebesaran Allah dapat menuntun seseorang pada kesadaran akan kehadiran Sang Pencipta. Tafakur mengingatkan bahwa diri ini adalah bagian dari tatanan yang lebih besar, sehingga rasa keterasingan mencair dalam kesadaran akan keterhubungan dengan seluruh ciptaan.

 

Pertanyaan Seputar Merasa Kesepian di Tengah Keramaian 

1. Apakah “merasa cukup bersama Tuhan” berarti tidak perlu teman atau hubungan sosial?

Tidak. Konsep ini bukan penolakan terhadap hubungan sosial, melainkan penataan fondasi batin. Ketika hati sudah “cukup” bersama Tuhan, seseorang dapat menjalin hubungan dengan orang lain dari tempat yang penuh, bukan dari kekosongan atau ketergantungan. Islam tetap menganjurkan silaturahmi dan persaudaraan; “cukup bersama Tuhan” adalah sumber kekuatan agar hubungan sosial tidak menjadi satu-satunya sandaran yang membuat seseorang rapuh ketika hubungan itu goyah.

2. Apa perbedaan antara “merasa cukup bersama Tuhan” dan pasrah pada keadaan?

“Cukup bersama Tuhan” bukanlah fatalisme atau kepasrahan tanpa usaha. Ia mengandung tawakal—yakni meyakini bahwa setiap langkah berada dalam penjagaan Allah—yang justru mendorong usaha dan perbaikan diri. Orang yang merasa cukup bersama Tuhan tetap berikhtiar mencari komunitas, memperbaiki hubungan, dan merawat kesehatan mental, tetapi ia tidak menggantungkan harga dirinya pada hasil akhir karena yakin Allah mencukupinya.

3. Bagaimana cara memulai praktik “cukup bersama Tuhan” jika saya merasa sangat kesepian?

Mulailah dari hal kecil dan konsisten. Sisihkan lima hingga sepuluh menit setiap hari untuk duduk dalam keheningan, mengingat Allah, dan mencurahkan isi hati kepada-Nya tanpa tergesa-gesa. Imam An-Nawawi meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan doa khusus ketika seorang sahabat mengadukan rasa wahsyah (kesepian). Membaca Al-Qur’an, meski hanya beberapa ayat dengan penghayatan, juga dapat menjadi pintu masuk. Yang terpenting bukanlah durasi, melainkan kehadiran hati.

4. Apakah konsep ini hanya untuk orang yang religius?

Konsep “merasa cukup bersama Tuhan” memang berakar dalam tradisi keagamaan, tetapi psikologi modern mengakui bahwa kebutuhan akan makna dan koneksi transenden adalah kebutuhan manusiawi yang mendasar. Viktor Frankl, melalui logoterapi, menunjukkan bahwa manusia dapat bertahan dalam penderitaan ekstrem ketika hidupnya memiliki makna, dan salah satu sumber makna terdalam adalah hubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Bagi mereka yang tidak beragama, prinsipnya dapat diterjemahkan sebagai menemukan sumber pemenuhan batin yang tidak bergantung sepenuhnya pada pengakuan manusia.

5. Bagaimana jika saya sudah berdoa dan berzikir, tetapi kesepian tetap terasa?

Kesepian adalah pengalaman yang kompleks dan tidak selalu hilang seketika. Dalam tradisi Islam, rasa sepi kadang dipahami sebagai ujian yang mendewasakan, sebagaimana Nabi Muhammad SAW mengalami masa-masa kesendirian di Gua Hira sebelum menerima wahyu. Yang penting adalah tidak berhenti pada satu amalan saja. Kombinasikan praktik spiritual dengan upaya psikologis yang sehat—seperti membangun dukungan sosial, mencari bantuan profesional jika diperlukan, dan merawat tubuh—karena Islam memandang kesehatan jiwa dan raga sebagai amanah yang perlu dijaga secara utuh.