Bandara Internasional King Khalid Arab Saudi Kembali Beroperasi di Tengah Serangan Houthi

Di bawah bayang-bayang konflik yang kembali memanas, titik balik operasional gerbang udara utama kerajaan ini menjadi ujian krusial bagi stabilitas kawasan.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 07:21 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Riyadh - Penerbangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, kembali beroperasi secara terbatas pada Minggu (25/10/2026), setelah ditutup selama dua pekan akibat serangkaian serangan mematikan. Pembukaan kembali bandara tersebut berlangsung di tengah berlanjutnya serangan kelompok Houthi dari Yaman terhadap Arab Saudi.

Berdasarkan situs resmi Bandara Internasional King Khalid, sejumlah penerbangan domestik dan internasional dijadwalkan beroperasi pada Minggu, termasuk penerbangan dari Dubai, Paris, dan Kairo menuju Arab Saudi. Otoritas penerbangan Saudi mengonfirmasi bahwa operasional baru dibuka untuk Terminal 1 bagi penerbangan domestik dan Terminal 2 khusus untuk penerbangan internasional maskapai nasional.

Namun, dimulainya kembali aktivitas penerbangan itu langsung diwarnai sejumlah ledakan yang mengguncang Riyadh pada Minggu dini hari. Sebelumnya, warga menerima pesan peringatan mengenai ancaman serangan terhadap kota tersebut. Pembaruan terkini dari situs pelacakan penerbangan Flightradar24 menunjukkan bahwa lalu lintas udara di Riyadh masih sangat sepi. Mayoritas maskapai internasional memilih untuk tetap membatalkan penerbangan mereka demi keselamatan penumpang, sehingga hanya sedikit pesawat yang benar-benar diberangkatkan.

Penutupan bandara selama dua pekan sebelumnya telah berdampak besar bagi Arab Saudi. Konferensi investasi unggulan kerajaan itu terpaksa ditunda hingga 2027, sementara warga harus mencari jalur alternatif untuk bepergian ke luar maupun masuk ke negara tersebut. Reli Dakar, ajang balap otomotif bergengsi, juga menambah daftar panjang acara yang dibatalkan, ditunda, atau dipindahkan akibat dampak perang.

Ketika dimintai keterangan oleh AFP, pejabat Arab Saudi tidak memberikan informasi tambahan mengenai sejauh mana operasional bandara telah kembali berjalan normal di tengah ancaman baru ini.

Kelompok Houthi sendiri telah melancarkan serangkaian serangan terhadap bandara tersebut, termasuk serangan pada 10 Oktober 2026 lalu yang menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Insiden tragis di terminal penumpang tersebut kini tercatat sebagai serangan paling mematikan di wilayah perkotaan Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Merespons pembukaan kembali bandara, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, kembali memperingatkan bahwa Bandara Internasional King Khalid di Riyadh masih "tidak aman" dan tetap menjadi "sasaran militer".

"Angkatan Bersenjata Yaman memperingatkan seluruh maskapai penerbangan internasional, regional, dan domestik, serta para staf dan penumpang, agar tidak menggunakan Bandara King Khalid di Riyadh karena bandara tersebut tidak aman dan menjadi sasaran militer pasukan kami," kata Saree. "Pemerintah Saudi harus menanggung konsekuensi dari setiap kegiatan operasional di bandara tersebut."

Ledakan Mengguncang Wilayah Arab Saudi

Pada Minggu, Saree kemudian menuduh Arab Saudi telah melancarkan puluhan serangan terhadap Yaman dalam 24 jam sebelumnya.

"Dalam 24 jam terakhir, pesawat tempur Saudi melancarkan 56 serangan udara dan rudal yang menyasar objek-objek sipil di wilayah Hajjah, Lahj, Amran, Saada, Al-Jawf, Taiz, dan Ibb, menggunakan pesawat F-15 dan Typhoon yang lepas landas dari pangkalan Khamis Mushait dan Taif, serta rudal dari Najran," tulis Saree di platform X.

Di tengah dimulainya kembali operasional bandara, Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis tiba di Riyadh dan bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, yang merupakan pemimpin de facto kerajaan tersebut.

Dalam pertemuan itu, menurut pernyataan kantor Perdana Menteri Yunani, Mitsotakis "menanggapi secara positif permintaan Arab Saudi agar sistem pertahanan udara Patriot tetap ditempatkan di negara tersebut, mengingat situasi sulit yang sedang berlangsung".

Yunani telah menempatkan satu baterai sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat di Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak utama di pesisir Laut Merah.

Kantor berita Saudi Press Agency (SPA) menambahkan bahwa kedua pemimpin "menekankan pentingnya menjaga keamanan dan keutuhan jalur pelayaran internasional, serta memastikan pasokan energi ke pasar global tetap aman dan tidak terputus".

Sebelumnya, koalisi militer pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok Houthi menyatakan telah mencegat sedikitnya 10 rudal balistik.

Pertempuran kembali pecah setelah gencatan senjata yang berlangsung selama bertahun-tahun antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi berakhir.

"Pemboman berlangsung sangat intens sejak pagi tadi. Semoga Tuhan melindungi kami. Semuanya bergetar akibat ledakan," kata seorang warga Khamis Mushait kepada AFP pada Minggu, dengan syarat identitasnya dirahasiakan.

Badan pertahanan sipil Arab Saudi kemudian melaporkan bahwa dua orang terluka di wilayah selatan negara tersebut akibat tertimpa puing-puing. Sejumlah bangunan dan kendaraan juga dilaporkan mengalami kerusakan.

Foto-foto yang dirilis SPA memperlihatkan sebuah bangunan dengan sebagian dinding luar bagian atas hancur hingga rangka besinya terlihat. Foto lainnya menunjukkan jendela-jendela besar yang pecah, dengan serpihan kaca berserakan di trotoar dan sebagian badan jalan.

Peringatan Ancaman Serangan Udara

Wartawan AFP di Riyadh mendengar tiga ledakan pada Minggu dini hari. Warga juga menerima pesan peringatan mengenai "ancaman serangan udara dari pihak musuh" dan diminta tetap berada di tempat yang aman.

Peringatan itu muncul ketika koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah menembak jatuh sebuah rudal balistik yang diluncurkan kelompok Houthi ke arah ibu kota, serta dua pesawat nirawak atau drone di wilayah Riyadh.

"Sistem pertahanan udara berhasil mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang diluncurkan milisi teroris Houthi ke arah Riyadh," tulis koalisi tersebut di platform X.

Pada Minggu pagi, koalisi kembali mengumumkan bahwa pasukannya telah mencegat sebuah rudal jelajah yang diluncurkan kelompok Houthi ke arah Khamis Mushait, kota di bagian selatan Arab Saudi.

Serangan-serangan tersebut tampaknya menyasar sejumlah wilayah di bagian selatan negara itu. Peringatan ancaman juga dikeluarkan untuk Kota Abha serta wilayah Taif, Namas, dan Jazan.

Rangkaian serangan itu terjadi setelah kelompok Houthi menyatakan telah menargetkan tiga bandara di Arab Saudi, termasuk bandara di Riyadh, serta sejumlah fasilitas energi, jaringan pipa, dan sebuah pangkalan udara dalam kurun waktu 24 jam.