Australia Berencana Pangkas Jumlah Imigran, Begini Dampak ke Ekonomi

Akibat kekhawatiran beban layanan sosial dan perumahan, Australia rencanakan pangkas jumlah imigran.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 08:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Australia ingin mengurangi kuota penerimaan imigran tahunan dari 300.000 tahunan ke 245.000 hingga 30 Juni 2027, dan ke 225.000 pada 12 bulan ke depan. Padahal, Australia adalah negara imigran dan telah bergantung pada pekerja asing terampil, pekerja pelancong, dan siswa internasional untuk mengisi kekurangan tenaga kerja pada beberapa dekade terakhir.

Melansir The Straits Times, Senin (26/10/2026), Partai Buruh yang sedang berkuasa kini berada di bawah tekanan untuk mengurangi jumlah imigran di tengah kekhawatiran arus masuk imigran tersebut membebani layanan sosial dan perumahan.

Bisnis mengatakan pemangkasan ini justru akan memperparah kekurangan pekerja di sektor ekonomi, terutama agrikultur, perhotelan, pariwisata, kesehatan, dan konstruksi.

Contohnya, di Australia bagian selatan, Kahlia Colquhoun menjalankan bisnis taman wisata Cape York Camping, yang berada di daerah terpencil dan dibuka hanya pada Mei dan Desember. Oleh karenanya, dia mengatakan bisnis ini menarik lebih sedikit pekerja Australia dan bergantung pada arus pekerja asing jangka pendek yang jumlahnya mencapai sekitar 80% dari total 32 orang staf.

Namun, rencana oleh pemerintah untuk mengurangi program imigrasi, termasuk pemangkasan jumlah pekerja pelancong dan siswa internasional, telah memantik kekhawatiran bisnis seperti milik Colquhoun akan kesulitan menemukan karyawan atau memenuhi kekurangan pekerja.

"Ini menakutkan,” ujar Colquhoun, merujuk pada perubahan imigrasi.

Dia menambahkan, kekurangan pekerja asing akan memaksa bisnis-nya untuk mengurangi jam buka restoran atau menerapkan sistem minimum dua malam untuk mengurangi beban housekeeper.

Visa Kerja dan Studi Akan Terpengaruh

Menteri Dalam Negeri Tony Burke mengatakan ke News24 pada 11 Oktober pemangkasan ini dibutuhkan untuk menyelesaikan isu populasi dan perumahan.

"(Ada) situasi di mana untuk perumahan dan infrastruktur, kita harus memberi ruang, karena sekarang orang tinggal dengan jumlah orang lebih sedikit per keluarga,” ujarnya.

Namun, dia mengakui harus ada sebuah keseimbangan.

"Jika terlalu drastis, maka ekonomi akan hancur,” dia menambahkan.

Pemerintah Australia berencana untuk membatasi visa siswa internasional, kecuali untuk yang dari Pasifik dan negara ASEAN, sehingga sulit untuk siswa yang berpindah-pindah visa untuk menetap lebih lama dan mendapat hak kerjanya.

Ini juga akan memengaruhi visa pekerja pelancong, yang memberikan visa 12 bulan untuk kerja jangka pendek dan studi kepada orang dari beberapa negara, termasuk Singapura. Hanya 45.000 pekerja pelancong per tahun yang boleh tinggal selama dua tahun, sebuah penurunan dari 57.000. Lalu, hanya 5.000 yang dibolehkan tinggal selama tiga tahun, turun drastis dari 31.000.

Jumlah visa pekerja asing terampil tahunan, yang pada 2025 terhitung 270.000 orang di visa permanen dan visa yang berlaku dua hingga empat tahun, diperkirakan akan menetap.

Bagaimana Pemangkasan Imigran Dapat Pengaruhi Ekonomi?

Kepala Asosiasi Restoran & Katering, John Hart, yang merepresentasikan lebih dari 57.000 kafe, restoran, dan katering, mengatakan ST perubahan ini bisa sangat krusial bagi mereka.

"Semakin sedikit jumlah yang didapat imigran, semakin susah bagi bisnis kami untuk beroperasi, mempertahankan jam buka, dan kapasitas kursi,” ujarnya.

 "Konsumen akan semakin susah menemukan tempat makan. Kami tidak punya pasokan tenaga kerja lokal untuk mengisi posisi di industri yang kian berkembang," ujar dia.

Lalu, kepala Asosiasi Restoran & Kafe Australia, Wes Lambert, yang juga merepresentasikan sektor ini, memberi tahu ST bahwa industri ini memiliki 60.000 lowongan pekerjaan. Dia mengatakan perubahan imigrasi akan menggenjot angka ini ke 200.000, sehingga menaikkan biaya gaji dan harga jual.

"Akan sulit untuk menemukan bisnis perhotelan di Australia yang tidak memiliki karyawan asing,” kata dia.

"Kita membicarakan chef, juru masak, manajer, asisten manajer, pramusaji, pembantu dapur, pelayan pria dan wanita, sommelier, setiap posisi," ia menambahkan.

Industri Lainnya yang Terdampak

Industri lainnya juga menyuarakan peringatan yang sama. Kepala AUSVEG, Michael Coote, yang merepresentasikan petani sayuran, kentang, dan bawang, mengatakan ST pekerja pelancong sangat krusial untuk mengisi posisi sementara saat periode puncak panen dan produksi.

"Upaya populis untuk mengurangi imigrasi di Australia berisiko menimbulkan dampak negatif bagi para petani sayuran Australia, serta memperparah kekurangan tenaga kerja yang sudah berlangsung lama dan meluas,” katanya.

Selain itu, Dewan Ekspor Pariwisata Australia, sebuah organisasi industri, mengatakan perubahan apapun ke skema pekerja pelancong sebaiknya mempertimbangkan tidak hanya peran para pekerja tersebut sebagai “tenaga kerja yang mobile, fleksibel, dan musiman”, tetapi juga sebagai sumber pengeluaran di sektor pariwisata.

Langkah Partai Buruh untuk memangkas kuota migrasi ini muncul di tengah kecenderungan semua partai besar yang kini mengambil pendekatan yang semakin ketat terhadap imigrasi. Jika menang dalam pemilu berikutnya yang dijadwalkan pada 2028, Koalisi Liberal-Nasional yang menjadi oposisi berencana memangkas jumlah migran menjadi 100.000 pada periode hingga 30 Juni 2029 dan 2030, lalu menaikkannya menjadi 130.000 pada tahun berikutnya.

Lalu, Partai One Nation, yang dipimpin oleh tokoh radikal anti-imigran Pauline Hanson dan saat ini memimpin dalam beberapa jajak pendapat, menargetkan angka migrasi bersih negatif pada masing-masing tiga tahun pertama masa jabatannya jika terpilih pada 2028.

Utang Nasional Menjadi Kekhawatiran Lain

Selain dampak ekonomi, menurut pakar, rencana pemangkasan imigrasi ini dapat menambah utang nasional, karena imigran pekerja biasanya membayar lebih banyak pajak dan kurang bergantung pada jaminan sosial dibandingkan mereka yang lahir di Australia.

"Pengurangan besar apapun ke jumlah imigran akan melonjakkan utang karena imigran mendapat uang dengan bekerja," ujar ekonom Saul Eslake kepada Channel Seven pada 19 Oktober.

Lalu, kepala Dewan Bisnis Australia yang merepresentasikan beberapa bisnis mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Australia harus fokus pada pelatihan di area yang memiliki kekurangan tenaga kerja, seperti pelatihan di bidang-bidang yang mengalami kekurangan tenaga kerja, seperti keperawatan dan keahlian teknis. Namun, dia juga mengakui, imigran diperlukan untuk mengisi posisi seiring tenaga kerja domestik berkembang.

"Kita harus menghindari persaingan yang merugikan semua pihak yang didasarkan pada angka imigrasi yang sewenang-wenang, yang dapat merugikan perekonomian Australia sekaligus memperparah kekurangan tenaga kerja terampil,” katanya."

Sistem imigrasi yang dikelola dengan baik membantu mewujudkan perekonomian yang kuat," ia menambahkan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6