Ciri Orang yang Tidak Suka Berdiri Terlalu Dekat di Antrean, Simak Penjelasannya Menurut Psikologi

Kenali ciri orang yang tidak suka berdiri terlalu dekat dengan orang di antrean, penjelasan sainsnya, dan tips menjaga jarak yang sopan.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 17:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pernah merasa tidak nyaman saat orang di belakang berdiri terlalu rapat ketika kamu mengantre? Perasaan itu wajar dan punya penjelasan ilmiah.

Ciri orang yang tidak suka berdiri terlalu dekat dengan orang di antrean biasanya terlihat dari kepekaan pada bahasa tubuh, batasan pribadi yang jelas, dan sifat sensitif. Mereka juga cenderung menghargai etika sosial di ruang publik.

Kalau kamu salah satunya, tidak ada yang salah dengan dirimu. Justru memahami ciri orang yang tidak suka berdiri terlalu dekat dengan orang di antrean bisa membantumu menjaga kenyamanan tanpa terlihat kasar.

Dilansir dari National Geographic, istilah "personal space" tergolong baru, tetapi rasa gelisah saat seseorang bergerak terlalu dekat sudah ada sejak zaman purba. Neurosains menyebut "kulit kedua" ini tertanam dalam DNA kita.

Pengertian Ruang Pribadi dan Kaitannya dengan Antrean

Langkah pertama memahami ciri ini adalah mengenal istilah ruang pribadi atau personal space. Sederhananya, ruang pribadi adalah "gelembung" tak terlihat di sekitar tubuhmu yang membuatmu merasa aman. Saat ada orang asing masuk ke gelembung itu tanpa diundang, tubuh otomatis memberi sinyal tidak nyaman. Inilah yang sering kamu rasakan ketika orang di belakangmu berdiri terlalu rapat di kasir minimarket atau loket tiket.

Mengacu pada penjelasan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang, ruang pribadi adalah gelembung ruang psikologis yang mengelilingi individu, dan manusia cenderung mempertahankan jarak minimum yang paling disukai saat berinteraksi dengan orang lain.

Pengambilan ruang ini membantu mempertahankan persepsi kebebasan dan kontrol dalam situasi sesak, karena situasi sesak berpotensi menghilangkan persepsi tersebut.

Konsep ini dikenal juga dengan istilah proxemics. Sebagaimana dikutip dari EBSCO Research Starters, karya antropolog Edward T. Hall tentang ruang pribadi pada 1960-an menjadi patokan bagi banyak riset modern tentang ruang pribadi. Hall membagi jarak antarmanusia ke beberapa zona, mulai dari zona intim, personal, hingga sosial. Antrean adalah situasi unik karena orang asing "terpaksa" berdiri di jarak yang biasanya hanya untuk teman dekat.

Jadi, ketika seseorang tidak suka berdiri terlalu dekat di antrean, sebenarnya ia sedang menjaga zona personalnya. Dalam praktiknya, orang seperti ini akan memberi jarak sekitar satu langkah dari orang di depannya. Mereka juga merasa terganggu ketika orang lain tidak melakukan hal yang sama. Mengantre sendiri, menurut KBBI, berarti berdiri berderet-deret menunggu giliran, jadi jarak antarorang memang jadi bagian penting di dalamnya.

Ciri Orang yang Tidak Suka Berdiri Terlalu Dekat dengan Orang di Antrean

Tidak semua orang punya "gelembung" yang sama besarnya. Ada yang santai saja berdesakan, ada pula yang langsung gelisah begitu jarak menyempit. Berikut ciri-ciri yang umum ditemukan pada kelompok kedua.

Merujuk ulasan Global English Editing, psikolog menemukan bahwa sebagian orang memiliki "gelembung ruang pribadi" yang lebih besar dibanding orang lain, dan itu tidak berarti ada yang salah dengan diri mereka.

  1. Peka terhadap bahasa tubuh. Mereka cepat menangkap sinyal nonverbal yang sering terlewat oleh orang yang sibuk dengan ponsel. Contoh sederhananya, bayangkan kamu langsung sadar ada orang yang mondar-mandir terlalu dekat padahal orang lain di antrean tidak memperhatikannya.
  2. Punya batasan pribadi yang jelas. Kepekaan ini bisa menandakan rasa diri yang kuat dan penghormatan terhadap batasan pribadi, baik milik sendiri maupun orang lain. Batasan ini juga biasanya terbawa ke hubungan emosional sehari-hari.
  3. Sensitif terhadap rangsangan. Orang sensitif lebih mudah kewalahan oleh keramaian, suara bising, dan sentuhan. Berdasarkan tulisan di Psychology Today, 15-20% populasi diperkirakan termasuk orang yang sangat sensitif menurut pakar HSP Dr. Elaine Aron, dan 70% di antaranya adalah introvert.
  4. Cenderung introvert. Sebagaimana dilaporkan Ordinary Introvert, bagi introvert, pelanggaran ruang pribadi adalah gangguan pada batas tak terlihat yang memisahkan kondisi berfungsi baik dari rasa benar-benar kewalahan.
  5. Menghargai etika sosial. Mereka memegang aturan tak tertulis seperti tidak menyerobot dan memberi jarak. Saat aturan itu dilanggar, rasa kesal muncul karena mereka melihatnya sebagai kurangnya rasa hormat.
  6. Empatik dan penuh pertimbangan. Meski risih, mereka biasanya tetap sopan. Mereka cenderung memaklumi orang yang tidak sengaja berdiri terlalu dekat, lalu bergeser pelan-pelan daripada menegur dengan keras.
  7. Intuitif. Mereka percaya pada insting dan cepat merasakan "ada yang tidak beres" dari orang di sekitarnya. Itu sebabnya situasi antrean yang terlihat biasa saja bisa terasa tidak nyaman bagi mereka.
  8. Suka mengamati orang. Tipe people-watcher terbiasa memperhatikan perilaku orang lain di ruang publik. Karena itu, mereka langsung menyadari ketika seseorang tidak memperhatikan ruang di sekitarnya.
  9. Menyukai keteraturan. Antrean yang rapi dengan jarak jelas memberi rasa aman. Begitu ada yang merapat atau memotong barisan, ritme mereka langsung terganggu, apalagi kalau energi sosialnya sedang habis.

Kenapa Sebagian Orang Risih Saat Jarak Terlalu Dekat?

Rasa risih di antrean bukan sekadar soal "baper" atau manja. Ada mekanisme otak yang bekerja di baliknya. Neurosaintis Michael Graziano, dikutip dari National Geographic, menyatakan, "Ruang pribadi itu memang benar-benar ada." Ia menambahkan, "Otak menghitung zona penyangga di sekitar tubuh."

Bagian otak yang berperan besar di sini adalah amigdala. Sebagaimana disampaikan ScienceInsights, riset di Nature Neuroscience mempelajari pasien dengan kerusakan total pada kedua amigdalanya, dan ia sama sekali tidak memiliki rasa ruang pribadi serta selalu berdiri jauh lebih dekat dengan orang lain dibanding kebanyakan orang.

Aktivitas kelenjar keringat yang mencerminkan stres juga meningkat signifikan saat orang asing berdiri dekat, dan makin dekat jaraknya, makin kuat responsnya.

Graziano juga menulis tentang hal ini di The Atlantic. Dikutip dari Highly Sensitive Refuge, ia mengatakan, "Setiap orang memiliki ruang pribadi, sebuah zona perlindungan naluriah."

Selain faktor otak, lingkungan dan budaya ikut berpengaruh. Menurut Psychology Exposed, orang menoleransi jarak lebih kecil di lift, bus, atau bandara karena situasinya menjelaskan kedekatan itu, tetapi toleransi bukan berarti nyaman, sebab keramaian, panas, bising, bau, dan kelelahan bisa membuat orang lebih reaktif.

Ada pula perbedaan antarindividu. Dr. Joanna Seraphim, anggota Canadian Anthropology Society, dikutip dari Gulf News, menyatakan, "Laki-laki cenderung menetapkan ruang pribadi yang lebih besar daripada perempuan."

Manfaat Memahami Kebutuhan Ruang Pribadi

Manfaat utama memahami ciri ini bagi kamu adalah bisa lebih tenang saat berada di keramaian. Kalau kamu tahu rasa risih itu respons alami otak, kamu tidak perlu merasa bersalah atau menganggap diri "aneh". Kamu bisa fokus mengatur posisi dan napas, bukan memendam kesal. Ini sangat membantu ketika kamu harus antre lama, misalnya di loket stasiun atau rumah sakit. 

Pemahaman ini juga berguna untuk membaca niat orang lain. Mengutip OKDiario, terkadang orang bergerak lebih dekat ketika mereka merasa cemas atau stres.

Jadi, orang yang merapat di antrean belum tentu sengaja tidak sopan. Bisa jadi ia takut kehilangan giliran atau sedang terburu-buru. Namun, sumber yang sama juga mengingatkan bahwa pelanggaran ruang pribadi yang disengaja bisa menjadi tanda dominasi atau kontrol.

Dari sisi sosial, menghargai jarak membuat suasana antrean lebih kondusif. Gangguan kecil seperti napas yang terasa di tengkuk atau tas yang menyenggol bisa menambah ketegangan saat semua orang sudah lelah menunggu. Kebiasaan menjaga jarak juga jadi bagian dari etika menggunakan kendaraan umum yang bikin semua penumpang sama-sama nyaman.

Terakhir, kesadaran ini membantu kamu menjadi pengantre yang lebih baik. Kalau kamu sendiri tidak suka didesak, kamu akan otomatis memberi ruang pada orang di depanmu. Contoh sederhananya, bayangkan kamu antre di ATM. Memberi jarak bukan cuma soal nyaman, tapi juga menjaga privasi orang yang sedang memasukkan PIN.

Tips Menjaga Jarak Nyaman saat Mengantre

Kamu tidak bisa mengontrol perilaku orang lain, tetapi kamu bisa mengatur caramu merespons. Berikut langkah praktis yang bisa langsung dicoba saat antre berikutnya.

Sebagaimana diungkapkan Topprs dalam panduan etika ruang publik, saat mengantre sebaiknya sisakan jarak yang wajar bila memungkinkan dan hindari menyentuh orang di depan tanpa perlu.

  1. Beri contoh lebih dulu. Berdirilah sekitar satu langkah dari orang di depanmu. Orang di belakang biasanya ikut menyesuaikan diri tanpa perlu ditegur.
  2. Gunakan bahasa tubuh yang halus. Bergeser sedikit ke samping atau menoleh sebentar sering sudah cukup memberi sinyal. Cara ini lebih aman daripada langsung menegur.
  3. Letakkan tas sebagai pembatas. Membawa tas di samping atau di belakang badan bisa menciptakan jarak alami. Pastikan tidak menyenggol orang lain.
  4. Tegur dengan sopan jika perlu. Kalimat seperti "Maaf, boleh agak mundur sedikit?" biasanya diterima dengan baik. Ucapkan dengan nada santai, bukan marah.
  5. Pilih waktu antre yang lebih sepi. Kalau memungkinkan, datang di luar jam sibuk. Untuk layanan yang punya antrean daring atau nomor antrean, manfaatkan fasilitas itu.
  6. Atur napas dan alihkan fokus. Bagi kamu yang sensitif, tarik napas dalam-dalam atau dengarkan musik pelan lewat earphone. Cara ini membantu mengurangi rasa kewalahan.
  7. Laporkan ke petugas bila ada masalah. Jika ada yang terus mendesak atau menyerobot, sampaikan ke petugas yang mengatur antrean. Jangan melampiaskan kekesalan pada sesama pengantre.

Tips singkat: Kalau kamu sering merasa sangat cemas atau panik di keramaian sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog. Rasa risih ringan itu normal, tetapi kecemasan berlebihan layak mendapat perhatian.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Tidak Suka Berdiri Terlalu Dekat

Q: Apakah tidak suka berdiri terlalu dekat di antrean itu tanda gangguan psikologis?

A: Umumnya tidak. Kebutuhan akan ruang pribadi adalah respons alami otak, dan setiap orang punya ukuran gelembung yang berbeda. Baru perlu diperhatikan jika rasa cemasnya sangat berat sampai membuatmu menghindari tempat umum.

Q: Berapa jarak yang ideal saat mengantre?

A: Tidak ada angka baku untuk semua situasi, tetapi memberi jarak sekitar satu langkah dari orang di depan biasanya sudah cukup nyaman. Di tempat padat seperti kereta atau lift, jarak memang bisa lebih sempit, jadi yang penting hindari kontak fisik yang tidak perlu.

Q: Bagaimana cara menegur orang yang berdiri terlalu dekat tanpa terkesan kasar

A: Mulailah dengan bahasa tubuh, misalnya bergeser sedikit atau menoleh sebentar. Jika belum berhasil, minta dengan sopan agar ia mundur sedikit menggunakan nada santai dan senyum, karena sering kali orang tersebut memang tidak sadar.

Pada akhirnya, kalau kamu merasa risih saat berdiri terlalu dekat dengan orang lain di antrean, itu wajar. Rasa itu justru menunjukkan kepekaanmu terhadap batasan diri sendiri maupun orang lain. Dengan sedikit trik dan komunikasi yang sopan, kamu bisa tetap merasa nyaman di tengah antrean sepanjang apa pun.