Apa itu Kemarau Basah? Mengenal Penyebab, Tanda-Tanda dan Dampaknya Bagi Masyarakat

Apa itu kemarau basah? Simak penyebab, tanda-tanda, dan dampaknya bagi masyarakat, termasuk risiko banjir serta gangguan pada sektor pertanian.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 17:20 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Musim kemarau biasanya identik dengan berkurangnya hujan dan meningkatnya kebutuhan air untuk rumah tangga maupun pertanian. Namun, hujan terkadang masih turun ketika kalender menunjukkan musim kemarau. Kondisi ini dapat memengaruhi kegiatan masyarakat, mulai dari pekerjaan di luar ruangan hingga jadwal menanam dan memanen tanaman di lahan pertanian.

Perubahan pola hujan juga membuat masyarakat perlu menyesuaikan kegiatan sehari-hari. Genangan air dapat muncul ketika hujan turun, sementara petani harus mempertimbangkan kondisi lahan sebelum menentukan waktu tanam. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pergantian musim tidak selalu berjalan sesuai perkiraan. Informasi cuaca diperlukan agar masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi di wilayahnya.

Salah satu istilah yang digunakan untuk menjelaskan kondisi tersebut adalah kemarau basah. Lantas, apa yang menyebabkan kondisi tersebut, bagaimana cara mengenali tandanya, dan apa saja dampaknya bagi masyarakat? Berikut ini adalah penjelasan selengkapnya yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Senin (26/10/2026).

Apa Itu Kemarau Basah?

Kemarau basah adalah kondisi ketika hujan masih turun selama musim kemarau. Dalam keadaan ini, curah hujan tidak sepenuhnya berhenti meskipun suatu wilayah telah memasuki periode kemarau. Frekuensi hujan dapat berkurang dibandingkan musim hujan, tetapi air masih turun dalam beberapa kesempatan selama periode tersebut.

Mengutip dari artikel BMKG berjudul Musim Kemarau Basah: Fenomena, Penyebab, dan Dampaknya di Indonesia, kemarau basah merujuk pada kondisi hujan yang masih terjadi ketika suatu wilayah memasuki musim kemarau. Fenomena ini berbeda dari musim hujan yang berlangsung terus-menerus karena hujan terjadi di tengah periode yang biasanya ditandai dengan penurunan curah hujan.

Waktu terjadinya kemarau basah dapat berbeda antara satu wilayah dan wilayah lainnya. Kondisi ini juga tidak berarti seluruh Indonesia mengalami hujan dengan jumlah yang sama. Untuk mengetahui apakah suatu daerah mengalami kemarau basah, masyarakat perlu memperhatikan informasi curah hujan dan perkembangan musim yang disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Penyebab Terjadinya Kemarau Basah

Kemarau basah berkaitan dengan perubahan kondisi atmosfer dan suhu permukaan laut. Perubahan tersebut memengaruhi pembentukan awan dan turunnya hujan di berbagai wilayah Indonesia. Akibatnya, hujan masih dapat terjadi ketika suatu daerah seharusnya memasuki musim kemarau. Pengaruh setiap faktor dapat berbeda menurut waktu dan lokasi.

Dalam artikel yang diterbitkan pada 28 Mei 2025, BMKG menjelaskan bahwa suhu muka laut yang hangat dan aktivitas angin monsun dapat memengaruhi pola hujan. Kondisi atmosfer regional dan global turut menentukan banyaknya uap air yang tersedia serta pergerakan udara yang mendukung pembentukan awan hujan.

Faktor lainnya adalah La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. La Niña merupakan fenomena perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat meningkatkan peluang hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Sementara itu, IOD negatif berkaitan dengan kondisi suhu laut di Samudra Hindia yang dapat mendukung peningkatan hujan di Indonesia. Pengaruhnya bergantung pada kondisi atmosfer yang menyertai.

Tanda-Tanda Kemarau Basah

Kemarau basah dapat dikenali melalui pola hujan dan kondisi lingkungan selama periode kemarau. Meski begitu, satu tanda saja belum cukup untuk memastikan bahwa suatu daerah mengalami fenomena tersebut. Masyarakat perlu memperhatikan perkembangan cuaca selama beberapa waktu dan membandingkannya dengan informasi musim dari BMKG.

  • Hujan Masih Turun Saat Musim Kemarau: Hujan yang masih terjadi ketika suatu wilayah memasuki musim kemarau menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Amati frekuensi hujan selama beberapa waktu, lalu bandingkan dengan informasi prakiraan cuaca dan perkembangan musim dari BMKG.
  • Kelembapan Udara Tetap Terjaga: Udara dapat terasa lembap meskipun wilayah sedang berada dalam periode kemarau. Kondisi ini dapat berkaitan dengan kandungan uap air di udara. Namun, rasa gerah saja tidak cukup untuk menentukan terjadinya kemarau basah tanpa melihat data cuaca.
  • Langit Sering Tertutup Awan: Awan dapat muncul lebih sering ketika hujan masih terjadi selama musim kemarau. Masyarakat dapat mengamati perubahan kondisi langit dari hari ke hari. Untuk memastikan perkembangannya, periksa prakiraan cuaca dan kemungkinan hujan yang diterbitkan BMKG.
  • Sumber Air Tidak Cepat Menyusut: Sungai, embung, dan sumber air lainnya dapat tetap memiliki persediaan air ketika hujan masih turun. Namun, kondisi setiap sumber air bergantung pada curah hujan, lingkungan sekitar, dan pemakaian air. Pengamatan ini sebaiknya disertai informasi cuaca setempat.
  • Tanaman Masih Mendapat Pasokan Air dari Hujan: Tanaman di pekarangan atau lahan pertanian mungkin tidak memerlukan penyiraman sesering saat hujan jarang turun. Meski demikian, kebutuhan air setiap tanaman berbeda. Periksa kondisi tanah agar penyiraman tetap sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Dampak Kemarau Basah Bagi Masyarakat

Kemarau basah dapat memengaruhi kegiatan rumah tangga, pertanian, dan pengelolaan lingkungan. Hujan yang masih turun dapat membantu memenuhi kebutuhan air, tetapi juga meningkatkan risiko genangan di tempat yang tidak memiliki saluran pembuangan memadai. Dampaknya bergantung pada jumlah hujan, kondisi wilayah, dan kesiapan masyarakat dalam mengantisipasinya.

  • Jadwal Pertanian Perlu Disesuaikan: Petani perlu mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum menentukan waktu tanam dan panen. Hujan yang turun di luar perkiraan dapat mengubah kondisi lahan serta menghambat kegiatan di sawah atau kebun. Informasi BMKG dapat membantu petani menyusun rencana berdasarkan perkembangan musim.
  • Risiko Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Meningkat: Kondisi lahan yang terus lembap dapat mendukung perkembangan organisme penyebab penyakit pada tanaman tertentu. Petani perlu memeriksa daun, batang, dan bagian tanaman lainnya secara berkala. Penanganan perlu disesuaikan dengan jenis tanaman serta gejala yang ditemukan.
  • Hasil Panen Dapat Berkurang: Hujan yang turun pada waktu yang tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman dapat mengganggu pertumbuhan dan proses panen. Lahan yang tergenang juga dapat menghambat perkembangan akar pada tanaman tertentu. Petani perlu menyesuaikan pengelolaan air agar kondisi lahan sesuai dengan kebutuhan komoditas.
  • Ketersediaan Air Dapat Bertambah: Hujan selama musim kemarau dapat membantu mengisi waduk, embung, dan sumber air lainnya. Persediaan tersebut dapat mendukung kebutuhan rumah tangga maupun pertanian. Namun, jumlah air yang tersedia tetap dipengaruhi oleh kondisi daerah tangkapan air, penyimpanan, dan pemakaian masyarakat.
  • Risiko Genangan dan Banjir Perlu Diwaspadai: Hujan yang turun berulang kali dapat meningkatkan risiko genangan, terutama di wilayah dengan saluran air yang tersumbat atau kapasitas drainase terbatas. Masyarakat perlu membersihkan selokan, tidak membuang sampah sembarangan, dan mengikuti peringatan cuaca ketika hujan berpotensi menimbulkan banjir.
  • Aktivitas Harian Dapat Terganggu: Hujan yang muncul saat masyarakat memperkirakan cuaca kering dapat mengubah jadwal perjalanan, pekerjaan luar ruangan, dan kegiatan sekolah. Memeriksa prakiraan cuaca sebelum beraktivitas dapat membantu masyarakat menyiapkan perlengkapan hujan serta menentukan waktu perjalanan sesuai kondisi di wilayahnya.
  • Pemeliharaan Lingkungan Menjadi Perhatian: Curah hujan yang masih terjadi membuat masyarakat perlu memastikan saluran air dan tempat penampungan air terawat. Genangan yang dibiarkan dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Membersihkan lingkungan, menutup wadah penampung air, dan memantau kondisi sekitar membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan.
  • Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Perlu Ditingkatkan: Warga yang tinggal di wilayah rawan banjir atau longsor perlu memahami jalur evakuasi dan mengikuti informasi dari pihak berwenang. Persediaan kebutuhan darurat juga dapat disiapkan sesuai risiko setempat. Langkah tersebut membantu keluarga mengetahui tindakan yang perlu dilakukan saat kondisi berubah.

Pertanyaan Umum Seputar Kemarau Basah

1. Apa yang dimaksud dengan kemarau basah?

Kemarau basah adalah kondisi ketika hujan masih turun selama musim kemarau. Fenomena ini terjadi karena pola hujan dipengaruhi oleh kondisi atmosfer dan suhu permukaan laut.

2. Apa penyebab utama kemarau basah?

Kemarau basah dapat dipengaruhi oleh suhu muka laut yang hangat, aktivitas angin monsun, La Niña, dan IOD negatif. Pengaruh faktor tersebut bergantung pada kondisi atmosfer dan wilayah.

3. Apa perbedaan kemarau basah dan musim hujan?

Kemarau basah terjadi ketika hujan masih turun pada periode kemarau. Musim hujan merupakan periode ketika suatu wilayah memasuki musim dengan pola curah hujan yang lebih tinggi sesuai karakteristik iklim setempat.

4. Apa dampak kemarau basah bagi petani?

Kemarau basah dapat mengubah jadwal tanam dan panen, meningkatkan risiko penyakit tanaman, serta menyebabkan lahan tergenang. Petani perlu menyesuaikan pengelolaan air dan kegiatan pertanian dengan kondisi cuaca.

5. Bagaimana cara menghadapi kemarau basah?

Masyarakat dapat memantau prakiraan cuaca dari BMKG, menjaga saluran air, dan menyiapkan perlengkapan untuk menghadapi hujan. Petani juga perlu menyesuaikan jadwal tanam serta mengelola drainase lahan sesuai kebutuhan tanaman.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6