Liputan6.com, Jakarta - Menciptakan hunian yang tenang tidak harus mengeluarkan banyak biaya untuk membeli perabotan mewah. Dalam desain interior Jepang, suasana damai hadir melalui kesederhanaan, penggunaan material alami, dan penataan ruang yang teratur. Gaya ini semakin diminati masyarakat urban yang menginginkan suasana nyaman di tengah kesibukan sehari-hari.
Mengadaptasi filosofi Zen bukan berarti membuat rumah kosong tanpa banyak barang. Setiap elemen sebaiknya memiliki fungsi dan mendukung kenyamanan penghuni. Pemilihan tekstur, warna, serta penataan furnitur juga berperan dalam membentuk suasana ruangan.
Untuk menghadirkan nuansa Jepang di rumah, Anda bisa menerapkan beberapa prinsip desain sederhana yang mengutamakan keselarasan, fungsi, dan hubungan dengan alam. Berikut Liputan6.com merangkum dari berbagai sumber tujuh prinsip utama desain hunian ala Jepang yang wajib Anda terapkan, Senin (26/10/2026).
Advertisement
1. Perhatikan Rangsangan Panca Indra Melalui Suara dan Aroma
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382553/original/019681600_1793000473-f2ce966e-9fad-45ca-a54b-1cad26a8997e.jpg)
Desain ruangan yang ideal tidak hanya berpusat pada keindahan visual semata, tetapi juga wajib memanjakan indra pendengaran dan penciuman. Hunian bergaya Jepang sangat teliti memperhatikan pengalaman sensorik ini, seperti wangi alami material bangunan hingga suara benturan ringan yang dihasilkan saat penghuni beraktivitas di dalamnya.
Sebagai contoh, lantai berbahan kayu solid akan menghasilkan gema langkah kaki yang empuk dan memancarkan aroma khas yang jauh lebih menenangkan dibandingkan ubin keramik yang dingin.
Anda juga bisa memperkuat nuansa alam ini dengan memasang tirai kain linen tipis di pintu agar menghasilkan suara kepakan lembut nan damai saat tertiup angin sore.
Advertisement
2. Terapkan Kurasi Ketat pada Benda yang Dipajang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382554/original/040113000_1793000473-54767b57-c94f-477a-87c4-1291b34dc73c.jpg)
Rumah yang terasa rapi dan teratur bukan berarti seluruh perabotannya harus disembunyikan di dalam lemari. Kunci utamanya justru terletak pada kemampuan Anda melakukan kurasi, yakni menyeleksi dengan ketat benda mana yang layak dipamerkan di ruang terbuka untuk memberikan nilai estetika maksimal.
Dedikasikan satu area atau sudut khusus, seperti ceruk dinding (tokonoma) atau di atas meja konsol, untuk memajang satu objek seni yang bermakna. Sebuah vas keramik estetik dengan dahan ranting kering akan terlihat jauh lebih dramatis dan menonjol jika dibiarkan bernapas dengan ruang kosong di sekelilingnya, daripada ditumpuk bersama puluhan bingkai foto.
3. Utamakan Sedikit Barang Namun Berkarakter Kuat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382555/original/050771000_1793000473-cfdb20f0-2b18-43a1-8c69-54cdee27331c.jpg)
Daripada terus-menerus memenuhi keranjang belanja dengan aksesori baru buatan pabrik yang seragam, cobalah beralih memburu barang-barang antik atau vintage. Benda-benda lama ini diyakini memiliki nilai historis dan membawa karakter tersendiri yang tidak bisa direplikasi oleh perabot modern yang mengilap.
Kehadiran barang koleksi dengan jejak waktu ini membuat interior rumah Anda terasa terbentuk secara bertahap dan organik. Anda bisa memadukan laci kayu kuno dari toko barang bekas dengan sofa bersiluet modern minimalis untuk menciptakan harmoni ruang yang relevan, unik, sekaligus ramah lingkungan (sustainable).
Advertisement
4. Pilih Material Alami yang Menua dengan Indah (Wabi-Sabi)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382556/original/071013800_1793000473-d0b807fa-4e39-4653-adf4-1e0d534cb521.jpg)
Pendekatan estetika Wabi-Sabi mengajarkan kita untuk menemukan keindahan yang hakiki di dalam ketidaksempurnaan dan proses penuaan yang alamiah. Material seperti kayu mentah, rotan, batu alam, hingga plester dinding tanah liat akan mengalami perubahan tekstur serta warna seiring intensitas pemakaian.
Perubahan rona kayu yang perlahan menggelap atau permukaan batu yang semakin halus akibat pijakan kaki ini pantang dianggap sebagai kerusakan yang merusak pemandangan. Jejak-jejak alami kehidupan ini justru yang memberikan "jiwa" pada hunian, membuatnya terasa lebih intim, hangat, dan sangat membumi.
5. Turunkan Titik Ketinggian Furnitur dan Dekorasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382557/original/090414400_1793000473-b9d7ebaa-98ce-4201-862a-a72a454437ba.jpg)
Gaya hidup masyarakat tradisional Jepang dirancang untuk mengakomodasi kegiatan duduk berlesehan di atas tikar tatami. Hal inilah yang mendasari mengapa tata letak furnitur, proporsi posisi jendela, hingga titik peletakan karya seni cenderung ditata lebih rendah mendekati permukaan lantai.
Tentu saja Anda tidak perlu membuang semua kursi yang ada di rumah. Cobalah menerapkan prinsip ini dengan menggunakan ranjang berprofil rendah (low bed) atau memilih meja kopi tanpa kaki tinggi. Titik pandang yang rendah ini akan memberikan ilusi ruang sisa yang luas di bagian atas dinding, sehingga ruangan terasa lebih megah dan tidak menyesakkan.
Advertisement
6. Maksimalkan Pencahayaan Alami yang Berpendar Lembut
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382558/original/008258200_1793000474-c0a044ce-172e-4201-8b3c-976a3e4188e3.jpg)
Jika desain ala Barat kerap menonjolkan sorotan cahaya alami yang terik secara langsung, interior ala Jepang jauh lebih mengistimewakan pendaran cahaya yang lembut dan tersaring (diffused light). Pencahayaan yang menyebar ini akan melukiskan gradasi bayangan yang begitu dramatis dan menenangkan di sudut-sudut ruangan.
Untuk meniru efek syahdu ini, Anda bisa memasang panel kayu berlapis kertas tembus cahaya (shoji) atau sekadar menggunakan tirai vitrase putih tipis di jendela utama.
Di malam hari, matikan lampu utama di plafon dan beralihlah pada lampu sudut berkap kertas yang memancarkan pendar kuning hangat bak lampion tradisional.
7. Hadirkan Elemen Tanaman Hijau dalam Skala Terukur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382560/original/025755900_1793000474-0c18dbe6-2baa-4518-a464-08d3fd32eec9.jpg)
Menyatukan batas antara ruang dalam rumah dengan alam di luar merupakan prinsip fundamental arsitektur Asia Timur. Namun, jangan sampai Anda terjebak mengubah ruang keluarga menjadi hutan tropis buatan yang justru terlihat berantakan; gaya ini menuntut pendekatan yang sangat minimalis terhadap unsur botani.
Hadirkan cukup satu atau dua pot tanaman berkarakter kuat seperti bonsai, pakis, atau bambu hias yang diletakkan secara presisi di sudut ruangan.
Kehadiran tanaman dalam skala yang terukur rapi ini sudah lebih dari cukup untuk menyuntikkan energi kehidupan segar tanpa harus merusak prinsip kesederhanaan ruang.
Advertisement
Pertanyaan Umum Seputar Interior Jepang
Apa ciri khas utama dari gaya desain interior Jepang? Ciri utamanya meliputi kesederhanaan fungsi, penggunaan material organik (kayu dan batu), palet warna netral, serta furnitur berprofil rendah yang menyatu dengan alam.
Apakah desain interior Jepang sama dengan minimalis Barat? Keduanya mirip karena mengurangi penumpukan barang, namun desain Jepang lebih menekankan harmoni spiritual dengan alam dan menghargai ketidaksempurnaan (Wabi-Sabi).
Apa yang dimaksud dengan filosofi desain Wabi-Sabi? Wabi-Sabi adalah pandangan estetika Jepang yang menemukan keindahan pada sesuatu yang tidak sempurna, alami, dan proses penuaan yang wajar pada material bangunan.
Warna apa saja yang direkomendasikan untuk tema rumah Jepang? Sebaiknya gunakan skema warna yang terinspirasi dari bumi (earth tones) seperti cokelat kayu jati, putih tulang, krem bambu, abu-abu batu, dan hijau pucat (sage).
Apakah desain ini cocok untuk rumah petak atau apartemen kecil? Sangat cocok. Penggunaan perabot yang rendah dan penataan pajangan yang selektif justru merupakan trik ampuh untuk membuat ruang sempit terasa jauh lebih lega secara visual.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8805424/original/032384700_1782904857-Cek_fakta_-_Anies_baswedan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382447/original/017524100_1792996400-Anies_Cek_Fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5486120/original/097525000_1769575957-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-28T114945.709.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382280/original/090010700_1792986930-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-26T105247.852.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5213366/original/034833100_1746686346-Depositphotos_606380336_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382570/original/054303500_1793001232-pexels-vr33s-18206118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382552/original/069772600_1793000455-fbf0d2fc-0a10-42ce-b7f6-e70035525f8e.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382538/original/083562200_1792999722-20886.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369826/original/002470500_1791537085-qLbnAFaG90q38unN6ovXxTJbELuBlrLa6AfEYtGC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382225/original/022013900_1792983333-d45f397c-c522-47a9-919d-2e7396d68388.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382510/original/044083000_1792998509-8c094862-5524-4447-9de4-ee234364dff6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382483/original/073403600_1792997481-b42b47e4-5e71-4dc2-99f7-aed078f3fd42.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2390383/original/023168600_1540276604-20181023-Museum-Sumpah-Pemuda-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380035/original/045753800_1792656777-yingchih-QIZdxV8BWmY-unsplash.jpg)