Liputan6.com, Jakarta - Hunter's Moon atau Bulan Pemburu merupakan sebutan tradisional untuk bulan purnama yang muncul setelah Harvest Moon atau Bulan Panen. Fenomena ini memiliki kaitan erat dengan tradisi masyarakat pada masa lalu, terutama aktivitas berburu untuk memenuhi persediaan makanan menjelang musim dingin.
Pada Senin malam, 26 Oktober 2026, masyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan Hunter's Moon selama kondisi cuaca mendukung. Meski memiliki nama khusus, fenomena ini tidak menunjukkan perbedaan fisik dengan bulan purnama pada umumnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengajak masyarakat menikmati fenomena tersebut sekaligus memperhatikan waktu pengamatan yang tepat. Lantas, apa itu Hunter's Moon, mengapa disebut Bulan Pemburu, dan kapan waktu terbaik untuk melihatnya? Berikut penjelasannya.
Advertisement
Apa Itu Hunter's Moon?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3514977/original/013308900_1626684132-ganapathy-kumar-9kbsq91NFwg-unsplash_Fotor.jpg)
Hunter's Moon adalah istilah tradisional untuk bulan purnama yang muncul setelah Harvest Moon, yaitu bulan purnama yang berkaitan dengan masa panen. Menurut Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, fenomena ini tidak memiliki perbedaan fisik dengan bulan purnama biasa, tetapi mempunyai latar belakang budaya dan karakteristik kemunculan yang menarik.
Dikutip dari situs resmi BMKG, Teguh Rahayu menjelaskan bahwa Hunter's Moon umumnya dikaitkan dengan bulan purnama pada Oktober. Namun, kemunculannya dapat bergeser ke November sekitar tiga tahun sekali, bergantung pada waktu terjadinya Harvest Moon yang bisa jatuh pada awal Oktober.
Dengan demikian, istilah Hunter's Moon lebih merujuk pada tradisi dan urutan kemunculan bulan purnama setelah Harvest Moon, bukan pada perubahan bentuk atau sifat fisik Bulan. Sebutan ini menjadi bagian dari penamaan bulan purnama yang berkembang dalam tradisi masyarakat sejak dahulu.
Advertisement
Mengapa Disebut Bulan Pemburu?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382538/original/083562200_1792999722-20886.jpg)
Nama Hunter's Moon berasal dari tradisi kalender masyarakat pribumi Amerika, khususnya suku Algonquian, serta pemukim awal Eropa. Sebutan ini berkaitan dengan aktivitas berburu yang dilakukan setelah masa panen untuk menyiapkan persediaan makanan menjelang musim dingin.
Pada masa itu, ladang yang telah dipanen menjadi tempat hewan seperti rusa dan rubah mencari sisa-sisa tanaman. Kondisi tersebut memudahkan para pemburu menemukan hewan buruan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Cahaya bulan purnama yang terang juga membantu mereka melakukan perburuan pada malam hari. Kebiasaan inilah yang kemudian melatarbelakangi penggunaan nama Hunter's Moon atau Bulan Pemburu hingga sekarang.
Kapan dan di Mana Hunter's Moon Bisa Dilihat?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382571/original/083608200_1793001234-pexels-renato-calsavara-51671778-8149237.jpg)
Hunter's Moon pada Senin, 26 Oktober 2026, dapat diamati dari berbagai wilayah Indonesia selama cuaca dalam kondisi cerah dan langit tidak tertutup awan. Masyarakat tidak memerlukan teleskop atau alat pelindung mata khusus untuk menikmati fenomena bulan purnama ini.
Untuk wilayah Jakarta, Bulan diperkirakan mulai terbit dari arah timur pada pukul 17.53 WIB. Namun, pada waktu tersebut, Bulan mungkin sulit terlihat karena posisinya masih dekat dengan garis horizon dan pandangan dapat terhalang gedung-gedung tinggi.
Berdasarkan keterangan BMKG, Bulan akan mencapai posisi tertinggi di langit Jakarta pada pukul 23.58 WIB dan terbenam pada pukul 05.10 WIB keesokan harinya. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah mulai pukul 20.00 WIB, ketika posisi Bulan sudah cukup tinggi di langit.
Advertisement
Waspadai Potensi Banjir Rob saat Hunter's Moon
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3010187/original/016607700_1577851494-high-water-392707_1920.jpg)
Di balik keindahan fenomena ini, masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir perlu mewaspadai potensi banjir rob atau kenaikan permukaan air laut. Fase bulan purnama dapat berkaitan dengan pasang purnama, yaitu kondisi ketika air laut mengalami pasang lebih tinggi dan surut lebih rendah dibandingkan kondisi tertentu pada fase Bulan lainnya.
Fenomena tersebut terjadi karena gaya gravitasi Bulan dan Matahari memengaruhi pasang surut air laut. Ketika Bumi, Bulan, dan Matahari berada pada posisi segaris atau hampir segaris, pengaruh gravitasi keduanya dapat memperkuat pasang surut.
Meski demikian, waktu dan ketinggian pasang laut di setiap wilayah dapat berbeda. Masyarakat pesisir sebaiknya memperhatikan informasi dan peringatan resmi mengenai kondisi pasang surut serta potensi banjir rob di daerah masing-masing.
Tips Mengamati Hunter's Moon
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382572/original/005400500_1793001240-victoria-prymak-AZcLjoLqeOk-unsplash.jpg)
Agar dapat menikmati Hunter's Moon dengan lebih nyaman, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan sebelum melakukan pengamatan:
- Pilih lokasi dengan pandangan langit terbuka. Area yang minim penghalang, seperti gedung tinggi atau pepohonan lebat, akan memudahkan pengamatan Bulan.
- Perhatikan kondisi cuaca. Langit cerah tanpa tutupan awan tebal akan membantu Bulan terlihat lebih jelas.
- Hindari area dengan cahaya buatan berlebihan. Jika memungkinkan, pilih tempat yang tidak terlalu terang agar suasana pengamatan lebih nyaman.
- Tentukan waktu pengamatan yang tepat. Untuk wilayah Jakarta, masyarakat dapat mulai mengamati sekitar pukul 20.00 WIB, sesuai rekomendasi BMKG.
- Gunakan mata telanjang jika diperlukan. Hunter's Moon aman diamati secara langsung tanpa pelindung mata khusus. Teleskop atau teropong hanya diperlukan jika ingin melihat detail permukaan Bulan dengan lebih jelas.
Hunter's Moon menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati fenomena astronomi sekaligus mengenal tradisi yang melatarbelakangi penamaannya. Dengan memilih lokasi yang tepat dan memperhatikan kondisi cuaca, pengamatan bulan purnama pada 26 Oktober 2026 dapat menjadi pengalaman yang menarik.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Hunter's Moon
1. Apa itu Hunter's Moon?
Hunter's Moon adalah istilah tradisional untuk bulan purnama yang muncul setelah Harvest Moon atau Bulan Panen. Fenomena ini berkaitan dengan tradisi berburu untuk menyiapkan persediaan makanan menjelang musim dingin.
2. Kapan waktu terbaik untuk melihat Hunter's Moon pada 26 Oktober 2026?
Untuk wilayah Jakarta, waktu terbaik mengamati Hunter's Moon adalah mulai pukul 20.00 WIB, ketika posisi Bulan sudah cukup tinggi di langit. Pengamatan bergantung pada kondisi cuaca dan keterbukaan langit.
3. Apakah Hunter's Moon aman dilihat dengan mata telanjang?
Ya, Hunter's Moon aman diamati secara langsung dengan mata telanjang tanpa memerlukan pelindung mata khusus. Pengamat juga dapat menggunakan teropong atau teleskop jika ingin melihat detail permukaan Bulan dengan lebih jelas.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382447/original/017524100_1792996400-Anies_Cek_Fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5486120/original/097525000_1769575957-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-01-28T114945.709.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382280/original/090010700_1792986930-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-26T105247.852.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344493/original/042033300_1788947267-HOAX__15_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382570/original/054303500_1793001232-pexels-vr33s-18206118.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381217/original/038803100_1792767568-Screenshot__381_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441352/original/085354000_1765504848-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-12T084357.150.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282759/original/029724800_1672917977-Jawa_dan_Bali_Masuki_Puncak_Musim_Hujan-IQBAL_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380316/original/035732600_1792667517-20261022180028.mmi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379298/original/021539100_1792585985-1001781666.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378956/original/074242500_1792569284-20261021144703.mmi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3429585/original/032446800_1618472622-pexels-photo-1463530.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378436/original/052152600_1792514382-20261020233213.mmi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4851051/original/045304600_1717387676-kemarau.jpg)