BMKG Jelaskan Fungsi Dry Ice Dalam Penanganan Asap Kebakaran Hutan

Metode dry ice ditujukan untuk mengganggu lapisan inversi atmosfer yang dapat memerangkap asap.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 21:59 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan dry ice dalam operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengurangi dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. Metode ini ditujukan untuk mengganggu lapisan inversi atmosfer yang dapat memerangkap asap di dekat permukaan, bukan untuk langsung memicu hujan.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan, penerbangan yang membawa dry ice dilakukan pada pagi hari untuk membantu membuka lapisan inversi. Dengan begitu, asap di dekat permukaan diharapkan dapat bergerak naik dan tidak terus terperangkap di lapisan bawah atmosfer.

“Tujuannya tadi, gerobek layar inversi, mengganggu layar inversi,” kata Budi dalam pemaparan pembaruan penanganan karhutla.

Lapisan inversi merupakan kondisi atmosfer ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu. Kondisi ini menghambat pergerakan udara ke atas sehingga asap dan polutan dapat terperangkap di dekat permukaan.

Budi menjelaskan, ketika lapisan inversi terbuka, asap dari kebakaran di bawahnya berpeluang naik ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Perubahan kondisi tersebut juga memungkinkan radiasi matahari mencapai permukaan dan berperan dalam proses penguapan serta pertumbuhan awan hujan.

“Harapannya dengan suhunya normal kembali tersebut, lapisan inversi itu menjadi terbuka, sehingga kalaupun tidak turun hujan, asap yang terbakar dari bawah itu tidak tertahan oleh si lapisan inversi tersebut. Sehingga bisa terus naik ke atas, kepekatan di bawah berkurang,” ujarnya.

Budi membedakan penggunaan dry ice dengan penyemaian awan menggunakan natrium klorida (NaCl). Dry ice digunakan pada pagi hari untuk membantu mengganggu lapisan inversi, sedangkan penyemaian awan dilakukan ketika awan konvektif, seperti awan kumulus, mulai terbentuk.

“Kalau kemudian sudah terbentuk profil awan konvektif ya, sudah mulai tumbuh awan-awan kumulus, baru kemudian penyemaian awannya dilakukan dengan menggunakan bahan semai NaCl seperti biasanya, yang tujuannya adalah untuk menambah inti kondensasi sehingga mempercepat terjadinya hujan,” jelas Budi.

Dengan demikian, kedua metode tersebut memiliki tujuan berbeda dalam operasi modifikasi cuaca. Penggunaan dry ice diarahkan untuk membantu mengubah kondisi atmosfer yang menahan asap, sedangkan penyemaian menggunakan NaCl bertujuan mempercepat pembentukan hujan.

 

Pemantauan di Sumatra Selatan

BMKG turut memaparkan hasil pemantauan kondisi atmosfer dan kualitas udara di Palembang, Sumatra Selatan, pada 19 Oktober 2026. Berdasarkan grafik yang ditampilkan Budi, jarak pandang pada pagi hari umumnya berada di bawah 1.000 meter.

Setelah penerbangan yang membawa dry ice pada sekitar pukul 09.00 hingga 15.00 waktu setempat, jarak pandang tercatat meningkat.

“Dari grafik visibility, pagi hari ini umumnya di bawah 1.000. Kemudian pada saat sudah melakukan penerbangan dengan membawa dry ice, kurang lebih dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore begitu, visibility-nya kemudian naik,” kata Budi.

Ia juga menyampaikan adanya penurunan indeks PM2.5 dalam data yang dipaparkan BMKG. Menurutnya, perubahan kondisi atmosfer memungkinkan sebagian partikulat terdispersi secara vertikal.

Meski demikian, Budi menegaskan bahwa operasi tersebut tidak serta-merta menghilangkan seluruh asap. Hujan dan pemadaman langsung tetap diperlukan untuk menangani sumber kebakaran.

“Meskipun tidak hilang asapnya, karena asap hilang ini salah satu cara yang paling efektif adalah dengan siraman hujan, di samping juga upaya kawan-kawan yang melakukan pemadaman dari darat, juga helikopter water bombing,” ujarnya.

 

Pemantauan di Kalimantan Tengah

Di Kalimantan Tengah, BMKG mencatat penurunan indeks PM2.5 dari pagi hingga sore hari. Namun, berdasarkan pemaparan Budi, perbaikan jarak pandang di wilayah tersebut belum terlihat signifikan.

Perbedaan hasil pemantauan di kedua wilayah menunjukkan bahwa perubahan kondisi atmosfer dan kualitas udara tidak selalu diikuti peningkatan jarak pandang dalam tingkat yang sama. Hasil operasi perlu dilihat berdasarkan lokasi dan periode pengamatan, sehingga tidak dapat langsung dianggap sebagai jaminan bahwa penggunaan dry ice akan menghilangkan asap karhutla.

Penanganan karhutla tetap memerlukan langkah terpadu, mulai dari pemadaman melalui jalur darat hingga penggunaan helikopter water bombing. Operasi modifikasi cuaca dapat menjadi salah satu upaya pendukung, sementara hujan diharapkan membantu menekan dampak asap apabila kondisi atmosfer memungkinkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6