Liputan6.com, Jakarta - Puncak musim hujan 2026 menurut BMKG diprediksi berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027 di sebagian besar wilayah Indonesia. Periode ini menjadi perhatian masyarakat karena awal musim hujan diperkirakan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal. Perbedaan waktu tersebut membuat masyarakat perlu memahami prakiraan musim di wilayah masing-masing agar dapat mempersiapkan aktivitas sehari-hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan 2026/2027 dipengaruhi oleh dinamika iklim global, termasuk fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola curah hujan, waktu dimulainya musim hujan, hingga durasinya di sejumlah daerah.
Meski demikian, puncak musim hujan tidak terjadi secara bersamaan di seluruh Indonesia. Ada wilayah yang diperkirakan mencapai puncak pada Desember 2026, sedangkan daerah lainnya baru mengalaminya pada Januari atau Februari 2027. Oleh karena itu, memahami prakiraan BMKG menjadi langkah penting untuk mengantisipasi perubahan cuaca dan merencanakan berbagai kegiatan. Berikut ulasan Liputan6.com, Rabu (21/10/2026).
Advertisement
Kapan Puncak Musim Hujan 2026 Menurut BMKG?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2364717/original/068701700_1537555708-AWAN_HUJAN-Muhamad_Ridlo.jpg)
Berdasarkan prediksi musim hujan 2026/2027 yang dirilis BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026, Januari 2027, dan Februari 2027. Ketiga bulan tersebut menjadi periode penting dalam prakiraan musim hujan karena mencakup bagian terbesar wilayah yang diperkirakan mencapai puncak curah hujannya.
BMKG membagi wilayah prakiraan berdasarkan Zona Musim (ZOM), yaitu wilayah yang memiliki karakteristik pola musim relatif serupa. Pembagian ini membantu menggambarkan perbedaan waktu awal musim hujan dan puncaknya di berbagai daerah.
Berikut rincian periode puncak musim hujan berdasarkan data BMKG:
-
Desember 2026: Sebanyak 155 ZOM diperkirakan mengalami puncak musim hujan. Wilayah ini mencakup sekitar 36,94 persen luas daratan Indonesia.
-
Januari 2027: Sebanyak 162 ZOM diprediksi mencapai puncak musim hujan, dengan cakupan sekitar 25,68 persen luas daratan Indonesia.
-
Februari 2027: Sebanyak 190 ZOM diperkirakan mengalami puncak musim hujan, mencakup sekitar 16,79 persen luas daratan Indonesia.
Angka tersebut menunjukkan bahwa puncak musim hujan tersebar dalam beberapa bulan, bukan terpusat pada satu waktu. Desember 2026 menjadi periode dengan cakupan luas daratan terbesar dalam prakiraan puncak musim hujan, sedangkan Februari 2027 mencatat jumlah ZOM terbanyak di antara ketiga periode tersebut.
Perbedaan antara jumlah ZOM dan persentase luas daratan terjadi karena setiap Zona Musim memiliki luas wilayah yang tidak sama. Dengan demikian, jumlah zona yang mengalami puncak hujan tidak selalu berbanding lurus dengan luas wilayah yang dicakupnya.
Masyarakat perlu memahami bahwa periode tersebut merupakan gambaran umum tingkat nasional. Untuk mengetahui kapan puncak musim hujan di suatu kabupaten atau kota, informasi prakiraan yang lebih spesifik dari BMKG tetap diperlukan.
Advertisement
Awal Musim Hujan 2026 Diprediksi Mengalami Kemunduran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/720760/original/TENDEAN_2.jpg)
Sebelum mencapai puncaknya, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November dan Desember 2026. Namun, beberapa daerah diprediksi lebih dahulu mengalami awal musim hujan pada Oktober 2026.
Berdasarkan data BMKG, sebanyak 63 ZOM atau sekitar 7,6 persen wilayah diperkirakan memasuki musim hujan pada Oktober. Wilayahnya meliputi sebagian Sumatera, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, serta sejumlah wilayah di Papua.
Pada November 2026, sebanyak 185 ZOM diperkirakan mulai memasuki musim hujan. Cakupannya mencapai sekitar 24,66 persen luas daratan Indonesia, termasuk sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Sementara itu, Desember 2026 diprediksi menjadi awal musim hujan bagi 266 ZOM yang mencakup sekitar 17,31 persen luas daratan Indonesia. Wilayah tersebut antara lain sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua Selatan.
Secara keseluruhan, BMKG memperkirakan awal musim hujan datang lebih lambat daripada kondisi normal di 529 ZOM, yang mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia. Sebanyak 26 ZOM atau 2,15 persen luas daratan diperkirakan mengalami awal musim hujan sesuai kondisi normal.
Kemunduran awal musim hujan tersebut tidak berarti seluruh daerah akan mengalami kekeringan hingga akhir tahun. Waktu peralihan musim bergantung pada kondisi iklim setempat sehingga suatu wilayah bisa mulai mengalami hujan lebih dahulu dibandingkan wilayah lainnya.
Hal yang juga perlu diperhatikan adalah perbedaan antara awal musim hujan dan puncak musim hujan. Awal musim hujan menandai peralihan menuju periode musim hujan berdasarkan kriteria klimatologis, sedangkan puncak musim hujan merupakan periode ketika curah hujan mencapai tingkat tertinggi dalam siklus musim di suatu wilayah. Karena itu, hujan yang mulai turun pada Oktober atau November tidak otomatis berarti wilayah tersebut sudah mencapai puncaknya.
El Niño Sangat Kuat dan IOD Positif Memengaruhi Prakiraan Musim Hujan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4694339/original/040144300_1703152631-cuaca_panas-HERMAN_4.jpg)
Salah satu faktor penting dalam prakiraan musim hujan 2026/2027 adalah kondisi iklim global. BMKG mencatat anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur pada Agustus 2026 mencapai +2,83 derajat Celsius. Sementara itu, indeks ENSO pada periode Juni–Juli–Agustus 2026 tercatat sebesar +2,20.
Nilai tersebut menunjukkan bahwa ENSO berada pada fase El Niño sangat kuat berdasarkan informasi BMKG yang dirujuk dalam prakiraan musim hujan 2026/2027. BMKG juga memperkirakan kondisi El Niño bertahan hingga awal 2027.
El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik tropis yang dapat memengaruhi pola atmosfer global. Bagi Indonesia, fenomena ini sering berkaitan dengan berkurangnya pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah sehingga musim kemarau dapat berlangsung lebih lama atau curah hujan berkurang.
Selain El Niño, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif juga disebut berpotensi memengaruhi pola hujan. IOD berkaitan dengan perbedaan suhu permukaan laut di wilayah barat dan timur Samudra Hindia. Dalam kondisi IOD positif, distribusi uap air dan pembentukan awan hujan di sekitar Indonesia dapat berubah.
Kombinasi kedua fenomena tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca prakiraan musim. Namun, dampaknya tidak selalu sama di setiap daerah karena pola hujan Indonesia juga dipengaruhi kondisi atmosfer regional, topografi, serta dinamika cuaca yang berkembang dari waktu ke waktu.
Karena itu, informasi tentang El Niño sangat kuat tidak sebaiknya ditafsirkan sebagai kepastian bahwa semua wilayah Indonesia akan mengalami hujan yang sedikit. Prakiraan BMKG justru menunjukkan bahwa akumulasi curah hujan selama musim hujan di sebagian besar wilayah masih diperkirakan berada dalam kategori normal.
Advertisement
Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Lebih Pendek
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3039961/original/009438800_1580724289-20200203-BMKG-merilis-peringatan-waspada-potensi-hujan-lebat-ANGGA-1.jpg)
Selain memperkirakan awal musim hujan yang lebih lambat, BMKG memprediksi musim hujan 2026/2027 berlangsung lebih pendek daripada kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.
Berdasarkan data prakiraan tersebut, sebanyak 482 ZOM atau sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami durasi musim hujan yang lebih pendek dari biasanya. Kondisi ini menunjukkan bahwa periode musim hujan secara keseluruhan dapat berlangsung lebih singkat di banyak wilayah.
Meski begitu, durasi yang lebih pendek tidak otomatis berarti jumlah hujan selama musim tersebut juga jauh di bawah normal. BMKG memperkirakan akumulasi curah hujan pada periode musim hujan berada dalam kategori normal di 510 ZOM, yang mencakup sekitar 69,76 persen luas daratan Indonesia.
Akumulasi curah hujan merupakan jumlah hujan yang terkumpul selama periode tertentu. Sementara itu, durasi musim hujan menunjukkan berapa lama suatu wilayah berada dalam periode musim hujan berdasarkan kriteria klimatologis. Keduanya merupakan ukuran berbeda sehingga perlu dipahami secara terpisah.
Sebagai gambaran, suatu wilayah dapat mengalami musim hujan yang lebih singkat tetapi tetap mencatat jumlah curah hujan yang mendekati normal. Hal itu dapat terjadi apabila hujan terkonsentrasi dalam periode yang lebih pendek. Namun, pola tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk setiap daerah tanpa melihat prakiraan setempat.
Kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa masyarakat sebaiknya tidak hanya memperhatikan kapan hujan mulai turun. Perkiraan durasi musim, distribusi curah hujan, serta kemungkinan perubahan cuaca perlu menjadi pertimbangan dalam menyusun rencana pertanian, pengelolaan air, dan aktivitas luar ruangan.
Dampak Prakiraan Puncak Musim Hujan bagi Masyarakat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4565722/original/096542400_1693995924-20230906-Kekeringan_di_Sawah-ANG_4.jpg)
Prakiraan puncak musim hujan 2026/2027 dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mempersiapkan berbagai kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan ekonomi. Meskipun waktu puncak berbeda antardaerah, langkah antisipasi dapat dimulai sebelum periode hujan meningkat.
Bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan genangan atau banjir, pemeriksaan saluran air, selokan, dan talang atap menjadi langkah sederhana yang bermanfaat. Sampah atau endapan yang menyumbat saluran dapat menghambat aliran air ketika hujan turun. Warga juga dapat memeriksa kondisi atap, dinding, dan titik kebocoran rumah sebelum memasuki periode hujan yang lebih intens.
Petani perlu menyesuaikan kegiatan budidaya dengan prakiraan musim di wilayah masing-masing. Informasi awal musim hujan dapat membantu menentukan waktu tanam, sementara prakiraan curah hujan dan peringatan cuaca dapat menjadi pertimbangan untuk pengairan, pemupukan, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Pengendara dan masyarakat yang rutin beraktivitas di luar ruangan juga perlu memperhatikan perkembangan cuaca harian. Hujan dapat mengurangi jarak pandang dan membuat jalan lebih licin. Pada saat terjadi hujan lebat disertai angin kencang atau petir, aktivitas di ruang terbuka sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keselamatan.
Meski demikian, prakiraan musim tidak dapat menentukan secara pasti kapan hujan lebat akan terjadi di satu lokasi pada hari tertentu. Untuk kebutuhan tersebut, masyarakat perlu memantau prakiraan cuaca jangka pendek, peringatan dini, serta pembaruan informasi resmi BMKG.
Advertisement
Cara Memantau Informasi Musim Hujan dari BMKG
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3357749/original/004574800_1611469063-20210124-Puncak_Musim_Hujan_Tiba-6.jpg)
Agar persiapan lebih sesuai dengan kondisi daerah, masyarakat dapat memanfaatkan informasi resmi BMKG melalui situs web bmkg.go.id dan kanal komunikasi resmi lembaga tersebut.
Informasi prediksi musim hujan berguna untuk memahami gambaran kondisi selama beberapa bulan, termasuk perkiraan awal musim dan puncaknya. Sementara itu, prakiraan cuaca harian membantu masyarakat mengetahui potensi hujan dalam waktu dekat. Kedua informasi ini saling melengkapi dan sebaiknya digunakan sesuai kebutuhan.
Masyarakat juga perlu memperhatikan peringatan dini ketika BMKG mengeluarkan informasi tentang potensi hujan lebat, angin kencang, atau cuaca ekstrem. Informasi tersebut lebih relevan untuk menentukan langkah keselamatan dalam waktu dekat dibandingkan hanya mengandalkan perkiraan puncak musim.
Perlu diingat bahwa prakiraan musim dapat diperbarui mengikuti perkembangan kondisi atmosfer dan laut. Oleh sebab itu, informasi terbaru dari BMKG perlu menjadi acuan, terutama ketika merencanakan perjalanan, kegiatan pertanian, atau aktivitas lain yang sangat bergantung pada cuaca.
Dengan memahami perbedaan awal musim, puncak musim, dan durasi musim hujan, masyarakat dapat mempersiapkan diri secara lebih terarah. Puncak musim hujan yang diperkirakan terjadi pada Desember 2026 hingga Februari 2027 merupakan gambaran umum untuk Indonesia, sedangkan kondisi aktual di setiap daerah tetap perlu dipantau melalui informasi lokal dari BMKG.
Tanya Jawab Seputar Musim Hujan 2026
1. Kapan puncak musim hujan 2026 menurut BMKG?
BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026 hingga Februari 2027. Waktu pastinya berbeda menurut Zona Musim masing-masing daerah.
2. Apakah semua wilayah Indonesia mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026?
Tidak. Sebagian wilayah diperkirakan mencapai puncak pada Desember 2026, sementara wilayah lain pada Januari atau Februari 2027. Ada pula daerah yang memiliki pola musim berbeda sehingga perlu melihat prakiraan lokal.
3. Mengapa musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih lambat?
BMKG memperkirakan awal musim hujan mundur di sebagian besar wilayah Indonesia. Salah satu faktor yang memengaruhi prakiraan tersebut adalah kondisi iklim global, termasuk El Niño sangat kuat dan IOD positif, yang berpotensi mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah.
4. Apakah El Niño sangat kuat berarti Indonesia tidak akan mengalami banyak hujan?
Tidak selalu. Dampak El Niño berbeda-beda menurut wilayah dan waktu. BMKG memprediksi akumulasi curah hujan selama musim hujan masih berada dalam kategori normal di sebagian besar wilayah Indonesia, meskipun awal dan durasi musim hujan diperkirakan berubah.
5. Bagaimana cara mengetahui jadwal puncak musim hujan di daerah tempat tinggal?
Masyarakat dapat memeriksa prediksi musim hujan dan informasi iklim melalui situs resmi BMKG di bmkg.go.id. Untuk mengetahui potensi hujan pada hari tertentu, pantau juga prakiraan cuaca harian dan peringatan dini BMKG.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353288/original/089120400_1789959015-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-21T094827.860.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378631/original/096164000_1792555787-Screenshot_2026-10-21_103719.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3429585/original/032446800_1618472622-pexels-photo-1463530.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378436/original/052152600_1792514382-20261020233213.mmi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4851051/original/045304600_1717387676-kemarau.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/732754/original/044682900_1409879838-Jakarta_Cerah_berawan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3938376/original/004974400_1645165608-20220218-Waspada_Cuaca_Ekstrem_di_Jakarta-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4516753/original/082794300_1690458364-Polusi-Udara-Jakarta-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375368/original/059578300_1792141227-unnamed__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4276143/original/062979400_1672298964-anna-atkins-rNBaaxyeWWM-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328440/original/005628000_1787194888-pal1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374753/original/077556300_1792063607-Screenshot_2026-10-15_182237.jpg)