9 Cara Mengajarkan Anak Meminta Izin Sebelum Menggunakan Barang Milik Orang Lain

Cara mengajarkan anak meminta izin sebelum menggunakan barang milik orang lain lewat teladan, aturan rumah, dan bermain peran agar anak lebih empatik.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 19:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cara mengajarkan anak meminta izin sebelum menggunakan barang milik orang lain penting dipelajari setiap orang tua. Kebiasaan sederhana ini membentuk rasa hormat, empati, dan kontrol diri sejak dini, sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang dipercaya.

Anak usia dini masih belajar membedakan milik sendiri dan milik orang lain. Wajar bila mereka langsung mengambil mainan teman karena penasaran. Tugas orang tua bukan memarahi, melainkan membimbing dengan sabar dan konsisten setiap hari.

Menurut pediatri Amerika, Dr. Greene, dalam lamannya yang berjudul "Ownership and Sharing Rules", anak belajar lebih banyak dari teladan orang tua. Sementara itu, Everyday Speech menekankan latihan sosial lewat bermain peran. Berikut langkah praktis yang bisa langsung Anda terapkan di rumah yang dilansir Liputan6.com, Senin (26/10/2026).

1. Kenalkan Konsep "Milik Sendiri" dan "Milik Orang Lain"

Sebelum meminta izin, anak perlu paham bahwa setiap barang punya pemiliknya. Gunakan contoh nyata di sekitar, misalnya "Ini sepeda adik, itu sepeda kakak." Tunjukkan juga barang yang boleh dipakai bersama, seperti mainan ruang keluarga, dan barang pribadi yang harus dimintai izin lebih dulu. Dengan pemahaman ini, anak punya dasar yang jelas mengapa ia tidak boleh langsung mengambil barang orang lain.

2. Jadilah Teladan Meminta Izin di Rumah

Dr. Greene mengingatkan bahwa anak belajar lebih banyak dari apa yang orang tua lakukan daripada apa yang dikatakan. Biasakan meminta izin kepada pasangan dan anak, misalnya "Boleh Ibu pinjam krayonmu?" atau "Boleh Ayah duduk di sebelahmu?" Saat anak melihat orang dewasa menghargai barang orang lain, ia akan menirunya secara alami tanpa perlu banyak ceramah.

3. Tetapkan Aturan Keluarga yang Sederhana

Aturan yang jelas membuat anak tidak bingung. Dr. Greene menyarankan aturan pertama yang mudah diingat: jika ingin memakai barang milik orang lain, tanyakan dulu. Rumuskan dalam kalimat singkat, misalnya "Di rumah kita, kita bertanya sebelum meminjam." Pasang aturan ini secara konsisten, termasuk saat berkunjung ke rumah teman atau saudara, agar anak tidak berlari dan langsung meraih mainan.

4. Ajarkan Kalimat Izin yang Sopan

Anak perlu contoh kalimat konkret. Ajarkan ungkapan seperti "Boleh aku pinjam sebentar?" atau "Kapan giliranku bermain?" Latih juga nada suara yang ramah dan kontak mata. Jelaskan bahwa meminta izin berarti menunggu jawaban, bukan sekadar bertanya lalu langsung mengambil. Jika barang dipinjam, ajarkan pula untuk merawatnya dan mengembalikannya dalam kondisi baik sambil mengucapkan terima kasih.

5. Latih Lewat Bermain Peran

Everyday Speech menyarankan kegiatan sederhana tanpa persiapan: satu anak berperan sebagai peminjam, satu lagi sebagai pemilik barang. Peminjam memilih benda, misalnya pensil, lalu meminta izin dengan sopan. Anda bisa menjadikannya permainan "Tanya Dulu Baru Bertindak" di rumah dengan boneka atau saudara kandung. Cara ini membuat anak berlatih tanpa tekanan sehingga kebiasaan baru terasa menyenangkan.

6. Ajarkan Cara Menerima Jawaban "Tidak"

Meminta izin berarti siap mendengar penolakan. Ajak anak berpikir, "Apa yang bisa kamu lakukan kalau temanmu bilang tidak?" Dr. Greene juga mengingatkan bahwa pemilik barang boleh menolak, namun sebaiknya memberi alasan atau alternatif, seperti "Ayo gantian" atau "Yang ini favoritku, tapi kamu boleh pakai yang itu." Dengan begitu, anak belajar bahwa menolak dan menerima penolakan bisa dilakukan dengan baik.

7. Bangun Empati lewat Pertanyaan Reflektif

Ajak anak mengobrol setelah bermain. Tanyakan, "Bagaimana perasaanmu kalau mainanmu diambil tanpa izin?" atau "Apa yang dirasakan temanmu saat kamu bertanya dulu?" Pertanyaan semacam ini juga digunakan dalam materi Everyday Speech untuk membantu anak memahami perasaan orang lain. Empati membuat anak meminta izin bukan karena takut dimarahi, tetapi karena peduli.

8. Terapkan Prinsip "Perlakukan Orang Lain seperti Kamu Ingin Diperlakukan"

Dr. Greene menyebut Golden Rule sebagai pedoman yang berguna, baik saat anak ingin meminjam maupun saat ia dimintai barang. Kaitkan dengan pengalaman anak, misalnya, "Kamu pasti sedih kalau mainan barumu dipakai tanpa bilang." Prinsip ini juga membantu anak merawat barang pinjaman karena ia ingin barangnya diperlakukan dengan baik oleh orang lain.

9. Beri Pujian dan Tanggapi Kesalahan dengan Tenang

Saat anak berhasil meminta izin, apresiasi langsung: "Ibu senang kamu bertanya dulu." Pujian pada perilaku spesifik memperkuat kebiasaan. Jika anak lupa dan mengambil barang tanpa izin, hindari membentak. Ajak ia mengembalikan barang, meminta maaf, lalu mengulang dengan cara yang benar. Kesalahan adalah bagian dari proses belajar, dan sikap tenang orang tua membuat anak berani memperbaiki diri.

Pertanyaan Seputar Langkah Mengajarkan Anak Meminta Izin

Pada usia berapa anak mulai bisa diajarkan meminta izin?

Latihan bisa dimulai sejak usia prasekolah, sekitar 2 sampai 3 tahun, dengan kalimat sederhana seperti "boleh pinjam?" Materi pembelajaran sosial-emosional untuk anak PreK dan taman kanak-kanak, seperti dari Everyday Speech, juga memasukkan keterampilan ini. Sesuaikan caranya dengan kemampuan bahasa anak.

Anak saya sering langsung mengambil mainan temannya. Apa yang harus dilakukan?

Tetap tenang, minta anak mengembalikan barang, lalu bimbing ia mengucapkan permintaan izin dengan benar. Hindari memarahi di depan teman. Ulangi latihan di rumah lewat bermain peran supaya kebiasaan baru lebih mudah terbentuk.

Apakah anak wajib mengizinkan semua orang memakai barangnya?

Tidak. Menurut Dr. Greene, anak tidak harus selalu mengatakan ya, tetapi sebaiknya menolak dengan memberi alasan atau menawarkan alternatif, seperti bergantian atau meminjamkan barang lain. Ini mengajarkan sopan santun sekaligus menghargai hak milik anak.

Bagaimana jika anak marah saat permintaannya ditolak?

Akui perasaannya terlebih dahulu, misalnya "Kamu kecewa ya." Lalu ajak ia mencari pilihan lain, seperti menunggu giliran atau bermain dengan barang berbeda. Latihan menghadapi jawaban "tidak" lewat permainan peran akan membantu anak mengelola emosinya.