Liputan6.com, Jakarta - Bullying di sekolah menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dari orang tua. Tidak semua anak berani menceritakan pengalaman buruk yang dialaminya kepada keluarga, terutama ketika merasa malu, takut diancam, khawatir dianggap lemah, atau cemas situasinya justru semakin memburuk setelah melapor.
Dalam sejumlah situasi, anak yang mengalami perundungan mungkin tidak menunjukkan luka fisik atau secara langsung mengungkapkan bahwa dirinya mendapat perlakuan buruk. Sebaliknya, perubahan bisa terlihat melalui kebiasaan sehari-hari, kondisi emosional, hubungan sosial, hingga sikapnya ketika bersiap berangkat ke sekolah.
Karena itu, orang tua perlu memahami cara mengetahui anak menjadi korban bullying di sekolah tanpa terburu-buru mengambil kesimpulan. Perubahan perilaku bukan bukti pasti terjadinya perundungan, tetapi bisa menjadi sinyal bahwa anak sedang menghadapi masalah dan membutuhkan perhatian. Dengan mengamati perubahan secara konsisten, mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, serta menjalin komunikasi dengan pihak sekolah jika diperlukan, orang tua dapat membantu anak merasa lebih aman. Lantas bagaimana saja cara mengetahui anak menjadi korban bullying di sekolah? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (20/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Anak Mendadak Takut atau Enggan Berangkat ke Sekolah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6392962/original/054274700_1779268461-2150163841.jpg)
Tanda yang perlu diperhatikan: perubahan rutinitas dan kecemasan sebelum sekolah.
Salah satu cara mengetahui anak menjadi korban bullying di sekolah adalah memperhatikan perubahan sikapnya saat hendak berangkat. Anak yang sebelumnya bersemangat mengikuti pelajaran atau bertemu teman bisa mendadak sering mengeluh sakit, meminta izin tidak masuk, menangis, atau terlihat sangat cemas pada pagi hari.
Perhatikan pula apakah anak memberikan alasan tertentu untuk menghindari sekolah, seperti takut naik kendaraan antar-jemput, tidak mau mengikuti kegiatan olahraga, atau meminta dijemput lebih awal. Jika keluhan tersebut terus berulang, orang tua perlu mencari tahu apakah ada situasi atau orang tertentu yang membuat anak merasa tidak aman.
Meski demikian, keengganan berangkat ke sekolah tidak selalu berkaitan dengan bullying. Kesulitan belajar, kecemasan berpisah dari orang tua, konflik pertemanan, atau masalah lain juga dapat menjadi penyebabnya. Cobalah bertanya dengan lembut, misalnya, "Ada sesuatu yang bikin kamu tidak nyaman di sekolah akhir-akhir ini?" Hindari langsung memaksa anak mengaku atau menuduh teman tertentu sebagai pelaku.
Advertisement
2. Muncul Luka atau Barang Pribadi Sering Hilang
![[Bintang] Sembilan Tahun Ngebully Teman Sendiri, Akhirnya Pria Ini Masuk Penjara](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/hMfsXhCKkEQu6fGKmqMm1ifCAUY=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2127342/original/057106300_1524984335-Shadow-pic.jpg)
Tanda yang perlu diperhatikan: memar, goresan, pakaian rusak, atau barang yang berulang kali hilang.
Perubahan kondisi fisik menjadi petunjuk lain yang perlu diperhatikan. Anak mungkin pulang dengan memar, goresan, atau luka yang tidak bisa dijelaskan secara masuk akal. Dalam situasi lain, seragamnya terlihat rusak, buku pelajaran hilang, alat tulis berulang kali lenyap, atau barang pribadinya ditemukan dalam keadaan pecah.
Orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan barang yang hilang, tetapi juga pola kejadian dan reaksi anak ketika ditanya. Apabila anak tampak ketakutan, terus mengganti cerita, atau enggan menjelaskan apa yang terjadi, berikan ruang agar ia bisa berbicara tanpa merasa terpojok. Catat kejadian yang berulang dan simpan bukti kerusakan barang jika diperlukan.
UNICEF Indonesia memasukkan luka yang tidak dapat dijelaskan serta barang pribadi yang hilang atau rusak sebagai tanda yang patut diwaspadai. Namun, tanda tersebut tidak otomatis membuktikan bullying. Dengarkan penjelasan anak, periksa apakah ada kebutuhan medis, dan segera cari bantuan apabila terdapat luka serius atau dugaan kekerasan fisik.
3. Anak Menjadi Lebih Pendiam dan Sering Menyendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4751731/original/068414100_1708738616-portrait-little-girl-with-teddy-bear-blurred-background-interior-room.jpg)
Tanda yang perlu diperhatikan: menarik diri dari keluarga, teman, atau kegiatan yang sebelumnya disukai.
Anak yang mengalami perundungan mungkin merasa malu, takut ditolak, atau khawatir kejadian serupa terulang. Perasaan tersebut dapat membuatnya lebih banyak menghabiskan waktu sendirian, mengurangi percakapan dengan keluarga, atau berhenti mengikuti kegiatan yang sebelumnya membuatnya senang.
Perubahan juga bisa terlihat dalam hubungan pertemanan. Anak yang biasanya bercerita tentang teman sekelasnya mungkin tiba-tiba tidak lagi menyebut nama mereka, menghindari acara bersama, atau tampak kesepian saat membicarakan waktu istirahat. Perhatikan apakah perubahan tersebut muncul secara tiba-tiba dan berlangsung terus-menerus, bukan hanya sesekali.
Untuk memahami penyebabnya, orang tua bisa mengajak anak melakukan aktivitas yang membuatnya nyaman, seperti berjalan santai, memasak bersama, atau berbincang sebelum tidur. Gunakan pertanyaan terbuka, misalnya, "Belakangan ini kamu lebih sering sendirian. Ada yang ingin kamu ceritakan?" Jangan langsung menyimpulkan bahwa anak tidak punya teman atau sedang menjadi korban bullying. Yang terpenting adalah membuatnya merasa diterima dan tidak sendirian.
Advertisement
4. Suasana Hati Berubah dan Anak Menjadi Lebih Mudah Cemas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368704/original/005023400_1791445195-2.jpg)
Tanda yang perlu diperhatikan: mudah marah, menangis, gelisah, atau terlihat takut tanpa alasan yang jelas.
Perundungan tidak hanya berpotensi menimbulkan luka fisik, tetapi juga tekanan emosional. Anak mungkin menjadi lebih sensitif, gampang tersinggung, sering menangis, mudah panik, atau terlihat terus-menerus waspada. Ada pula anak yang justru berusaha menyembunyikan perasaannya dan terlihat biasa saja di depan orang lain.
Perubahan emosi tersebut bisa muncul setelah anak pulang sekolah, ketika menerima pesan dari teman, atau saat mengetahui akan bertemu kelompok tertentu. Orang tua juga perlu memperhatikan perubahan pola tidur, mimpi buruk, nafsu makan, dan keluhan sakit kepala atau sakit perut yang berulang. Tanda-tanda ini dapat berkaitan dengan stres, tetapi bukan penentu tunggal bahwa anak mengalami bullying.
Jika anak terlihat tertekan, hindari komentar seperti "Kamu terlalu sensitif" atau "Begitu saja kok sedih". Respons seperti itu bisa membuatnya merasa tidak dipahami. Sebaliknya, katakan bahwa perasaannya penting dan ia boleh bercerita kapan saja. Apabila kecemasan berlangsung lama, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau semakin berat, pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional yang sesuai.
5. Prestasi Belajar Menurun dan Konsentrasi Terganggu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674111/original/023183700_1782715580-IMG_1236.jpeg)
Tanda yang perlu diperhatikan: nilai turun, tugas terbengkalai, atau kehilangan minat belajar.
Perubahan prestasi akademik bisa menjadi petunjuk bahwa anak sedang menghadapi masalah di sekolah. Anak yang terus memikirkan perlakuan buruk dari teman mungkin kesulitan berkonsentrasi, tidak fokus mengikuti pelajaran, lupa mengerjakan tugas, atau kehilangan semangat untuk belajar.
Perhatikan juga perubahan yang terjadi di luar nilai rapor. Misalnya, anak yang sebelumnya senang menceritakan kegiatan kelas kini menjawab singkat, tidak mau mengikuti kerja kelompok, atau tampak cemas ketika menyebut nama teman tertentu. Jika kondisi tersebut disertai keengganan berangkat sekolah atau perubahan suasana hati, orang tua perlu menggali situasinya lebih jauh.
Langkah yang bisa dilakukan adalah menghubungi wali kelas untuk mengetahui apakah ada perubahan perilaku di sekolah, masalah pertemanan, atau kejadian yang perlu ditindaklanjuti. Sampaikan pengamatan secara faktual tanpa langsung menuduh siswa lain. Dengan begitu, orang tua dan sekolah dapat memeriksa situasi secara lebih menyeluruh sekaligus mencari dukungan yang dibutuhkan anak.
Advertisement
6. Anak Sering Meminta Uang atau Kehilangan Uang Saku
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7681650/original/043002000_1780477230-pexels-cottonbro-7118209.jpg)
Tanda yang perlu diperhatikan: uang saku cepat habis, barang berulang kali hilang, atau muncul permintaan uang yang tidak biasa.
Perubahan kebiasaan keuangan anak juga patut dicermati, terutama jika ia mendadak sering meminta uang tambahan tanpa penjelasan yang jelas. Dalam situasi tertentu, anak mungkin merasa dipaksa memberikan uang, membelikan sesuatu untuk teman, atau menyerahkan barang agar tidak diganggu. Namun, kebiasaan meminta uang lebih banyak juga bisa disebabkan oleh kebutuhan lain yang wajar.
Orang tua dapat mulai dengan memeriksa pola pengeluaran harian dan menanyakan apakah ada kebutuhan sekolah yang berubah. Perhatikan pula apakah anak terlihat ketakutan ketika membicarakan uang saku, menyembunyikan barang yang dibeli, atau berulang kali pulang tanpa uang dan perlengkapan sekolahnya. Tanyakan secara pribadi agar anak tidak merasa dipermalukan.
Jika ada dugaan pemaksaan atau pemerasan, jangan meminta anak menghadapi pihak yang diduga terlibat sendirian. Simpan catatan mengenai kejadian, waktu, dan bukti yang tersedia, lalu koordinasikan langkah perlindungan dengan pihak sekolah. Bila terdapat ancaman serius atau tindak kekerasan, cari bantuan dari pihak berwenang yang sesuai.
7. Anak Terlihat Tertekan setelah Menggunakan Ponsel
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4040917/original/044861600_1654183951-HP_Anak.jpg)
Tanda yang perlu diperhatikan: perubahan emosi saat membaca pesan, takut membuka media sosial, atau menarik diri dari aktivitas daring.
Bullying tidak selalu terjadi di ruang kelas atau halaman sekolah. Perundungan juga bisa berlanjut melalui grup percakapan, media sosial, permainan daring, dan pesan pribadi. Anak mungkin menerima ejekan, ancaman, penyebaran rumor, atau unggahan yang mempermalukan dirinya, bahkan setelah jam sekolah berakhir.
Salah satu petunjuknya adalah perubahan emosi yang terlihat setelah menggunakan ponsel. Anak mungkin mendadak marah, sedih, menangis, menutup layar ketika orang tua mendekat, atau tidak lagi mau membuka aplikasi yang sebelumnya sering digunakan. Ada pula anak yang terus memeriksa pesan karena takut ada unggahan atau komentar baru tentang dirinya.
Menurut panduan StopBullying.gov, perubahan penggunaan perangkat dan reaksi emosional saat beraktivitas daring dapat menjadi tanda yang perlu diperiksa lebih lanjut. Orang tua sebaiknya mengajak anak berbicara tanpa langsung menyita ponsel atau menyalahkan kebiasaan bermain media sosialnya. Jika ada perundungan daring, simpan tangkapan layar, tautan, nama akun, dan waktu kejadian jika aman dilakukan. Bantu anak memblokir atau melaporkan akun terkait, serta koordinasikan dengan sekolah jika pelakunya merupakan teman sekolah.
Advertisement
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua jika Anak Diduga Menjadi Korban Bullying?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4095081/original/000633600_1658311465-pexels-kindel-media-8550841.jpg)
Mengetahui tanda-tanda bullying merupakan langkah awal. Namun, respons orang tua setelah melihat perubahan pada anak juga sangat menentukan apakah anak merasa aman untuk mencari pertolongan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan.
- Dengarkan tanpa menghakimi. Beri kesempatan kepada anak untuk bercerita dengan caranya sendiri. Jangan memotong cerita, menyalahkan, atau mendesaknya memberikan jawaban saat belum siap.
- Yakinkan anak bahwa ia tidak bersalah. Sampaikan bahwa tidak seorang pun pantas dirundung dan ia tidak harus menghadapi masalah tersebut sendirian.
- Tanyakan apa yang membuatnya merasa aman. Cari tahu kapan dan di mana kejadian berlangsung, apakah pernah terjadi sebelumnya, serta siapa orang dewasa yang dipercaya anak.
- Catat kejadian dan simpan bukti. Jika terdapat pesan ancaman, kerusakan barang, atau luka, dokumentasikan secara aman untuk membantu proses penanganan.
- Hubungi pihak sekolah. Bicarakan masalah tersebut dengan wali kelas, guru BK, atau kepala sekolah. Minta langkah perlindungan yang jelas dan tindak lanjut untuk memastikan kejadian tidak berulang.
- Pantau kondisi anak setelah melapor. Tanyakan secara berkala apakah ia merasa lebih aman. Jika tekanan emosional semakin berat, pertimbangkan bantuan psikolog atau tenaga profesional.
UNICEF Indonesia menyarankan orang tua untuk mendengarkan anak dengan tenang, menunjukkan empati, menegaskan bahwa bullying bukan kesalahannya, dan bekerja sama dengan sekolah untuk menanganinya.
Apabila anak mengalami ancaman serius, kekerasan fisik, atau menunjukkan tanda ingin menyakiti dirinya sendiri, jangan menunda mencari bantuan profesional atau layanan darurat yang sesuai. Keselamatan anak harus menjadi prioritas.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Cara Mengetahui Anak Menjadi Korban Bullying di Sekolah
1. Apa tanda paling umum anak menjadi korban bullying di sekolah?
Beberapa tanda yang dapat diamati antara lain takut berangkat sekolah, menarik diri dari pergaulan, perubahan suasana hati, luka yang tidak dapat dijelaskan, barang hilang atau rusak, gangguan tidur, serta penurunan prestasi belajar. Tidak semua anak menunjukkan tanda yang sama.
2. Bagaimana jika anak tidak mau bercerita tentang bullying?
Jangan memaksa atau menginterogasinya. Bangun percakapan secara perlahan, tunjukkan bahwa orang tua siap mendengarkan kapan saja, dan ajukan pertanyaan terbuka. Anak juga dapat diberi pilihan untuk bercerita kepada orang dewasa lain yang dipercaya, seperti guru BK atau anggota keluarga.
3. Apakah anak yang tidak mau sekolah pasti mengalami bullying?
Tidak. Keengganan bersekolah bisa berkaitan dengan kesulitan akademik, kecemasan, konflik pertemanan, atau masalah lain. Orang tua perlu mengamati tanda tambahan, mendengarkan penjelasan anak, dan berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk memahami penyebabnya.
4. Apa yang sebaiknya tidak dilakukan orang tua ketika mengetahui anak dirundung?
Hindari menyalahkan anak, mengecilkan perasaannya, memaksanya melawan pelaku, atau langsung mempertemukan anak dengan pihak yang diduga merundung tanpa persiapan. Utamakan keselamatan, dengarkan cerita anak, dan susun langkah penanganan bersama pihak yang berwenang.
5. Kapan orang tua perlu meminta bantuan psikolog?
Pertimbangkan bantuan profesional jika anak mengalami kecemasan berkepanjangan, gangguan tidur, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, kesulitan berfungsi di sekolah, atau tekanan emosional yang semakin berat. Jika anak mengungkapkan keinginan menyakiti diri sendiri, segera cari pertolongan profesional atau layanan darurat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9328649/original/001837900_1787203589-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-20T122532.000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322269/original/035290200_1786523414-cek_fakta_-_ombudsman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782149/original/002861400_1782877955-Cek_fakta_-_SIM_seumur_hidup.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441706/original/046861700_1765516083-jasa_marga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367454/original/065654900_1791349173-hl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376246/original/024233600_1792318166-Orangtua_bocah_diduga_dibullying_di_surabaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370904/original/016090300_1791708003-20261011_163739.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371095/original/062935500_1791738889-577265.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371045/original/020783700_1791729412-1253687.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370949/original/056555700_1791710614-IMG-20261011-WA0013.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368723/original/017370100_1791445769-IMG-20261007-WA0079.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368075/original/009335500_1791376237-IMG-20261007-WA0054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363624/original/094917800_1790907643-IMG_20261002_082545.jpg)