Liputan6.com, Jakarta - Mengajarkan anak mengakui kesalahan bukan perkara mudah. Sebagian anak mungkin memilih berbohong, menyalahkan orang lain, atau menghindar karena takut dimarahi. Padahal, cara orang tua merespons kesalahan anak dapat memengaruhi keberaniannya untuk berkata jujur dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Anak perlu memahami bahwa melakukan kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Orang tua dapat membantu anak mengenali kekeliruannya, memahami akibat yang ditimbulkan, dan mencari cara untuk memperbaikinya tanpa membuat anak merasa direndahkan.
Dalam artikel I Messed Up, Mom & Dad! 10 Ways to Teach Children to Embrace Their Mistakes, Dr. Robyn Silverman, seorang spesialis perkembangan anak dan remaja membahas pentingnya memberi anak kesempatan belajar dari kesalahan, membangun tanggung jawab, serta menunjukkan bahwa orang tua juga bisa melakukan kekeliruan. Berikut cara mengajarkan anak mengakui kesalahan tanpa mempermalukannya yang relevan dengan pembahasan tersebut.
Advertisement
1. Jelaskan bahwa Kesalahan adalah Bagian dari Proses Belajar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379581/original/004593700_1792639403-pexels-helenalopes-27177819.jpg)
Salah satu cara mengajarkan anak mengakui kesalahan tanpa mempermalukannya adalah menjelaskan bahwa setiap orang bisa melakukan kekeliruan, termasuk orang dewasa. Anak perlu memahami bahwa kesalahan tidak membuat dirinya menjadi pribadi yang buruk atau kurang berharga. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi kesempatan untuk belajar dan mengambil keputusan yang lebih baik.
Saat anak melakukan kesalahan, hindari langsung melabelinya sebagai nakal, ceroboh, atau tidak bertanggung jawab. Arahkan pembicaraan pada tindakan yang perlu diperbaiki, bukan pada karakter anak. Misalnya, ketika anak tidak sengaja merusak mainan saudaranya, orang tua dapat mengajaknya membicarakan kejadian tersebut dan memikirkan cara memperbaikinya.
Advertisement
2. Ajukan Pertanyaan tanpa Langsung Menyalahkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5468131/original/067174600_1767942202-jcomp.jpg)
Ketika mengetahui anak melakukan kesalahan, orang tua sebaiknya memberi kesempatan kepadanya untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hindari langsung menginterogasi atau mengajukan pertanyaan bernada menuduh karena hal tersebut dapat membuat anak merasa terpojok.
Melansir laman Dr Robyn Silverman, orang tua bisa mengajukan pertanyaan yang berfokus pada apa yang dilakukan anak dan apa yang terjadi setelahnya. Misalnya, orang tua bisa bertanya, "Apa yang tadi terjadi?" atau "Menurutmu, apa akibat dari tindakan itu?" Pertanyaan semacam ini membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan konsekuensinya sekaligus belajar mengakui perannya dalam suatu masalah.
3. Hargai Keberanian Anak saat Mengakui Kesalahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369009/original/003027800_1791457328-sensual-photo-cute-little-girl-people-walks-outside-woman-brown-coat.jpg)
Mengakui kesalahan membutuhkan keberanian, terutama jika anak khawatir akan dimarahi atau mengecewakan orang tuanya. Karena itu, ketika anak berani berkata jujur, hargai keputusannya untuk mengungkapkan kejadian yang sebenarnya, meskipun tindakannya tetap perlu diperbaiki.
Orang tua dapat mengatakan, "Terima kasih sudah jujur dan mau cerita. Sekarang, yuk, kita pikirkan cara memperbaikinya." Kalimat tersebut menunjukkan bahwa kejujuran dihargai tanpa mengabaikan tanggung jawab. Anak juga belajar bahwa mengakui kesalahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan karena rasa malu.
Advertisement
4. Berikan Contoh dengan Mengakui Kesalahan Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5517947/original/076125600_1772445050-pexels-helenalopes-7820627.jpg)
Anak dapat belajar tentang tanggung jawab melalui perilaku orang tua sehari-hari. Ketika orang tua melakukan kesalahan, mengakuinya secara terbuka dan meminta maaf dapat menjadi contoh nyata bahwa kekeliruan bukan sesuatu yang harus selalu ditutupi.
Orang tua juga bisa menceritakan kesalahan yang pernah dilakukan saat masih kecil, bagaimana cara mengatasinya, dan pelajaran yang diperoleh. Dengan begitu, anak memahami bahwa orang yang lebih dewasa pun tidak selalu benar. Mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya merupakan bagian dari sikap bertanggung jawab, bukan tanda kelemahan.
5. Ajak Anak Memikirkan Cara Memperbaiki Kesalahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4637359/original/021769800_1699254998-pexels-timur-weber-9127593.jpg)
Mengakui kesalahan merupakan langkah awal, tetapi anak juga perlu belajar bertanggung jawab atas akibat tindakannya. Setelah anak memahami apa yang terjadi, orang tua dapat mengajaknya mencari solusi yang sesuai dengan situasi dan usianya.
Sebagai contoh, jika anak merusak barang milik temannya, orang tua bisa membimbingnya untuk meminta maaf dan memikirkan cara memperbaiki atau mengganti barang tersebut jika memungkinkan. Jika anak mendapatkan hasil ujian yang kurang memuaskan, ajak ia mengevaluasi cara belajar dan menentukan langkah yang bisa dilakukan selanjutnya. Pendekatan ini membantu anak melihat kesalahan sebagai kesempatan untuk bertindak lebih baik, bukan sekadar alasan untuk merasa bersalah.
Advertisement
6. Hindari Terlalu Cepat Menyelamatkan Anak dari Konsekuensi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3467177/original/055995500_1622181538-omar-lopez-zsXDWzlqpKU-unsplash.jpg)
Naluri orang tua untuk melindungi anak memang wajar. Namun, selalu membereskan masalah yang ditimbulkan anak dapat membuatnya kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab. Selama situasinya aman dan konsekuensinya sesuai dengan usia anak, berikan ruang baginya untuk menghadapi akibat yang wajar dari tindakannya.
Orang tua tetap dapat mendampingi tanpa mengambil alih seluruh penyelesaian masalah. Misalnya, ketika anak lupa merapikan barang hingga rusak atau hilang, bantu ia memahami apa yang perlu dilakukan agar hal serupa tidak terulang. Jika anak kesulitan, ajukan pertanyaan dan tawarkan arahan. Tujuannya bukan membuat anak menanggung masalah sendirian, melainkan membangun kemandirian, kejujuran, dan keberanian untuk memperbaiki kesalahan.
7. Bangun Suasana yang Membuat Anak Nyaman Bercerita
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368560/original/013140100_1791439832-2578.jpg)
Anak perlu mengetahui bahwa ia dapat mendatangi orang tua ketika melakukan kesalahan atau menghadapi masalah. Jika setiap pengakuan selalu disambut dengan bentakan, ejekan, atau penghinaan, anak mungkin lebih memilih menyembunyikan kejadian yang sebenarnya. Karena itu, respons orang tua berperan penting dalam membangun keterbukaan.
Ketika anak mulai bercerita, dengarkan sampai selesai sebelum memberikan nasihat atau menentukan konsekuensi. Orang tua tetap boleh menunjukkan ketidaksetujuan terhadap perilaku yang salah, tetapi hindari mempermalukan anak di depan orang lain. Sampaikan dengan jelas bahwa tindakan tersebut perlu diperbaiki, sementara anak tetap disayangi dan didampingi dalam proses belajarnya. Dengan pendekatan ini, anak dapat belajar bahwa kejujuran dan tanggung jawab berjalan beriringan dengan rasa aman.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Mengajarkan Anak Mengakui Kesalahan tanpa Mempermalukannya
Bagaimana cara membuat anak berani mengakui kesalahan?
Dengarkan penjelasan anak tanpa langsung memarahi atau menyalahkannya. Hargai keberaniannya untuk berkata jujur, lalu bantu ia memahami akibat dari tindakannya dan mencari cara untuk memperbaikinya.
Mengapa orang tua sebaiknya tidak mempermalukan anak saat melakukan kesalahan?
Mempermalukan anak dapat membuatnya merasa takut, terpojok, atau enggan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Sebaiknya, orang tua berfokus pada perilaku yang perlu diperbaiki tanpa merendahkan harga diri anak.
Apa yang harus dilakukan orang tua jika anak terus menyalahkan orang lain?
Ajak anak menceritakan kejadian yang sebenarnya dan ajukan pertanyaan yang membantunya memahami peran serta tanggung jawabnya. Hindari langsung menuduh, dan bimbing anak untuk mengakui bagian kesalahannya serta mencari solusi yang tepat.
Â
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5548136/original/050648000_1775527655-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-07T090530.071.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5366712/original/012753800_1759284886-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__79_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346108/original/077588800_1789110397-cek_fakta_cpns_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5511150/original/031336900_1771895236-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-24T080652.405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8674111/original/023183700_1782715580-IMG_1236.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379501/original/082025300_1792635766-Gemini_Generated_Image_pa3sg8pa3sg8pa3s.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379573/original/017422100_1792639063-f7fbcd2d-9449-4478-9870-c6892970c0ad.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3541994/original/000639400_1629114112-pexels-ivan-samkov-4458554.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379548/original/000652400_1792637537-bfd86c63-0a25-4390-82aa-df9e2b53571b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379009/original/015654000_1760331470-pleased-young-brunette-caucasian-girl-holds-looks-phone.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6390411/original/024050500_1779265782-entok_semi_umbaran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379489/original/029787100_1792635097-HL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5545277/original/038112100_1775155662-WhatsApp_Image_2026-04-02_at_21.07.26.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379463/original/025392100_1792633184-6.jpg)