Mendagri Usul Tiga Subsidi Strategis Jelang Natal dan Tahun Baru

Mendagri Tito Karnavian mengusulkan sejumlah langkah untuk mengendalikan inflasi, salah satunya pemberian subsidi strategis.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 20:15 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengusulkan sejumlah langkah strategis untuk mengendalikan inflasi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Usulan tersebut mencakup penguatan bantuan sosial, operasi pasar, hingga subsidi listrik, bahan bakar minyak (BBM), dan angkutan udara.

Usulan itu disampaikan Tito usai Rapat Koordinasi Bidang Pangan yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Senin (26/10/2026) di Jakarta.

Pertama, Tito meminta pemerintah untuk mempertimbangkan pemberian subsidi listrik. Tito menyebut kebijakan serupa yang pernah diterapkan sebelumnya dapat mendorong deflasi.

"Di antaranya adalah mungkin subsidi listrik, ya, 1.200 watt. Itu pernah kita lakukan dan itu langsung deflasi." ujarnya pada kesempatan tersebut.

Kedua, pemerintah diusulkan menambah pasokan BBM bersubsidi untuk menjaga ketersediaan energi di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.

"Kemudian subsidi lain adalah subsidi mungkin BBM, yang subsidi BBM-nya supply-nya produksinya mungkin ditambah." imbuhnya.

Ketiga, Tito mengusulkan subsidi angkutan udara karena tarif penerbangan dinilai turut menyumbang kenaikan inflasi pada periode dengan permintaan perjalanan tinggi.

Ia juga meminta Kementerian Perhubungan, khususnya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, berkoordinasi dengan maskapai agar tidak menetapkan harga tiket pada batas tertinggi ketika jumlah penumpang meningkat.

"Keuntungan kan tetap ada, tapi jangan ngambil keuntungan maksimal supaya tidak berpengaruh kepada inflasi," kata Tito.

Selain subsidi, Tito mendorong penguatan daya beli masyarakat melalui bantuan sosial, baik tunai maupun nontunai, termasuk bantuan pangan. Pemerintah daerah juga diminta memanfaatkan kemampuan anggarannya untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.

Pemerintah turut diminta melanjutkan operasi pasar melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bulog, dan instansi terkait lainnya. Pelaksanaannya diharapkan mengacu pada data daerah serta komoditas yang membutuhkan intervensi.

 

 

Potensi Peningkatan Permintaan Barang dan Jasa

Tito menjelaskan, usulan tersebut dilatarbelakangi potensi peningkatan permintaan barang dan jasa pada Desember seiring libur Natal dan Tahun Baru. Mobilitas masyarakat yang tinggi melalui jalur udara, laut, dan darat berpotensi mendorong kenaikan harga.

"Karena baseline di bulan Desember itu relatif cukup rendah, maka perlu ada semacam subsidi. Supaya jangan sampai Desember year on year itu menaik-naik ke angka 3,5, di atas 3,5%," ujar Tito.

Ia memaparkan, inflasi tahunan (year on year/yoy) pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%. Angka tersebut masih berada dalam rentang target pemerintah, yakni 1,5% hingga 3,5%.

Meski demikian, inflasi bulanan (month to month/mtm) dari Agustus ke September mengalami kenaikan sebesar 0,30%. Tito menyebut kenaikan tersebut terutama dipengaruhi kelompok makanan dan minuman, khususnya cabai rawit dan cabai merah akibat berkurangnya produksi di sejumlah daerah karena kekeringan.

Sementara itu, harga beras secara umum masih relatif stabil. Namun, sejumlah daerah mencatat harga di atas harga acuan pemerintah sehingga Bulog telah melakukan intervensi di 134 daerah.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6