Liputan6.com, Jakarta - Cara menghadapi anak yang selalu ingin menang sendiri membutuhkan kesabaran, ketegasan, dan pendekatan yang sesuai dengan tahap perkembangannya. Anak yang selalu ingin menjadi pemenang, sulit berbagi, atau marah ketika keinginannya tidak dituruti belum tentu sengaja bersikap egois. Bisa jadi, ia masih belajar mengendalikan emosi, menerima kekecewaan, dan memahami bahwa orang lain juga memiliki kebutuhan yang perlu dihargai.
Dalam proses tumbuh kembang, anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihan. Namun, kebebasan tersebut tetap harus disertai batasan yang jelas agar anak memahami bahwa tidak semua keinginannya bisa dipenuhi. Peran orang tua bukan sekadar menghentikan perilaku yang dianggap buruk, melainkan membimbing anak agar mampu mengelola perasaan dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Dengan menerapkan pola asuh yang konsisten, orang tua dapat membantu anak belajar menerima kekalahan, bergiliran, berbagi, serta bertanggung jawab atas tindakannya. Berikut sejumlah cara dari Liputan6.com yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk anak yang lebih mandiri, mampu berempati, dan tidak selalu menuntut agar keinginannya menjadi prioritas, Kamis (22/10/2026).
Advertisement
1. Memahami Penyebab Anak Selalu Ingin Menang Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5759714/original/082673400_1778662640-2148886432.jpg)
Sebelum mengoreksi perilaku anak, orang tua perlu memahami alasan di balik sikap tersebut. Anak yang selalu ingin menang sendiri mungkin belum memiliki keterampilan mengendalikan emosi yang matang. Ketika kalah dalam permainan, misalnya, ia bisa merasa kecewa dan kesulitan mengungkapkan perasaannya dengan cara yang tepat. Akibatnya, ia menangis, marah, menyalahkan teman, atau memaksa orang lain mengikuti keinginannya.
Artikel Entitled Children: Strategies for Improving Behavior dari Pepperdine University menjelaskan bahwa perilaku merasa berhak mendapatkan sesuatu dapat terlihat dari harapan untuk segera memenuhi keinginan, kesulitan menghadapi frustrasi, serta kecenderungan menghindari tanggung jawab. Anak mungkin menganggap keinginannya harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan situasi atau kebutuhan orang lain.
Meski demikian, orang tua sebaiknya tidak langsung memberi label anak egois atau manja. Perhatikan kapan perilaku itu muncul, misalnya ketika lelah, menghadapi perubahan rutinitas, bersaing dengan saudara, atau merasa tertinggal dari teman sebaya. Dengan memahami pemicunya, orang tua dapat menentukan pendekatan yang lebih tepat daripada sekadar memarahi anak setiap kali ia bersikap keras kepala.
2. Tetapkan Batasan yang Jelas dan Konsisten
Anak perlu memahami bahwa ada aturan yang berlaku bagi semua anggota keluarga. Ia boleh mengutarakan keinginan, tetapi tidak boleh memaksakan kehendak dengan berteriak, mengancam, mengambil barang milik saudara, atau merendahkan orang lain.
Konsistensi menjadi bagian penting dalam menerapkan aturan tersebut. Jika orang tua melarang anak membeli mainan setiap kali pergi ke toko, tetapi akhirnya selalu mengabulkan permintaan setelah anak menangis keras, anak bisa belajar bahwa tantrum merupakan cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Pola ini berisiko membuat perilaku menuntut terus berulang.
Dalam artikel Effective Strategies for Managing Child Entitlement, Dr. Zia Lakdawalla dari FFEW menekankan pentingnya batasan yang jelas dan pendekatan pengasuhan yang konsisten untuk membantu anak belajar mengatur keinginan. Orang tua dapat menjelaskan aturan dengan kalimat sederhana, seperti, "Hari ini kita hanya membeli kebutuhan belanja. Kamu boleh memilih mainan untuk dimasukkan ke daftar keinginan, tetapi tidak membelinya sekarang."
Batasan juga perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Hindari memberikan terlalu banyak aturan sekaligus. Mulailah dari hal mendasar, seperti bergiliran, merapikan mainan, meminta izin sebelum menggunakan barang orang lain, dan berbicara dengan sopan ketika kecewa.
3. Dengarkan Pendapat Anak tanpa Selalu Menuruti Keinginannya
Anak yang ingin menang sendiri terkadang merasa pendapatnya tidak didengar. Karena belum mampu menyampaikan kebutuhan dengan baik, ia mungkin menggunakan rengekan, kemarahan, atau sikap memaksa agar mendapatkan perhatian.
Mendengarkan anak bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui permintaannya. Sebaliknya, orang tua dapat mengakui perasaan anak sekaligus mempertahankan aturan yang telah ditetapkan. Misalnya, ketika anak marah karena harus bergantian bermain, orang tua bisa mengatakan, "Ibu tahu kamu masih ingin bermain. Kamu kecewa karena waktumu sudah habis. Sekarang giliran kakak, setelah itu kamu boleh bermain lagi."
Pendekatan ini sejalan dengan panduan Montessori Parenting dalam artikel Surviving the Strong-Willed, Stubborn Child. Sumber tersebut menekankan pentingnya mendengarkan anak, memahami sudut pandangnya, serta memberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Anak juga perlu mengetahui bahwa kebutuhannya diperhatikan meskipun ia tidak selalu memperoleh hasil yang diinginkan.
Biasakan mengajak anak berbicara ketika suasana sudah tenang. Tanyakan apa yang membuatnya marah dan bagaimana ia ingin menyelesaikan masalah. Dengan demikian, anak belajar bahwa komunikasi merupakan cara yang lebih baik untuk menyampaikan keinginan daripada memaksa orang lain.
Advertisement
4. Ajarkan Anak Mengenali dan Mengelola Emosi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362990/original/043962500_1790837147-IMG_2835.jpeg)
Kemampuan mengelola emosi tidak muncul begitu saja. Anak perlu belajar mengenali perasaan kecewa, iri, marah, sedih, dan frustrasi sebelum mampu meresponsnya dengan lebih terkendali. Karena itu, orang tua sebaiknya membantu anak memahami apa yang sedang dirasakan, bukan hanya menuntutnya segera berhenti menangis atau marah.
Ketika anak kalah dalam perlombaan, misalnya, orang tua bisa mengatakan, "Kamu sedih karena belum menang, ya? Tidak apa-apa merasa sedih. Kita bisa berlatih lagi, tetapi kita tetap harus menghargai teman yang menang." Kalimat tersebut mengakui perasaan anak tanpa membenarkan perilaku yang merugikan orang lain.
Artikel FFEW tentang pengelolaan perilaku merasa berhak juga menyoroti pentingnya membantu anak mengenali emosi, menenangkan diri, dan menyampaikan kebutuhan secara tepat. Orang tua dapat mengajak anak menarik napas perlahan, beristirahat sejenak, atau membicarakan masalah setelah emosinya mereda.
Hindari mempermalukan anak di depan orang lain ketika ia kehilangan kendali. Tegaskan bahwa perilakunya perlu diperbaiki, tetapi jangan menyerang kepribadiannya. Perbedaan antara "Kamu anak egois" dan "Kamu tidak boleh merebut mainan teman" sangat penting karena teguran yang berfokus pada tindakan memberi anak gambaran yang lebih jelas tentang perilaku yang perlu diubah.
5. Berikan Pilihan yang Sesuai dengan Usia Anak
Anak membutuhkan kesempatan untuk merasa mandiri dan memiliki kendali atas sebagian keputusan dalam hidupnya. Jika setiap hal selalu ditentukan orang tua, anak bisa semakin sering melawan ketika ingin menunjukkan kehendaknya. Sebaliknya, memberikan pilihan yang terbatas dapat membantunya belajar mengambil keputusan tanpa mengabaikan aturan.
Montessori Parenting menyarankan pemberian pilihan sesuai usia dan kemampuan anak. Balita, misalnya, dapat memilih antara mengenakan baju biru atau merah. Anak usia sekolah bisa menentukan kegiatan ekstrakurikuler yang diminati, selama pilihan tersebut masih sesuai dengan kesepakatan keluarga.
Orang tua juga bisa menggunakan pendekatan serupa ketika menghadapi penolakan. Alih-alih bertanya apakah anak mau merapikan mainan, katakan, "Kamu mau merapikan balok terlebih dahulu atau mobil-mobilan?" Anak memperoleh kesempatan memilih urutan kegiatan, tetapi tanggung jawab untuk merapikan tetap berlaku.
Cara ini membantu anak memahami perbedaan antara memiliki hak untuk menyampaikan pilihan dan memiliki kuasa mutlak atas segala sesuatu. Ia belajar bahwa kebebasan berjalan berdampingan dengan tanggung jawab serta penghormatan terhadap kebutuhan orang lain.
6. Biasakan Bergiliran dan Menerima Kekalahan
Permainan sederhana dapat menjadi sarana untuk mengajarkan anak bahwa tidak semua orang bisa menjadi pemenang. Bermain ular tangga, kartu, permainan kelompok, atau olahraga ringan memberi anak kesempatan untuk berlatih mengikuti aturan, menunggu giliran, dan menghadapi hasil yang tidak selalu sesuai harapan.
Saat anak kalah, hindari langsung mengubah aturan atau membiarkannya menang hanya agar tidak menangis. Orang tua boleh memberikan dukungan emosional, tetapi tetap perlu membantu anak menerima hasil permainan dengan wajar.
Contohnya, katakan, "Kamu sudah berusaha dengan baik. Kali ini kakak yang menang. Sekarang kita bisa memberi selamat kepada kakak, lalu mencoba lagi nanti." Sikap orang tua ketika menghadapi kemenangan dan kekalahan juga penting karena anak cenderung meniru perilaku orang dewasa.
Namun, jangan menjadikan setiap permainan sebagai ujian untuk mengukur kedewasaan anak. Pada awalnya, ia mungkin masih menangis atau menolak menerima kekalahan. Berikan kesempatan untuk berlatih berulang kali dan apresiasi kemajuan kecil, seperti ketika anak bersedia berjabat tangan dengan lawan bermain atau tidak lagi merebut permainan setelah kalah.
7. Latih Empati dengan Mengajak Anak Memahami Perasaan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406042/original/005231200_1782288871-pexels-polesietoys-27705034.jpg)
Empati membantu anak memahami bahwa orang lain juga memiliki keinginan, perasaan, dan kebutuhan. Keterampilan ini sangat penting bagi anak yang terbiasa ingin didahulukan karena ia perlu belajar melihat situasi dari sudut pandang orang lain.
Orang tua dapat memulai dari kejadian sehari-hari. Ketika anak merebut mainan adiknya, misalnya, ajak ia memperhatikan reaksi sang adik. Tanyakan, "Menurutmu, bagaimana perasaan adik ketika mainannya diambil tanpa izin?" Setelah itu, bantu anak mencari tindakan yang lebih tepat, seperti meminta izin, menunggu giliran, atau menawarkan mainan lain.
Pepperdine University juga menyoroti pentingnya membangun rasa syukur dan melakukan kegiatan sosial bersama keluarga untuk menumbuhkan kepedulian. Orang tua bisa mengajak anak membantu tetangga, menyumbangkan barang layak pakai, atau membagikan makanan kepada orang yang membutuhkan sesuai kemampuan keluarga.
Kegiatan sederhana di rumah pun bermanfaat. Biasakan setiap anggota keluarga mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan menawarkan bantuan. Anak akan lebih mudah memahami empati ketika melihat bahwa sikap peduli bukan sekadar aturan yang harus ditaati, melainkan kebiasaan yang dilakukan semua orang.
8. Berikan Tanggung Jawab dan Ajarkan Konsekuensi
Anak yang selalu ingin menang sendiri perlu memahami bahwa setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab. Ia tidak seharusnya mengharapkan orang tua membereskan semua masalah atau memenuhi semua kebutuhannya tanpa keterlibatan dirinya.
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP), melalui panduan Chores and Children, menjelaskan bahwa pekerjaan rumah yang sesuai usia dapat membantu mengembangkan rasa tanggung jawab dan keterampilan hidup anak. Tugasnya bisa dimulai dari merapikan mainan, memasukkan pakaian kotor ke keranjang, atau membantu menata meja makan.
Seiring bertambahnya usia, tanggung jawab dapat ditingkatkan menjadi merapikan tempat tidur, menyiapkan perlengkapan sekolah, membantu menyiapkan makanan sederhana, atau mengelola uang saku. Orang tua tidak harus menuntut hasil sempurna. Fokus utamanya adalah membiasakan anak berkontribusi dan menyelesaikan tugas yang menjadi bagiannya.
Jika anak menolak melakukan tanggung jawab, terapkan konsekuensi yang masuk akal dan berkaitan dengan perilakunya. Misalnya, waktu bermain dimulai setelah mainan dirapikan. Jelaskan aturan dengan tenang dan hindari hukuman yang mempermalukan atau tidak berhubungan dengan kesalahan. Anak perlu memahami bahwa tindakan memiliki konsekuensi, bukan merasa bahwa orang tua sedang membalas kemarahannya.
9. Jadilah Teladan dalam Berbagi dan Menghadapi Kekecewaan
Anak mempelajari banyak hal melalui pengamatan. Jika orang tua sering memaksakan kehendak, tidak mau mengakui kesalahan, atau marah ketika tidak mendapatkan pelayanan sesuai keinginannya, anak dapat meniru perilaku tersebut.
Karena itu, orang tua perlu menunjukkan cara menghadapi perbedaan pendapat dengan sehat. Ketika mengantre, misalnya, tunjukkan kesabaran. Saat melakukan kesalahan, akui dan minta maaf. Ketika keinginan tidak terpenuhi, tunjukkan bahwa kekecewaan dapat diterima tanpa harus menyalahkan orang lain.
Montessori Parenting menekankan bahwa orang tua perlu menjadi contoh perilaku positif sekaligus berani mengakui kesalahan sendiri. Jika orang tua terlanjur membentak anak, mereka dapat menjelaskan bahwa cara tersebut tidak tepat dan meminta maaf tanpa menghilangkan tanggung jawab untuk membahas masalah yang terjadi.
Teladan seperti ini mengajarkan bahwa menghormati orang lain bukan berarti selalu mengalah. Anak tetap boleh mempertahankan pendapat, tetapi perlu belajar menyampaikannya dengan sopan, mendengarkan orang lain, dan mencari solusi yang adil.
Advertisement
10. Ajarkan Rasa Syukur dan Kesabaran Menunggu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569661/original/084780300_1777449942-pexels-artempodrez-8087968.jpg)
Anak yang terbiasa mendapatkan segala sesuatu dengan segera mungkin kesulitan menerima penundaan. Ketika permintaannya tidak langsung dipenuhi, ia bisa merasa diperlakukan tidak adil. Karena itu, orang tua perlu membiasakan anak memahami bahwa keinginan tidak selalu harus dipenuhi saat itu juga.
Dalam artikel dari Pepperdine University, rasa syukur dan kemampuan menghadapi kesulitan menjadi bagian dari upaya mengurangi perilaku merasa berhak. Anak perlu memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta bahwa memperoleh sesuatu terkadang memerlukan waktu, usaha, dan perencanaan.
Orang tua dapat mengajarkan kesabaran dengan cara sederhana. Jika anak menginginkan mainan baru, masukkan barang tersebut ke daftar keinginan dan bicarakan kembali pada waktu yang disepakati. Untuk anak yang lebih besar, ajak menabung sebagian uang saku agar ia dapat membeli barang yang diinginkan dengan perencanaan sendiri.
Biasakan pula berbagi hal yang disyukuri saat makan bersama. Setiap anggota keluarga bisa menyebutkan satu hal baik yang dialami hari itu atau kebaikan yang diterima dari orang lain. Kebiasaan ini membantu anak mengalihkan perhatian dari hal-hal yang belum dimiliki menuju hal-hal yang patut dihargai.
Yang tidak kalah penting, orang tua perlu bersabar dalam menjalankan proses tersebut. Perubahan perilaku tidak selalu terjadi dalam waktu singkat. Ketika anak kembali memaksakan kehendak, ingatkan aturan dengan tenang dan berikan kesempatan untuk mencoba lagi. Tujuannya bukan membuat anak berhenti mengungkapkan keinginan, melainkan membantunya menyampaikan keinginan dengan cara yang menghormati orang lain.
Pertanyaan Seputar Mendidik Anak yang Selalu Ingin Menang Sendiri
1. Mengapa anak selalu ingin menang sendiri?
Anak bisa menunjukkan perilaku tersebut karena belum mampu mengelola kekecewaan, masih belajar mengendalikan keinginan, atau belum memahami perasaan orang lain. Orang tua perlu mengamati pemicunya dan mengajarkan keterampilan sosial secara bertahap tanpa langsung memberi label negatif.
2. Bagaimana cara menghadapi anak yang marah ketika keinginannya tidak dituruti?
Tetap tenang, akui perasaannya, dan pertahankan batasan yang telah ditetapkan. Orang tua bisa mengatakan, "Ibu tahu kamu kecewa, tetapi kita tidak membeli mainan hari ini." Setelah anak tenang, ajak ia membicarakan cara menyampaikan keinginan dengan lebih baik.
3. Apakah anak yang selalu ingin menang sendiri berarti manja?
Tidak selalu. Perilaku tersebut bisa berkaitan dengan perkembangan pengendalian emosi, keinginan untuk mandiri, atau kesulitan menerima kekalahan. Namun, jika anak terus menuntut perlakuan khusus dan tidak mau mempertimbangkan kebutuhan orang lain, orang tua perlu mengevaluasi pola pengasuhan dan memberikan bimbingan yang konsisten.
4. Bagaimana cara mengajarkan anak supaya mau berbagi?
Mulailah dengan memberikan contoh langsung, membiasakan anak bergiliran, dan menjelaskan perasaan orang lain. Jangan hanya memerintahkan anak untuk berbagi, tetapi bantu ia memahami bahwa orang lain juga berhak menggunakan barang atau memperoleh kesempatan. Berikan apresiasi ketika ia bersedia berbagi secara sukarela.
5. Kapan orang tua perlu mencari bantuan profesional?
Pertimbangkan berkonsultasi dengan psikolog anak atau tenaga profesional yang kompeten jika perilaku anak terus mengganggu hubungan sosial, sering disertai agresi yang membahayakan, atau menimbulkan masalah serius di rumah dan sekolah. Bantuan profesional juga dapat dipertimbangkan jika orang tua kesulitan menemukan pendekatan yang sesuai meskipun telah menerapkan aturan secara konsisten.
Â
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4651071/original/079522700_1700118528-cek_fakta_produk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379757/original/085510100_1792646189-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__4_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4976748/original/009737400_1729605432-WISUDA_AKBAR_TAHFIDZ_QURAN_PELAJAR_TANGERANG_MENGAJI_-PJ_WALIKOTA_11.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379636/original/087884800_1792642017-Screenshot_2026-10-22_104742.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457158/original/075801100_1766989393-senivpetro.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380165/original/048690300_1792660185-Gemini_Generated_Image_o9957uo9957uo995.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3299923/original/041047000_1605693165-serrano-peppers-1353233_1280.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379991/original/004494300_1792655439-a9475df4-8cb6-4d59-bc84-232f27a1f094.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379911/original/056057000_1792652187-Gemini_Generated_Image_3ol1zi3ol1zi3ol1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3983972/original/010349300_1649048680-rnaol-oKHHspCSWHQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379871/original/007971100_1792650867-Ide_meja_konsol_di_rumah_yang_bikin_ruangan_tampak_rapi_dan_modern.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380087/original/056436500_1792657804-Garlic_Chili_Saut__ed_Broccoli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542067/original/050153700_1774931954-bunga_depan_rumah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372087/original/087808900_1791867655-01M4SRD9A2DVZASDKFC1ZYD7ZP.jpg)