Liputan6.com, Jakarta - Mendidik remaja bukan perkara mudah. Ketika orang tua menghadapi anak yang mulai mempertanyakan aturan, menolak nasihat, atau mengambil keputusan sendiri, biasanya akan memilih untuk membentak agar anak segera menghentikan perilakunya.
Sayangnya, kepatuhan yang muncul setelah bentakan belum tentu menunjukkan bahwa anak memahami kesalahan dan bersedia memperbaikinya. Ini sejalah dengan studi yang dimuat National Library of Medicine dalam Parents Who Hit and Scream: Interactive Effects of Verbal and Severe Physical Aggression on Clinic-Referred Adolescents' Adjustment yang membahas hubungan agresi verbal orang tua dengan masalah perilaku remaja.
Di studi yang melibatkan 239 remaja berusia 11–18 tahun tersebut menunjukkan bahwa agresi verbal ayah berkaitan dengan masalah perilaku remaja, sedangkan hubungan agresi verbal ibu dengan masalah tersebut dipengaruhi oleh ada atau tidaknya agresi fisik. Temuan ini memberi alasan untuk mempertimbangkan kembali penggunaan bentakan dalam mendidik anak.
Advertisement
Lantas, apakah membentak masih efektif untuk mendisiplinkan remaja masa kini? Berikut penjelasan lengkap terkait risiko bentakan, dihadirkan Liputan6, Rabu (21/10).
1. Bentakan Bisa Menghentikan Perilaku untuk Sementara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5427527/original/098225200_1764394204-stockking.jpg)
Saat orang tua membentak, remaja mungkin langsung diam, menghentikan perdebatan, atau mengikuti perintah. Respons tersebut bisa membuat orang tua merasa bahwa cara itu berhasil. Namun, berhentinya suatu perilaku pada saat itu tidak selalu berarti anak memahami alasan di balik aturan yang diberikan.
Remaja juga bisa memilih untuk diam karena takut menghadapi kemarahan orang tua. Dalam keadaan tersebut, anak belum tentu menerima nasihat atau menyadari akibat tindakannya. Ia mungkin hanya berusaha menghindari pertengkaran agar situasi di rumah segera berakhir.
Karena itu, mendidik remaja perlu berorientasi pada perubahan perilaku dalam jangka panjang, bukan sekadar kepatuhan sesaat. Orang tua perlu memastikan bahwa anak memahami kesalahan, mengetahui akibat tindakannya, dan mengerti perilaku yang diharapkan setelah masalah selesai dibicarakan.
Advertisement
2. Mengapa Remaja Bisa Menolak Bentakan?
Masa remaja merupakan periode ketika anak mulai membentuk pendapat, mengenali kebutuhan pribadi, dan belajar mengambil keputusan. Perubahan tersebut bisa memunculkan perbedaan pandangan dengan orang tua, terutama ketika aturan keluarga dianggap membatasi kebebasan yang sedang ingin mereka miliki.
Ketika pendapatnya langsung dibalas dengan bentakan, remaja bisa lebih berfokus pada kemarahan orang tua daripada isi nasihat. Percakapan yang seharusnya membantu anak memahami masalah justru berisiko berubah menjadi pertengkaran mengenai siapa yang berhak menentukan keputusan.
Orang tua tetap perlu menetapkan batasan, tetapi cara menyampaikannya ikut menentukan arah percakapan. Memberi kesempatan kepada anak untuk menjelaskan alasan, mendengarkan tanggapannya, dan menerangkan konsekuensi tindakan bisa membantu kedua pihak membahas persoalan tanpa harus saling meninggikan suara.
3. Dampak Bentakan terhadap Hubungan Orang Tua dan Anak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5403291/original/092121300_1762323171-pexels-rdne-8489015.jpg)
Bentakan yang berulang dapat membuat remaja enggan menceritakan masalah yang sedang mereka hadapi. Anak mungkin memilih menyimpan persoalan tentang pertemanan, sekolah, atau keputusan pribadi karena khawatir ceritanya akan berakhir dengan kemarahan dan hukuman.
Jika komunikasi seperti ini terus berlangsung, orang tua bisa kehilangan kesempatan untuk mengetahui alasan di balik perubahan perilaku anak. Remaja juga berisiko mencari jawaban sendiri tanpa membicarakan keputusan yang perlu dipertimbangkan bersama keluarga.
Hal tersebut tidak berarti setiap bentakan langsung merusak hubungan keluarga. Namun, pola komunikasi yang mengandalkan teriakan perlu dievaluasi, terutama jika anak mulai menghindari percakapan atau orang tua kesulitan membahas masalah tanpa pertengkaran. Memperbaiki cara berbicara bisa membantu membuka kembali ruang untuk saling mendengarkan.
Advertisement
4. Cara Menegur Remaja Tanpa Membentak
Orang tua bisa memulai dengan menyampaikan perilaku yang perlu diperbaiki secara langsung. Alih-alih menyebut anak tidak bertanggung jawab, jelaskan tindakan yang menjadi masalah, seperti pulang melewati waktu yang disepakati tanpa memberi kabar. Cara ini membantu anak memahami persoalan yang sedang dibahas.
Berikutnya, jelaskan alasan aturan tersebut dan akibat yang mungkin muncul jika anak mengabaikannya. Orang tua juga bisa meminta anak menyampaikan pendapat agar pembicaraan tidak berjalan satu arah. Meski demikian, mendengarkan bukan berarti harus menyetujui semua keinginan anak.
Jika emosi mulai meningkat, percakapan bisa dihentikan sementara sampai kedua pihak lebih tenang. Setelah itu, lanjutkan pembahasan dengan kesepakatan mengenai perilaku yang perlu diperbaiki dan konsekuensi jika aturan kembali dilanggar. Pastikan konsekuensi tersebut masuk akal, berkaitan dengan masalah, dan diterapkan secara konsisten.
5. Menetapkan Aturan dan Konsekuensi yang Dipahami Anak
Remaja tetap membutuhkan aturan untuk membantu mereka belajar bertanggung jawab. Orang tua bisa membicarakan batas waktu pulang, penggunaan gawai, pembagian tugas rumah, atau kewajiban sekolah bersama anak. Kesepakatan akan lebih mudah dipahami jika setiap aturan disertai alasan yang bisa dijelaskan.
Konsekuensi sebaiknya ditetapkan berdasarkan perilaku yang dilakukan, bukan berdasarkan kemarahan sesaat. Jika anak tidak memenuhi kesepakatan penggunaan gawai, misalnya, orang tua bisa meninjau kembali waktu pemakaiannya sesuai aturan yang sudah dibicarakan. Hindari hukuman yang berubah-ubah hanya karena suasana hati.
Mendidik remaja melalui aturan yang disepakati bukan berarti orang tua kehilangan kewenangan. Orang tua tetap bertugas melindungi anak dan mengambil keputusan ketika keselamatan menjadi pertimbangan. Namun, penjelasan dan penerapan aturan yang konsisten membantu anak memahami hubungan antara pilihan, tanggung jawab, dan akibat yang harus diterima.
Advertisement
6. Membangun Komunikasi yang Membantu Remaja Belajar
Hubungan orang tua dan remaja perlu dibangun melalui percakapan sehari-hari, bukan hanya ketika anak melakukan kesalahan. Menanyakan kegiatan, mendengarkan cerita, dan membicarakan keputusan bersama memberi kesempatan kepada orang tua untuk memahami kebutuhan anak sebelum masalah berkembang menjadi pertengkaran.
Orang tua juga perlu menunjukkan cara mengelola emosi dalam situasi yang memicu kemarahan. Jika terlanjur membentak, orang tua bisa mengakui bahwa cara berbicaranya keliru, kemudian menjelaskan kembali aturan yang perlu dipatuhi. Sikap tersebut tidak menghapus tanggung jawab anak, tetapi menunjukkan bahwa setiap orang perlu bertanggung jawab atas tindakannya.
Pada akhirnya, mendidik remaja bukan hanya tentang membuat anak menuruti perintah, melainkan membantu mereka memahami alasan di balik aturan dan belajar mengambil keputusan. Bentakan mungkin menghentikan perilaku pada saat tertentu, tetapi komunikasi yang disertai batasan, penjelasan, dan konsekuensi yang konsisten lebih mendukung proses belajar tersebut.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Mendidik Remaja Masa Kini dengan Bentakan
1. Apakah membentak remaja efektif untuk mendisiplinkan anak?
Bentakan mungkin membuat remaja menghentikan perilaku untuk sementara, tetapi belum tentu membantu mereka memahami kesalahan. Orang tua perlu menjelaskan aturan dan konsekuensi agar anak belajar bertanggung jawab.
2. Apa dampak orang tua yang sering membentak anak remaja?
Bentakan yang berulang bisa membuat anak enggan bercerita, menghindari percakapan, atau merespons dengan kemarahan. Dampaknya bergantung pada pola interaksi dan kondisi keluarga.
3. Bagaimana cara menegur remaja yang sulit diatur?
Sampaikan perilaku yang perlu diperbaiki, jelaskan alasan aturan, dengarkan pendapat anak, dan tetapkan konsekuensi yang masuk akal. Hindari mengambil keputusan ketika emosi sedang memuncak.
4. Mengapa remaja sering membantah nasihat orang tua?
Remaja sedang belajar menyampaikan pendapat dan mengambil keputusan sendiri. Perbedaan pandangan dengan orang tua bisa muncul ketika mereka merasa tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan alasan atau terlibat dalam pembicaraan.
5. Bagaimana cara mendisiplinkan remaja tanpa marah-marah?
Buat aturan bersama, jelaskan akibat jika aturan dilanggar, dan terapkan kesepakatan secara konsisten. Berikan kesempatan kepada anak untuk memperbaiki perilakunya dan membicarakan masalah tanpa saling menyerang.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5511150/original/031336900_1771895236-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-24T080652.405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353288/original/089120400_1789959015-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-21T094827.860.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379027/original/030674800_1760332196-pexels-karolina-grabowska-6957166.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358136/original/004574800_1790324439-01M3B1DN7GHG5PRSQYB0QMJMDH.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378983/original/055875900_1792570228-Gemini_Generated_Image_280qni280qni280q.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379129/original/055479400_1792575765-pexels-tima-miroshnichenko-6327606.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378098/original/063403800_1792489880-01M5C6HVE949HS5V95HTW0F0PK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373352/original/095536800_1791963112-01M4TDZCGXZFTAXN7J9193R8A7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379054/original/098267200_1792573104-mel-elias-2_KjpNXFl5M-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379074/original/001319400_1792573864-pexels-dario-fernandez-ruz-9130511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378896/original/054733900_1792567280-Gemini_Generated_Image_ido9dyido9dyido9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366385/original/031825200_1791264228-197.jpg)