Liputan6.com, Jakarta Survei yang dirangkum Big Think menyebutkan bahwa tiga dari lima orang tidak pernah menghapus foto . Bisa jadi kamu juga termasuk, apalagi kalau galeri di HP-mu sudah berisi puluhan ribu foto. Ciri orang yang menyimpan ribuan foto di HP tapi jarang membukanya biasanya sederhana: kamu memotret apa saja, tidak tega menghapus, tapi hampir tidak pernah melihat lagi hasilnya. Kebiasaan ini sering dianggap sepele, padahal psikolog sudah mulai menelitinya dengan serius.
Dilansir dari UCLA Health, Emanuel Maidenberg menyebut penimbunan digital sebagai versi baru dari tantangan psikologis lama. Kebiasaan menyimpan ribuan foto di HP tanpa pernah melihatnya kembali bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi hubunganmu dengan koleksi digital.
Apa Itu Penimbunan Foto Digital?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4794189/original/040479400_1712217008-Ilustrasi_main_HP__tertawa__lucu.jpg)
Langkah pertama untuk memahami kebiasaan ini adalah mengenal istilah dasarnya, yaitu digital hoarding atau penimbunan digital. Secara sederhana, penimbunan digital adalah kebiasaan mengumpulkan file di perangkat elektronik secara berlebihan, lalu merasa sangat berat untuk menghapus atau merapikannya.
Merujuk pada penjelasan All About Psychology, digital hoarding dapat dipahami sebagai kebiasaan menyimpan file digital secara berlebihan, mulai dari foto, video, email, hingga dokumen, disertai kesulitan untuk menghapus atau menatanya. Di antara semua jenis file, foto paling sering menumpuk karena gampang dibuat dan terasa punya nilai kenangan.
Supaya lebih mudah, bayangkan gudang di rumah yang penuh kardus berisi barang lama. Kamu tahu isinya ada, tapi jarang dibongkar, dan setiap kali mau membuang sesuatu rasanya selalu "siapa tahu nanti butuh". Galeri HP bekerja dengan cara yang mirip. Bedanya, tumpukan digital tidak kelihatan, jadi kamu jarang sadar sudah sebanyak apa isinya.
Perlu dicatat, menyimpan banyak foto belum tentu masalah. Menurut penjelasan All About Psychology, kebiasaan menyimpan file digital tidak selalu menjadi masalah. Namun, jika jumlahnya terus menumpuk hingga menimbulkan stres, kecemasan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, kebiasaan tersebut perlu mendapat perhatian. Jadi, ada garis batas antara sekadar berantakan dan menimbun secara kompulsif.
Fenomena ini juga tidak cuma terjadi pada satu dua orang. Dalam sebuah studi terhadap 2.204 mahasiswa di Tiongkok, lebih dari 32% menunjukkan tanda jelas perilaku penimbunan digital, dan foto pribadi menjadi file yang paling banyak ditimbun sekaligus paling sulit dihapus. Angka ini menunjukkan bahwa galeri penuh foto adalah hal yang sangat umum di era smartphone.
Advertisement
Ciri Orang yang Menyimpan Ribuan Foto di HP tapi Jarang Membukanya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376519/original/009323100_1792378938-cropped-ddd0470e-f506-438b-8d70-cec27f3dbc68.jpg)
Setelah tahu definisinya, sekarang kita masuk ke pola perilaku yang paling sering muncul. Ciri-ciri di bawah ini disusun dari temuan para psikolog dan pengalaman umum pengguna smartphone, jadi kamu bisa langsung mencocokkannya dengan kebiasaanmu sendiri.
1. Memotret Hampir Semua Hal
Makanan, struk belanja, papan pengumuman, layar presentasi, sampai pemandangan dari jendela mobil, semuanya difoto. Kamu menekan tombol kamera hampir otomatis tanpa berpikir apakah foto itu benar-benar perlu. Hasilnya, satu momen bisa punya belasan foto yang mirip.
2. Sulit Menghapus Foto, Bahkan yang Buram
Foto blur, dobel, atau tangkapan layar meme lama tetap dibiarkan. Menurut Big Think, digital hoarding juga dapat berkaitan dengan keterikatan emosional terhadap file digital. Contohnya, seseorang enggan menghapus percakapan dan foto mantan pasangan, pesan dari teman lama, atau tangkapan layar meme yang telah disimpan selama bertahun-tahun.
3. Jarang Sekali Membuka Galeri untuk Bernostalgia
Inilah ciri paling khas. Fotonya ribuan, tapi kamu hampir tidak pernah menggulir galeri untuk menikmati kenangan. Galeri biasanya baru dibuka saat butuh satu foto tertentu, misalnya untuk dikirim ke seseorang.
4. Kesulitan Menemukan Foto yang Dibutuhkan
Saat butuh foto KTP atau bukti transfer, kamu harus menggulir lama sekali. Menurut psikolog klinis Susan Albers dari Cleveland Clinic, kesulitan menemukan file yang dibutuhkan di antara ribuan foto atau dokumen, disertai penurunan konsentrasi dan energi mental, bisa menjadi tanda bahwa tumpukan digital sudah berlebihan.
5. Langganan Penyimpanan Cloud Terus Bertambah
Saat memori penuh, pilihanmu bukan merapikan, tapi menambah kapasitas. Kamu upgrade paket iCloud atau Google One, atau malah membeli HP baru dengan memori lebih besar. Masalah penumpukannya sendiri tetap tidak tersentuh.
6. Merasa Cemas Kalau Harus Menghapus
Ada rasa takut kehilangan sesuatu yang penting. Foto yang belum tentu kamu lihat lagi tetap terasa "sayang" untuk dibuang, seolah menghapusnya sama dengan menghapus kenangan.
7. Sering Mendapat Notifikasi Penyimpanan Penuh
Notifikasi "ruang penyimpanan hampir habis" sudah jadi langganan. Kadang notifikasi itu muncul tepat saat kamu mau memotret momen penting, dan kamu terpaksa menghapus aplikasi lain dulu.
Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Menimbun Foto
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368609/original/094049000_1791443184-1__1_.jpg)
Kebiasaan menyimpan ribuan foto di HP tapi jarang membukanya punya akar psikologis yang cukup dalam. Faktor yang paling sering disebut para ahli adalah keterikatan emosional. Menurut UCLA Health, orang yang mengalami digital hoarding sering kali memiliki keterikatan emosional terhadap file yang disimpan.
Foto dan percakapan email, misalnya, bisa dianggap berharga karena berkaitan dengan kenangan pribadi atau orang-orang yang memiliki arti dalam hidup mereka. Foto keluarga, teman, dan perjalanan terasa seperti bagian dari diri sendiri, jadi menghapusnya terasa salah.
Alasan kedua adalah rasa takut suatu saat butuh foto tersebut. Menurut Emanuel Maidenberg, profesor klinis psikiatri dan ilmu perilaku biomedis di UCLA, kekhawatiran akan membutuhkan file di kemudian hari tetapi tidak bisa mengaksesnya dapat mendorong seseorang untuk terus mengumpulkan data digital. Pola pikir “siapa tahu nanti perlu” ini membuat galeri foto dan folder file semakin penuh, meskipun sebagian besar isinya jarang digunakan kembali.
Alasan ketiga, kebiasaan menyimpan bisa pelan-pelan berubah menjadi dorongan yang sulit dikendalikan. Menurut UCLA Health, digital hoarding terjadi ketika kebiasaan menyimpan file digital menjadi berlebihan dan sulit dikendalikan, sehingga seseorang kesulitan menghapus atau mengatur file yang terkumpul. Orang yang mengalaminya bisa merasa tidak nyaman, bahkan cemas, kalau tidak menyimpan sesuatu.
Alasan keempat lebih praktis, yaitu karena memotret dan menyimpan sangat mudah. Dulu satu rol film hanya berisi puluhan foto, sehingga orang terpaksa memilih. Sekarang kapasitas HP dan cloud seolah tidak terbatas, jadi proses memilih itu hilang. Dalam praktiknya, inilah yang membuat banyak orang punya foto berlimpah tanpa pernah merapikannya sekali pun.
Advertisement
Dampak Ribuan Foto yang Tak Pernah Dibuka bagi Ingatan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368611/original/014817600_1791443185-3__1_.jpg)
Banyak orang memotret supaya bisa mengingat momen. Masalahnya, riset menunjukkan efeknya bisa terbalik kalau foto itu cuma disimpan. Psikolog Linda Henkel dari Fairfield University meneliti pengaruh memotret terhadap daya ingat melalui eksperimen tur museum seni.
Dalam riset yang diterbitkan di jurnal Psychological Science pada 2014, Henkel menemukan bahwa peserta yang memotret objek secara utuh mengingat lebih sedikit objek, detail, dan lokasi dibandingkan mereka yang hanya mengamati tanpa mengambil foto. Fenomena ini dinamai photo-taking impairment effect.
Linda Henkel, psikolog dari Fairfield University, menjelaskan kepada VICE bahwa mengandalkan kamera untuk merekam suatu peristiwa tanpa benar-benar memperhatikannya dapat berdampak negatif pada daya ingat. Ketika terlalu bergantung pada teknologi untuk menyimpan pengalaman, seseorang berisiko kurang memperhatikan detail momen yang sedang dialami.
Volume foto yang sangat besar juga membuat orang malas membuka galeri. Menurut Linda Henkel, sebagaimana dikutip ScienceDaily, banyaknya foto digital yang tidak tertata dapat membuat seseorang enggan membuka kembali koleksinya untuk mengenang pengalaman. Ia menjelaskan bahwa foto dapat membantu mengingat jika seseorang meluangkan waktu untuk melihat dan berinteraksi dengannya, bukan sekadar menyimpannya dalam jumlah besar.
Ada kabar baiknya. Dalam eksperimen kedua, Henkel menemukan bahwa memotret detail tertentu dengan fitur zoom tidak memberikan dampak negatif yang sama terhadap daya ingat. Memusatkan perhatian pada bagian spesifik objek justru membantu peserta mengingat objek beserta detail lainnya dengan lebih baik. Temuan ini menunjukkan bahwa dampak memotret terhadap ingatan juga dipengaruhi oleh cara seseorang memperhatikan objek yang difoto.
Peneliti memori Maryanne Garry menjelaskan bahwa foto tidak hanya merekam pengalaman, tetapi juga dapat memengaruhi cara seseorang mengingatnya. Foto yang terhubung dengan cerita dan konteks pengalaman dapat membantu membentuk ingatan, sedangkan gambar saja tidak selalu cukup untuk mempertahankan detail suatu peristiwa. Jadi, kuncinya ada di cara kamu memotret dan memperlakukan fotonya, bukan di jumlahnya.
Kapan Kebiasaan Ini Perlu Diwaspadai?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4687013/original/029802400_1702611868-Ilustrasi_main_HP__kirim-menerima_pesan__tersenyum__lucu.jpg)
Kamu tidak perlu langsung panik kalau galerimu berisi ribuan foto. Sebagian besar orang mengalaminya, dan itu wajar. April Kilduff, terapis berlisensi dan spesialis OCD di NOCD, menjelaskan bahwa digital hoarding masih tergolong konsep yang relatif baru, sehingga belum semua orang, termasuk sebagian klinisi, mengenalinya sebagai masalah. Namun, menyimpan banyak foto di ponsel tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan. Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah kebiasaan tersebut menimbulkan tekanan emosional atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Lalu, kapan perlu waspada? Patokan sederhananya adalah dampak emosional dan gangguan pada kehidupan sehari-hari. Menurut NOCD, kebiasaan menyimpan banyak foto dapat menjadi masalah ketika mulai menimbulkan tekanan emosional, kecemasan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi tersebut, perilaku ini dapat berkaitan dengan photo hoarding, yaitu penimbunan foto secara berlebihan yang sulit dikendalikan. Contohnya, kamu merasa sangat gelisah saat harus menghapus satu foto, atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyimpan ulang file karena takut hilang.
Tips singkatnya, coba tanyakan tiga hal ke dirimu: apakah kamu cemas saat menghapus foto, apakah kamu sulit menemukan foto penting, dan apakah kebiasaan ini menyita waktu atau uang. Kalau jawabannya "ya" untuk sebagian besar pertanyaan dan rasa cemasnya sudah mengganggu, berkonsultasi dengan psikolog bisa jadi langkah yang tepat.
All About Psychology menjelaskan bahwa terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu seseorang mengatasi keyakinan dan kecemasan yang mendorong kebiasaan menimbun foto digital. Terapi ini juga dapat membantu mengurangi perilaku kompulsif, seperti merasa harus terus menyimpan atau mencadangkan foto.
Advertisement
Cara Praktis Mengelola Ribuan Foto di HP
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368613/original/038401400_1791443185-5__1_.jpg)
Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dibenahi pelan-pelan tanpa harus kehilangan kenangan. Mulailah dari yang paling mudah, yaitu membuang sampah visual seperti foto blur, foto dobel, dan tangkapan layar yang sudah tidak berguna. Kebanyakan HP sekarang punya fitur pendeteksi file duplikat. Panduan menghapus file duplikat di HP bisa membantumu melakukannya dalam beberapa ketukan saja. Jangan langsung menargetkan seluruh galeri. Cukup 10 sampai 15 menit sehari, mulai dari bulan terbaru.
Langkah berikutnya adalah mencadangkan foto penting ke cloud, lalu mengosongkan salinannya di HP. Layanan seperti Google Photos punya fitur untuk menghapus foto yang sudah tercadang dari memori perangkat. Kamu bisa mempelajari cara kosongkan Google Photos agar memori tetap lega tanpa kehilangan foto berharga. Tapi ingat, memindahkan ke cloud hanya memindahkan tumpukan, bukan merapikannya. Tetap sisihkan waktu untuk memilah.
Setelah itu, beri struktur pada fotomu. Buat album berdasarkan momen atau tahun, misalnya "Liburan Bali 2025" atau "Wisuda Adik". Ini sejalan dengan pandangan para peneliti memori bahwa foto lebih mudah diingat kalau punya konteks dan cerita. Contoh sederhananya, dari 50 foto ulang tahun, pilih 5 sampai 10 foto terbaik untuk dijadikan album, lalu arsipkan atau hapus sisanya.
Terakhir, ubah kebiasaan memotret dan jadwalkan waktu untuk benar-benar melihat foto. Sebelum menekan tombol kamera, tanyakan dulu apakah momen ini ingin kamu lihat lagi nanti. Kalau memang ingin memotret, ingat temuan Henkel soal manfaat fokus pada detail. Sisihkan waktu, misalnya setiap akhir bulan, untuk membuka galeri, mengenang, sekaligus menghapus foto yang tidak perlu. Dengan begitu, foto benar-benar berfungsi sebagai penyimpan kenangan, bukan sekadar tumpukan yang memenuhi memori HP.
Pada akhirnya, menyimpan ribuan foto bukan hal yang salah selama kamu tetap memegang kendali. Yang perlu kamu jaga adalah hubunganmu dengan foto-foto itu: dipilih dengan sadar, ditata supaya mudah dicari, dan sesekali dibuka lagi untuk dinikmati.
Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Menyimpan Ribuan Foto di HP tapi Jarang Membukanya
Mengapa seseorang menyimpan ribuan foto di HP tetapi jarang membukanya?
Seseorang mungkin menyimpan banyak foto karena menganggapnya sebagai kenangan berharga atau khawatir akan membutuhkan file tersebut di kemudian hari. Namun, kebiasaan ini juga bisa membuat galeri menumpuk hingga akhirnya jarang dibuka kembali.
Apa itu digital hoarding atau penimbunan digital?
Digital hoarding adalah kebiasaan menyimpan file digital secara berlebihan dan mengalami kesulitan untuk menghapus atau menatanya. File yang dikumpulkan bisa berupa foto, video, email, hingga dokumen. Kebiasaan ini perlu diperhatikan jika mulai menimbulkan tekanan emosional atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Apakah menyimpan ribuan foto di HP termasuk gangguan psikologis?
Tidak selalu. Memiliki banyak foto di HP bukan berarti seseorang mengalami gangguan psikologis. Hal yang lebih penting adalah apakah kebiasaan tersebut sulit dikendalikan, menimbulkan kecemasan, atau mengganggu kehidupan sehari-hari.
Bagaimana cara mengatasi kebiasaan menyimpan terlalu banyak foto di HP?
Mulailah dengan memilah foto berdasarkan tanggal atau kategori, menghapus gambar duplikat dan foto yang tidak lagi diperlukan, serta membuat album untuk kenangan penting. Lakukan secara bertahap agar prosesnya terasa lebih ringan. Jika kebiasaan tersebut menimbulkan kecemasan berat atau mengganggu keseharian, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8406223/original/090481000_1782289085-cek_fakta_-_insentif_guru_asn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378631/original/096164000_1792555787-Screenshot_2026-10-21_103719.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378737/original/019231300_1792561477-cpns_honorer.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373352/original/095536800_1791963112-01M4TDZCGXZFTAXN7J9193R8A7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377120/original/029769700_1792405872-01M59S15XYE6FN2GS8F8GF455Y.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374107/original/053598300_1792035688-01M4WRTP0XEXAJ14YEE7CWTHXS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372095/original/067067800_1791867676-01M4SRQ56RKME27V4A7VTC5HYB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9377847/original/044796600_1792480606-28158.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372086/original/078843800_1791867654-01M4SRJAM6SCJ8ECC3SZ6NFVMD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365321/original/066305100_1791173438-4m33E5cBTMqUDyfD8GlZFulgFuY4qVjGgyVmbaRy.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354842/original/018095400_1790065256-RAmNTsMl9plCkvhw50q3YcQlpgpsaYeGjpCKQJV9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3793754/original/097985900_1640255254-pexels-photo-3809002.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361682/original/008171000_1790744288-pexels-rdne-6645921.jpg)