Liputan6.com, Jakarta - Di era modern yang serba cepat dan kompetitif, rasa lelah bukan hanya disebabkan oleh aktivitas fisik, melainkan juga oleh kelelahan mental. Banyak orang dihantui rasa cemas ketika memikirkan masa depan yang belum pasti, mulai dari urusan karier, ekonomi, hingga tuntutan sosial.
Tekanan untuk terus mengejar standar hidup yang terus meningkat acapkali membuat manusia terjebak dalam pusaran ambisi yang tak berujung. Akibatnya, kecemasan menjadi teman sehari-hari dan sulit lepas.
Dalam khazanah ajaran Islam, terdapat sebuah konsep spiritual yang sangat relevan untuk menjawab kegelisahan ini, yaitu sifat Qanaah. Secara bahasa, Qanaah berasal dari kata qana'a yang berarti merasa puas dengan apa yang diterima dan rela atas apa yang menjadi bagiannya.
Advertisement
Sebagaimana dijelaskan oleh Alwazir Abdusshomad dalam Jurnal Asy-Syukriyyah (2020), Qanaah adalah sikap menerima pemberian yang telah dianugerahkan oleh Allah dan selalu mensyukuri berapapun yang didapatkan, baik banyak maupun sedikit. Ini bukan berarti berhenti berusaha, melainkan sebuah upaya untuk tidak diperbudak oleh dunia dan hawa nafsu duniawi.
Pentingnya Qanaah ini juga ditegaskan dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim, "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan itu adalah kekayaan jiwa." Dalam penelitian Sri Melati, Ahmad Zuhri, dan Jufri Naldo (2025) yang diterbitkan dalam jurnal Volume 4 No. 2, dijelaskan bahwa Buya Hamka menghubungkan Qanaah dengan kesehatan jiwa.
Orang yang memiliki sifat Qanaah akan memiliki 'kekayaan jiwa' (ghina al-nafs) yang membuatnya mampu menghadapi tekanan hidup tanpa kehilangan keseimbangan psikologis. Dari sini, kita dapat melihat bahwa Qanaah bukan sekadar nilai spiritual, melainkan mekanisme koping (coping mechanism) yang ampuh untuk meredakan kecemasan.
4 Alasan Psikologis Mengapa Sikap Qanaah Ampuh Redakan Cemas
Al-Qur'an telah menegaskan prinsip ini dalam Surat Ar-Ra'd ayat 26 yang berbunyi, "Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki)."
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, mengajarkan bahwa pembagian rezeki adalah hak prerogatif Allah. Buya Hamka menekankan bahwa manusia tidak perlu diliputi kecemasan berlebihan mengenai masa depan, karena Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya. Sikap Qanaah hadir sebagai penawar untuk menenangkan jiwa yang gelisah.
Berdasarkan kajian psikologi Islam dan tafsir kontemporer, berikut adalah penjelasan komprehensif mengenai alasan psikologis mengapa sikap Qanaah sangat efektif dalam meredakan kecemasan akan masa depan:
1. Mengurangi Beban Ambisi dan Tuntutan yang Berlebihan
Kecemasan seringkali muncul ketika tuntutan hidup melebihi kapasitas diri. Manusia cenderung memaksakan diri untuk mencapai target yang bahkan melampaui batas kemampuannya, yang berujung pada stres dan depresi ringan. Menurut Sri Melati dkk. (2025), Qanaah memberikan perspektif baru dengan mengajarkan penerimaan diri dan menerima keterbatasan manusia di hadapan Allah.
Individu tidak lagi terbebani oleh ambisi berlebihan untuk mengejar standar materi yang tidak ada habisnya. Dengan merasa cukup, ketegangan batin menurun, sehingga individu dapat berfokus pada apa yang bisa dikendalikan hari ini tanpa terhantui ekspektasi masa depan yang belum pasti.
2. Mencegah Penyakit Hati (Iri, Dengki, dan Tamak)
Sumber utama kecemasan sosial adalah membandingkan diri dengan orang lain. Melihat kesuksesan atau kepemilikan orang lain seringkali memicu perasaan iri dan merasa kurang.
Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka (1983) menjelaskan bahwa salah satu sumber kegelisahan hidup adalah keinginan untuk memiliki kelebihan yang dimiliki orang lain. Qanaah menanamkan sikap ridha terhadap ketentuan Allah (QS. An-Nisa: 32).
Ketika seseorang sudah merasa cukup dengan bagiannya, ia tidak akan meratapi kekurangan materi, tidak iri terhadap rezeki orang lain, dan tidak mengeluh terhadap takdir. Hilangnya sifat-sifat toksik ini secara langsung menciptakan ketenangan batin dan kebebasan dari penderitaan psikologis.
3. Membentuk Resiliensi (Daya Tahan) Diri yang Kuat
Masa depan yang tidak pasti menuntut adanya ketahanan mental yang tangguh. Qanaah mengajarkan konsep tawakal dan sabar.
Alwazir Abdusshomad (2020) mengutip pandangan yang menyatakan bahwa Qanaah dapat menimbulkan semangat dalam mencari rezeki, dengan tetap memantapkan pikiran, meneguhkan hati, bertawakal kepada Allah, dan tidak putus asa ketika impian belum terwujud.
Dalam psikologi modern, Qanaah dikategorikan sebagai bentuk koping religius-positif yang terbukti meningkatkan resiliensi. Individu yang Qanaah percaya bahwa segala ketetapan-Nya pasti dipenuhi, sehingga ia tidak mudah gelisah atau cemas saat menghadapi rintangan hidup.
4. Berfungsi sebagai Terapi Penenang Jiwa
Kecemasan akan masa depan seringkali membuat pikiran kacau dan hati tidak tenang. Qanaah berfungsi langsung sebagai penenang jiwa. Dengan memahami dan mengamalkan ajaran Qanaah yang didasari pendekatan sufistik, seseorang mampu memperbaiki keadaan hati yang tidak baik.
Melati dkk. (2025) menyimpulkan bahwa Qanaah membantu individu mengurangi ketidakpuasan, kecemasan, dan putus asa, sehingga menjadi faktor protektif bagi kesehatan jiwa. Ketenangan ini lahir dari kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu dan tidak akan membiarkan hamba-Nya terlantar.
Keutamaan Sifat Qanaah
Menerapkan Qanaah bukan hanya sekadar menolak kecemasan, tetapi juga mendatangkan berbagai keutamaan dalam kehidupan, di antaranya:
1. Memperoleh Kekayaan Jiwa (Ghina al-Nafs)
Sebagaimana hadis Nabi, Qanaah menjadikan seseorang kaya secara batin, tidak merasa miskin meskipun secara materi pas-pasan.
2. Menciptakan Kesehatan Jiwa dan Raga
Jiwa yang tenang akan memancarkan kesehatan pada raga. Buya Hamka menyebutkan bahwa jiwa yang sehat akan melahirkan kemerungan dan keceriaan, sedangkan jiwa yang sakit akan melahirkan murung dan lesu.
3. Terhindar dari Perilaku Konsumtif dan Israf (Pemborosan)
Qanaah mengajarkan hidup sederhana, menghindari pemborosan, dan mengelola keuangan dengan bijak sesuai kebutuhan esensial, sehingga terhindar dari jeratan utang.
4. Memperkuat Solidaritas Sosial
Orang yang merasa cukup akan lebih mudah berbagi dan membantu sesama. Ia tidak takut kehilangan hartanya jika harus diberikan kepada yang membutuhkan, sehingga tercipta keharmonisan sosial.
Amalan yang Dapat Dilakukan agar Memiliki Sifat Qanaah
Untuk mencapai derajat Qanaah, Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern merumuskan lima konsep praktis yang harus diterapkan, sebagaimana diulas dalam jurnal Alwazir Abdusshomad (2020) dan Sri Melati dkk. (2025):
1. Menerima dengan Rela (Ridha) atas Apa yang Ada
Menerima segala pemberian Allah dengan senang hati, tidak menggerutu, dan meyakini bahwa apa yang diberikan adalah yang terbaik.
2. Memohon Tambahan yang Pantas kepada Allah yang Dibarengi dengan Usaha (Ikhtiar)
Berdoa dan berusaha secara maksimal, serta selalu husnudzan (berprasangka baik) terhadap ketetapan Allah.
3. Menerima dengan Sabar akan Ketentuan Allah
Tetap kuat, tidak gelisah, dan tidak cemas akan takdir. Sabar menjadi kunci untuk menghilangkan kegelisahan.
4. Bertawakal kepada Allah
Percaya sepenuhnya bahwa Allah akan memenuhi segala ketetapan-Nya. Tawakal adalah buah dari keimanan yang kuat.
5. Tidak Tertarik oleh Tipu Daya Dunia (Zuhud)
Menghindari kesenangan duniawi yang berlebihan dan menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, tanpa meninggalkan kewajiban mencari rezeki.
Â
Pertanyaan Seputar Qanaah
1. Apa arti sikap Qanaah dalam Islam?
Qanaah adalah sikap merasa puas dan rela menerima berapapun rezeki atau pemberian yang telah Allah anugerahkan, baik banyak maupun sedikit, disertai dengan rasa syukur dan tidak mengeluh.
2. Mengapa Qanaah sangat efektif untuk meredakan kecemasan?
Karena Qanaah menghilangkan beban ambisi berlebihan, mencegah penyakit hati seperti iri dan tamak, membangun resiliensi diri, serta berfungsi sebagai terapi spiritual yang menenangkan jiwa menghadapi ketidakpastian masa depan.
3. Apakah Qanaah berarti kita tidak boleh bercita-cita tinggi?
Tidak. Qanaah bukan berarti pasif atau bermalas-malasan. Qanaah tetap mendorong manusia untuk berusaha dan berdoa secara maksimal. Bedanya, ketika hasilnya belum sesuai harapan, orang yang Qanaah tidak akan stres, kecewa berlebihan, atau menggerutu, karena ia yakin itu adalah takdir terbaik.
4. Bagaimana cara melatih sifat Qanaah dalam kehidupan sehari-hari?
Cara melatihnya adalah dengan selalu bersyukur atas apa yang dimiliki, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, hidup sederhana (tidak boros), memperbanyak dzikir, dan meyakini bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378631/original/096164000_1792555787-Screenshot_2026-10-21_103719.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378737/original/019231300_1792561477-cpns_honorer.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378727/original/040838400_1792560617-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378600/original/015963400_1792553835-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366385/original/031825200_1791264228-197.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378843/original/058311000_1792565352-IMG-20261019-WA0006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378662/original/075798200_1792557473-1000664751.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357226/original/093163200_1790237905-1000644616.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5251252/original/000237200_1749790228-flat-lay-shot-guy-working-his-notes.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378651/original/067486000_1792557170-1000664734.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378650/original/069048900_1792556800-1000664134.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378667/original/049819300_1792557665-1000665688.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378728/original/022660600_1792560663-1001779439.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5450229/original/030945800_1766134797-unnamed__2_.jpg)