Ciri Orang yang Selalu Cek Kurs Sebelum Belanja dari Luar Negeri

Kenali ciri orang yang selalu cek kurs sebelum belanja dari luar negeri, manfaatnya, biaya tersembunyi yang diwaspadai, dan cara cek kurs yang benar.

Liputan6.com, Jakarta Belanja dari toko luar negeri sekarang cuma butuh beberapa ketukan di ponsel. Tapi harga yang kamu lihat di layar belum tentu sama dengan jumlah rupiah yang akhirnya terpotong dari rekening.

Di sinilah ciri orang yang selalu cek kurs sebelum belanja dari luar negeri mulai kelihatan: mereka teliti, suka membandingkan, dan tidak mudah tergoda tampilan harga. Mengenali ciri orang yang selalu cek kurs sebelum belanja dari luar negeri bisa membantu kamu belanja lebih hemat dan bebas kaget saat tagihan datang.

Dilansir dari PayPal, setiap penyedia layanan (bank, platform online, dan pemroses pembayaran) menetapkan kursnya sendiri yang berada di atas kurs tengah pasar (mid-market rate). Artinya, satu barang yang sama bisa punya harga rupiah berbeda, tergantung cara kamu membayarnya.

Pengertian Orang yang Selalu Cek Kurs Sebelum Belanja

Langkah pertama memahami topik ini adalah mengenal istilah dasarnya dulu. Kurs atau nilai tukar adalah harga satu mata uang kalau diukur dengan mata uang lain. Contohnya, kalau 1 dolar AS setara sekitar Rp18.000, kamu perlu Rp18.000 untuk "membeli" 1 dolar. Nilai ini tidak diam di tempat. Kurs bergerak terus mengikuti permintaan dan penawaran di pasar valuta asing, jadi harga barang impor dalam rupiah pun ikut naik-turun walaupun harga aslinya dalam dolar tidak berubah.

Jadi, orang yang selalu cek kurs sebelum belanja dari luar negeri adalah pembeli yang memeriksa nilai tukar dan semua biaya konversi sebelum menekan tombol bayar. Mereka tidak cuma melihat angka "USD 50" di halaman produk, tapi juga menghitung berapa rupiah yang benar-benar keluar. Kebiasaan ini bukan soal pelit. Ini soal sadar bahwa transaksi lintas negara punya lapisan biaya yang sering tidak kelihatan di halaman checkout.

Biaya tersembunyi itu memang nyata. Mengutip Chime, biaya transaksi luar negeri bisa diam-diam menumpuk, biasanya 1% sampai 3% dari setiap pembelian, dan berlaku baik saat kamu menggesek kartu di kafe di Paris maupun membeli sepatu dari peritel luar negeri secara online. Jadi kamu tetap bisa kena biaya ini walaupun tidak pernah keluar rumah.

Dalam praktiknya, kebiasaan cek kurs dipakai untuk tiga hal: membandingkan harga dengan toko lokal, memilih metode bayar yang paling murah, dan menyiapkan anggaran yang realistis. Contoh sederhananya, bayangkan kamu mau beli buku impor seharga USD 20. Kalau kurs kartumu ditambah biaya 3%, harga rupiahnya bisa beda jauh dari hasil kalkulator kurs di mesin pencari. Pembeli yang terbiasa mengecek kurs akan tahu selisih ini sejak awal, bukan setelah tagihan kartu datang.

Ciri Orang yang Selalu Cek Kurs Sebelum Belanja dari Luar Negeri

Orang yang teliti soal kurs biasanya punya pola kebiasaan yang mirip. Coba cocokkan dengan kebiasaanmu sendiri lewat daftar di bawah ini.

  1. Tidak langsung percaya harga rupiah di situs. Mereka paham angka rupiah yang ditampilkan toko luar negeri sering memakai kurs versi toko itu sendiri. Karena itu, mereka mencocokkannya dulu dengan kurs tengah dan kurs bank sebelum memutuskan beli.
  2. Membandingkan kurs dari beberapa sumber. Kurs referensi Bank Indonesia, kurs jual bank, kurs kartu kredit, dan kurs aplikasi pembayaran bisa berbeda. Mereka memakai beberapa angka itu sebagai pembanding, bukan cuma satu sumber.
  3. Selalu memilih bayar dalam mata uang lokal penjual. Kalau ada pilihan "bayar dalam rupiah" di toko luar negeri, mereka biasanya menolaknya. Penulis panduan One Mile at a Time menegaskan, "Sederhananya, kamu hampir selalu sebaiknya membayar dalam mata uang lokal, kalau tidak, biasanya kamu hanya membuang uang."
  4. Mengecek lokasi penjual sebelum checkout. Toko yang tampak lokal bisa saja diproses di luar negeri. Brooklyn Lowery, editor senior kartu kredit, dikutip dari Bankrate bercerita soal pembelian online yang ternyata dikenai biaya, "Ternyata tidak baik-baik saja; biayanya USD 19. Di halaman checkout tidak jelas, tapi penjual itu berbasis di luar negeri. Pelajaran berharga. Kini kami mengecek lebih teliti sebelum belanja online dengan penjual baru."
  5. Hafal biaya transaksi luar negeri di kartunya. Mereka tahu kartu mana yang mengenakan biaya tambahan dan kartu mana yang lebih ramah untuk transaksi valas. Pengetahuan ini bikin mereka bisa memilih alat bayar dengan cepat.
  6. Menghitung total biaya sampai barang tiba. Bagi mereka, harga barang hanyalah titik awal. Ongkos kirim internasional, asuransi, bea masuk, dan PPN ikut dihitung supaya ketahuan apakah belanja dari luar negeri memang lebih murah daripada beli di dalam negeri.
  7. Menyisihkan dana cadangan untuk selisih kurs. Mereka sadar kurs saat checkout belum tentu sama dengan kurs saat transaksi diproses. Penulis Cards and Points menjelaskan bahwa sebagian pemroses memakai kurs pada tanggal kartu digunakan, sebagian lainnya memakai kurs pada tanggal transaksi diselesaikan, sehingga jumlah yang akhirnya dibayar bisa sedikit berbeda.
  8. Memantau tren kurs sebelum belanja besar. Untuk barang mahal seperti gadget atau kamera, mereka tidak buru-buru. Mereka memantau pergerakan rupiah beberapa hari dulu, lalu belanja saat kurs sedang lebih bersahabat.
  9. Menyimpan bukti transaksi dan mencocokkannya dengan tagihan. Setelah belanja, mereka membandingkan nominal di struk atau email konfirmasi dengan mutasi rekening. Kalau ada potongan yang janggal, mereka bisa langsung bertanya ke bank.

 

Manfaat Kebiasaan Cek Kurs bagi Pembeli Online Lintas Negara

Kebiasaan sederhana ini memberi dampak yang cukup terasa di dompet, apalagi buat kamu yang rutin belanja atau berlangganan layanan luar negeri. Manfaat utama cek kurs bagi pengguna adalah kendali penuh atas jumlah uang yang keluar. Berdasarkan penjelasan TD Bank, biaya transaksi luar negeri bisa menumpuk secara signifikan bagi pelancong rutin, ekspatriat, pengguna layanan langganan internasional, dan pembeli online lintas negara.

  • Anggaran lebih akurat. Kamu tahu angka rupiah yang mendekati kenyataan, jadi tidak ada lagi "kejutan" saat tagihan kartu kredit tiba.
  • Keputusan beli lebih rasional. Setelah semua biaya dihitung, kamu bisa menilai apakah barang impor itu memang lebih murah daripada versi lokalnya.
  • Terhindar dari markup konversi. Dengan memilih mata uang yang tepat saat bayar, kamu tidak ikut menanggung keuntungan tambahan dari kurs yang sengaja dibuat mahal.
  • Bisa memilih waktu belanja terbaik. Saat rupiah sedang menguat, barang yang sama bisa terasa lebih murah. Pantau kurs dan tunda belanja kalau barangnya tidak mendesak.
  • Arus kas lebih sehat, terutama untuk pelaku usaha. Kalau kamu belanja stok dari supplier luar negeri, selisih kurs yang kecil bisa menggerus margin keuntungan. Cek kurs membantu menjaga hitungan modal tetap aman.
  • Mudah mendeteksi kejanggalan. Karena sudah punya angka perkiraan, kamu langsung sadar kalau ada potongan yang tidak wajar di mutasi rekening.

 

Biaya Tersembunyi yang Selalu Diwaspadai Pembeli Teliti

Sebelum membahas cara cek kurs, kamu perlu mengenal dua "biaya siluman" yang paling sering muncul saat belanja lintas negara. Keduanya sering dikira sama, padahal berbeda.

Biaya Transaksi Luar Negeri (Foreign Transaction Fee)

Ini adalah biaya tambahan dari bank penerbit kartu atau jaringan kartu saat kamu bertransaksi dengan penjual di luar negeri atau dalam mata uang asing. Sebagaimana dilaporkan Forbes, biaya transaksi luar negeri dikenakan di samping biaya konversi mata uang, dan keduanya bukan hal yang sama. Jadi, satu transaksi bisa kena dua lapis biaya sekaligus. Tiap bank di Indonesia punya ketentuan sendiri, jadi cek lembar informasi produk kartumu atau tanyakan langsung ke layanan pelanggan bank.

Dynamic Currency Conversion (DCC)

DCC terjadi saat toko atau mesin pembayaran luar negeri menawarkan untuk menagih kamu dalam rupiah, bukan dalam mata uang lokalnya. Kedengarannya praktis karena kamu langsung tahu angkanya dalam rupiah. Masalahnya, kurs yang dipakai ditentukan pihak penjual dan biasanya sudah ditambah keuntungan. Merujuk The Points Guy, dalam banyak kasus kamu akan kehilangan 3%-5% saat konversi, dan kalau kartumu juga mengenakan biaya transaksi luar negeri, kamu bisa kehilangan 3%-5% lagi dari biaya tersebut.

Penulis Cards and Points juga menilai bahwa satu-satunya kelebihan DCC hanyalah kepastian angka, "Menurut pandangan saya, satu-satunya sisi positif dynamic currency conversion adalah memungkinkan kamu mengunci kurs pada saat pembelian." Tips singkatnya, kalau di halaman checkout atau mesin EDC muncul dua pilihan mata uang, pilih mata uang lokal penjual. Biarkan bank atau jaringan kartumu yang melakukan konversi.

Cara Cek Kurs dengan Benar Sebelum Checkout

Kalau kamu ingin mulai membangun kebiasaan ini, ikuti urutan langkah berikut. Prosesnya cuma butuh beberapa menit, tapi bisa menyelamatkan cukup banyak rupiah.

  1. Cek kurs tengah sebagai patokan. Lihat kurs referensi resmi, misalnya kurs JISDOR yang diterbitkan Bank Indonesia, atau kalkulator kurs di mesin pencari. Angka ini jadi pembanding, bukan kurs yang akan kamu dapat.
  2. Cek kurs jual bank atau aplikasi yang akan kamu pakai. Buka aplikasi mobile banking, dompet digital, atau penyedia transfer internasional. Catat kurs jualnya karena biasanya inilah yang lebih mendekati biaya riil.
  3. Kenali biaya kartu kamu. Cari tahu apakah ada biaya transaksi luar negeri. Mengacu pada panduan WalletHub, cara terbaik menghindari biaya transaksi luar negeri adalah memakai kartu debit atau kredit yang membebaskan biaya tersebut saat bepergian ke luar negeri atau belanja online dari peritel internasional.
  4. Pastikan lokasi dan mata uang penjual. Baca halaman "About" atau kebijakan toko. Kalau harga ditampilkan dalam mata uang asing, kemungkinan besar transaksimu diproses sebagai transaksi luar negeri.
  5. Pilih mata uang lokal penjual saat bayar. Tolak opsi konversi otomatis ke rupiah yang ditawarkan toko.
  6. Hitung total biaya sampai barang tiba. Jumlahkan harga barang, ongkos kirim, asuransi, lalu perkirakan bea masuk dan PPN impor.
  7. Tambahkan dana cadangan. Sisihkan sedikit ruang di anggaran, misalnya beberapa persen dari total, untuk berjaga-jaga kalau kurs bergerak sebelum transaksi selesai diproses.
  8. Cocokkan dengan mutasi rekening. Setelah transaksi selesai, bandingkan angka akhir dengan perkiraanmu supaya tahu metode bayar mana yang paling hemat untuk belanja berikutnya.

 

Buat kamu yang belanja langsung saat traveling, ada juga pilihan pembayaran yang mengurangi repotnya menukar uang tunai. Contohnya, belanja menggunakan rupiah di sejumlah negara kini bisa dilakukan lewat QRIS antarnegara. Tetap bandingkan kursnya dengan opsi lain sebelum membayar, ya.

Kurs Pajak Bea Cukai dan Hitungan Pajak Barang Kiriman

Satu hal yang sering terlewat, bahkan oleh pembeli yang sudah rajin cek kurs, adalah kurs yang dipakai untuk menghitung pajak impor. Saat barang kirimanmu masuk ke Indonesia, nilai barang dalam dolar akan dikonversi ke rupiah untuk menentukan pungutan. Konversi ini tidak memakai kurs bank tempat kamu membayar. Yang dipakai adalah kurs pajak resmi atau Nilai Dasar Penghitungan Bea Masuk (NDPBM), yang ditetapkan Kementerian Keuangan dan diperbarui setiap minggu. Karena itu, pembeli teliti juga mengecek kurs pajak minggu berjalan saat menghitung perkiraan pajak.

Besar pungutannya mengikuti nilai barang. Sebagaimana disampaikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, barang kiriman dengan nilai di atas USD 3 dikenakan bea masuk sebesar 7,5% dan PPN sebesar 11%, di luar pungutan lain sesuai jenis barang dan ketentuan yang berlaku. Untuk barang tertentu seperti tas, sepatu, dan produk tekstil, tarif yang berlaku bisa berbeda dan biasanya lebih tinggi. Jadi, sebelum belanja kategori barang ini, cek dulu aturan terbarunya di kanal resmi Bea Cukai.

Supaya hitunganmu tidak meleset, ingat bahwa dasar pengenaan bea masuk biasanya bukan cuma harga barang. Nilai pabean dihitung dari harga barang ditambah asuransi dan ongkos kirim, atau yang dikenal sebagai CIF (Cost, Insurance, and Freight). Setelah itu, nilai pabean dikalikan tarif bea masuk, lalu PPN dihitung dari nilai pabean ditambah bea masuk. Contoh sederhananya, bayangkan kamu membeli barang USD 40 dengan ongkir USD 8. Bea masuk dihitung dari total USD 48 yang sudah dikonversi dengan kurs pajak, bukan dari USD 40 saja.

Dari sudut pandang praktis, inilah alasan orang yang selalu cek kurs biasanya tidak gampang kaget saat menerima tagihan bea masuk. Mereka sudah menghitung tiga lapis biaya: kurs saat pembayaran, biaya kartu atau konversi, dan pajak impor dengan kurs pajak. Kalau kamu mulai menerapkan kebiasaan yang sama, belanja dari luar negeri tidak lagi terasa seperti tebak-tebakan. Kamu tahu persis kapan sebuah barang impor benar-benar lebih hemat, dan kapan lebih baik beli dari toko lokal saja.