5 Kesalahan Memuji Anak yang Terlalu Berfokus pada Kecerdasan, bukan Usaha

Kesalahan memuji anak yang terlalu berfokus pada kecerdasan, bukan usaha, bisa melemahkan semangat belajar. Simak lima kesalahan umumnya di sini.

Diterbitkan 18 Oktober 2026, 15:15 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kalimat “kamu memang pintar” sering terdengar seperti doa terbaik untuk anak. Namun, kesalahan memuji anak yang terlalu berfokus pada kecerdasan, bukan usaha, justru bisa membuat mereka takut mencoba hal yang sulit dan mudah menyerah saat gagal.

Sebuah studi klasik berjudul Praise for Intelligence Can Undermine Children’s Motivation and Performance (1998) yang ditulis Claudia M. Mueller dan Carol S. Dweck dan terbit di Journal of Personality and Social Psychology menemukan bahwa anak yang dipuji kecerdasannya cenderung memilih tugas yang mudah. Mereka juga lebih cepat kehilangan semangat setelah menghadapi kegagalan dibanding anak yang dipuji atas usahanya.

Dalam buku Mindset: The New Psychology of Success (2006) karya Carol S. Dweck, anak yang dipuji kecerdasannya cenderung mengadopsi pola pikir tetap dan menolak tantangan baru. Berikut adalah kesalahan memuji anak yang terlalu berfokus pada kecerdasan, bukan usaha dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Minggu (18/10/2026).

1. Memuji Anak dengan Label “Kamu Anak Pintar” Berulang Kali

Pujian seperti “kamu memang pintar” sering terucap saat anak mendapat nilai bagus atau berhasil menjawab soal. Gunderson dkk. dalam studi Parent Praise to 1-3 Year-Olds Predicts Children’s Motivational Frameworks 5 Years Later (2013), yang diterbitkan jurnal Child Development, membedakan pujian berbasis proses dan pujian berbasis pribadi. Pujian “kamu anak yang pintar” termasuk pujian berbasis pribadi karena menyiratkan bahwa kemampuan anak adalah sifat bawaan yang tetap.

Menariknya, dalam studi tersebut pujian berbasis pribadi tidak menunjukkan hubungan yang kuat dengan respons anak. Meski begitu, label semacam ini tetap perlu diwaspadai karena bisa membuat anak mengira nilai dirinya bergantung pada kecerdasan.

2. Memberi Pujian Hanya Saat Nilai Bagus

Mueller dan Dweck (1998) menjelaskan bahwa pujian kecerdasan yang diberikan setelah hasil bagus bisa berbalik menjadi masalah. Ketika performa anak menurun, ia dapat menyimpulkan bahwa hasil buruk berarti ia kurang cerdas.

Akibatnya, anak merasa kemampuannya terus diuji setiap kali mengerjakan tugas. Orang tua bisa mengganti pola ini dengan mengapresiasi proses, misalnya ketekunan anak menyelesaikan latihan meski hasilnya belum sempurna.

3. Mengaitkan Kegagalan dengan Kurangnya Kecerdasan

Dalam studi Mueller dan Dweck (1998), anak yang dipuji kecerdasannya menunjukkan respons yang lebih buruk setelah gagal. Mereka lebih mudah menganggap kegagalan sebagai tanda kemampuan rendah, kurang gigih, kurang menikmati tugas, dan performanya ikut memburuk.

Kalimat seperti “Mungkin memang kamu tidak berbakat di bidang ini” dapat memperkuat keyakinan tersebut. Sebagai gantinya, orang tua bisa berkata, “Kamu belum menemukan cara yang tepat. Coba strategi lain, yuk.”

4. Membuat Anak Takut Terlihat Bodoh

Dalam salah satu rangkaian percobaan Mueller dan Dweck, anak yang dipuji kecerdasannya lebih banyak memilih soal yang mudah. Mereka seolah menghindari risiko terlihat tidak pintar di depan orang lain.

Melansir dari laman Universitas Illinois, Dweck memimpin serangkaian studi yang menunjukkan hasil serupa pada anak dengan berbagai usia. Dalam studi tersebut, anak yang dipuji kecerdasannya bahkan lebih sering berbohong tentang hasil yang mereka capai.

5. Membuat Anak Bergantung pada Pujian

Dalam tulisannya, Dweck menyarankan orang tua mengajarkan anak untuk menyukai tantangan, tertarik pada kesalahan, menikmati proses, dan terus belajar. Dengan begitu, anak tidak terus-menerus mencari validasi dari orang lain.

Dweck juga mengingatkan bahwa pola pikir berkembang bukan semata-mata soal usaha keras. Anak perlu belajar dari umpan balik dan mencari strategi yang lebih baik agar usahanya membuahkan hasil.

Cara Memuji Anak yang Lebih Tepat

Pujian yang lebih sehat menyebut tindakan yang spesifik, seperti strategi, usaha, atau ketekunan. Gunderson dkk. (2013) menemukan bahwa pujian berbasis proses berhubungan dengan sikap positif anak terhadap tantangan hingga lima tahun kemudian.

Misalnya, kalimat “Kamu mencoba tiga cara berbeda sampai soal ini selesai” terasa lebih bermakna daripada “Kamu memang jenius”. Pujian seperti ini membuat anak memahami bahwa kemampuannya bisa tumbuh lewat kerja dan strategi yang tepat.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kesalahan Memuji Anak

Apakah memuji anak pintar selalu salah?

Tidak selalu. Namun, pujian yang hanya berfokus pada kecerdasan berisiko membuat anak takut gagal, sehingga riset menyarankan pujian yang juga menyebut usaha dan strategi.

Apa bedanya pujian proses dan pujian pribadi?

Pujian proses menyebut usaha, strategi, atau tindakan anak. Pujian pribadi menyebut sifat bawaan, misalnya “kamu anak pintar”.

Bagaimana memuji anak yang sedang gagal?

Akui usahanya dan ajak ia mencoba strategi lain. Hindari menyimpulkan bahwa kemampuannya memang rendah.

Apakah temuan ini hanya berlaku untuk anak kecil?

Tidak. Studi Mueller dan Dweck (1998) melibatkan anak kelas lima, sedangkan studi Gunderson dkk. (2013) mengikuti anak usia 1 sampai 3 tahun.

Apakah anak benar-benar berbohong soal nilai?

Dalam serangkaian studi yang dipimpin Dweck, sebagaimana dilansir laman Universitas Illinois, sebagian anak yang dipuji kecerdasannya memang tercatat berbohong tentang hasilnya.