Derita Warga Palangka Raya Dua Bulan Dikepung Asap, Oksigen Kebutuhan Utama

Pagi cerah dengan udara bersih, kini menjadi momen mahal di Kota Palangka Raya.

Diterbitkan 15 Oktober 2026, 11:51 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pagi cerah dengan udara bersih, kini menjadi momen mahal di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Semua anugerah itu berganti asap kebakaran hutan dan lahan.

Hari-hari di sana dilewati dengan keresahan. Ruang terbuka kini sepi dari aktivitas warga. Berganti kepungan kabut beraroma gosong, menyengat dan pekat.

Iya, sudah dua bulan masyarakat Kota Palangka Raya hidup berselimut asap kebakaran hutan dan lahan. Mengubah ritme harian, mulai dari pendidikan hingga pekerjaan.

Ibram, seorang kepala rumah tangga di Kota Palangka Raya menceritakan, dia bersama keluarganya memutuskan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, demi mencegah dampak buruk kesehatan dari terus-terusan menghirup asap kebakaran.

"Semenjak dua bulan terakhir asap enggak putus-putus. Bandara sekarang ini udah hampir sebulan close," kata Ibram kepada Liputan6.com, Kamis (15/10/2026).

Setiap hari Ibram berangkat kerja menggunakan mobil. Kini, menyalakan lampu di siang hari sudah menjadi keharusan. Sebab, tebalnya dinding kabut asap memperpendek jarak pandang.

"Yang paling parah kemarin dengan sebelumnya. Itu parah sekali. Dari pagi sampai malam itu pekat sekali. 100 meter kita harus hidupin lampu. Itu dalam kota," ucapnya.

Bahkan saking pekatnya, asap kebakaran tidak lagi berwarna putih, namun oranye seperti planet Mars.

"Iya, benar. Itu enggak bisa dibohongin lagi. Memang kenyataan begitu," tegas Ibram.

Kepungan asap kebakaran juga berdampak di dunia pendidikan. Sudah sebulan berlalu proses belajar mengajar di Palangka Raya beralih menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Mirip situasi saat pandemi empat tahun lalu. Bukan hanya tingkat dasar, perkuliahan juga menerapkan PJJ.

 

Sedia Oksigen di Rumah

Buruknya kualitas udara di Palangka Raya juga membuat Ibram harus lebih ekstra dalam menjaga keluarga. Selain masker, dia juga memiliki oksigen di rumah.

Masker selalu digunakan ketika keluar rumah. Entah itu sekadar pergi berbelanja maupun bekerja. Sedangkan oksigen lebih utama diperuntukkan untuk orang tuanya.

"Karena orang tua saya kan ada penyakit bawaan paru-paru. Jadi, di malam saja orang tua saya pakai oksigen agar bisa tidur," ucapnya.

 

Harapan Masyarakat

Ibram berharap pemerintah lebih memaksimalkan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Selain melalui jalur darat, diharapkan juga dengan menambah intensitas pemadaman melalui udara.

Hal ini dianggap penting, terutama untuk menanangani titik api yang tidak bisa dijangkau melalui pemadaman darat.

Dia juga berharap pemerintah menetapkan status kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan ini sebagai bencana nasional.

Menurutnya, pemerintah daerah memiliki keterbatasan anggaran dalam melakukan penanganan. Dengan adanya perhatian dari pemerintah pusat, diharapkan penanganan kebakaran bisa lebih maksimal.

"Jadi kalau enggak ditetapkan bencana nasional, penganggaran dari segi itu kan enggak bisa. Apalagi dengan efisiensi ini, pemerintah daerah sangat terbatas sekali. Memang harus menunggu kebijakan pusat. Harapan juga meminta pusat tetap dengan segala upaya bagaimana bisa diselesaikan," pungkasnya.