Bitcoin Stabil, Pasar Menanti Sinyal Tembus US$ 90.000

Bitcoin bergerak di sekitar US$ 85.000. Pasar mencermati peluang breakout menuju US$ 90.000 di tengah tekanan ekonomi global.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 06:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$ 85.000 sepanjang pekan ini ketika pasar kripto mencermati ketegangan geopolitik dan perkembangan ekonomi global.

Pergerakan harga Bitcoin cenderung terkonsolidasi setelah aset kripto tersebut sempat menyentuh US$ 87.000, tetapi gagal bertahan di level yang lebih tinggi.

Mengutip CoinMarketCap, Senin (5/10/2026), analis melihat pola bull flag mulai terbentuk. Pola teknikal ini dapat menjadi sinyal potensi kenaikan jika Bitcoin mampu menembus level resistance secara meyakinkan.

Jika breakout terjadi, harga Bitcoin berpeluang bergerak menuju US$ 90.000. Namun, penolakan berulang di area resistance dapat membuat Bitcoin kembali menguji level support yang lebih rendah.

Bitcoin perlu mempertahankan momentum di atas US$ 85.000 untuk membuka peluang breakout. Jika terus gagal menembus resistance, pergerakan harga berpotensi tertahan lebih lama.

Data order book CoinGlass menunjukkan terdapat bid sekitar US$ 13,25 juta di level US$ 82.500 dan ask sebesar US$ 15,52 juta pada US$ 84.799,90. Namun, posisi tersebut dapat berubah cepat mengikuti kondisi perdagangan.

Permintaan Bitcoin Meningkat

Sinyal lain datang dari Coinbase Premium Index, indikator yang membandingkan harga Bitcoin di Coinbase dengan Binance.

Indeks tersebut mulai pulih pada awal pekan. Kondisi ini dapat menjadi sinyal meningkatnya permintaan Bitcoin di pasar spot Amerika Serikat, termasuk dari investor institusi.

Namun, analis mengingatkan indikator tersebut hanya menunjukkan perbedaan harga antarplatform. Pergerakannya juga dapat dipengaruhi arus dana bursa atau harga stablecoin.

Karena itu, kenaikan premium di Coinbase belum cukup untuk memastikan tren naik baru. Konfirmasi dari aktivitas perdagangan yang lebih luas tetap diperlukan.

Secara sederhana, Coinbase Premium Index menunjukkan selisih harga Bitcoin antara Coinbase dan bursa utama lain seperti Binance. Nilai positif dapat mengindikasikan tekanan beli lebih kuat dari pasar AS, sedangkan nilai negatif menunjukkan permintaan lebih besar di luar AS.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik kembali menjadi perhatian pasar. Rencana penutupan Selat Hormuz oleh Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap harga minyak dan inflasi global.

Ketegangan Selat Hormuz

Ketegangan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi harga energi karena jalur tersebut merupakan salah satu rute penting pengiriman minyak dunia.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Amerika Serikat memenuhi tujuh persyaratan berdasarkan memorandum Islamabad. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut jalur tersebut dapat dibuka dalam tujuh hari jika tercapai proposal yang dapat diterima.

Konflik tambahan di Yaman dan ketegangan regional juga meningkatkan ketidakpastian di pasar minyak dan aset berisiko, termasuk kripto.

Di Amerika Serikat, kenaikan imbal hasil obligasi menjadi tantangan lain bagi Bitcoin. Suku bunga hipotek 30 tahun mencapai 7,6% selama pekan tersebut, menunjukkan biaya pinjaman yang masih tinggi.

Investor juga menunggu sejumlah data ekonomi AS, termasuk risalah Federal Reserve, klaim pengangguran, dan ekspektasi inflasi. Inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong kebijakan moneter tetap ketat dan menekan minat terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

Data likuidasi juga menunjukkan risiko terkonsentrasi pada posisi long dengan leverage tinggi. Jika Bitcoin menembus support penting, likuidasi paksa dapat mempercepat penurunan harga sebelum pembeli baru masuk.